Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu

Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu
Jawaban


__ADS_3

Flashback


Keenan sudah berada di restoran tempat yang akan menjadi saksi pertemuannya dengan Hana. Baru lewat lima menit, Keenan sudah merasa gelisah karena Hana tak kunjung datang. Akhirnya dia mengambil ponselnya dan menghubungi Mira untuk mengetahui sebenarnya apa yang terjadi..


"Maaf tuan, nona Hana sejak pulang kerja tadi belum keluar dari kamarnya. Dia bilang ingin istirahat dulu katanya. Tapi kami tidak tahu apa yang nona lakukan di dalam sana. Sepertinya nona ketiduran karena lampu kamarnya mati, tuan."


Keenan mendesah kasar setelah mendengarkan informasi dari Mira. Setelah itu dia menutup telponnya dan segera mengirim pesan kepada Hana.


"Aku akan menunggumu, jika kamu tidak datang itu artinya kamu menolakku Hana. "


Setelah mengirimkan pesan itu Keenan menyandarkan tubuhnya di kursi yang ia duduki. Pandangannya menyapu ke seluruh tempat, dia sudah menyulap tempat ini menjadi sangat romantis. Ada beberapa hiasan bunga dan lilin yang ada disana. Bahkan dia sudah menyiapkan pemain musik romantis yang akan menemani mereka saat makan malam ini.


Ekspektasi Keenan sangat indah, namun kenyataannya Hana sampai sekarang belum datang juga. Dilihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, berharap waktu melambat dan dia baru saja datang untuk menunggu Hana. Tapi ternyata waktu terus berputar, sudah satu jam dia disana namun batang hidung Hana tak nampak juga. Bahkan pesan dari Mira tak ia dapatkan, yang artinya mereka belum berangkat.


Keenan mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangannya lalu dia bangkit dari duduknya. Dia berjalan ke ujung rooftop yang memiliki pencahayaan minim atau tak tersentuh cahaya sama sekali dan menikmati angin malam yang menerpa wajahnya. Sangat dingin dan menusuk di kulit. Dia ingin sendiri.


Keenan memejamkan matanya sejenak dan mengingat apa yang telah terjadi belakangan ini, antara dirinya dan Hana. Tentang pertemuan nya yang tidak di sengaja, Tentang bantuannya yang memudahkannya bercerai dengan suaminya. Hingga saat dia menjalani kehamilan tanpa suami, Keenan tak berpangku tangan. Dia mengirimkan dua orang kepercayaannya untuk menjaga dan memenuhi semua kebutuhannya.


Apakah dia berlebihan?


Atau perhatian yang dia berikan kepada Hana kurang?


Apa Hana belum bisa membuka diri untuk cinta lain?


Apakah dia masih trauma untuk berumah tangga?


Banyak pertanyaan dalam benak Keenan saat ini, yang belum mendapatkan jawaban pasti . Perasaannya kepada Hana sangat Tulus , dia benar-benar mencintai wanita itu . Cinta Lama yang tak terbalaskan , kini hadir kembali dengan status baru masing-masing . Cinta itu tetap sama, tidak berkurang sama sekali. Akh, jika mencintai seorang wanita itu sesulit dan sesakit ini, maka Keenan tidak akan pernah ingin jatuh cinta lagi. Dia ingin hidup bahagia dengan normal tanpa harus mencintai wanita yang sama di masa lalu. Tapi sayang cinta itu memilihnya, memilihnya untuk tetap mencintai satu wanita yang sama yaitu Hana.


Brak.

__ADS_1


Saat Keenan sedang asik dalam lamunannya terdengar pintu dibuka paksa, dan muncul dua wanita dari pintu itu. Seorang wanita berjalan menuju meja yang sudah dia siapkan. Mata Keenan menyipit untuk memastikan apa yang dia lihat. Dia masih tak percaya dengan apa yang ada di sepan matanya, dan melihat jam tangan di pergelangan tangannya pukul 21.10.


"Kau sangat terlambat, sayang. " lirihnya dengan senyuman yang sangat lebar, dan berjalan pelan mendekati wanita itu.


Mira yang melihat kehadiran Keenan dari sisi lainpun segera pergi dari sana dan membiarkan mereka berdua.


Terdengar suara lirih Hana yang menggumamkan sesuatu, yang masih dia dengar karena saat ini Keenan sudah berada di belakang wanita itu.


"Maafkan aku mas, aku terlambat. Bodohnya aku kenapa aku bisa ketiduran sampai malam. Maafkan aku, apakah aku masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan cintamu atau sudah tidak memiliki kesempatan sama sekali.


Mendengar ucapan Hana, Keenan semakin menyunggingkan senyuman lebarnya. Dia tidak menyangka kalau Hana akan mengatakan hal itu.


"Kau masih memiliki kesempatan Hana. "


Mendengar suara Keenan, Hana langsung bangkit dan tanpa aba-aba langsung memeluk tubuh Keenan dengan erat. Entah apa yang dirasakan wanita itu saat ini.


Flashback off


"Sudah, jangan menangis. Aku ada disini. "


"Aku takut kau sudah pergi. Dan menganggap aku menolak mu " ujarnya masih berada dalam pelukan prianya.


Mendengar hal itu membuat Keenan makin menyunggingkan senyumnya.


"Aku tidak akan pergi Hana, bahkan jika itu sampai tengah malam aku tidak akan pergi dari sini sebelum aku memastikan kehadiran mu disini. "


Mendengar ucapan Keenan membuat Hana mendongakkan kepala dengan wajah yang berantakan karena air matanya dan menatap pria itu tak percaya.


"Apakah sebesar itu? " tanyanya ambigu.

__ADS_1


"Iya, sangat besar. " kawab Keennan tak kalah ambigu.


Hana jadi malu dan menelusupkan kepalanya kembali didada bidang pria dihadapanya ini, dengan tangan yang masih melingkar di pinggangnya.


Keenan tergelak melihat sikap wanitanya ini. Karena dia terlihat sangat lucu.


"Jadi??? "


Hana mengangguk, dan mengucapkan. "Aku menerimamu, dan aku ingin mencoba bersandar lagi pada sosok pria. Semoga pilihanku kali ini tepat."


Mendengar jawaban Hana kembali Keenan menyunggingkan senyuman yang semakin lebar, itu artinya dia diterima. Dan jawaban itu, membuat letupan kembang api di dada Keenan bergemuruh. Hana bisa merasakannya, jantung Keenan berdetak sangat cepat. Bahkan dia bisa mendengar detak jantungnya itu. Hana enggan melepaskan pelukan itu, karena dia merasa nyaman dan menikmati nyanyian detak jantung Keenan yang tak karuan.


Keenan pun membalasnya, membalas pelukan itu dan memberikan sebuah kecupan singkat di pucuk kepalanya.


"Terima kasih, Hana... terima kasih, kau mau menerima pria ini. " ujar Keenan dengan kebahagiaan yang membuncah.


Tidak, seharusnya Hanalah yang berterima kasih, karena dia sudah mendapatkan cinta luar biasa dari Keenan. Yang tidak pernah dia dapatkan dari suaminya dulu.


Keenan melonggarkan pelukannya, begitu pula Hana. Mereka saling berpandangan sangat dalam, ada gelenyar aneh yang mereka rasakan saat ini. Gelenyar hasrat dua orang dewasa yang sudah lama tidak tersentuh oleh pasangan. Namun pikiran waras masih mereka miliki, dan pada akhirnya mereka berdua hanya bisa melemparkan senyuman satu sama lain. Biarlah, untuk saat ini seperti ini dulu. Mereka harus menekan hasrat masing-masing untuk saling memiliki satu sama lain. Sampai tiba waktunya mereka disatukan dalam ikatan yang halal.


"Ayo turun, disini sangat dingin. Angin malam tidak baik untuk wanita hamil. "


Keenan mengulurkan tangannya kepada Hana, dan Hana langsung menyambutnya dengan senang hati. Keenan langsung menggenggam erat tangan itu, seolah enggan melepaskannya. Dia lalu membawa Hana turun dari rooftop dengan saling bergandengan tangan. Tangan satunya mengambil ponsel, dan mengubungi seseorang.


"Kamu pulanglah, nanti Hana aku yang antar. " ucapnya setelah panggilan di angkat. Dan segera mematikan panggilan telponnya tanpa menunggu jawaban.


Hana hanya diam saja tak banyak bicara atau bertanya, karena dia tahu kalau yang Keenan hubungi pasti Mira.


"Kau ingin makan apa? " tanya Keenan saat mereka sudah sampai di lantai bawah.

__ADS_1


"Aku ingin makan pecel ayam dipinggir jalan, mas." ujar Hana dengan malu-malu.


Keenan menaikkan alisnya mendengar keinginan ibu hamil satu ini. Saat ini mereka berada di restoran mewah, namun Hana menginginan makanan yang berada di pinggir jalan. Apa dia tidak salah dengar??? Bahkan dia tidak pernah menginjakkan kakinya di tempat seperti itu.


__ADS_2