
"Assalamu'alaikum. "
Ema segera masuk setelah mengucapkan salam, dan mendapatkan jawaban salam dari Indra dan Fia. Dia memberikan senyum terbaiknya kepada suami dan madunya lalu mendekat.
"Bagaimana keadaanmu,mas." tanya Ema .
"Yah, seperti yang kau tau, Ema. Beginilah. " jawab Indra tak bersemangat.
"Oh, iya Fia. Aku sudah datang. Kau boleh pulang dan beristirahatlah dirumah. Ibu juga menunggumu di rumah. Biar aku yang menunggu mas Indra di sini. "
Fia menoleh kearah suaminya dan Indra menganggukkan kepalanya mengijinkan. Karena Fia butuh banyak istirahat demi kesehatannya dan bayinya.
"Baiklah kalau begitu, mbak. Aku pulang dulu." pamit Fia.
Setelah kepergian Fia, Ema lalu duduk di kursi disamping brankar Indra. Dia melihat wajah Indra yang terlihat tidak bersemangat dan sendu. Ema lalu menggenggam tangan Indra dan menepuk-nepuk nya dengan lembut.
"Sabar ya mas, kamu pasti sembuh. Ada aku, dan Fia yang akan menjagamu dan merawatmu sampai kamu sembuh. " kata Ema yang menenangkan suaminya.
"Terima kasih, Em. Bagaimana keadaan resto? " tanya Indra.
"Kemarin aku datang bersama polisi dan membuat laporan. Malamnya aku kesana lagi untuk melihat pemasukan dan pengeluaran resto, serta memperkenalkan diriku sebagai penggantimu semetara selama kau sakit. Uangnya aku bawa pulang dan aku simpan dilaci yang berada dilemarimu bersama catatannya agar saat pulang kau bisa mengeceknya. Tadi pagi aku juga ke resto untuk membuka resto dan mengecek pekerjaan anak-anak, setelah itu kemari. " ujar Ema menjelaskan kegiatannya kemarin dan tadi pagi.
"Terima kasih, Sayang. Kau bisa aku andalkan. Mulai hari ini kau yang bertanggungjawab direstoran kita. Aku percaya padamu. "
Hati Ema menghangat mendengar panggilan sayang dari Indra. Karena sudah lama dia tidak mendengar panggilan itu dari mulut suaminya. Dia lalu membalas Indra dengan senyuman hangat nya.
"Terima kasih karena sudah percaya padaku. Aku akan melakukan yang terbaik. Tapi aku hanya akan ke resto pada pagi dan malam hari saja mas. Karena aku juga harus bergantian menjagamu dengan Fia. " kata Ema mengingatkan.
"Ah, iya. Aku lupa. Keadaan Fia saat ini juga sedang hamil jadi tidak bisa menjagaku sepenuhnya karena dia butuh banyak istirahat. " Indra lalu menghembuskan nafasnya kasar.
"Kemarilah." Indra merentangkan tangannya agar Ema mau masuk ke dalam pelukannya.
Dengan senang hati Ema langsung berhambur memeluk suaminya itu. Dan menangis dalam pelukan Indra. Ema tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya kelak jika harus meninggalkan Indra. Karena dia sangat mencintai pria itu.
"Kenapa kau menangis? " tanya Indra saat merasakan tubuh Ema bergetar dalam pelukannya.
__ADS_1
Ema hanya menggeleng tanpa mau menjawab pertanyaan Indra.
Indra menepuk-nepuk punggung Ema dengan lembut berharap bisa menenangkannya.
"Ema, maafkan aku, ya. Maafkan aku atas semua kesalahanku kepadamu selama ini. Maafkan aku, Ema. Maafkan aku. " sesal Indra.
Ema semakin mengeratkan pelukannya kepada Indra, seolah tidak ingin melepaskan pria itu. Dan semakin menangis dipelukannya. Entah apa yang Ema rasakan saat ini. Semakin ingin melepaskan semakin besar rasa cinta Ema kepada Indra.
Setelah puas memeluk suaminya, Ema lalu melepaskan pelukannya. Dengan wajah yang terlihat sangat sembab. Indra mengusap air mata yang masih menetes di pipi Ema dengan ibu jarinya.
"Jangan pernah menangis lagi, Ema.Jangan pernah menangis lagi. Sudah cukup air matamu kau tumpahkan karena aku selama ini. Aku minta maaf atas semua air mata yang telah kau jatuhkan karena aku. Aku menyesali semua perbuatanku, maafkan aku. Aku akan bersikap adil kepadamu dan Fia. Jika aku berat sebelah maka ingatkanlah aku." ujar Indra.
Ema hanya mengangguk dan tersenyum, tersenyum yang menyiratkan sebuah kepedihan.
Di sisi lain Fia yang sedang berada di dalam merasa sesak setelah melihat semua yang telah ia lihat hari ini. Tadi setelah dari kantin, Fia melihat Ema berjalan ke suatu ruangan dan mengikuti Ema ke sebuah ruangan VVIP. Karena penasaran Fia melihat melalui celah pintu dan mendengarkan semua percakapan Ema bersama Hana.
"Jadi dia wanita yang bernama Hana, cintanya mas Indra. Pantas saja mas Indra tidak rela melepaskannya,karena dia memang sangat cantik. " gumam Fia waktu itu.
Ternyata Ema ingin meminta bantuan Hana untuk mengatasi masalah di resto. Ternyata hubungannya dengan Hana sudah membaik. Percakapan itu berlanjut sampai saat Ema meminta bantuan bagaimana caranya bercerai dengan Indra.
Dia tidak mungkin membiarkan Ema berpisah dengan Indra. Karena dia tau seberapa besar cinta Ema kepada Indra yang juga suaminya.
"Bersabarlah mbak. Kau akan mendapatkan kebahagiaanmu. Sebentar lagi. " gumam Fia lirih dan hanya bisa didengarkan olehnya.
Dia jadi teringat sesuatu, dan membelokkan tujuannya ke suatu tempat. "Pak kita ke klinik permata hati." ucapnya kepada sopir taksi untungnya taksi yang dia naiki bukan taksi online jadi dia bisa mengalihkan tujuannya ke tempat lain. Sampai di tempat tujuannya, Fia segera masuk ke klinik dan menemui seseorang yang sudah dia hubungi melalui telpon tadi.
"Sam," sapanya pada seorang pria yang sedang berada disebuah meja dengan segelas cappucino di depannya.
Pria bernama Sam itu langsung menoleh dan melihat sosok wanita yang dia cintai kini berada dihadapannya.
"Fia... kau benar Fia kan? " tanyanya tak percaya.
Fia hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.
Sam langsung menarik gadis itu kedalam pelukannya, namun ada sesuatu yang berbeda yang dia rasakan.
__ADS_1
"Fia, apa yang terjadi. Kenapa? "
Fia lalu membuka sweater yang dia pakai, dan menunjukkan perutnya yang sudah membuncit.
"Kau... hamil? " tanya Sam tak percaya.
Lagi-lagi Fia mengangguk.
"Duduklah, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kau menghilang selama ini, tanpa kabar. " Sam menarik Fia untuk duduk dan memesankan teh hangat untuk Fia dan beberapa makanan.
Fia lalu menceritakan apa yang terjadi padanya selama satu tahun terakhir, pekerjaannya sebagai seorang perawat wanita tua lumpuh, dan kejadian yang menimpanya.
Sam mengepalkan tangannya saat mendengar cerita dari Fia.
"Jadi kau sekarang istri dari Pria itu? " tanya Sam tak percaya.
"Iya, tapi aku hanya menikah secara siri dengannya. Sam bantu aku. "
Sam menaikkan alisnya mendengarkan permintaan Fia.
"Apa? "
Fia lalu menceritakan rencananya kepada Sam. Sam berkali-kali merubah raut wajahnya saat mendengarkan rencana dan permintaan Fia kepadanya.
"Apa kau yakin dengan rencanamu itu, Fia? " tanua Sam tak percaya.
"Aku yakin. Sangat yakin. "
"Baiklah, Setelah itu kembalilah padaku Fia. Aku akan menerimamu apa adanya. "
"Tapi aku sudah tidak pantas untukmu, Sam. " ujar Fia sambil menundukkan wajahnya.
Sam lalu mengangkat dagu Fia dengan jari tangannya, agar Fia mau menatap wajahnya.
"Pantas tidaknya seseorang untukku, itu bukan kau yang menilai Fia. Tapi hatimu. Aku akan menerimamu apa adanya, bagaimanapun keadaanmu. "
__ADS_1