
Dengan ragu Ema mengetuk ruangan tempat Hana di rawat, namun tidak ada jawaban. Apa mungkin Hana sedang tidur atau keluar? batin Ema bertanya tanya. Namun sebuah tepukan di bahunya mengagetkan Ema. Dia langsung menoleh ke arah seseorang yang menepuknya.
"Cari siapa mbak? " tanya Orang itu yang ternyata Mira, seseorang yang di minta Keenan menjaga Hana.
"Ini kamar mbak Hana kan? boleh saya bertemu dengannya? " tanya Ema balik.
"Oh, iya. Apa sudah buat janji dengan nona Hana?"
"Sudah."
Ema merogoh tasnya dan mengambil ponsel, dibukanya isi chatnya dengan Hana dan diberikan kepada Mira sebagai bukti.
"Ini, mbak. "
Mira mengambil ponsel Hana dan membaca riwayat chat dari Hana. Disana dia membaca ada nama Indra, jadi wanita ini... Mira menaikkan alisnya dan menatap Ema dengan tatapan curiga. Sepertinya dia harus waspada dengan wanita ini.
"Tunggu sebentar. " Mira masuk ke dalam ruangan Hana, dan memberitahunya kalau ada seorang wanita yang ingin bertemu dengannya.
Hana mengijinkan wanita yang tak lain adalah Ema itu untuk masuk.
Diluar, Ema sedikit kesal. Karena dia diabaikan oleh Mira. Namun tak lama pintu kamar Hana kembali terbuka, dan Mira mempersilahkan Ema untuk masuk ke dalam.
Senyumnya merekah saat melihat Hana sedang memangku anaknya dan sedang memberikan Asi. Mungkin karena itu Hana tidak menjawab atau membukakam pintu untuknya tadi.
"Mbak, aku bawakan sesuatu untuk jagoannya mbak Hana. " ujar Ema sambil mendekat kepadanya.
Dia melihat sekeliling ruangan tempat Hana menginap dengan tatapan takjub, Ini bukan seperti ruang perawatan melainkan sebuah kamar hotel. Rasa iri itu kembali muncul di hati Ema, tapi Ema segera menepisnya. Tak sepantasnya dia merasa Iri kepada Hana, karena Hana memang seorang wanita hebat yang bisa mencapai segala sesuatu dengan usahanya bukan dengan cara merebut seperti itu.
"Ada apa, Ema. Kemarilah."
Ucapan Hana itu sontak saja membuat lamunannya akan kesuksesan Hana buyar. Tidak hanya sukses di karir, kini percintaannya pun juga sukses.
"Tidak apa-apa mbak. Ini aku membelikan dedek bayi buah tangan. " ujar Ema sambil memberikan paper bag kepada Hana.
"Terima kasih. " Hana menerimanya dan meletakkannya di atas nakas.
__ADS_1
Ema lalu mendekati baby Galen dan memandang wajah bayi itu dengan mata berkaca-kaca. Andai bayinya masih ada dia pasti akan seperti Galen, dan mungkin lebih tua beberapa bulan dari Galen.
"Kenapa Ema? " tanya Hana yang masih melihat Ema terdiam.
"Aku teringat dengan bayiku, andai dia masih ada mungkin dia akan lucu seperti anakmu, mbak. "
"Sabar Ema, mungkin belum waktunya. Suatu hari nanti kau akan mendapatkan bayi seperti yang kau inginkan. " kata Hana menenangkan.
"Iya mbak, semoga saja. "
Ema memegangi tangan bayi Hana dan memainkannya.
"Lucu banget mbak. Seperti mbak Hana. " Kata Ema dengan senyuman tulus di wajahnya. "Oh, iya mbak. Tadi mbak Hana bilang aku tidak boleh memberitahu mas Indra memangnya kenapa? "
Hana menghembuskan nafasnya, apakah dia harus menceritakannya kepada Ema kejadian beberapa bulan lalu. Tapi bagaimanapun juga salah satu keluarga Indra harus tau kelakuan yang pernah Indra lakukan kepadanya.
"Beberapa bulan lalu, Mas Indra mendatangi rumah kontrakan ku. Tepat di hari saat kita bertemu di rumah sakit waktu itu. " kata Hana menceritakan kejadian waktu itu.
Mendengar itu sontak membuat Ema membulatkan matanya, pasalnya setelah hari itu keesokan harinya Indra menikahi Fia.
Hana akhirnya menceritakan kepada Ema yang terjadi saat itu. Saat Indra memfitnahnya hanya karena ingin kembali kepadanya dan mencari tahu anak siapa yang ada di kandungan Hana saat itu. Namun dengan tegas Keenan mengakui anak Hana sebagai anaknya. Hingga Indra tidak bisa berkutik lagi.
Ema memejamkan matanya saat mendengarkan cerita dari Hana. Ternyata Indra melakukan hal sekeji itu hanya untuk meminta Hana kembali kepadanya.
"Begitulah, Ema. " ujar Hana mengakhiri ceritanya.
Ema menghembuskan nafasnya, lalu dia juga menceritakan kejadian setelah itu.
"Malam itu mas Indra tidak pulang mbak, Dan entah dia pulang pukul berapa. Namun saat paginya, semua terbongkar. Mas Indra memperkosa Fia, dalam keadaan mabuk. Dan dia mengira Fia adalah mbak Hana. Ibu memintanya untuk bertanggung jawab atas perbuatannya kepada Fia. "
Mendengar cerita Ema, Hana menutup mulutnya tak percaya. Kenapa bisa Indra melakukan hal sekeji itu kepada seorang wanita. Dulu Indra adalah pria baik, kenapa dia bisa berbuat seperti itu. Hanha karena obsesinya kepada Hana.
"Jadi karena itu mas Indra menikah lagi. "
"Iya mbakk. Awalnya aku menolak pernikahan itu. Tapi ibu bersikeras Mas Indra harus bertanggung jawab. Dan mungkin ini sudah menjadi sebuah takdir yang bekerja. "
__ADS_1
Hana lalu memeluk Ema memberikan kekuatan kepadanya, karena Galen sudah diambil alih oleh Mira.
"Yang sabar ya, Em. Jika kau sudah tidak kuat dengan pernikahanmu, maka lepaskan. Namun jika kau masih berusaha bertahan dengan Mas Indra semoga kau kuat menjalaninya. Semoga nanti kebahagiaan akan menghampirimu. "
"Aamiin, terima kasih mbak. "
Ema lalu melepaskan pelukannya, dan menghapus jejak air mata yang tertinggal di pipinya. Dan mengubahnya menjadi senyuman yang hangat.
"Baiklah kalau begitu mbak, aku pulang dulu. Sudah malam. Semoga mbak Hana sehat-sehat ya sama adik bayinya. '
"Iya Ema, terima kasih karena sudah menjenguk kami. "
Setelah mengucapkan salam perpisahan Ema segera keluar dari ruangan Hana. Saat melewati tempat resepsionis, seperti ada yang memanggil Ema. Dan suaranya sangat dia kenal.
"Mbak Ema. " sapa Fia saat melihat Ema
Ema segera menghentikan langkah nya dan menoleh ke asal suara. Dilihatnya Indra yang sedang menggandeng tangan Fia. Sedangkan Fia tersenyum penuh kebahagiaan kearah Ema.
"Mbak Ema ngapain di rumah sakit? apa mbak Ema sakit? " tanya Fia penasaran.
"Aku menjenguk teman yang sakit di rumah sakit ini. Kamu ngapain? " tanya Ema balik.
"Aku dan mas Indra memeriksakan kehamilanku mbak. Apa mbak Ema mau pulang, kita pulang bareng ya. "
Ema hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Siapa temanmu yang sakit, Em? " kini Indra yang bertanya.
"Ah, teman kerja mas. Sudah dua hari dia tidak masuk kerja. " jawab Ema gugup dia tidak mungkin mengatakan kalau habis menjenguk Hana kan.
"Oohh.. " Indra dan Fia membulatkan mulutnya mendengar jawaban dari Ema.
"Lalu bagaimana dengan kandungan anakku ini. " tanya Ema yang mengalihkan pembicaraan sambil mengusap perut Fia
"Anak kita sehat mbK, dia aktif di dalam sini. " Fia yang menjawab dengan antusias.
__ADS_1
Mereka bertiga akhirnya pulang bersama. Ema berada di kursi belakang sendiri. Entah apa yang dipikirkan wanita itu, karena sesekali dia mengusap air matanya. Dan itu tak luput dari penglihatan Indra yang melihatnya dari kaca spion.