Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu

Aku Istrimu Bukan Pengasuh Ibumu
Berharap Sebuah Keajaiban


__ADS_3

Di rumah sakit.


Ema yang sedang sendirian di kamar perawatan merasa kesepian, karena suami dan anaknya sedang belanja barang perlengkapan bayi sesuai permintaannya. Lama dia menunggu namun sang suami tidak datang juga.


"Kenapa lama sekali? " gumamnya sambil bermain ponsel, dia tidak mau menelponnya karena takut Indra dalam perjalanan. Karena setelah kecelakaan itu Indra tidak membeli mobil lagi, dan hanya menggunakan sepeda motor untuk pergi kemana-mana.


Setelah dua jam berlalu akhirnya Indra dan Alvian datang. Ema tersenyum senang melihat mereka berdua sudah datang. Alvian langsung berlari memeluk mamanya, dan Ema menyambut pelukan dari sang anak dengan sangat bahagia.


"Kenapa, anak mama terlihat senang hari ini? " tanya Ema sambil menciumi seluruh wajah Alvian.


"Mama, tadi aku bermain dengan kakak cantik sama kakak laki-laki. Aku punya teman, ma. " Alvian menceritakan apa yang dia lakukan tadi.


Ema mendengarkan cerita Alvian tanpa memotongnya, karena dia ingin menjadi pendengar yang baik untuk anaknya itu. Dan sesekali memandang suaminya. Indra hanya menganggukkan kepala meminta Ema Mendengarkan cerita Alvian dulu, nanti dia akan menceritakan semuanya kepada Ema. Sedangkan dia mulai membereskan barang bawaannya di rumah sakit.


Setelah bercerita Alvian lalu kembali duduk di kursi bersama ayahnya. Dia merasa lelah setelah bermain dan berboncengan dengan sang ayah tadi. Dan sekarang dia memposisikan tubuhnya berbaring dipangkuan ayahnya.


"Siapa yang diceritakan Alvian tadi mas? " tanya Ema yang sepertinya sudah penasaran dari tadi.


"Rubby dan Galen, anak-anaknya Hana dan Keenan. Kami tak sengaja bertemu di toko perlengkapan bayi. Bahkan semua perlengkapan bayi ini, dibelikan oleh Hana. Sekarang dia juga hamil besar sama seerti kamu. " kata Indra yang mulai menceritakan apa yang terjadi tadi dan membuatnya lama.


"Benarkah, kamu bertemu mbak Hana? "


Indra menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Dan aku mendengar sebuah kebenaran, Ema. Kalau Galen ternyata anakku. " kata Indra dengan suara tercekat.


Ema ikut merasa bahagia mendengarkan kebenaran yang dibawa Ema. Ingin memelukanya namun tidak bisa, karena Alvian sedang tidur dipangkuan Indra.

__ADS_1


"Aku ikut bahagia mas, atas kabar ini. Kita akan memiliki tiga anak sekaligus. " ujar Ema yang tidak bisa membendung air matanya.


"Dan ada satu kabar bahagia lagi untukmu. "


"Apa."


"Keenan membuat surat rujukan dan rekomendasi agar kau dipindahkan ke rumah sakit miliknya, dia juga memberikan kelas VIP untukmu. Dan ini semua atas permintaan Hana. Aku tidak menyangka walau aku sudah menyakitinya, tapi dia tetap baik kepada kita. " kata Indra, kali ini dia juga tidak bisa membendung air matanya.


"Sekarang bersiaplah, aku sudah mengajukan rujukan itu kepada Rumah sakit ini. Dan kita akan pindah hari ini juga. Kasihan Alvian tiap hari tidur dilantai. Kalau di kelas VIP setidaknya disana ada sofa atau tempat tidur cadangan untuk penunggu."


"Iya mas. "


Indra segera menggendong tubuh kecil Alvian untuk dibaringkan di brankar. Setelah itu dia meminta bantuan suster untuk membawakan kursi roda untuk Ema, saat ini usia kandungn Ema sudah memasuki 27 minggu masih ada 2-4 minggu untuknya melakukan operasi. Jadi Ema benar-benar membutuhkan perawatan ekstra untuk saat ini.


Setelah semua siap mereka segera keluar dari rumah sakit. Indra meminta Ema dan Alvian naik taksi sedangkan dia akan membawa motornya ke rumah sakit milik Keenan.


"Apa mbak Hana kasihan kepadaku? " gumam Ema.


"Aku memang perlu dikasihani karena keadaannku, tapi aku tidak menyangka kalau orang yang mengasihani aku adalah orang yang sudah aku sakiti. Sungguh baik hatimu, mbak? " Ema masih bermonolog pada dirinya sendiri.


Dan tanpa disadari mereka telah sampai di rumah sakit milik Keenan. Indra yang sudah sampai terlebih dulu sudah menunggunya dengan kursi roda yang dia pinjam dari rumh sakit untuk membawa istrinya yang lemah itu. Setelah itu mereka segera ke tempat administrasi dan informasi, Indra memberikan kertas yang diberikan Keenan kepada petugas, beserta kartu namanya.


Mereka yang sudah dihubungi terlebih dahulu oleh Keenan segera mengerti dan membawa mereka ke ruang perawatan yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit. Ema dan Indra hanya mengikuti kemana mereka akan dibawa pergi. Hingga akhirnya seorang perawatan berganti mengantarkan mereka ke ruangan yang dituju.


Sampailah Mereka disebuah ruangan yang bertuliskan VIP, perawat itu segera meminta mereka untuk masuk. Dia lalu meminta rekannya untuk datang dan melakukan pemeriksakan dasar kepada Ema. Dan segera memasang alat-alat yang harus dipasang di tubuh Ema.

__ADS_1


"Untuk saat ini, Ibu Ema bisa istirahat dulu sambil menunggu dokter visit datang. Mungkin satu jam lagi mereka datang." kata perawat tersebut.


"Mereka? siapa mereka, sus? " tanya Indra tak mengerti.


"Oh, mereka maksud saya adalah dokter kandungan dan dokter spesialis kanker. Karena menurut Tuan Ken, ibu Ema sedang terkena penyakit kanker dan sedang mengandung juga. Jadi harus didampingi dua dokter spesialis tersebut. Tadi Tuan Keenan sudah memberikan perintah kepada kami untuk memeriksa ulang apa yang terjadi pada anda. Agar kami bisa mengetahui dengan pasti apakah itu benar sel kanker atau tumor. "


Ema dan Indra saling berpandangan. Dan mengucapkan terima kasih bersamaan kepada perawat yang sudah memberikan keterangan kepada mereka.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Silahkan beristirahat. " ujar perawat tersebut, lalu segera meninggalkan ruangan bersama rekannya.


Ema dan Indra tidak menyangka kalau Keenan dan Hana akan memberikan fasilitas terbaik untuk mereka. Ruangan VIP ini saja sangat bagus, andai mereka membayar secara pribadi, entah berapa harga perawatan tiap malamnya disini. Karena disana ada sofa dan juga tempat tidur cadangan untuk orang yang menjaga pasien. Ada mini kulkas, Ac bahkan televisi.


"Mas, apa benar kita tidak akan membayar biaya kamar ini? " tanya Ema yang masih takut kalau dia harus membayat biaya ruangan ini. Karena dia tau keadaan Indra saat ini.


"Tidak, tadi Keenan sudah meyakinkan padaku. Katanya perawatanmu lebih penting, dan kamu harus mendapatkan tempat perawatan yang lebih bagus Agar kondisi mental kamu juga terjaga. " jelas Indra.


"Kalau begini, aku besok mau melihat restoran apa boleh? Aku akan meminta perawat menjagamu, Alvian akan aku bawa. Sudah satu minggu aku tidak melihat keadaan restoran. Hanya Doni yang kemari untuk mengantarkan uang dan catatan pengeluaran dan pemasukan. " ujar Indra.


"Iya mas, kita lihat dulu hasil pemeriksaan dokter disini ya. Kalau aku baik-baik saja kamu boleh pergi. " jawab Ema.


Sebenarnya dia juga merasa tidak enak kalau menyuruh Indra berada dirumah sakit seharian. Karena Indra sendiri harus mengurus pekerjaannya yang terbengkalai selama dia dirawat. Tapi apa boleh buat, dia juga tidak mau ditinggal seorang diri di rumah sakit.


"Ya sudah, istirahatlah dulu. Kita tunggu hasil pemeriksaan dokter. " Indra mengecup kening Ema dan memintanya berbaring.


Dia kemudian mendekati Alvian yang sedang bermain mobil-mobilan di sofa. Dia sangat menyayangkan, anak sekecil Alvian harus mengalami ini semua. Dia seharusnya sudah masuk TK dan pergi sekolah diantar ibunya,Tapi malah berada di rumah sakit untuk menjaga mamanya.

__ADS_1


Belum lagi kalau sampai sesuatu terjadi pada Ema. Lalu, Apa yang akan dia lakukan bersama dengan Alvian dan bayi yang Ema tinggalkan kelak? Indra tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada hidupnya nanti, jika kedua anaknya harus besar tanpa kasih sayang seorang ibu.


"Semoga keajaiban itu ada. " batin Indra sambil memandang Ema yang tengah berbaring.


__ADS_2