
Saat Hana Dan Keenan sudah merasakan kebahagiaan mereka. Maka untuk Indra dan Ema masih harus berjuang mendapatkan kebahagiaan mereka. Kebahagiaan yang hanya didapat sebentar, harus di uji lagi dengan keadaan Ema yang seperti ini.
Hari ini dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan tentang penyakit Ema. Indra yang kemarin meminta ijin ke tempat kerjanya pun mengurungkan niatnya, karena dia juga ingin mendengarkan hasil pemeriksaan Ema hari ini.
Ema segera dibawa ke ruangan MRI, dan mulai diperiksa secara menyeluruh. Dan tak lama muncullah hasil pemeriksaan Ema tersebut. Mereka membawa kembali Ema ke ruangannya. Dokter masih membicarakan hasil pemeriksaan darah dan MRI sebelum mengambil kesimpulan.
Diruangannya Ema dan Indra merasa gelisah karena mereka masih harus menunggu hasil pemeriksaan Ema. Sedangkan si kecil Alvian, dia sangat anteng dengan beberapa mainan yang dibawakan Indra dari rumah.
Setelah 30 menit menunggu akhirnya dokter yang ditunggupun datang juga dengan membawa amplop coklat di tangannya. Dokter Faisal dan dokter Rima duduk di sofa yang berada di ruangan itu. Biasanya, Pasien atau keluarga pasien lah yang harus datang ke ruangan mereka untuk mendengarkan hasil pemeriksaan. Namun untuk pasien satu ini sepertinya itu tidak berlaku, karena direktur rumah sakit sendiri yang meminta mereka untuk bersikap baik kepada Ema dan keluarganya. Tentu saja mereka patuh, dari pada harus dipecat dari rumah sakit bergengsi itu.
"Jadi, Ibu Ema dan bapak Indra kami akan membacakan hasil pemeriksaan darah dan MRI yang baru keluar. Dan kami berdua sudah membuat keputusan kalau Ibu Ema harus segera di operasi untuk menyelamatkan bayi dan juga ibunya. "
"Maksudnya? " tanya Indra tak mengerti.
"Semakin berkembangnya bayi, maka semakin berkembang pula benjolan yang ada di perut Ibu Ema, dan itu sangat berdampak pada bayi. Jika benjolan itu semakin membesar makan akan menghimpit kantung bayi, dan itu akan sangat berbahaya." jelas dokter Faisal.
"Lalu benjolan itu? apakah sel kanker atau lainnya? " tanya Indra penasaran.
"Kami bisa mengatakan benjolan itu adalah kista ovarium. Kista itu bisa bersifat tidak berbahaya atau jinak jika dia tidak berkembang dengan cepat. Namun kista akan berbahaya jika bersifat agresif dan berkembang terlalu cepat seperti yang terjadi di perut ibu Ema, dan itu akan berubah menjadi sel kanker jika tidak segera ditangani. " kini giliran dokter Rima yang menjelaskan.
Mendengar itu Indra dan Ema saling berpandangan.
"Lalu apa yang harus kami lakukan dokter. " tanya Ema lemah.
"Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya dan kemarin. Kalau anda harus segera di operasi untuk menyelamatkan si bayi dan operasi itupun harus melakukan prosedur pengangkatan rahim anda Ibu Ema, agar sel ganas itu bisa segera dimatikan dan tidak merembet ke bagian organ tubuh ibu lainnya dan akan berakibat fatal. Kami belum menyebutnya sel kanker, karena masih ada harapan untuk di hentikan walau dengan cara yang sedikit ekstreme. " ujar dokter Faisal sebagai ahli patologi.
Kembali Indra dan Ema saling berpandangan. Kenapa hasil pemeriksaan di rumah sakit sebelumnya dan di rumah sakit ini berbeda? Apa yang membuatnya berbeda? Karena penasaran Indrapun menanyakan kenapa hasil pemeriksaan kedua rumah sakit berbeda.
Dengan Enteng dokter Faisal menjawab. "Mungkin mereka hanya melihat pertumbuhan sel asing tersebut yang begitu cepat tumbuh sehingga mereka langsung menyimpulkan kalau itu adalah sel kanker. Namun tidak semua sel asing dalam tubuh itu berbahaya, jika pertumbuhannya lambat. Namun jika pertumbuhannya sangat cepat memang itu sangat berbahaya. Dan untuk sel kanker itu sendiri memiliki jaringan yang bisa menyebar kemana-mana, namun dalam kasus ibu, selnya hanya menempel di bagian ovarium. " Dokter Faisal hanya menjelaskan agar mudah dipahami saja. Jika dia menjelaskan secara medis mungkin akan membuat kedua orang itu kebingungan.
"Sekarang apa Ibu bersedia untuk operasi? Kalau bersedia, kami akan menyiapkan jadwalnya. " kata dokter Faisal lagi.
__ADS_1
Ema mengangguk, yakin. "Iya dok, lakukanlah. Selamatkan anak saya. "
Indra langsung menggenggam erat tangan Ema, ingin menangis pun dia tak mampu, karena yang dibutuhkan Ema saat ini adalah dukungan dan semangat darinya. Jadi dia harus kuat.
Indra tidak menyangka kalau kedua anaknya harus dilahirkan dengan prematur dan jalan operasi. Tapi asal mereka selamat, Indra tidak apa-apa. Dan bersyukurnya, walau Alvian lahir dengan prematur dia termasuk anak yang cerdas dan selalu bertanya jika dia penasaran dengan suatu hal. Semoga adik Alvian juga seperti itu. Hanya itu harapan Indra saat ini, selain keselamatan istri dan anaknya tentunya.
Akhirnya dokter Faisal dan dokter Rima akan melakukan operasi padamalam nanti, karena jadwal nanti malam kosong. Jadi mereka akan segera melakukan proses tersebut dengan cepat sebelum semuanya terlambat. Ema juga sudah disuruh puasa sejak pagi. Sehingga hanya melalui cairan infus itu dia bisa mendapatkan tenaga.
Tepat pukul 6 malam Brankar Ema dibawa keruang operasi, diikuti Indra yang menggandenga Alvian dibelakangnya. Sesampainya di ruang operasi segera dilakukan tindakan kepada Ema.
Diluar ruangan, Indra mendekap tubuh kecil Alvian. meminta kekuatan dari sosok kecil tersebut. Hingga sebuah tepukan dibahunya mengagetkan Indra. Indra segera mendongak dan melihat siapa yang sudah menepuk bahunya.
"Keenan." ucap Indra tergagap.
Keenan hanya tersenyum dan duduk disamping Indra.
"Aku, sudah tau semuanya. Sebelum mereka memutuskan semua ini aku sudah memeriksa hasil pemeriksaan Ema, dan kami juga memeriksa hasil pemeriksaan dari rumah sakit sebelumnya. Hasilnya sama tapi ada yang mereka lewatkan. Kalau itu bukan kanker, melainkan Kista yang bersifat agresif. Kista itu yang mengambil sari makanan yang seharusnya di berikan kepada bayi kalian, namun dia juga mencurinya, sehingga dia juga tumbuh seperti bayi. Dan itu yang membuat tubuh Ema menjadi kurus dan lemah seperti itu. Tapi untungnya Bayimu anak yang kuat, karena dia bisa bertahan dan melawan monster yang ada disampingnya dan hidup dengannya selama beberapa bulan ini. Berdoalah agar operasinya lancar dan Ema serta bayinya bisa selamat. " ujar Keenan menjelaskan apa yang dia tahu.
"Hiduplah dengan baik dan bahagia. " ujar Keenan sambil menepuk bahu Indra yang bergetar.
Indra menganggukkan kepalanya dengan tubuh yang masih bergetar menahan tangisnya.
"Aku akan menemanimu, sampai operasi Ema selesai. " ujar Keenan lagi.
Indra langsung mendongak dan menatap Keenan tak percaya.
"Bagaimana dengan Hana? apa dia tidak akan marah? " tanya Indra dengan mata yang sudah memerah.
"Tidak, aku sudah meminta ijin darinya dan dia mengijinkan. Kau tahu kan wanita itu adalah makhluk paling kepo di dunia. Dia berpesan kepadaku agar aku memberikan kabar kepadanya jika Ema sudah melahirkan dan bagaimana keadaannya. " ujar Keenan sambil terkekeh.
Mendengar itu, Indrapun ikut terkekeh. Dia sedikit terhibur dengan ucapan Keenan barusan yang menyebut istrinya makhluk Kepo.
__ADS_1
Keenan terus mengajak Indra mengobrol untuk mengalihkan perhatiannya agar tidak tegang. Dia juga menceritakan tentang Galen anaknya bagaimana kebiasaan dan kehidupannya sehari-hari. Indra sangat bersyukur kalau ternyata anaknya diterima dengan baik oleh Keenan, bahkan Keenan sudah menerimanya sejak ia masih berada didalam kandungan.
"Terima kasih, Ken. Karena kau sudah mau menerima anakku dan merawatnya seperti anakmu sendiri. "
"Tentu saja, karena sejak Hana ketahuan hamil, akulah yang berada disisi nya. " kata Keenan sombong.
Indra terkekeh mendengar kesombongan Keenan, dan dia pantas menyombongkan dirinya.
Setelah satu jam menunggu, terdengar pintu ruangan operasi terbuka. Dan seorang perawat keluar menggendong bayi. Keenan dan Indra segera mendekati perawat itu.
" Bagaimana? " tanya Keenan.
"Dokter berhasil mengeluarkan bayinya. Sekarang dokter sedang melakukan operasi pengangkatan rahim. Saya harus membersihkan bayi ini dan membawanya ke dokter anak agar diobserfasi. "
"Baiklah lakukan yang terbaik. " ujar Keenan.
"Tunggu, apa jenis kelamin anakku? " tanya Indra.
Perawat itu tersenyum dan memperlihatkan bayi merah itu kepada Indra.
"Selamat tuan, bayi anda perempuan, dan semuanya sehat. " ujar Perawat itu.
Indra sangat bahagia mendengarnya. Setelah kedua anaknya laki-laki kini dia diberi anak perempuan. Indra sangat bersyukur akan hal itu.
"Pergilah, sus. Dan segera tangani anak ini. " ujar Keenan.
Perawat itu segera menuruti perintah Keenan dan pergi untuk melakukan perawatan bayi.
Keenan segera memeluk Indra yang sedang bahagia.
"Salamat ya, Ndra. Sekarang kita tinggal berdoa untuk Ema. "
__ADS_1