Aku Terjerat Cinta Satu Malam

Aku Terjerat Cinta Satu Malam
Kebingungan


__ADS_3

Cukup lama Lucy berada di ruangan Batista. Mereka mengobrol panjang lebar bahkan Lucy menceritakan semua tentang hubungannya yang telah berakhir dengan Niko.


Walaupun Batista masih terlihat kesal dengan kehadiran Lucy, dia juga terhanyut dengan semua cerita-cerita itu. Batista mendengarkan semua ocehan Lucy dan mengingatkan sewaktu ia masih berpacaran dengan Lucy.


Hal itu mengingatkannya pda jaman saat ia melakukan pendekatan dengan Lucy yang dulu adalah juniornya di Kampus, mereka lebih banyak curhat satu sama lain tentang kehidupan pekerjaannya, rutinitas kuliahnya hingga menjadi sangat dekat dan memutuskan untuk berpacaran sehat.


Lucy bertanya-tanya tentang wanita yang telah dinikahi oleh Batista. Ia ingin mendengar kisah Batista yang dulunya ia ketahui tak pernah dekat dengan wanita manapun kerena penghianatannya dengan Niko.


"Kenapa kau tak menceritakan tentang istrimu?" tanya Lucy menerka-nerka kecantikan rupa Fira yang menurutnya akan mengalahkan kecantikannya.


"Istriku wanita sederhana yang cantik. Meski kita bisa akrab seperti sekarang! aku belum bisa memaafkanmu," tegas Batista yang ingin mengakhiri pertemuan mereka.


Batista melirik arloji mewah miliknya yang berada ditangan kanan. Ternyata sudah menunjukan pukul lima sore. Ia harus segera menjemput istrinya di divisi keuangan.


"Sudah waktunya pulang. Lebih baik kau pulang juga. Aku ingin menjemput istriku!" kata Batista.


"Aku masih ingin mengobrol denganmu. Apa lau tidak merindukanku selama ini?" tanya Lucy yang menghentikan langkah kaki Batista menuju pintu.

__ADS_1


"Tidak! aku hanya menghargai kedatangmu saat ini. Selebihnya aku tidak peduli. Untuk semua cerita tadi aku hanya mendengarkannya saja," ketus Batista.


"Tapi sepertinya kau masih mencintaiku kan?" lanjut Lucy mempertanyakan kepastiannya selama ini.


"Tidak! Aku mencintai istriku!" kata Batista sambil meninggalkan ruangan kantornya.


Batista mengajak Bagas untuk pulang dan memerintahkan agar dia segera menghubungi Beni supir pribadinya untuk mempersiapkan mobil di parkiran.


Sementara Batista masuk ke dalam lift menuju ruangan divisi keuangan untuk menjemput Fira. Saat Pintu lift mau tertutup otomatis terdengar teriakan yang berasal dari ruangan Batista.


Tungguuuuu... Suara itu berasal dari suara kencang Lucy. Sontak saja Bagas memencet tombol buka pada Lift itu. Lucy memasuki Lift dan berdiri tepat disamping Batista.


"Apa istrimu kerja disini?" tanya Lucy memecahkan kesunyian ruangan lift.


"Iya!," singkat Batista.


"Berarti aku boleh bertemu dengannya?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Tidak! kau tidak pantas bertemu dengannya," kata Batista sinis.


"Aku jadi penasaran seperti apa istrimu," kata Lucy pelan meski terdengar oleh Batista dan Bagas.


Suara bel menandakan pintu lift terbuka. Batista segera keluar. Ia menyuruh Bagas pulang lebih dulu sekaligus memastikan Lucy pulang agar tak bertemu dengan Fira.


Batista menelusuri lorong hingga memasuki ruangan divisi keuangan. Ruangan tampak sepi, tak ada satupun karyawan.


Namun terdengar hentakan kaki. Rupanya sang manager Fira belum meninggalkan ruangan.


Ia bertemu dengan Batista. "Sore pak. ada perlu apa pak?" tanya Wiwik.


"Mana istri saya," tanya balik Batista.


"Sepertinya sudah pulang dari tadi pak! saya orang terakhir disini," jelas Wiwik.


Batista mengambil telepon genggam miliknya dan segera menghubungi Fira. Sayang Fira tak juga menjawab telpon suaminya itu.

__ADS_1


Batista bertanya-tanya kemana Fira pergi. Tak ada pesan teks maupun telepon dari sang istri.


__ADS_2