
Batista terus menggoda istrinya. Fira tak berselera menerima godaan suaminya. Pusing dan mual semakin menjadi-jadi.
"Mas! kerja aja sana," usir Fira yang mulai sempoyongan dengan kepalanya.
Rasa mual yang ada dikerongkongannya semakin menjadi. Perutnya serasa terkocok-kocok. Batista makin membuatnya kesal. diatas kasur ia masih membaringkan tubuhnya.
Namun rasa muntahnya kini tak terbendung lagi.
Hueekkk..
Huekkk...
Semua isi perut Fira kembali ke luar. Yang bikin suaminya kaget, muntahan itu berada diatas ranjang mereka. Fira tak sempat berlari ke kamar mandi. Semua muntahannya keluar begitu saja.
"Tuhkan mas sih godain aku terus!!" kecam Fira menyalahkan suaminya.
Bi Inaaahhhh!!!
Teriak Batista dari dalam kamarnya membuat seluruh pembantunya berlari berdatangan. Bukan hanya Bi Inah yang datang, tapi kedua pembantunya yang lain.
"Ada apa tuan?" tanya Bi Inah.
"Tolong bersihkan semua muntahan istri saya! jangan sampai ada bau yang tercium," perintah Batista.
Batista mengangkat istrinya. Dan membawanya kembali ke ruang tamu.
"Mas aku nggak kuat banget. Pengen muntah terus," keluh Fira. Ia juga meminta maaf pada suaminya karena muntah diatas kasur mereka.
Batista tersenyum kecil. Salahnya juga dari tadi malah menggoda istrinya pada sudah dikatakan ia sedang mual dan pusing. Sambil berjalan Batista mengelus-elus punggung Fira agar mualnya mereda.
Dia juga mengoleskan minyak angin beraroma eukaliptus yang membuat rasa mual dan pusingnya kini mereda.
"Duduk disini dulu! aku ambilkan makanan. Semua makanan sudah kau keluarkan tadi dari muntahanmu. Kasian bayinya nggak ada makanannya," ucap Batista sambil menyandarkan istrinya di sofa ruang tamu.
"Nggak mas! aku nggak berselera. aku nggak mau makan," kata Fira menghentikan langkah kaki suaminya menuju dapur.
Tapi Batista kembali melanjutkan jalannya. Ia segera menyeduh susu hamil yang ada di dapur dan memberikannya pada Fira.
__ADS_1
"Minum ini aja! biar nggak kosong perutnya," Batista monyodorkan segelas susu coklat hangat.
Fira meraih gelas berisi susu dan meminumnya. Agak sedikit reda korongkongannya dengan rasa manis coklat dan suhu hangat.
Batista duduk disebelah sang istri. Melirik kearah seluruh ruangan. Mencari sosok mertuanya tapi tak terlihat.
Fira melihat gelagat suaminya tahu kalau saat ini Batista mencari sosok ibunya. "Ibu lagi tidur mas. Tadi ibu bilang lagi capek banget jadi mau istirahat," kata Fira.
Batista tersenyum. Dan mengarahkan Fira untuk berbaring diatas sofa. Ia mencari sosok mertuanya bukan untuk bertemu melainkan memastikan bahwa mertuanya itu tidak kelur dari kamarnya.
Fira terbaring lemah, kepalanya berada diatas paha sang suami. Rasa mual dan pusingnya memang membuat ia jengkel. Karena aktivitas apapun tidak bisa ia lakukan saat ini.
Sambil membiarkan istrinya terbaring, Batista mengambil ponsel miliknya. Ia membaca pesan-pesan dari Bagas tentang persoalan kantornya.
Beberapa pesan yang ia baca, ada rapat penting yang harus ditunda karena ketidakhadirannya.
"Mas"
Fira menghentikan Batista yang sedang fokus melihat layar ponselnya.
"Apa nggak masalah kalau besok aku nggak memberikan langsung surat resignku. Tapi aku merasa tidak enak dengan bu Wiwik, managerku mas" jelas Fira.
Batista menyimpan ponselnya diatas meja. "Apa yang kau takuti? itu perusahaanku! mereka semua tahu kalau kau istri bos. wajar jika keputusanmu berhenti dari perusahaan akan diurus semuanya oleh Bagas,"
*******
Fira resmi resign dari kantor suaminya. Surat resignya disampaikan oleh Bagas kepada manager Fira. Beberapa karyawan sempat heboh dan mengira-ngira apa alasan Fira untuk resign karena selama ini mereka tahu kalau Fira terus bertahan bekerja meski suaminya ada presdir di perusahaan mereka.
Wiwik melihat surat resign yang berada ditangannya. Ia menjadi merasa bersalah pada Fira karena sering memberikan tugas menumpuk untuk dikerjakan seorang diri.
Wiwik bertanya-tanya apakah tindakannya yang berlebihan membuat Fira mengajukan resignnya tanpa berpamitan lebih dulu.
"Kayaknya karena ibu tuh dia resign. Sering ngasih kerjaan yang berlebihan," celetuk Stefan, teman kerja Fira dari seberang pintu tempat managernya berdiri.
Wiwik diam tak menghiraukan Stefan. Semua karyawan menatap Stefan dengan tajam. Wiwik memasuki ruangannya kembali dan membiarkan kericuhan di kantor bagian divisi keuangan.
"Bisa jadi karena alasan lain kali Stef!" balas salah satu karyawan lainnya.
__ADS_1
"Mungkin" Stefan mengangkat kedua tangannya dan segera menduduki kurainya kembali.
Semenjak Fira resign, tak ada aktivitas yang ia lakukan. Dia hanya fokus mengatasi efek kehamilan mudanya. beruntung ada sang ibu yang terus menemani kesepiannya saat berada di rumah.
Sudah selama satu minggu Fira terus merasakan pusing dan mual. Dan Batista tak bisa terus menemaninya di rumah. Banyak kerjaan yang harus diselesaikan oleh suaminya karena cutinya selama sehari kemarin membuat kerjaannya terus menumpuk.
Batista harus menyelesaikan kerjaan mulai bertemu dengan koleganya hingga memeriksa berkas penting. Kerjaan Batista yang tak kelar-kelar membuat ia harus lembur di Kantor.
"Huh baru seminggu aja sudah bosan di rumah terus. Apalagi selamanya! keluh Fira yang sedang duduk disamping Senny sambil menonton sinetron favoritnya.
Senny melirik putrinya. Entah apa yang harus ia katakan, sebab baru-baru ini juga berdiam di rumah seperti putrinya. Selama ini dia sibuk berjualan sehingga tidak ada waktu untuk menonton sinetron seperti sekarang.
*****
Batista pulang larut malam. Semenjak Fira resign, pikirannya juga semakin kacau dan sering sekali curiga pada suaminya.
Terlebih jika Batista pulang larut malam. Fira berpikiran suaminya akan bersama wanita lain termasuk mantan kekasihnya yang sempat datang mengganggu rumah tangga mereka.
Tapi setelah kejadian tidak bersama, Lucy tak pernah terlihat. Entah apa yang direncanakan Lucy saat ini sehingga dia menghilang dan tak muncul lagi dihadapan Batista. Lucy juga belum mengetahui kalau istrinya Batista tengah mengandung buah hati mereka.
Fira tak bisa tertidur. Selama kehamilannya dia malah lebih sering begadang hingga menunggu suaminya pulang.
Batista tampak lelah. Tapi ia tetap mencium kening istrinya yang sedang terbaring santai sambil memegang ponselnya yang bolak-balik melihat media sosial miliknya.
Meski sangat lelah, Batista rupanya sudah mempersiapkan kejutan untuk istrinya. Selama seminggu berturut-turut ia pulang larut malam dan terus ditunggu oleh Fira. Di tahu Fira baru bisa tertidur nyenyak kalau suaminya sudah berada disampingnya.
Batista menyodorkan sebuket bunga mawar merah. Meski sudah larut malam, Batista menyempatkan mampir di toko bunga yang buka selama 24 jam.
Fira kegirangan mendapat kejutan dari suaminya. Hatinya meleleh dengan sebuket bunga segar yang ia terima. Suaminya begitu romantis.
"Suka?" tanya Batista tersenyum meski dengan raut wajah yang lelah.
Fira berdiri dan memeluk suaminya. Lalu mengecup bibirnya dengan lembut. Kejutan yang sederhana tapi mampu meluluhkan hati Fira.
Sudah lama ia juga tidak menerima buket bunga dari suaminya yang ganteng itu. Baru saja Fira ingin melepaskan kecupan bibirnya. Namun tubuhnya ditahan oleh Batista. Batista membalas kecupan itu dengan ******* bibirnya.
Ia ingin menghilangkan kelelahannga bekerja selama di Kantor. Sudah seminggu penuh juga dia berpuasa dan tidak menyentuh istrinya. Kali ini Fira tidak akan lolos dari pelukannya.
__ADS_1