
"Sebenarnya udah bisa mas mengetahui gendernya. Tapi aku tadi udah kode ke dokternya, supaya merahasiakan hal itu. Aku inginnya surprise saat kelahiran nanti," akunya dengan tatapan serius.
"Yaaah!! Kenapa harus nunggu selama itu? Kan kita bisa mempersiapkan kelahirannya juga kalau sudah tahu gendernya," kilah Batista karena ia penasaran sekali anak mereka bergender perempuan atau laki-laki.
"Hehehehe!! Tadinya juga aku penasaran mas, tapi kuurungkan lagi niatku. Akhirnya aku beri kode ke dokter agar lebih baik dirahasiakan. Kayanya lebih seru dan deg-degan mas saat menanti kelahirannya," balas Fira dengan senyum simpulnya meyakinkan sang suami.
"Ya, kalau itu keinginanmu aku lebih baik mengalah saja. Kan kau ratunya di rumah ini. Apapun keputusan yang kau buat, aku hanya bisa menurutinya saja," papar Batista mengalah.
"Yaudah mas! Kau mau makan sekarang apa nanti? Sekarang sudah jam tujuh malam loh," ujarnya memperingatkan.
"Lebih cepat lebih baik dong," sahut Batista mengerling, memberikan tanda bahwa hari ini harus ada jatah malam ranjangnya.
"Dih genit amat sih mas. Sepertinya aku lagi tidak enak badan mas," tolak Fira dengan segala alasannya.
"Ayolah sayang! Sudah seminggu nih tidak mendapatkan belaian kasih sayang," goda Batista seraya menggelitik pinggul Fira.
"Aahhh geli mas!! Lihat nanti deh," sahut Fira berjalan gontai mengarah keluar kamar mereka.
"Mau kemana sayang?" tanya Batista kebingungan.
"Kan mau makan malam. Ayo buruan," ajaknya mengingatkan kembali.
Batista beranjak dari atas ranjang, melangkah dengan lebar mengekori istrinya. Selama menuruni anak tangga, Batista terus bergelayut manja pada Fira, hingga membuatnya menjadi risih.
"Mas jalannya bisa biasa aja nggak," ketus Fira yang malu jika ketemu ibunya, malah melihat tingkah Batista yang begitu manja.
"Ah ibu sudah biasa sepertinya kalau lihat kita sedang bermesraan," jawabnya mengerling.
"Hussshh.. Dah sana jalan kaya biasa aja!" Fira mengendurkan pelukan suaminya dan berjalan seperti biasanya.
Saat tiba di meja makan, belum ada tanda-tanda kehadiran sang ibu. Biasanya, ibunya adalah orang yang pertama kali duduk di meja makan menunggu kedatangan pasutri ini.
"Mas, tunggu sebentar aku akan panggilkan ibu," ujar Fira menatap sang suami yang sudah santai berada dikursi makannya.
"Iya,"
Fira berjalan gontai kearah kamar ibunya yang tidak jauh dari meja makan.
Tok
Tok
Tok
Tak ada sahutan dari dalam kamar, meski Fira sudah mengetuk pintu itu dengan kencang.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
Lagi-lagi Fira mengetuk pintu dengan sangat kencang, tetapi tak ada sahutan apapun. Ketika ia mencoba menarik handel pintu, tapi pintu itu terkunci dari dalam.
Ibu Ibu Ibu, Buka pintunya!
Fira terus berteriak, membuat Batista khawatir karena suaranya terdengar sangat jelas.
Batista sampai berlari menemui istrinya.
"Ada apa sayang?" tanyanya dengan wajah khawatir.
"Nggak ada respon dari ibu mas. Gimana ya? Aku khawatir banget. Pintunya juga dikunci dari dalam. Padahal tadi ibu baik-baik saja kan?" katanya dengan nada panik.
"Apa ibu sedang tidur? Mungkin saja lelah setelah dari rumah sakit tadi sayang," ujar Batista seraya menenangkan Fira.
"Kalaupun tidur, pasti ibu mendengarkan panggilanku mas! Biasanya kalau tertidur sekalipun, jika mendengar panggilan pasti akan ada responnya," tutur Fira yang terus terkena serangan panik.
Batista coba menarik handel pintu kamar milik Senny, tetapi pintu itu terkunci, tidak bisa dibuka sama sekali. Kemudian dia beralih mencari kunci cadangan di nakas yang berada di ruang keluarga.
Krek krek
Sepertinya ada sesuatu yang menahan, kunci tidak bisa memutar. Ia mencoba menarik handel pintunya, tetap saja masih terkunci.
"Sepertinya kunci kamar ibu masih menggantung didalam. Percuma kita buka pakai kunci cadangan, tidak akan bisa," tutur Batista dengan datar, ia jadi semakin khawatir mengapa mertuanya tidak merespon padahal mereka berdua sudah panik diluar.
Ibu! Buka pintunya!
Fira terus berteriak, menggedor pintu dengan kencang hingga tangannya memerah. Tapi ia tak mendapatkan tanda-tanda kedatangan ibunya. Sayangnya itu tak sesuai harapannya.
"Dobrak saja mas!" perintah Fira dengan setengah berteriak.
"Iya! Kau yang tenang dulu. Jangan terlalu panik," ucap Batista menenangkan.
Bugh
Bugh
Bugh
Tiga kali dorongan tubuh Batista mengenai daun pintu kamar tapi tak kunjung terbuka.
__ADS_1
Ia mencoba sekali lagi mendobrak pintu tersebut.
Brakkkk!!
Suara daun pintu terbuka sangat keras. Fira dan Batista berjalan dengan panik mencari didalam. Mencari sosok mertuanya.
Senny mertuanya ternyata sudah terbaring diatas lantai dengan mata tertutup. Membuat Fira semakin terlunglai dengan lemas melihat ibunya yang tepar. Ia terduduk di lantai dengan wajah lesu nan pucat, sementara Batista mengangkat tubuh mertuanya ke atas ranjang.
"Sayang yang tenang! Sadarkan dirimu," teriak Batista menyadarkan istrinya.
"Mas! Ibuku kenapa mas hiks hiks," ucapnya tersedu-sedu. Kini rasa paniknya digantikan dengan rasa sedih yang tak terbendung lagi.
"Hikss... Hiksss.. Ibu! Bangun bu," ucapnya tersedu-sedu dengan wajah pucat. Bulir-bulir bening itu semakin membasahi pipinya yang agak sedikit chubby karena kehamilannya.
Disisi lain, Batista mencoba untuk mengecek denyut nadi mertuanya. Ia memegang samping leher mertuanya, dimana denyut nadi berada.
Tapi tidak ada denyutan sama sekali. Batista meletakkan dua jarinya didepan hidung mertuanya, bahkan tidak ada tanda-tanda pernapasan sama sekali. Batista semakin panik kalau istrinya sampai mengetahui ibunya telah tiada.
"Mas apa ibu masih bernafas?" tanya Fira dengan rengek tangisnya.
Batista tak berani menjawab pertanyaan itu. Ia coba melakukan CPR sebagai pertolongan pertama. Kepala mertuanya perlahan ia tengadahkan keatas agar lebih tinggi dari dadanya.
Kemudian ia mengatupkan kedua tangannya diatas dada sang mertua, seolah memompanya keatas dan kebawah secara perlahan. Tidak ada juga tanda-tanda pergerakan juga. Hal itupun membuat Fira semakin histeris.
"Mass! Ibu Mas!! Ayo bawa ke rumah sakit," teriak Fira dengan histeris seraya beranjak dari atas lantai.
Batista mencoba gerakan lebih kencang lagi, masih tidak ada tanda-tanda merespon. Akhirnya dengan sigap ia menggendong mertuanya.
"Buruan sayang!" teriak Batista, menyusuri rumah mereka berjalan ke arah bagasi mobil.
"Pak Beni! Pak! siapkan mobil," teriak Batista yang melihat Beni tengah asik merokok di post satpam. Jam tujuh begini bisanya Beni supirnya belum masuk ke kamarnya, pasti ia lagi bercanda gurau dengan satpam rumah, menikmati kopi dan rokoknya.
Dengan tertatih-tatih, Beni menghampiri Batista yang sedang menggendong mertuanya diekori oleh istrinya dari belakang.
Ia membukakan pintu penumpang tanpa bertanya sedikitpun. Suasana yang tegang seperti sekarang sudah membuat ia mengetahui kondisi apa yang telah terjadi.
Apalagi melihat Fira yang nangis tersedu-sedu meratapi kondisi ibunya yang terbaring lemah didekapan suaminya.
"Buruan pak ke rumah sakit," kata Batista mengarahkan Beni setelah ia meletakkan mertuanya di kursi penumpang disamping Fira.
Fira dengan lemahnya hanya megenggam tangan ibunya yang terasa sangat dingin. Nangisnya tak henti-henti membuat suasana semakin risau.
Sedangkan Batista dengan panik duduk disamping pak Beni yang sibuk mengemudikan stirnya.
Beni menghentikan mobil dihalaman depan UGD, membukakan pintu. Sementara Batista mengitari mobil, menggendong kembali mertuanya. Ia berlari masuk ke UGD, beberapa perawat yang melihat kejadian itu membawakan brangkar.
__ADS_1