
Batista baru pulang subuh, kebetulan hari itu memasuki weekend dan dia libur bekerja. Batista memanfaatkan waktu luangnya dengan tidur seharian.
Dia sengaja ngobrol lama dengan Niko karena ia tahu besoknya adalah hari Sabtu. Waktu dimana ia akan berlibur dan berleha-leha. Sementara Fira Andriani masih menunggu hingga suaminya terbangun.
Mulai dari melewatkan sarapan hingga makan siang belum juga terbangun. Fira juga tak mau membangunkannya karena ia tahu suaminya baru pulang subuh tadi.
Diwaktu libur suaminya, tadinya ia ingin mengajak Batista dan sang ibu liburan ke Puncak. Tapi rencana itu batal karena Batista tak kunjung bangun.
"Bu sepertinya kita tidak bisa ke puncak hari ini. Mas belum juga bangun. Fira nggak mau bangunin mas Batista khawatir dia lelah bekerja seharian kemarin. Lebih baik untuk hari ini kita di rumah saja," ucap Fira sambil menonton tv bersama Senny.
Senny mengangguk menyetujui permintaan anaknya. Padahal selama di Salon kemarin, Senny yang meminta agar anak dan mantunya mengajaknya ke puncak untuk berlibur. Senny belum pernah ke Puncak, padahal jarak antara Jakarta dengan Puncak hanya memakan waktu dua jam saja.
Sayang rencana itu gagal, Senny kembali menonton sinetron favoritnya ditemani oleh Fira. "Nduk tadi pagi ibu sempat bertemu nak Batista. Dia sepertinya capek sekali. Tapi tumben nduk, dia pulang sampai jam segitu? katanya baru beres rapat penting," tanya Senny.
"Fira juga nggak tahu bu kenapa mas pulang sampai subuh. Nggak biasanya begitu, paling lama pasti sampai jam 00.00 saja," balas Fira.
Sampai memasuki sore hari, Batista belum juga terbangun dari tidurnya. Akhirnya Fira berinisiatif untuk membangunkannya. Ia keatas menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Baru memasuki kamar tidurnya, Batista masih terlihat sangat pulas. Tidak menyadari kehadiran Fira. "Mas bangun mas," ucap Fira dengan lembut sambil menggoyangkan tubuh suaminya agar terbangun dari tidurnya.
Hingga tiga kali Fira mencoba membangunkannya, Batista masih juga tidur dan belum terbangun. Akhirnya Fira mencium bibir suaminya dan ********** dengan lembut. Mendapat ciuman hangat dari sang istri dia langsung terbangun dari tidurnya.
Perlahan Batista melepaskan sentuhan bibirnya dengan bibir Fira dan menggerakkan tubuhnya melihat langit-langit. Ia berkata "Ada apa sayang?"
"Mas belum bangun dari tadi! sekarang sudah mau malam lagi. Nanti mas malah begadang loh," jawab Fira.
Batista langsung mengecek ponselnya dan melihat jam dilayarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 17.30, Batista masih juga belum merasakan kelaparan padahal sudah seharian tertidur.
"Mas apa enggak lapar? mas belum makan dari pagi loh," Fira mengingatkan suaminya.
Batista menggeleng dan masih dengan posisi rebahan. Tubuhnya sulit terbangun dan masih belum sadar penuh. Ia meraih tubuh istrinya dan memeluk istrinya dengan hangat.
"Kamu ganggu aku deh. Ganggunya kenapa harus cium-cium sih? baru juga bangun tidur, gairahku sudah naik," bisik Batista di daun telinga istrinya.
"Mas dibangunkan dengan cara baik-baik nggak bisa. Coba kalau dengan cara mesum begitu, langsung bangun. Dasar mesum," lirih Fira sambil mencubit genit dada suaminya.
"Hmm iyaah dong! Kalau sama istri sendiri ya nggak masalah mau mesum juga. Kan mesumnya halal," bisik Batista lagi.
"Bicaranya biasa aja dong sayang, gausah bisik-bisik! geli tahuuuuu," ketus Fira.
Batista memeluk erat istrinya dan mencium lembut pipinya. Fira mulai membuka suaranya dan bertanya alasan suaminya mengapa sampai pulang hingga matahari akan terbit lagi.
"Mas ada apa kemarin? kenapa pulang subuh," tanya Fira pelan, dia tidak ingin memancing kemarahan suaminya.
"Ohh aku ketemu Niko, sahabatku dulu. Maaf aku tidak memberitahumu," balas Batista sambil menunjukkan permintaan maafnya dengan mencium bibir Fira dengan cepat.
__ADS_1
"Kenapa ketemunya subuh-subuh gitu," tanya Fira polos.
"Kami sudah lama tidak bertemu! hampir lima tahun! Jadi kita ngobrol panjang lebar dan tidak ingat waktu," Batista mulai melanjutkan kebohongannya.
Kebohongan tentang alasannya mengapa sampai harus menemui Niko. Awalnya hanya membohongi Fira tentang tidur tanpa pakaian bersama Lucy. Lama kelamaan kebohongan bertambah dari adanya foto toples, serta meminta saran dari sahabatnya Niko.
Dering ponsel Batista membuyarkan percakapan antara dirinya dan Fira. "Mas angkat telepon dulu," ucap Batista sambil melihat kontak yang tertera dilayar ponselnya.
Ada nama Niko disana, Batista berpikir sejenak untuk apa Niko menghubunginya disaat weekend begini. Apakah masih menyinggung persoalan tentang Lucy ?
"Kenapa nggak diangkat mas," tanya Fira menghentikan lamunan Batista.
"Halo,"
Batista menjawab teleponnya. Sebelumnya ia sudah mengecilkan volume speakernya agar tidak terdengar oleh sang istri.
"Bro bagaimana kalau hari ini kita bertemu? lo libur kan? gue mau kenalin istri gue nih. Ajak istri lo bro," jelas Niko dari seberang teleponnya.
"Oke! mau ketemu dimana?" tanya Batista.
"Di Cafe FF aja bro. Tempatnya enak tuh," balas Niko.
"Oke jam 19.00 ketemu disana ya," Batista langsung menutup teleponnya kemudian ia melirik istrinya yang sudah terlihat cantik.
"Sudah sayang. Sebelum nonton tv bareng ibu, aku mandi dulu," jawab Fira, ia penasaran siapa yang menelpon suaminya tadi.
"Siapa tadi yang telepon," tanya Fira lagi.
"Si Niko! sahabat yang tadi aku ceritain. Katanya pengen ketemu di Cafe FF, siap-siap gih! dia ajak istrinya juga," balas Batista.
"Baru kali ini aku dikenalin sama teman kamu. Biasanya aku nggak kenal siapapun. Kalau kamu ada apa-apa bingung mau menghubungi siapa," kata Fira datar.
"Aku sama Niko juga baru ketemu minggu lalu. Karena dia lama menghilang, nggak muncul didepan muka aku gitu," Batista langsung berdiri dan segera mandi.
Ia akan bersiap-siap menemui Niko. Sementara Fira langsung mengganti bajunya. Jarak tempuh ke Cafe FF memakan waktu hingga 30menit. Lumayan jauh bagi Batista dan Fira, tapi Cafe itu dekat dengan rumahnya Niko.
Fira terlihat sangat cantik dengan gaunnya yang berwarna hitam. Perut buncitnya belum kelihatan karena masih berusia dua bulan. Batista yang baru keluar kamar mandi, buru- buru memeluk Fira dari belakang.
"Uuhh papa lupa tadi peluk dede bayi!" Batista juga sambil mengelus-elus perut istrinya.
Kemudian mencium leher istrinya yang sudah terlihat cantik sore ini. Belum lagi dandanannya yang sederhana tapi terlihat mewah makin-makin membuat Batista jatuh cinta.
"Kamu cantik banget," bisik Batista kembali menggoda Fira.
"Ih kamu buruan pakai baju sana! udah jam 18.10 loh, belum juga kamu makan," ucap Fira sambil menarik handuk Batista sehingga handuk itu terjatuh dan terlihat tubuh telanjang suaminya.
__ADS_1
"Kamu mulai iseng yaa. Katanya nggak mau digoda, tapi malah melorotin handuk aku," goda Batista pada istrinya yang sudah terlihat sangat rapih dan siap.
"Buruan!!" teriak Fira.
Batista langsung menggunakan setelan kemejanya. Tampak sangat rapih karena mereka akan makan malam bersama.
Fira dan Batista segera ke bawah menuruni anak tangga. Batista langsung melihat sosok mertuanya. Dia baru ingat kalau mertuanya tidak mungkin bisa ikut.
"Ibu! Mohon maaf kami mau keluar bertemu sahabat saya. Apa tidak masalah ibu di rumah? nanti ada Bi Inah dan yang lainnya menemani," tanya Batista.
"Nggak masalah nak. Ibu lebih enak bersantai di rumah. Itukan pertemuan dengan temanmu," ucap Senny santai sambil melanjutkan tontonannya.
"Ibu! Fira pamit dulu ya. Kalau kemalaman, ibu bisa tidur duluan," pinta Fira.
Senny mengangguk dan menerima uluran tangan anak dan mantunya yang bergegas pergi meninggalkan rumah.
"Mas kamu nggak makan dulu? emang nggak lapar?" Fira mengingatkan Batista yang belum memakan apapun seharian.
"Kan disana kita mau makan sayang!! Masa aku makan di rumah dulu, kenyang dong," jawab Batista.
"Iya juga sih," kekeh Fira.
Niko dan istrinya sudah tiba di Cafe FF dari 10menit yang lalu. Mereka langsung menyambut kedatangan Batista dan Fira.
"Hey bro!" Niko melambaikan tangannya pada Batista.
Tempat itu sudah dibooking oleh Niko sehingga tidak ada pengunjung lainnya yang datang. Hanya mereka berempat.
Batista dan Niko saling berjabat tangan. Begitu juga dengan Fira langsung meraih tangan Niko.
"Kenalin nih istri gue, Cyntia! Orang Bandung," ucap Niko dan Cyntia mengulurkan tangannya sambil menunjukkan senyum ramahnya.
Batista dan Fira menjabat tangan Cyntia. "Saya Fira istrinya mas Batista," kata Fira sambil tersenyum.
Niko langsung mempersilahkan Fira dan Batista untuk duduk di kursinya. Makanan mulai disajikan oleh pramusaji. Menu-menu andalan Cafe FF merupakan steik sapi menjadi hidangan utama hari ini.
"Gue sengaja nih bro ngajak lo bertemu! sesuai janji gue lah, kan ingin kenalin istri gue! dan gue juga mau lihat istri lo," jelas Niko.
Niko melanjutkan perkataannya. "Batista ini sahabat gue dari dulu! cuma karena ada masalah sesuatu, gue jadi ngejauhi dia. Maklumlah laki-laki gengsinya gede. Ya kan bro,"
"Iya," jawab Batista singkat tidak ingin memperpanjang persoalan dulu karena tidak ingin melihat istrinya sedih mengingatkan pada mantan kekasihnya.
"Emang masalah apa mas Niko?" tanya Fira penasaran.
Pertanyaan Fira membuat suasana hening. Niko tergagu dan mulai memikirkan apa yang ingin dia ceritakan. Persoalan itu juga belum diketahui oleh Cyntia karena Niko tidak menceritakan tentang Lucy.
__ADS_1