
Mendengar perkataan Fira, Batista berpikir sejenak. Apa yang harus ia jawab pada istrinya. Seingatnya memang ia tidak pernah bercerita tentang mantan kekasihnya. Hanya saja Fira sudah mengenal Lucy karena kejadian beberapa bulan yang lalu.
Sambil menyetir, Batista mendinginkan kepalanya. Berpikir secara positif, jawaban apa yang akan dia berikan.
"Kok diam sih mas?" desak Fira yang menunggu jawaban dari suaminya.
Batista menoleh dan melihat wajah istrinya dan berkata. "Kata siapa satu? sepertinya aku tidak pernah menceritakan tentang masa laluku padamu. Sesuai dengan perkataanku tadi saat kita berkumpul, masalaluku bersama Niko ya memang namanya Dea,"
Batista menekankan pada istrinya agar tidak lagi membahas masa lalu. "Lebih baik kita fokus pada masa depan kita sayang! Masa lalu biarlah menjadi masa lalu, tidak perlu diingat lagi. Sekarang yang kita pikirkan bagaimana kita bisa menjadi orangtua yang baik bagi anak kita nantinya,"
Batista kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan didepan. Ia tidak ingin sesuatu terjadi karena hal sepele seperti ini. Apalagi sudah tengah malam, perjalanan juga lumayan lama menurutnya.
"Oh gitu mas. Kenapa kau takut sekali kalau aku mempertanyakan masa lalumu?" singgung Fira lagi.
"Bukan takut sayang! aku hanya tidak ingin memperkeruh suasana. Kenapa sih sifat perempuan selalu ingin tahu! Ketika sudah tahu masalalunya, mereka malah membenci lelakinya sendiri? padahal mereka yang mencari-cari masalah dengan bertanya-tanya tentang masalalu mereka," balas Batista.
Fira terdiam. Sebenarnya apa yang dipikirkan Fira hingga ia sangat penasaran pada masalalu suaminya sendiri? Bukankah lebih tenang hidup seperti sekarang, tidak dihantui oleh masalalu.
Kalau Fira sendiri tidak ada masalah dengan masalalunya. Batista adalah orang pertama baginya. Dia tidak sempat berpacaran semasa masa remaja hingga saat kuliah. Karena dia disibukkan dengan rutinitas pekerjaan paruh waktunya.
"Iya juga sih," lirih Fira mendengar perkataan suaminya tadi.
Akhirnya Fira tak lagi memusingkan tentang masalalu suaminya. Ia akan melupakan persoalan itu dan fokus pada kehamilannya.
"Sayang? tadinya aku mau ajak kau dan ibu ke Puncak. Tapi seharian ini kau tidur karena pulang subuh! Jadi aku kasihan dan tidak tega membangunkanmu!" Fira melanjutkan perkataannya.
Batista tidak menyangka ternyata istrinya sudah memiliki rencana dihari liburnya. Sayangnya ia melewatkan kesempatan itu.
"Bagaimana kalau malam ini kita langsung ke Puncak. Coba hubungi ibu agar bersiap-siap, dan bilang kita akan segera menjemputnya!" imbuh Batista yang tidak ingin istrinya kecewa.
Barangkali keinginannya untuk pergi ke Puncak karena ia sedang mengidam, makanya Batista tidak ingin mengecewakan Fira.
__ADS_1
"Oke!" balas Fira dengan semangat dan langsung menghubungi ibunya ke nomor telepon rumah mereka.
Haloo?
Suara dari seberang telepon menjawab panggilan Fira. Saat itu yang menjawab telepon adalah Bi Inah, pembantu mereka.
"Bi! ibu mana?" tanya Fira.
"Sedang tidur nyonya. Apa ada hal penting?" tanya bi Inah.
"Iyah! tolong bilang sama ibu agar bersiap-siap! kita akan ke puncak sekarang. Dan tolong siapkan baju saya dan mas Batista untuk dibawa nanti ya," kata Fira sambil menutup teleponnya.
Fira sangat bersemangat untuk pergi ke Puncak. Apalagi ini adalah keinginan sang ibu, karena ia belum sempat menyenangkan hati ibunya karena dulunya sangat sibuk dengan perkerjaannya yang berjualan dan tidak memiliki waktu libur dan uang yang cukup untuk berlibur.
Sekarang sudah waktunya bagi Fira untuk menuruti semua kemauan sang ibu, diusia senjanya selain menimang cucu, pasti akan ada banyak hal yang ingin ibunya nikmati.
Senny ternyata sudah selesai mempersiapkan barang-barangnya. Sama seperti Fira, Senny terlihat begitu semangat untuk berangkat ke Puncak. Keinginannya sejak dulu, ingin menikmati suasana sejuk di Puncak. Melihat pemandangan pohon teh yang membuat sepanjang jalanan puncak terlihat sangat hijau.
Menghilangkan rasa lelahnya dengan cara menikmati suasana dingin Puncak. Keinginan itupun akhirnya terpenuhi sekarang.
Batista memanggil Beni yang berada di Kamarnya untuk memasukkan semua bawaan mereka ke bagasi mobil. "Pak Ben yang nyetir ya!" ucap Batista.
Fira dan Senny duduk dikursi belakang, sedangkan Batista duduk disamping pak Beni. Mobil mewah porsche milik Batista keluar dari perumahan dan berjalan ke Puncak.
Batista mengambil ponselnya lalu membuka sebuah aplikasi khusus pemesanan hotel. Ia langsung booking dua kamar di hotel bintang empat di Puncak.
Tujuan mereka sekarang jelas, menuju hotel dulu karena akan bermalam di Hotel.
*****
Sebelum menelusuri wisata kawasan puncak, Batista, Fira dan Senny sarapan dulu di hotel tempat mereka menginap. Beberapa wisata Puncak sudah menjadi incaran bagi Fira.
__ADS_1
Beberapa tempat mereka kunjungi diantaranya Kebun Raya Cibodas, mereka melihat keindahan bunga sakura yang tumbuh dikawasan itu yang sedang mekar.
Kemudian mereka juga ke bukit paralayang gantole, Batista mencoba paralayang itu, dan itu sangat menguji adrenalinnya. Tapi ia sangat bisa menikmati keindahan puncak dari ketinggian.
Sedangkan Fira dan Senny menunggu dibawah karena mereka tidak diperbolehkan Batista untuk mencoba paralayang tersebut karena kondisi saat ini tengah hamil muda.
Fira dan Senny menunggu Batista hingg selesai dengan mencicipi beberapa kuliner khas Bogor.
Tak lupa mereka juga mampir mengelilingi Kota Bogor yang terkenal dengan sejuta kulinernya. Banyak makanan yang sengaja dicicipi oleh Fira, ia tidak ingin bayinya mengiler saat telah lahir nanti.
Makanan khas Bogor yang dicoba oleh mereka berempat termasuk supir Batista diantaranya, toge goreng, soto Bogor, laksa Bogor, es pala, dan doclang.
Tak lupa Fira juga mampir ke pusat oleh-oleh dan membeli lapis Bogor serta roti unyil yang sangat terkenal di Bogor.
Tidak terasa hari minggu mereka full diisi kegiatan liburan yang cukup menyenangkan. Termasuk Senny, ia sangat bahagia bisa menikmati liburannya selama di Puncak. Beruntung mereka tidak terjebak macet karena berangkat saat subuh, dan pulang dari Puncak di malam hari.
"Sayang makasih udah bawa aku sama ibu ke Puncak," ucap Fira sambil mengecup pipi suaminya sebelum memasuki mobil mereka setelah membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang.
Batista sangat senang jika istrinya juga senang dan bahagia. Mereka akhirnya pulang ke rumah.
Saat berada di dalam mobil, Batista penasaran sebenarnya ke Puncak keinginan siapa?
"Memangnya yang ingin ke puncak Fira atau ibu sebenarnya?" tanya Batista.
"Sebenarnya sih ini keinginan ibu! bukan aku," kekeh Fira.
"Iya ibu sudah lama ingin kesini! tapi tidak pernah kesampaian. Makasih ya nak! sudah ajak ibu kesini," sambung Senny.
Batista mengangguk dan terharu. Akhirnya ia bisa menyenangkan hati mertuanya. Mertua yang sangat baik bahkan sudah dianggap seperti ibu kandung baginya.
Seperti biasa, meski lelah terasa di tubuh Batista, pagi ini dia berangkat pagi-pagi untuk bekerja. Baru saja tiba di ruangannya, setumpuk pekerjaan dan jadwal yang padat sudah dibacakan oleh Bagas.
__ADS_1
Dia mulai mengecek beberapa berkas pagi itu. Dan sudah diharuskan untuk mengikuti rapat dengan para staf di kantornya.
Saat siang hari, dia melanjutkan pengecekan berkas yang belum disentuh olehnya. Tapi tiba-tiba pekerjaanya menjadi buyar karena kedatangan seorang tamu yang sangat tidak ia sangka bahkan tidak diinginkannya.