Aku Terjerat Cinta Satu Malam

Aku Terjerat Cinta Satu Malam
kritis


__ADS_3

Bagas sudah tiba didepan rumah Batista sejak tiga puluh menit yang lalu. Beruntung dia berhasil mencegah kepergian Fira dan ibunya.


"Bu, maaf sekali sesuai dengan perintah pak Batista, ibu tidak boleh kemana-mana! Saya hanya mengikuti perintah atasan saja," ucap Bagas yang duduk dengan suasana tegang menghadapi Fira dan ibunya.


"Tolonglah Bagas, saya sudah bersiap ingin pergi dari rumah ini. Saya ingin lepas dari suami saya. Tolong bantu saya sekali ini saja," nego Fira meminta agar Bagas memilih membiarkannya pergi dan membungkam mulutnya pada Batista.


"Maaf bu! Tidak bisa. Persoalan apa yang membuat itu memberikan keputusan untuk pergi dari rumah ini?" tanyanya gamang.


"Persoalan mantan kekasih suami saya!" ucap Fira dengan suara bergetar. Dia jadi kembali mengingat penderitaan yang dirasakan oleh Lucy Davide.


Semenjak hamil perasaan Fira menjadi lebih sensitif, ia sangat tak tega jika disekitarnya ada orang yang merasakan kesakitan seperti yang Lucy hadapi saat suaminya bertindak kasar dulu.


"Oh soal Lucy," tandas Bagas dengan kepala tertunduk. Ia tahu kalau tindakan bosnya sudah berlebihan menghadapi perempuan seperti Lucy.


"Apa kau juga mengetahuinya?" tanya Fira penasaran pada tragedi beberapa minggu lalu.


"Iya bu! Menurut saya perempuan seperti itu pantas mendapat perlakuan yang kejam. Sebab dia terus-terusan mengganggu pak Batista," kecam Bagas saat mengingat kembali perlakuan buruk Lucy pada bosnya.


Meski Lucy berkali-kali datang ke kantor Andara Grup saat Bagas tak berada ditempatnya, tapi Batista selalu membicarakan Lucy.


Bahkan Batista kerap sekali meluapkan kemarahannya pada Bagas karena membiarkan Lucy masuk begitu saja ke ruangannya.


"Kenapa menurutmu begitu?" tanya Fira sambil menatap tajam sosok sekretaris suaminya itu. Bagas dulunya sering sekali membantu Fira.


Termasuk saat Lucy berkunjung ke ruangan suaminya, Bagas yang menyampaikan kabar itu pada Fira. Hingga suatu waktu ia melabrak kedatangan Lucy.


"Lucy itu perempuan jahat bu! Ibu tidak perlu mengasihani dia! Dia lebih jahat dari ular," ungkapnya dengan nada serius.


"Kenapa?" tanya Fira penasaran dengan lanjutan cerita Bagas.


"Apa ibu mau kalau terus menerus dapat ancamanan yang nggak sama sekali ibu lakukan?" tanyanya datar.


Fira menggelengkan kepalanya, sembari menunggu lanjutan perkataan Bagas.

__ADS_1


"Ibu saja tidak mau kan? Apalagi pak Batista! Semua orang ada batas kesabarannya bu. Yang dilakukan Lucy sudah membuat pak Batista murka hingga setega itu menyekapnya," tutur Bagas.


"Lantas? Apa wajar kalau suami saya sampai ingin membunuhnya?" lirih Fira dengan sendu.


"Tentu salah bu! Tapi bapak melakukan hal itu saat gelap mata. Lucy yang memancing semuanya agar bapak Batista melakukan hal sekeji itu! Dia sudah beberapa kali diingatkan agar tidak mengganggu, tapi terlalu keras kepala," cerita Bagas dengan menggebu-gebu.


"Apa yang membuat suami saya mengamuk sampai gelap mata?" tanya Fira dengan bingung.


"Perempuan itu melepaskan bajunya hanya memakai dalaman saja untuk menggoda pak Batista saat di apartemen. Lalu tak mau menyerahkan foto yang sudah diminta berkali-kali untuk dimusnahkan. Foto yang disetting perempuan licik itu untuk memenuhi keinginannya. Pak Batista hanya ingin mereka tidak lagi terikat," papar Bagas dengan serius.


Bagas memang mengetahui cerita itu dari Batista. Ia akui semua perlakuannya pada Lucy bahkan hingga waktu melepaskan Lucy ke Jerman.


Semua diketahui oleh Batista semenjak Batista sudah menjadi kaki tangannya untuk menyekap Lucy berada di apartemen lamanya. Dan beruntungnya Bagas yang mengungkapkan semuanya dengan jelas sehingga Fira tak berprasangka buruk lagi pada suaminya.


"Jadi perempuan itu benar-benar jahat sekali," gumam Fira. Ia bahkan tak terima, perempuan licik seperti Lucy berani menggoda suaminya.


"Kalau seperti itu ceritanya mengapa mas tidak menceritakan semuanya secara jelas pada saya? Ia hanya mengakui tanpa menceritakan sedetail mungkin," jelas Fira menyesal dengan keputusan ingin meninggalkan suaminya.


"Kritis?" beo Fira menyakinkan apa yang barusan Bagas katakan.


Bagas mengangguk pelan seraya menatap Fira dengan tatapan yang sendu karena khawatir perusahaan itu akan bangkrut. Tentu saja atasannya akan menyembunyikan hal seperti itu pada istrinya yang sedang hamil. Dia tidak ingin Fira khawatir.


*****


Didalam ruangan meeting terdengar suara riuh menggema. Para kolega dan investor meributkan dana investasi yang sudah masuk ke perusahaan Batista tapi tidak mendapatkan untung sama sekali ditahun ini.


"Mohon harap tenang! Saya sedang mengatasi semua ini," ucap Batista berdiri menenangkan kericuhan para kolega dan investoranya.


"Lantas apa yang anda lakukan untuk mengembalikan dana investasi yang kami berikan?" ucap salah satu investornya.


"Tenang! Saya yakin masih ada harapan untuk perusahaan ini. Saya masih berusaha. Kita masih memproduksi beberapa produk yang akan menjadi andalan perusahan dimasa akhir tahun ini. Untuk menggebrak penjualan perusahaan serta akan menjadi salah satu produk paling ingin dimiliki oleh masyarakat," jelasnya secara detail meyakinkan seluruh tamu yang hadir dalam ruang rapat tersebut.


"Hasil produksi tahun ini saja gagal! Tidak bisa mencapai keuntungan yang siginifikan!" tegas investor lainnya.

__ADS_1


"Kami merugi! Lebih baik kembalikan uang kami," tegas koleganya yang lain.


"Kita semua sudah terikat perjanjian. Kontrak perjanjian juga tidak bisa diputus begitu saja. Semua ada jangka waktunya. Saya harap anda semua mengerti dengan kondisi perusahaan sekarang ini. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk mengembalikannya seperti keadaan semula," tegas Batista sekali lagi meyakinkan semuanya.


"Berapa lama waktu yang harus kami berikan," ucap investor lainnya.


"Saya butuh waktu satu bulan! Saya harap semua akan selesai dalam satu bulan, termasuk harga saham kita akan kembali normal dan meningkat tajam!" jelas Batista dengan keyakinan teguh.


Tentu saja ia akan menyiapkan ancang-ancang untuk mempertahankan perusahaan yang ia bangun dari nol. Perusahaan yang sudah susah payah dibangunnya.


Ia tidak akan menyerah begitu saja merelakan perusahaan itu bangkrut dan membuatnya merasakan kehidupan melarat.


Terlebih ia harus menafkahi istri, anak dan mertuanya kelak. Ia harus jadi pria tangguh menghadapi krisis perusahaan yang tak pernah ia duga.


"Baiklah! Kalau dalam satu bulan perusahaan ini tidak berhasil. Kami akan meminta uang kami kembali dengan mencabut semua dana investasi kami," sahut investor lain yang setuju dengan janji CEO Andara Grup tersebut.


Batista mengangguk penuh keyakinan. Ia yakin dengan sangat yakin akan mengatasi semua ini. Salah satunya dengan membuat gebrakan baru di dunia fashion.


Produk keluaran terbaru khusus limited edition akan menjadi incaran kalangan elit kedepannya. Produksi itu sudah selesai dilakukan, perusahaannya tinggal melakukan pemasaran dan promosi besar-besaran.


Jumlah produksi produk itu bahkan mencapai hingga satu juta koleksi. Tentu saja itu akan menghasilkan keuntungan untuk menutupi kerugian tahun ini.


"Semuanya sudah sepakat dengan janji saya. Kalau begitu kita akhiri meeting hari ini. Kita akan bertemu kembali setelah satu bulan kedepan," ucap Batista dengan keyakinan yang tinggi.


Seluruh kolega dan investor pergi meninggalkan ruangan meeting, tak terkecuali Niko. Perusahaan Niko adalah salah satu kolega perusahaan milik Batista.


Baru kali ini ia ikut rapat menghadiri masa krisis yang dialami oleh sahabatnya itu. Sejak lama sesaat mereka saling bermusuhan, Niko mempercayakan kepada bawahannya untuk mengurus kerjasama yang berkaitan dengan perusahaan Batista.


"Bro gue turut prihatin dengan perusahaan lo. Apakah perlu perusahaan gue juga membantu untuk mengatasi krisis ini?" kata Niko dengan niat ingin sekali membatu Batista mengatasi persoalan yang menimpanya.


Jangan lupa supportnya ya sayang!


*Like, Komen, Vote, dan masukkan novel ini ke list favorit kalian**🥰🥰🥰 *

__ADS_1


__ADS_2