
Fira berjalan mendekati suaminya, ingin mempertanyakan hal itu langsung dari mulut pria yang akan menjadi ayah dari anaknya tersebut.
"Mas apa benar semua yang aku dengar?" tanya Fira memastikan kalau kupingnya tidak salah pendengarannya.
Batista dan Niko saling menatap, entah apa yang harus mereka ucapkan. Bukan hal ini yang mereka inginkan, ketangkap basah oleh Fira karena sempat menguping pembicaraan mereka tadi.
Niko menyenggol lengan Batista, menunggu kepastian Batista yang akan menjawab pertanyaan istrinya sendiri. Sementara tatapan Batista tampak kosong. Entah apa yang kini ia pikirkan, ia sudah mulai kehabisan kata-kata.
Rahasia yang selama ini ia tutupi berakhir sia-sia. Apa yang harus ia katakan untuk menjadi alasannya?
"Mas!" teriak Fira membuyarkan lamunan Batista. Batista merasakan pusing yang luar biasa, takut kalau istrinya akan stress memikirkan apa yang menjadi rahasianya saat ini, dan berdampak pada kehamilannya.
"Mas! Jawab aku!" desak Fira menunggu kata-kata yang keluar dari mulut suaminya.
Batista menghela nafasnya, mendenguskan nafas kasarnya secara cepat. Karena rasa pusing yang memupuk dikepalanya. Ia mengerutkan dahinya seraya memijit-mijit pelupuk matanya.
Akhirnya dia memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan Fira dari tadi.
"Iya aku lakukan itu" lirihnya pelan dengan rasa penyesalan yang besar. Ia tidak mau istrinya kecewa pada perbuatannya yang keji, setega itu pada perempuan.
"Jadi yang mas ceritakan sama mas Niko itu benar?" tanyanya sekali lagi meyakinkan.
"Iya," jawab singkat Batista sambil menundukkan kepalanya.
"Mas ayo kita pulang sekarang! Aku ingin mendengar semuanya dari mulutmu langsung," tegas Fira sambil menarik tangan suaminya itu.
Fira dan Batista berjalan kearah kursi awal mereka duduki. Mengajak ibu dan mengambil koper miliknya tadi.
"Aku tuh nggak habis pikir ya mas! Bisa-bisanya kau melakukan hal sekeji itu sama perempuan! Apa mencekik? Apa kau tidak takut di penjara," tandas Fira dengan rasa omelannya yang memuncak ke ubun-ubun.
Ia saat ini ingin memaki kelakuan suaminya seperti laki-laki bejat. Namun satu yang dibenaknya, apa alasan yang membuat suaminya hingga setega itu melakukan hal keji pada perempuan seperti Lucy?
Ia ingin sekali bertanya langsung, namun keramaian di Bandara membuat Fira mengurungkan niatnya. Ia akan mempertanyakan semua itu kembali saat berada di rumah nanti.
"Ayo bu kita pulang," tegas Fira menarik lengan ibunya yang tidak tahu apa yang terjadi pada putrinya hingga terburu-buru sampai ia lupa berpamitan pada Cyntia yang tak tahu apa-apa.
Sementara Batista mendorong dua koper yang ada disana. "Sorry Cyn, gue balik duluan," pamitnya pada istri Niko dibalas senyuman oleh Cyntia yang juga tak tahu apa yang menjadi masalah mereka saat ini.
Niko beranjak menghampiri Cyntia. Dan menoleh ke arah Batista yang mengangkat satu tangan kanannya sebagai tanda perpisahan.
__ADS_1
"Gue balik duluan," ucap Batista lesu karena kelalaian mereka berdua yang bercerita tentang persoalan mantan kekasihnya itu.
"Ada apa sih mas? Kenapa mereka buru-buru pulang," tanya Cyntia polos keheranan setelah Niko berada disampingnya.
"Tadi aku sama Batista lagi ngomongin mantannya. Tapi ternyata Fira datang dan dengar semua omongan kami. Emang Fira ngapain nyusulin aku sama Batista sih?" Niko membalikkan pertanyaan pada istrinya karena tadi yang ia tahu Fira masih menyantap makanannya.
"Oh katanya mau panggil suaminya. Memang rencana awal mau minta pulang juga. Makanya dia nyamperin kamu dan suaminya. Tapi saat datang malah ekspresinya jadi setegang itu. Bahkan dia tak menyapaku lagi," balas Cyntia datar karena tak tahu inti permasalahan tersebut.
"Udahlah nggak usah dipikirkan. Biarkan mereka yang mengurusnya. Ayo kita pulang," Niko mengajak istrinya juga untuk pulang dan tak ambil pusing dengan perkara Batista dan Istrinya. Padahal dialah biang kerok yang memulai topik pembicaraan mengenai mantan mereka bersama.
Batista sampai lupa untuk menghubungi sopir pribadinya untuk menjemput mereka di bandara. "Sial! Terpaksa pulang pakai taksi," gumamnya seraya berjalan mengejar Fira yang berjalan sangat cepat bersama ibunya.
"Mas! Mana mobilnya?" tanya Fira yang mencari jemputan mobil suaminya tersebut.
"Kita naik taksi saja sayang, mas lupa tadi menghubungi pak Beni," jawabnya dengan datar.
"Yaudah ayo cepat," ajak Fira seraya memberhentikan salah satu taksi yang melintas didepan bandara saat itu.
Mereka bertiga masuk ke dalam taksi, sementara koper dimasukkan oleh supir taksi tersebut ke dalam bagasinya.
Batista memikirkan untuk persiapan kata-kata yang akan dikeluarkan. Apa yang akan menjadi alasannya nanti.
Dengusan nafas yang berat dikeluarkan oleh Batista karena pusing dengan alasannya nanti. "Apa lebih baik aku harus jujur saja," hati kecil Batista bertanya-tanya seorang diri. Entah apa keputusan yang akan dia buat.
Selang satu jam perjalanan, mereka bertiga sudah berada di depan pintu rumah. Fira membunyikan bel rumah agar pembantunya segera keluar membukakan pintu dan pagar rumah.
Hingga tiga kali Fira menekan bel tersebut, akhirnya bi Inah keluar membukakan pintu dan pagar.
"Maaf nyonya agak lama, saya baru bangun," katanya sambil menundukkan kepalanya.
Fira tak memerdulikan perkataan pembantunya, segera masuk ke dalam rumah diikuti oleh Senny dan Batista.
"Ada apa sih nak, kenapa Fira bersikap seperti itu?" tanya Senny karena curiga kalau ada masalah pada putri dan menantunya.
"Tidak apa-apa bu. Ada masalah kecil tadi di Bandara. Ibu lebih baik masuk saja, istirahat didalam kamar," balas Batista dengan ekspresi lesu yang tak berdaya.
"Baik nak, ibu istirahat duluan," pamitnya pada menantunya tersebut.
Fira menaiki anak tangga satu persatu dengan rasa kesalnya. Banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan pada suaminya. Ia mengecam tindakan suaminya yang sangat tidak baik disaat kehamilan mudanya sekarang.
__ADS_1
"Mas duduk dulu," perintah Fira saat menghempaskan tubuhnya diatas ranjang empuk milik mereka.
Batista berjalan meletakkan kopernya disisi kamar mereka, mengikuti perintah istrinya duduk ditepi ranjang. Ia sudah mantap akan mengutarakan semuanya secara jujur.
"Ceritakan dari awal sampai akhir! Jangan ada yang terlewatkan," desak Fira penasaran bahkan rasa kantuknya juga terkalahkan dengan rasa penasarannya.
"Sayang! Sebelum aku menceritakannya, kau janji jangan tinggalkan aku dulu!" ucap Batista memastikan agar istrinya tidak lagi berbuat hal yang sering ia lakukan dikala saat marah kepada suaminya.
Fira sering kali menghilang meninggalkan Batista. Pergi ke rumah ibunya untuk menenangkan diri. Namun sekarang ibunya sudah tinggal bersamanya, tidak mungkin ia akan lari seorang diri meninggalkan suami dan ibunya saat ini.
"Oke aku janji," ucapnya dengan santai, sebelum mengetahui semua cerita dibalik kelakuan suaminya itu. Ekspresi Fira masih sangat santai walau ia tahu suaminya hampir membunuh seorang wanita.
Hampir loh ya! Belum jadi dibunuh. Namun sebenarnya Fira merasa takut pada suaminya, kalau saja suaminya akan gelap mata, bertindak hal sekeji itu juga padanya.
"Jadi Lucy itu mengancam aku sayang. Aku sudah peringatkan berkali-kali. Kau ingatkan tragedi yang aku tidur di apartnya? Nah disitu dia ternyata jebak aku! Dia buat foto syur aku saat tidur berdua dengannya,"
"Lalu?" Fira memberhentikan ucapan suaminya karena rasa penasarannya.
"Ya kau jangan potong ucapanku. Aku akan melanjutkannya," pinta Batista agar Fira diam sampai ia selesai menjelaskan ceritanya.
Fira mengangguk mengerti apa yang diminta oleh suaminya itu.
"Foto-foto itu dia kirim ke aku! Dia ancam aku, agar fotonya nggak sampai ke tanganmu, dia sering ke kantorku memintaku melakukan hal diluar nalarku," jelas Batista dengan wajah sendunya.
"Melakukan apa?" tanya Fira lagi.
"Ia dia meminta agar aku menyentuhnya! Bahkan dia memaksaku untuk menciumnya," lirih Batista sambil menundukkan kepalanya.
"Berkali-kali ia datang ke kantorku, mengganggu pekerjaanku. Hingga akhirnya membuatku semakin jengkel. Saat itu dia terus memaksaku untuk menyentuhnya. Kalau aku tidak mau, foto itu akan ia kirimkan padamu,"
Batista memegang kepalanya yang terasa pusing karena mengungkapkan hal seperti itu. Ia merasa tidak berguna didepan istrinya. Seperti seorang laki-laki pengecut yang tak berdaya dengan ancaman receh dari Lucy.
Hello!!
YUK JANGAN LUPA SUPPORTNYA YA SAYANG. LIKE, KOMEN & VOTE. JANGAN LUPA MASUKKAN NOVEL INI KE LIST FAVORIT NOVEL KAMU.
TERIMAKASIH BANYAK! SAYANG BANYAK-BANYAK UNTUK KALIAN PEMBACA SETIAKU.
*LOVE U ALL**😍*
__ADS_1