Aku Terjerat Cinta Satu Malam

Aku Terjerat Cinta Satu Malam
menguping


__ADS_3

"Sudah sayang! Rasanya badanku semakin segar. Cepat sekali sudah landing, kita langsung pulang?" tanya Fira yang tampak bugar seperti bangun dipagi hari, padahal saat itu masih dini hari jam setengah dua pagi.


"Iyaa! Mas kan besok kerja sayang, nanti istirahat lagi di mobil,"


Batista mengangkat beberapa barang yang disimpannya diatas di kabin pesawat. Menuntun Fira dan mertuanya keluar menuruni anak tangga pesawat tersebut.


"Mas! Aku lapar sekali," rengek Fira, dia baru ingat setelah dari Jimbaran, belum mengisi kembali perutnya meskipun sudah meminum obat dari dokter.


Perutnya terasa kosong dan mengeluarkan bunyi pertanda lapar yang kian menyerangnya saat ini.


"Iya nanti kita singgah untuk makan dulu. Makan di dalam bandara saja," ucapnya sambil mendorong dua koper kecil miliknya dan milik mertuanya.


"Sini nak, biar ibu yang mendorong kopernya," pinta Senny dengan rasa kantuk diwajahnya.


"Nggak usah bu! Biar saya saja, toh barangnya cuma sedikit," balas Batista memberikan senyum simpulnya.


Mereka berjalan menyusuri lorong panjang, hingga masuk ke dalam bandara internasional Soekarno-Hatta. Yang dicari pertama kali oleh Fira adalah restoran untuk mengisi kekosongan perutnya.


"Mas makanan cepat saji saja gimana?" Fira yang kelaparan menawarkan suaminya untuk berhenti disalah satu restoran cepat saji pilihannya.


"Oke!" Kalau ibu mau makan?" tanya Batista pada mertuanya yang menahan rasa kantuknya.


"Ibu masih kenyang, kalian berdua saja yang makan," perintah Senny sambil menarik satu kursi setelah masuk ke area makanan cepat saji tersebut.


Batista hanya menemani sang istri untuk makan, kalau ia masih sangat kenyang karena makan malam di Jimbaran tadi.


Fira memesan ayam goreng, burger dan nasi serta minumannya. Perutnya serasa kosong setelah muntahan yang membuatnya pusing. Rasa alerginya kini telah hilang.


Sepertinya ia ingin sekali makan sebanyak-banyaknya untuk menghilangkan rasa laparnya saat ini.


Baru saja Fira melahap makanannya, Batista tiba-tiba berteriak memanggil seseorang. Seketika Senny dan Fira menoleh kearah orang yang dipanggil tersebut.


Fira menelisik, melihat sembari mengingat-ingat siapa sosok orang yang dipanggil. Sementara Senny kembali menidurkan kepalanya diatas meja karena sangat lelah dan mengantuk, ia tak penasaran siapa yang dipanggil oleh Batista.

__ADS_1


Orang tersebut mendekat, sepasang suami istri berada di bandara yang sama dengan mereka. Entah baru mau berangkat atau malah pulang sama seperti mereka saat ini.


"Bro! Ngapain disini?" ucap Batista pada pria yang dipanggilnya tadi.


Fira memastikan siapa orang yang disapa suaminya saat ini, setelah mendekat dan melihat wajahnya dengan jelas. "Ah mas Niko sama mbak Cyntia rupanya!" batin Fira sambil melahap burgernya kali ini.


"Hai mbak!" Fira melambaikan satu tangannya kearah Cyntia seraya memberikan senyuman terbaiknya.


Senyuman itupun dibalas balik oleh Cyntia yang sedang dirangkul erat oleh sang suami. Niko dan Cyntia menghampiri meja dimana Batista, Fira dan mertuanya berada.


"Baru pulang dari Bali nih bro," balas Niko dengan wajahnya yang datar.


"Loh! Lo ke Bali juga?" setelah pertemuan terakhirnya, Batista dan Niko tak pernah lagi berhubungan.


Mereka tak saling tahu menahu kalau akan liburan ke Bali. "Iya bro! Gue baru aja keluar dari pesawat. Honeymoon bro mau bikin anak," guraunya sambil menarik kursi mempersilahkan istrinya untuk duduk.


"Yaah! Tau gitu kita barengan mbak! Kalau tahu ada mbak Cyntia juga ke Bali, kita bisa sama-sama liburannya," cetus Fira sambil mengunyah makanannya dengan cepat.


"Pelan-pelan aja Fir makannya," Cyntia mengingatkan dibalas dengan anggukan kecil oleh Fira.


"Alah, lo kemarin kan terakhir ketemu mau ngajak liburan bareng! Tapi nggak pernah tuh lo ngehubungin gue lagi," sindir Batista.


"Bro kita pindah ke pojokan dulu! Ada yang mau gue tanyain," ajak Niko yang penasaran bagaimana kelanjutan kisah Batista dengan Lucy saat itu, dan kini ia makin penasaran karena hidup Batista tampak biasa-biasa saja.


Setelah terakhir memberikan saran untuk megancam Lucy, Niko belum mendengar kabar kelanjutan dari Batista.


Niko dan Batista menjauh dari istri mereka saat ini. Niko langsung menanyakan ke intinya pada Batista, khawatir Batista sedang terburu-buru untuk pulang, jadi ia ingin mempersingkat waktunya.


"Bro gimana lanjutan si Lucy," tanya Niko dengan tatapan menyelidik.


Batista mengernyitkan dahinya, ia tahu kalau Niko masih penasaran tentang perempuan itu. Perempuan yang terus mengusik rumah tangganya.


"Udah balik dia ke Jerman," jawab Batista tanpa rasa bersalahnya. Terakhir kali pertemuannya dengan Lucy, menurutnya itu sebagai salah satu cara untuk memperbaiki keadaan rumah tangganya yang selalu dihantui oleh kelakuan bejad Lucy.

__ADS_1


"Loh! Dia beneran udah nggak neror lo lagi kan?" tanya Niko dengan penasarannya.


"Terus lo apain dia sampai dia takut dan balik ke Jerman?" ucapnya menimpali pertanyaannya yang tadi belum sempat terjawab oleh Batista.


Dengan rasa percaya dirinya, Batista menceritakan semuanya pada Niko. "Gue sekap dia, sebagai pelajaran berharga untuknya biar nggak ngusik rumah tangga gue lagi. Gue sekap dan gue cekik dia. Dan itu beneran bikin dia jera bro! Karena kalau gue kasih tahu dengan baik-baik percuma,"


"Hah? Serius lo, kok lo bisa ngelakuin hal setega itu? Terus dia nggak akan kembali kesini lagi kan?" balas Niko dengan rasa tak percaya akan perbuatan sahabatnya itu. Yang dia tahu Batista tidak pernah sekasar itu apalagi pada perempuan.


Bahkan dulunya Batista adalah pria berhati malaikat, tak pernah mau menyakiti perempuan. Salah satunya pada Lucy, mantan kekasih Batista. Meski sudah diselingkuhi oleh sahabatnya sendiri, Batista bahkan tak berbuat apapun untuk membalas perlakuan Lucy dan Niko.


Ia hanya membiarkannya begitu saja, tanpa menyakiti keduanya. Bahkan hingga beberapa tahun, Batista juga susah move on menghilangkan kenangannya bersama Lucy. Hanya saja ia tak mau lagi bertemu Lucy maupun Niko.


"Swear! Gue lakuin itu semua sendiri. Karena dia udah keterlaluan! Kaya ular!" umpat Batista dengan rasa kesalnya jika mengingat kekejaman Lucy yang terus menerus mengancamnya.


"Gue udah capek jadi pria baik-baik! Kalau saran lo, gue lebih baik nyewa orang itu nggak gue lakuin. Gue sendiri yang langsung turun tangan," lanjutnya lagi.


"Memang sekali-kali lo perlu setegas itu bro! Biar dia nggak menganggap lo remeh. Lucy itu perempuan licik," ketus Niko.


Saat Batista dan Niko terus menerus membicarakan Lucy, rupanya tak jauh dari posisi mereka ada Fira yang menguping. Fira tadinya ingin mengajak Batista pulang, sehingga ia menghampiri suaminya itu.


Namun rasa penasarannya dengan cerita yang disampaikan oleh Batista dan Niko mengalahkan rasa lelahnya untuk cepat-cepat pulang ke rumah.


Posisi Fira yang tak jauh dari meja mereka ternyata diciduk oleh Niko. Niko menepuk-nepuk lengan Batista memberikan tanda kalau istrinya daritadi berdiri disana bahkan mendengarkan.


"Bro, bini lo tuh ada disana," bisik Niko agar tak ketahuan oleh Fira. Batista menoleh kebelakang, menangkap sosok Fira yang berdiri mematung tak jauh dari tempat mereka. Fira masih syok dengan apa yang didengarnya saat ini. Ia tak menyangka kalau suaminya setega itu pada seorang perempuan.


Halo sahabat "Aku Terjerat Cinta Satu Malam" terimakasih banyak kalian sudah setia untuk membaca novel onlineku sebagai karya novel online pertama debutku saat ini.


Aku ingin kalian membantuku dengan memberikan support sebanyak-banyaknya!!


Support dari kalian berupa like, komen, vote, hingga gift serta memasukkan novel ini ke list favorite kalian sangat berharga untukku saat ini. Karena itu akan membuatku semangat untuk melanjutkan novel karya pertamaku ini.


KRITIK DAN SARAN KALIAN JUGA SANGAT AKU NANTIKAN!

__ADS_1


TERIMAKASIH SUDAH SETIA MEMBACA NOVEL INI :) LOVE U ALL!!!


__ADS_2