
Suara langkah kaki menghentikan sarapan Fira dan ibunya. Mereka saling menatap, karena Batista akan datang menghampiri mereka.
"Bersikap biasa saja bu!" perintah Fira tak ingin ibunya berpihak kemanapun karena persoalan rumah tangga mereka.
Senny mengangguk, mengerti maksud Fira, meski ia belum mengetahui apa sebenarnya masalah yang terjadi dalam biduk rumah tangga anaknya.
Batista berjalan santai sambil menenteng jas dan tasnya yang belum dipakai. Ia mendekati istri dan mertuanya, tersenyum dengan manis.
Baru sampai disamping Fira, ia dengan sengaja masih berdiri, tak menarik kursi makannya. Fira terdiam memerhatikan suaminya sambil tersenyum seolah tidak ada masalah apapun. Sementara Senny lanjut menikmati sarapannya.
"Sayang! Aku pamit dulu ke kantor. Maaf aku nggak sempat sarapan karena ada meeting jam 10 pagi. Ibu aku berangkat dulu," pamit Batista seraya mengecup kening istrinya yang telah berdiri dihadapannya, dan ia juga melemparkan senyum pada mertuanya.
Batista berpikir sudah tidak ada masalah lagi pada rumah tangganya setelah ia mengakui kesalahan. Begitu pula ketika melihat sikap Fira yang tampak biasa saja, bahkan menerima ciumannya. Ia merasa kalau Fira sudah memaafkannya meski itu belum terucap dari mulutnya langsung.
"Hati-hati ya mas!" ucap Fira sambil melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Batista seraya berjalan bersama ke arah depan pintu rumah.
"Iya sayang. Mas berangkat dulu," balas Batista kali dengan ini mengecup lembut bibir Fira, tidak ada penolakan dari Fira.
Batista menaiki mobil mewah porschenya, didepannya sudah siap pak Beni untuk menyupiri. Sebelum mobil keluar rumah, Batista menoleh pada Fira seraya tersenyum. Ia mengangkat lengannya, kemudian melambaikan tangannya pada Fira.
Fira membalas lambaian tangan tersebut, seolah-olah tak akan ada yang pernah terjadi. Setelah mobil milik Batista menjauh, Fira memasuki rumahnya.
Ia masih duduk dengan santai melanjutkan sarapannya. Sedangkan Senny menunggu putrinya masih ditempat duduk yang sama. Ia menunggu sampai Fira selesai makan.
"Ayo bu duduk di ruang tamu," ajaknya sembari berjalan ke arah sofa meninggalkan meja makan. Perutnya sudah terisi penuh, begitupula dengan Senny.
"Ada apa toh nduk sebenarnya?" Senny memulai percakapan mereka karena penasaran, ia belum tahu cerita apa yang akan disampaikan oleh putrinya.
Fira tersenyum miris, raut wajahnya berubah derastis. Wajah sendunya membuat Senny mengerti sebenarnya kondisi anaknya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Cerita nduk! Ibu akan dengarkan!" perintah Senny yang masih memperhatikan Fira menunggu suaranya terbuka.
"Iya bu! Aku akan ceritakan semuanya," jawab Fira dengan suara bergetar. Ia rasa tak mampu menceritakan persoalan rumah tangganya, yang sudah dianggapnya red flag sehingga tak mampu mau melanjutkan pernikahan ini bersama suaminya.
"Pelan-pelan saja nduk, kalau itu membuatmu sedih. Ibu akan tunggu sampai kamu tenang," ucapnya santai sembari memegang lembut tangan putrinya.
Fira mengangguk mengerti. Ia menarik nafasnya dan mengeluarkan dengan kasar. Menenangkan dirinya sesaat hingga mengingat kejadian tadi malam.
"Mas hampir saja membunuh orang bu! Bahkan dia tak merasa bersalah. Fira jadi takut sama mas," tutur Fira dengan sendu, lalu menundukkan kepalanya karena merasa tak enak karena cerita pada ibunya sendiri.
Ia tahu kalau ini adalah aib suaminya, tetapi ia juga sudah punya rencana kedepannya sehingga perlu menceritakan hal ini pada ibunya.
__ADS_1
Mendengar cerita Fira, Senny terdiam, ingin Fira melanjutkan kembali potongan cerita yang belum lengkap.
"Dia sekap hingga berminggu-minggu, perempuan itu mantan kekasihnya. Karena mas katanya dijebak, ada foto syur yang dimiliki perempuan itu saat tidur bersama mas. Itu yang membuat mas gelap mata sehingga melakukan hal keji seperti itu," lanjut Fira, kali ini tak terasa air matanya menetes deras.
Air mata yang tak berani ia keluarkan didepan suaminya, kini berderai kencang didepan sang ibu. Senny mengangkat tangannya, menepuk-nepuk punggung Fira menenangkan.
"Tapi perempuan itu sudah pergi jauh meninggalkan negara ini bu. Hiks.. Hikss.. Kondisinya katanya sudah membaik, tapi Fira yakin itu akan menyisakan trauma yang luar biasa," kata Fira melanjutkan ceritanya lagi sambil menangis tersedu-sedu.
Senny bahkan belum berniat bersuara, ia tetap diam mendengarkan putrinya. "Kok ibu diam aja? Nggak bilang apa-apa?" tanyanya heran.
"Ibu menunggumu menyelesaikan ceritanya nduk," ucapnya seraya tersenyum.
Fira mengangguk kemudian berkata lagi. "Sebelumnya Fira sudah bertemu perempuan itu. Waktu Fira masih kerja di kantor mas. Perempuan itu sering datang ke kantor. Bahkan pernah sekali mas nggak pulang, rupanya tidur di apartemen perempuan itu. Nah moment itulah mas dijebak dan diancam oleh perempuan itu,"
Senny menarik tubuh putrinya, meletakkannya diatas pangkuannya. Seraya ia mengelus-elus rambut Fira.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya," tanya Senny dengan serius, ia juga tak mau anaknya hidup dalam bayang-bayang mantan kekasih suaminya hingga sikap suaminya yang bisa melakukan hal kejam.
"Fira sudah memikirkannya dengan matang bu. Lebih baik Fira dan ibu pergi dari rumah ini. Kita pergi jauh meninggalkan mas. Fira takut kalau mas bertindak hal kejam seperti itu pada kita berdua. Apalagi Fira masih mengandung," jelas Fira sambil mengusap-usap perutnya yang datar.
"Kau maunya kemana? Kalau kembali ke rumah lama kita, dia pasti akan mencari kita disana. Lagipula kita tidak punya uang nduk," ucap Senny khawatir kalau kehidupan mereka akan terlunta-lunta karena kondisi Fira yang hamil, tidak bisa bekerja.
"Iyah juga! Tapi apa dia setuju kalau kau pergi dari rumah ini? Kan kau sedang mengandung anaknya. Kenapa tidak cerai baik-baik saja," usul Senny agar anaknya memiliki kehidupan yang lebih terjamin.
"Engga bu! Fira ingin menyadarkan mas. Kalau hanya dengan cerai, dia malah bisa bertindak lebih jauh lagi. Lebih baik kita pergi dari rumah ini diam-diam," paparnya.
"Fira sudah sempat mencari tempat yang tidak akan diketahui mas. Lebih baik kita pergi jauh ke Surabaya. Tinggal di pedesaan akan lebih aman," terang Fira lagi.
"Baiklah kalau itu maumu. Kapan mau berangkat?"
Senny melirik jam yang ada di dinding ruang tamu. Jam itu masih pagi, tepatnya jam 10 pagi.
*****
Mobil Batista sudah sampai sejak jam setengah 10 pagi. Mobil porsche itu memasuki parkiran. Beni membukakan pintu mobil, mempersilahkan Batista keluar dari mobilnya.
Dengan terburu-buru ia masuk ke dalam lift, menuju lantai paling atas dimana kantornya berada.
Setelah sampai diatas, ia menyapa sekretarisnya, Bagas. Meminta segera disiapkan ruangan meeting.
TOK! TOK!!
__ADS_1
"Masuk" teriak Batista pada Bagas yang sudah berada didepan pintu ruangannya.
"Ruang rapat sudah siap pak. Semua para manager telah berkumpul," ucap Bagas menunggu Batista berdiri dan berjalan ke ruang rapat.
"Oke!"
Batista beranjak dari kursi kerjanya, berjalan kearah Bagas. Mereka berdua keluar dari ruangan itu.
"Sebenarnya ada masalah apa pak? Mengapa rapat ini harus dilakukan?" tanya Bagas seraya berjalan memasuki lift bersama Batista, dia sendiri bingung mengapa rapat ini begitu penting hingga harus direschedule.
"Perusahaan kita diambang batas kehancuran! Saham kita anjlok, karena pendapatan tahun ini menurun," ungkap Batista membuat Bagas terkejut hingga membuka mulutnya, kemudian menutup dengan kedua tangannya.
"Serius pak? Kalau sedang kritis begitu, kenapa bapak sempat berlibur kembali?" tanyanya semakin penasaran.
"Kalau berlibur, saya ingin memberikan hadiah pada istri saya. Tidak ada hubungannya dengan perusahaan ini!" tegas Batista.
Batista dan Bagas menghentikan pembicaraannya mereka karena telah sampai di ruang meeting. Seluruh manager sudah berkumpul dalam ruangan itu. Suasana kian menegang saat kedatangan Batista dengan wajah pucat pasif karena kondisi perusahaannya yang mengkhawatirkan.
Kondisi itu tak pernah dia duga sebelumnya. Padahal Batista sudah bekerja keras demi mendapatkan kerjasama dengan kolega-koleganya.
Kondisi kritis perusahaannya juga tak diketahui oleh Fira.
******
"Mau hari ini?" tanya Senny.
"Ya lebih cepat lebih baik bu! Kita harus bersiap-siap dari sekarang. Sebelum mas pulang ke rumah ini," jawab Fira sembari beranjak dari pangkuan ibunya.
"Yasudah! Ibu akan siapin baju dulu. Kau juga siapkan apa yang perlu kau bawa," balasnya singkat, kemudian berjalan ke kamarnya.
Fira juga berjalan menaiki anak tangga, matanya membengkak lantaran menangis cukup lama saat bercerita pada ibunya. "Apakah ini keputusan yang tepat?" pikirnya lagi matang-matang.
Sebenarnya ia masih ragu untuk meninggalkan suaminya, dengan kondisi hamil muda. Ia sangat tidak ingin semasa kehamilannya tidak didampingi oleh suaminya.
Tapi karena hal tidak terduga terjadi, Fira harus berani merelakan suaminya. Sebagai efek jera atas tindakan kejamnya. Perempuan itu? Bagaimana nasib perempuan itu, pikirannya semakin lemah.
Rasa pusing kembali menyerangnya. Ia memijit-mijit kepalanya yang terserang rasa pusing. Dengan pelan-pelan ia juga mengangkat koper yang ada didalam lemari.
Bajunya disusun satu persatu, tidak banyak yang ia bawa. Cukup baju untuk dipakai sehari-hari, sisanya nanti akan ia beli disana.
*Jangan lupa supportnya untuk author. Like, komen, vote, masukkan novel ini ke list favorit kalian yaa!! **😍*
__ADS_1