Aku Terjerat Cinta Satu Malam

Aku Terjerat Cinta Satu Malam
kabur


__ADS_3

Fira mengangkat koper miliknya, membawanya ke bawah. Para pembantunya bingung melihat apa yang saat ini tengah ia lakukan. Mereka juga berbisik-bisik, melihat Fira bersekongkol bersama sang ibu.


"Nyonya mau kemana tuh," tanya bi inah pada dua pembantunya yang lain.


Salah satu mengangkat kedua tangannya keatas sebagai tanda ia juga tidak tahu.


"Tapi yang saya lihat tadi nyonya beresin semua barangnya bi," sahut pembantunya yang lain.


"Iya! Ibunya juga lagi nyiapin barang tuh, nggak sengaja saya lihat ketika pintunya terbuka," sambung pembantu lainnya.


"Apa kita harus mengatakannya ke tuan?" tanya Bi Inah datar. Kalau ia membeberkan pada tuannya, kemungkinan Fira akan gagal meninggalkan rumah ini.


"Bilang aja bi! Takutnya nyonya kabur beneran," singgung pembantu lainnya.


"Iya bi iyah! Bilang aja ke tuan," dorong salah satu pembantunya lagi.


Bi Inah melangkahkan kakinya ke ruang tamu. Disana ia mencari ponsel miliknya yang ia simpan saat bersih-bersih rumah tadi. Dituliskannya beberapa pesan untuk tuannya.


"Tuan! Nyonya sepertinya mau pergi"


"Membawa koper bersama ibunya"


"Tuan pulang sekarang"


Tiga pesan ia kirimkan dengan waktu yang bersamaan, belum terbaca oleh Batista Andara. Ia masih sibuk meeting mempersiapkan plan untuk menghadapi krisis keuangan di kantornya yang sedang diambang batas kehancuran.


*****


"Jadi apa rencana kalian untuk menutupi kerugian tahun ini?" tanya Batista kepada seluruh manager yang berkumpul didalam ruang meeting.


"Saya ingin mendengar semuanya satu persatu! Apa rencana kalian menghadapi semua itu!" desak Batista sambil menggebrak meja, menggertakki para karyawannya.


Ia merasa frustasi, perusahaannya sedang berada diambang batas kehancuran. Sialnya lagi ia jika perusahaan itu bangkrut, ia harus menutup kerugian dengan menjual seluruh aset miliknya.


Perusahaan itu dengan susah payah ia bangun dari sisa warisan peninggalan kedua orang tuanya. Apalagi ia terancam bangkrut, bisa-bisa kehidupannya akan melarat jika perusahaan yang dibangunnya bangkrut seketika.


"Bagaimana kalau kita menjual beberapa saham, dan memutar balikkan hasil penjual saham sebagai modal untuk produksi pak?" usul salah satu manager dibidang produksi.


"Atau kita mencari investor lebih banyak lagi pak?" sahut manager lainnya.

__ADS_1


"Bagaimana mau menjual saham kalau harganya sedang anjlok begini. Apalagi menambah investor, apa yang akan kita janjikan pada mereka? investor yang sekarang saja sedang mengamuk meminta kejelasan perusahaan yang sedang merugi!" keluh Batista.


"Saya lebih mengusulkan kita mengurangi jumlah karyawan pak! Minimal setengahnya akan di rumahkan. Itu bisa menjadi solusi untuk mengurangi pengeluaran sementara waktu," jelas manager keuangan, Wiwik.


Wiwik masih bekerja dengan Batista. Bahkan kinerjanya sangat bagus, sayang ia belum mendapatkan promosi lantaran kondisi perusahaan yang sedang kritis.


"Ide yang cukup bagus itu! Ada berapa jumlah karyawan kita saat ini?" tanya Batista dengan sorot mata berbinar.


Mungkin itu bisa menjadi salah satu solusi untuk pengurangan jumlah pengeluaran perusahaannya. Karena gaji untuk satu karyawan bisa menghabiskan 5juta hingga 10 juta.


"Karyawan kita jumlahnya ada lima ribu orang pak. Termasuk dengan karyawan yang ada ditempat produksi," jelas Wiwik dengan gamblang. Ia memang sudah merencanakan hal itu. Itu salah satu solusi untuk memperbaiki keuangan perusahaan.


"Oke seluruh divisi harus bikin laporan ke saya! Jumlah karyawan serta laporan pekerjaan yang paling terpenting agar perusahaan ini bisa bertahan!" tutup Batista menuntaskan meeting paginya.


"Rapat selesai! Semua boleh keluar," titahnya lagi.


Seluruh manager kebingungan, bagaimana bisa memangkas karyawan sebanyak itu. Belum lagi mempersiapkan pesangon untuk karyawan yang sudah lama bekerja bagi perusahaan Andara.


"Bu wiwik, perhitungan pesangon untuk karyawan yang akan diberhentikan bagaimana?" tanya salah satu manager kepada Wiwik yang berada diluar ruangan meeting.


Ia menoleh kepada manager yang bertanya. Hal itu belum dirincinya dengan benar. Perhitungan pesangon untuk karyawan yang akan diberhentikan.


Batista mengambil ponselnya yang ia tinggal di meja kerjanya setelah rapat meeting selesai. Ia melihat pesan dari Bi Inah pembantunya.


Ia tersentak kaget merasa tak percaya kalau istrinya akan meninggalkannya. "Apa ini karena persoalan tadi subuh?" pikirnya seraya mengetatkan rahangnya karena syok dengan sikap istrinya.


Padahal sebelum berangkat kerja, sikap Fira tampak biasa saja. Bahkan ciuman dari Batista tak ada yang ditolaknya. Tapi mengapa sekarang Fira mau pergi meninggalkannya?


"Aku harus cepat-cepat pulang," batinnya.


Baru melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya, Bagas menahan Batista untuk tidak meninggalkan kantornya.


"Pak! Maaf, untuk selanjutnya kita ada meeting bersama para kolega dan investor. Mereka ingin kepastian tentang kondisi perusahaan," ucapan Bagas makin membuat Batista jadi pusing.


"Apa harus hari ini?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alis kanannya.


"Iya pak! Sebenarnya dari minggu kemarin mereka ingin membahas hal ini. Tapi saya jadwalkan untuk hari ini," papar Babas.


"Astaga! Bagaimana ini," keluh Batista sembari memijit-mijit kepalanya dengan pelan karena mendadak pusing.

__ADS_1


"Apa ada masalah pak?" tanya Bagas gamang. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Batista, tapi semampunya ia akan membantu bos besarnya itu.


Batista mengambil ponsel dari kantong jasnya. Kemudian menunjukkan pesan dari pembantunya kepada Bagas.


"Apa kau bisa menghentikannya?" tanya Batista datar, ia akan memerintahkan Bagas untuk menghentikan tindakan Fira.


"Aku tidak bisa membiarkan istriku pergi begitu saja! Kabur dari rumah, sedangkan ia sedang mengandung anakku," kecamnya dengan tegas.


"Kau harus menghentikkannya, sementara aku disini akan mengurus permasalahan perusahaan," tandas Batista.


Bagas mengangguk menyetujui permintaan atasannya itu. "Baiklah pak! Saya akan ke rumah bapak sekarang!" jelas Bagas seraya mengambil kunci mobilnya yang ada dilaci meja kerjanya didepan ruangan Batista.


Batista mempercayakan persoalan istrinya pada Bagas, sedangkan ia mempersiapkan meeting dengan para kolega dan investor perusahaannya.


Sebelum memulai rapat meetingnya, ia mengirimkan satu pesan kepada pembantunya.


"Bagaimanapun caranya, tolong cegah kepergian istriku sampai sekretarisku datang kesana"


*****


"Apa ibu sudah siap?" tanya Fira yang baru saja datang ke kamar ibunya seraya mendorong koper miliknya.


Senny mengangguk lemah. Ia masih bimbang apakah ini merupakan keputusan yang tepat bagi anaknya.


"Nduk apakah kau sudah serius mau meninggalkan rumah ini?"


Fira mengangguk dengan tegas. Tekadnya sudah bulat. Ia ingin sekali meninggalkan Batista dan memulai kehidupan baru di Surabaya.


"Fira yakin kita bisa hidup lebih baik di Surabaya bu! Fira akan menjaga anak ini," ucap Fira menyakinkan Senny agar tak lagi bimbang dengan keputusan yang ia buat.


"Baiklah kalau itu maumu. Ibu hanya bisa mengikuti keinginanmu nduk. Ibu akan berganti baju dulu sebentar," kata Senny, ia beranjak dan menutup pintu kamarnya. Fira pun masih berada didalam kamar itu, ia tak peduli dengan pembantunya yang terus melihat-lihat pergerakannya bersama sang ibu.


Melihat Senny menutup pintu kamarnya dengan rapat, kesempatan bagi Bi Inah untuk melaksanakan perintah tuannya. Ia mengunci semua pintu dan menyimpan kunci tersebut di dapur.


"Maaf nyonya, nyonya dan ibu tidak bisa kemana-mana!" gumam Bi Inah sembari melirik pintu depan mengharapkan kedatangan Bagas untuk mencegah kepergian Fira dan ibunya.


*Supportnya jangan lupa ya syaang2ku!! Like, komen, vote, & masukkan novel ini ke list favorit kalian. kalau bisa juga hadiah mawarnya **🥰🥰 *


*tapi nggak maksa kok!! hihihi **🤙🏻*

__ADS_1


__ADS_2