Aku Terjerat Cinta Satu Malam

Aku Terjerat Cinta Satu Malam
berlutut


__ADS_3

Batista sangat senang seharian bisa menemani sang istri. Meskipun sesekali saat sedang bersama istrinya, dia malah mengkhawatirkan Lucy yang terkurung di dalam apartemennya.


Hari itu Batista full bersama istrinya bahkan saat malam pun ia tidak kemana-mana, tetap berada disamping Fira. Sebelumnya ia sudah memerintahkan pada Bagas untuk mengurus semua pekerjaannya serta reschedule semua jadwal pertemuannya ataupun rapat kerjanya.


Bagas pun harus mengatur ulang semua jadwal yang berantakan karena bosnya memilih untuk tidak hadir hari ini. Bagas juga mempertanyakan pada Batista, apakah ia harus mengecek Lucy atau tidak.


Tapi Batista menolaknya, karena ia yakin Lucy sudah tidak bisa berkutik lagi. Apapun tidak bisa dilakukan oleh Lucy kecuali untuk makan, minum, dan tidur.


Stok makanan yang disiapkan oleh Bagas pun rasanya cukup untuk seminggu kedepan. Belum ada rencana dari Batista untuk melepaskan perempuan ular seperti Lucy.


Jadi hari ini Lucy benar-benar sendirian, meratapi nasibnya. Karena Bagas dan Batista tidak ada yang berkunjung untuk mengecek keberadaannya.


Setelah Batista, Fira dan mertuanya pulang belanja, mereka sangat lelah sehingga selesai makan pun memilih untuk lanjut istirahat dan tidur.


Paginya Batista berangkat ke kantornya. Sebelum berangkat ia sarapan seperti biasa dengan istri dan mertuanya. Saat berangkat pun tidak lupa ia mencium kening istrinya hingga mengelus perutnya untuk berpamitan pada sang buah hati.


Ia mulai disibukkan kembali dengan rutinitas .pekerjaannya yang kian menumpuk. Belum lagi rapat yang sudah di reschedule oleh Bagas membuatnya semakin capek.


Dari pagi hingga siang dia terus sibuk bekerja sampai melupakan makan siangnya. Pekerjaannya terus berlanjut hingga sore. Beberapa pekerjaan sudah ia tuntaskan. Jadwal untuk rapat bersama rekan dan koleganya juga sudah selesai.


Sebelum Batista pulang ke rumahnya, dia teringat pada Lucy. Belum ada rencana baginya untuk melepaskan Lucy.


Tapi Batista memilih untuk berkunjung ke apartemen untuk memastikan Lucy dengan kondisi aman dan baik.


Batista menggunakan mobilnya sendiri tanpa disupiri oleh Beni. Beni disuruhnya pulang lebih dulu ke rumahnya.


Masuk ke dalam parkiran apartemen, dengan hati-hati Batista melihat keadaan sekitar untuk memastikan tidak ada yang mengenalinya.


Suara kunci pintu terdengar oleh Lucy. Lucy sudah mandi dan bersih. Ia menggunakan pakaian milik Batista yang ada di lemari. Sudah beberapa hari ini, Lucy selalu memakai pakaian milik Batista tanpa seiizinya.

__ADS_1


Karena dia tidak memiliki baju di dalam apartemen itu. Bahkan baju wanitapun tidak ada. Hari ini Lucy berpakaian normal, ia mengenakan kemeja putih yang menggantung di lemari. Karena kemeja itu sangat besar, dia tidak memerlukan lagi celana. Kemeja dia gunakan seperti dress.


Batista baru saja masuk ke dalam apartemen tersebut. Mencari sosok Lucy yang saat masuk belum juga terlihat batang hidungnya.


Ia mencari ke kamar juga tidak ada. Ternyata Lucy berada di kamar mandi. Ia sempat menyisir rambutnya yang sebelumnya berantakan sehabis keramas sebelum Batista masuk ke apartemen.o


"Tumben mencariku," ucap Lucy terharu kalau Batista mulai mengkhawatirkannya karen melirik-lirik sekitar seolah-olah sedang mencarinya.


"Aku hanya memastikan apakah kau masih hidup atau tidak. Rupanya kau disini," kata Batista sambil memilih untuk duduk di sofa lamanya.


Lucy mempersiapkan strateginya agar bisa lolos dari penjara milik Batista ini. Banyak hal yang harus dia kerjakan lagi. Terutama untuk pekerjaannya yang tersisa di Jerman.


Tiba-tiba Lucy berlutut didepan Batista. Batista melihat tubuh Lucy dan ujung kaki hingga atas kepala.


"Siapa yang mengizinkanmu untuk makai bajuku," ketus Batista yang menyadari pakaiannya digunakan oleh Lucy.


"Aku tidak punya baju. Apa mungkin aku mandi tanpa mengganti bajuku? Kau juga tidak ada bagaimana mau meminta izinmu," jawab Lucy santai.


"Aku ingin meminta maaf padamu. Dan memohon ampun! Tolong lepaskan aku, masih banyak pekerjaan yang menantiku. Aku berjanji tidak akan mengganggumu lagi,"


Lucy sambil memohon pada Batista dan mengangkat kedua tangannya sebagai permohonan maaf.


"Tidak bisa! Kau terlalu menganggu. Sudah berkali-kali kuingatkan untuk menjauh, tapi kau tidak peduli. Sekarang kau berjanji, tapi nanti kau pasti akan menggangguku kembali,"


Batista membalas dengan santai bahkan mengangkat satu kakinya keatas lututnya. Ia masih melihat Lucy yang terus berlutut didepannya.


"Aku serius! Setelah kau lepaskan aku, aku akan kembali bekerja. Apa harus aku tidak kembali ke Indo agar kau mempercaiyaiku?"


Lucy tetap mempertahankan posisi tangannya untuk terus meminta maaf.

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan melepaskanmu! Sesuai dengan janjimu! Lebih baik kau berada di Jerman dan tidak lagi kembali kesini. Kalau itu terjadi aku akan percaya padamu!"


Lucy tersenyum permintaan maafnya pun tidak sia-sia. Secepatnya dia ingin kembali ke Jerman agar tidak dikenakan denda karena pekerjaannya yang tidak tuntas.


"Aku berjanji! Pekerjaanku juga di Jerman belum selesai. Aku mohon lepaskan aku Batista. Aku sudah memohon seperti ini, yang aku tahu kau adalah pria baik-baik. Tidak mungkin kau mengurungku selamanya disini kan? Apakah sekarang aku bisa pergi?"


Batista tidak punya alasan lagi untuk mengurung Lucy. Semua bukti ia rasa sudah dihancurkan olehnya. Termasuk isi email Lucy telah terhapus dan bersih dari foto toples ya.


"Baiklah! Sekarang aku akan mengantarkanmu ke apartemenmu," ucap Batista luluh karena dia juga tidak sejahat itu. Dia tahu perbuatannya sudah diluar batas.


Termasuk saat mencekik leher Lucy. Beruntung saja Lucy tidak mati ditangannya. Jika Lucy mati, Batista yang akan terpenjara seumur hidupnya.


Lucy tersenyum sinis. Untuk sementara waktu ia akan bersembunyi di Jerman. Membersihkan pikirannya di Jerman. Strateginya akan diaturnya lebih matang lagi. Atau dia akan memilih untuk meninggalkan Batista selamanya?


Semua itu akan ia pikirkan secara matang setelah tiba di Jerman nanti. Sekarang yang terpenting adalah dia lolos dari penjara luas yang sekarang ditempatinya.


"Ayo! Apa kau masih berada di dalam?" tanya Batista yang sudah berdiri dari tadi dan bersiap untuk mengantarkan Lucy.


Ia sengaja mengantarkan Lucy sebagai permintaan maafnya telah bersikap keras pada wanita itu. Tapi Batista gengsi untuk mengucapkan permintaan maaf, lagipula Lucy lah yang memulai lebih dahulu. Batista mengetahui kalau Lucy tidak memiliki apapun saat ini, termasuk uang untuk pergi ke apartemennya.


Lucy mengikuti Batista dari belakang. Menaiki lift dan masuk ke mobil Batista. Ia sangat menyesali perbuatannya dulu, dengan teganya menyelingkuhi Batista.


Jika saja ia tidak berselingkuh, mungkin dialah yang akan bersanding disamping Batista. "Hmmm nyonya Andara," gumamnya sambil mengeluarkan nafasnya.


Perempuan yang menjadi istri Batista sangat beruntung. Karena memiliki suami baik dan kaya raya. Apalagi Batista sangat perhatian pada wanita yang dicintainya.


Perbuatan Batista yang menyakiti Lucy hanyalah pembalasan yang dilakukannya. Lucy mengerti mengapa Batista mengasarinya, karena perbuatannya sudah kelewat batas.


"Sepertinya aku harus merelakannya dan melupakannya. Lebih baik begitu," gumamnya sambil melirik wajah tampan Batista yang tampak lugu dan polos itu.

__ADS_1


Batista sangat fokus mengedarai mobilnya. Ia tidak tahu kalau Lucy sedang memperhatikannya. Yang Batista pikirkan adalah bagaimana ia cepat sampai dan mengeluarkan Lucy dari mobilnya, sehingga dia bisa kembali ke rumah untuk berkumpul bersama istrinya karena hari semakin malam.


__ADS_2