Aku Terjerat Cinta Satu Malam

Aku Terjerat Cinta Satu Malam
Alkohol


__ADS_3

Selama sepuluh menit Fira dan Batista merendam kakinya di infinity pool beach club. Suasana tampak meriah didalam club memang menakjubkan bagi Fira.


Baru kali ini ia melihat suasana didalam club yang tampak mewah dan didatangi oleh anak muda jaman sekarang. Pemandangan yang disuguhi oleh club itu juga sangat menarik.


Pemandangan laut malam begitu indah dengan siuran ombak. Penyediaan infinity pool makin membuat suasana club sangat fantastis. Jika mengetahui suasana didalam club seperti ini, sudah lama ia akan mengajak suaminya menginjakkan kaki didalam club.


Berbeda dengan club-club di Jakarta, Beach Club sangat unik karena berada dipinggiran pantai. Sedangkan club di Jakarta memang menarik, tapi tidak semenarik club di Bali ini.


"Apa kau lapar?" tanya Batista.


Infinity pool itu berada diluar ruangan yang tak jauh dengan tempat mereka dugem tadi. Sehingga suara musik tidak terlalu keras terdengar dibagian infinity pool.


"Aku lumayan lapar. Apa makanannya banyak pilihan," ucap Fira.


Batista meminta waitress membawakan menu sajian makanan di club itu. Fira membolak-balikkan menu, beberapa makanan sudah menjadi incarannya.


"Apa kau mau memesannya?" tanya Batista khawatir istrinya lelah setelah menari sehingga kelaparan.


"Tentu,"


Fira menunggu kehadiran pelayan untuk mencatatkan pesanannya. Batista berdiri mengajak Fira untuk duduk dikursi yang sudah disiapkan dipinggiran infinity pool.


Beberapa meja sengaja disiapkan untuk area luar, agar mereka yang menyantap makanan disuguhi pemandangan luar biasa dari pantai dan kolam renang.


Fira memesankan tum ayam dan sate plecing untuk ia coba. Sajian khas Bali tidak ingin ia lewatkan karena menu-menu itu susah untuk dicari di Jakarta.


Setelah tadi malam menyantap sate lilit, kini tengah malam ia akan menyantap makanan lagi. "Gimana nggak gendut aku mas! Malam-malam gini disuruh makan," keluh Fira pada suaminya.


Batista tersenyum mendengar keluhan Fira. Ia hanya ingin Fira tidak kelaparan karena sampai jam dua belas malam juga belum kembali ke villa dan beristirahat.


"Kalau bumil harus banyak makan! Jangan ditahan-tahan kalau lapar. Nggak apa-apa gendut, nanti kan bisa dikurusin lagi badannya pasca lahiran," ketus Batista.


Pelayan pun datang mencatat semua pesanan yang disebutkan oleh Fira. Pesanan yang cukup mengenyangkan bagi perut Fira.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, waitress kembali datang membawa seluruh makanan yang dipesan. Tum ayam dan sate plecing sangat menggiurkan bagi Fira. Membuat air liurnya keluar.

__ADS_1


Sedangkan Batista tidak memesan apapun, ia hanya ikut mencicipi beberapa makanan yang dipesan oleh Fira, karena perutnya masih terasa kenyang.


"Mas! Kau nggak pesan minuman? Koktail gitu misalnya? atau wine?" tanya Fira yang penasaran daritadi suaminya tidak mengkonsumsi alkohol didalam club.


"Daritadi kau hanya minum soda! Kalau aku sih karena hamil, wajar aku tidak pesan alkohol. Tidak masalah kalau kau ingin meminum alkohol, kan sedang bersamaku!"


Batista menatap istrinya dengan senyum. Dia bingung harus mengatakan apa pada Fira, Fira akan menertawainya jika ia tahu kalau suaminya tidak kuat dengan alkohol berbeda dengan pria-pria lainnya.


Belum juga ia menjawab pertanyaan Fira, tiba-tiba Fira melanjutkan perkataan lainnya.


"Mas? Kok diam aja! Kalau hanya minum segelas nggak bakal mabuk kok," ucap Fira yang sok tahu dengan keadaan suaminya.


Batista menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Fira yang berbicara saat makan. Mulutnya penuh dengan makanan tetapi terus saja mengoceh, mengomeli suaminya karena menyuruh untuk meminum minuman alkohol.


Batista menjulurkan tangannya kearah pipi Fira. Lalu mencubitnya dengan gemas.


"Habisin dulu makanannya baru bicara," kekeh Batista.


"Iya mas!" jawab Fira masih dengan mulut yang terisi makanan sambil mengunyahnya.


Ia masih penasaran pada suaminya, mengapa pertanyaannya tadi belum terjawab. Setelah menghabiskan semua menu yang dipesannya, Fira kembali membuka suaranya.


Fira memang sangat beruntug memiliki Batista, pria tampan itu tidak pernah menyentuh rokok dan menghisapnya. Selama ia menikahi laki-laki itu, tidak pernah ia lihat Batista menyentuh rokok, apalagi meminum alkohol.


Seperti hari ini, Fira memperbolehkan suaminya untuk meneguk alkohol walau hanya segelas saja pun tidak direspon oleh Batista.


"Pertanyaan yang mana sayang," tanya Batista sambil memandangi istrinya dengan polos.


"Mas nggak mau pesan alkohol?" Fira kembali melontarkan pertanyaannya.


"Oh itu! Aku sedang tidak mau meminum alkohol. Kau saja sedang hamil, masa aku harus meminumnya didepanmu," ucap Batista yang mencoba bicara tak jujur pada istrinya.


Namun Fira merasa aneh dengan jawaban tersebut, laki-laki mana yang masuk ke dalam club tidak mau menegak alkohol. Ia belum teringat pada kejadian ketika awal Fira berjumpa dengan suaminya.


Mereka saja menikah karena terjerat cinta satu malam, alasannya yaitu karena Batista tidak sengaja meneguk satu gelas alkohol yang berada di meja saat berkumpul dengan teman-temannya di bar.

__ADS_1


Padahal ia memiliki soda yang sudah dipesannya, tetapi karena salah mengambil minuman, yang masuk ke tenggorokannya adalah alkohol milik temannya.


Batista jadi teringat akan hal itu, teringat saat pertama kali berjumpa dengan Fira. Meski setelah kejadian itu, ia tidak ingat bercumbu dengan siapa didalam hotel yang ia tempati.


"Mas aneh deh! Masa kesini nggak mau minum alkohol," celetuk Fira mengomeli suaminya.


"Bukan begitu sayang!" Batista memegang tangan Fira, menggenggamnya lalu tersenyum.


"Begitu gimana?" tanya Fira masih penasaran.


Batista mulai terbuka pada istrinya sekaligus mengenang momen pertama mereka ketika pertama bertemu.


"Apa kau ingat saat pertama kali kita bertemu?"


Fira mengangguk mendengar pertanyaan suaminya, yang ia ingat hanyalah tindakan Batista yang begitu arogan. Mencumbunya tanpa meminta izin. Dengan tiba-tiba menyentuhnya, karena pasrah tidak bisa mengelak lagi akhirnya Fira menikmati semua itu. Malam pertama bagi mereka berdua.


Batista bahkan tidak tahu kalau Fira sedang merintih kesakitan saat berhubungan intim dengannya. Karena saat itu sama-sama kali pertama bagi mereka melakukan hubungan intim.


"Bagaimana aku bisa melupakannya? Kalau kau saja tidak ingat denganku! Kejadian malam itu hanya aku yang mengingat dengan sadar," keluh Fira membuat Batista terkekeh sendiri.


"Kenapa malah ketawa?" sinis Fira melihat respon suaminya itu.


"Nah, kau sangat mengingatnya kan? Sedangkan aku tidak ingat bahkan tidak mengenalimu? Kau tahu apa penyebabnya?" Batista bertanya sebelum membeberkan semua alasannya mengapa ia tidak memesan alkohol malam ini.


Fira menggeleng belum mengetahui penyebabnya mengapa Batista bisa begitu tidak sadar saat mencumbunya. Saat itu yang ia ingat hanya bau alkohol yang tercium dari mulutnya.


Namun Fira berpikiran itu hal bisa bagi laki-laki. Mungkin saja saat itu Batista sedang meminum alkohol yang banyak hingga membuatnya mabuk berat.


"Karena mabuk kan?" jawab Fira dengan santai setelah mengingat bau alkohol pada tubuh Batista waktu itu.


"Iya benar mabuk! Tapi karena aku tidak sengaja meminum satu gelas alkohol yang membuatku tidak sadarkan diri," balas Batista dengan senyumnya.


"Apa? Hanya karena satu gelas?" Fira memastikan jawaban suaminya.


Fira tidak menyangka suaminya bisa mabuk berat hanya karena segelas alkohol. Apakah mungkin seorang pria bisa mabuk hanya karena meneguk satu gelas alkohol saja? Baginya itu adalah hal yang mustahil.

__ADS_1


Kadar minuman alkohol tidak terlalu kuat jika hanya diminum satu gelas saja. Tiba-tiba Fira tertawa. Mentertawai suaminya karena merasa tidak percaya.


"Ah mas yang benar saja cuma satu gelas bisa bikin mabuk seberat itu?" kekeh Fira sambil tertawa terbahak-bahak.


__ADS_2