Aku Terjerat Cinta Satu Malam

Aku Terjerat Cinta Satu Malam
alergi


__ADS_3

Batista panik melihat istrinya yang muntah parah. Seisi perutnya keluar semua, baru saja ia menyantap seafood segar dari restoran, tetapi yang terjadi malah makanan itu keluar semua dari mulutnya.


"Sayang kita kerumah sakit ya!" perintah Batista panik, seketika ia khawatir dengan jabang bayi didalam perut Fira.


Ia mengelus-elus perut Fira dan membopongnya keluar. Senny juga tampak khawatir, karena sebelumnya Fira tak pernah memuntahkan makanannya seperti itu. Perut Fira yang terasa terkocok-kocok, mual parah membuatnya pusing.


Batista menyelesaikan pembayaran makan malamnya. Fantastis, harga di resto di Jimbaran sangat mahal. Ia menghabiskan lima juta hanya untuk memakan seafood malam itu.


Tapi hal itu tak masalah bagi Batista, yang menjadi masalah adalah mengapa Fira mendadak muntah pasca menelan semua makanan yang disajikan?


Apakah makanan tersebut tidak higienis? Batista berulang kali berpikir, apa yang menjadi masalah bagi Fira sehingga ia sampai muntah parah. Hal itu akan segera diketahuinya setelah tiba di rumah sakit nanti.


"Nak minum air dulu," ucap Senny sambil menepuk-nepuk punggung putrinya.


Senny dan Fira sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil, menunggu Batista menuntaskan pembayaran bill makannya.


"Ke rumah sakit terdekat pak," tegas Batista setelah menutup pintu mobilnya.


Supir menancapkan gas mobilnya, berharap mobil itu segera terparkir di rumah sakit karena melihat kepanikan Batista.


Hanya sepuluh menit jarak tempuh menuju rumah sakit, Batista tertatih meminta dibawakan ranjang pasien. Beberapa perawat mendorong ranjang pasien, mengira ada pasien yang sudah gawat darurat.


"Mana pasiennya pak?" tanya seorang perawat karena Fira tak kunjung keluar dari mobil.


"Ada didalam pak!" Batista mempersingkat perkataannya, bergegas membukakan pintu mobil lalu menggendong Fira.


Fira yang lemas tak tahu kalau suaminya terlalu berlebihan sampai membawakan ranjang pasien.


"Loh, kondisinya seperti terlihat baik-baik saja pak. Apa yang diderita ibu ini," ucap perawat yang bingung melihat kondisi Fira tampak sehat.


"Istri saya pak, tadi muntah parah setelah memakan seafood disalah satu resto," terangnya.


"Oh begitu, apa ibu masih bisa berjalan?" tanya perawat lagi.


"Bisa pak," jawab Fira dengan lemas. Memang perutnya terasa mual sekali, tapi kalau untuk berjalan masih bisa ia lakukan. Suaminya saja terlalu berlebihan sampai membawakan ranjang pasien ke mobil.


Beberapa perawat saling menatap dan tersenyum, seolah-olah mereka menertawai sikap Batista yang panik saat ini.


"Ada yang salah pak?" tanya Batista karena memperhatikan senyum simpul pada wajah perawat itu.

__ADS_1


"Kemungkinan ibunya alergi pak! Beberapa orang ada yang alergi memakan seafood, tetapi tidak gatal-gatal. Namun mengalami mual muntah. Dan memuntahkan seisi perutnya. Lebih baik diperiksakan dulu ya," ucap salah satu perawat.


Perawat membopong Fira yang lemas akibat pusing dan mualnya. Ia membawakan Fira ke poliklinik alergi untuk diperiksakan.


Beruntung saat itu sepi, tidak ada pasien, hanya Fira seorang. Dokter meminta agar Fira segera masuk ke dalam memeriksakan kondisinya.


Dokter mengambil stetoskop miliknya, memeriksa bagian perut Fira dan dadanya. Semua tampak normal dan bisa saja tidak ada sesak nafas pada Fira.


"Bagaimana perasaannya bu setelah memuntahkannya?" tanya sang dokter.


"Setelah habis seisi perut saya dok, seperti terasa lega. Tetapi kepala saya pusing dan perut menjadi mual," cerita Fira.


"Baik! Apakah ibu sedang hamil atau tidak?" tanyanya lagi.


"Saya hamil tiga bulan dok," tutur Fira.


"Baik! Setelah saya observasi, sepertinya ibu memang alergi. Alergi pada makanan seafood, dimasa kehamilan lebih baik menghindarinya. Ibu tadi makan seafood apa?" tanya dokter lagi.


"Kepiting dok, sebelumnya memang saya belum pernah memakannya. Baru kali ini,"


"Baik! Untuk kepiting sebaiknya tidak ibu makan, dan dihindari dulu makanan laut terutama yang mengandung banyak merkurinya. Itu berbahaya bagi janin jika dikonsumsi terus- menerus," papar sang dokter.


"Disini saya resepkan obat untuk ibu hamil, untuk mengatasi pusing dan mualnya," Dokter memberikan buku pasien yang diisi dengan resep dokternya.


"Tapi janinnya nggak ada masalah kan dok?" tanya Batista sebelum keluar ruangan memastikan kondisi anaknya.


"Tidak masalah pak! Aman! Ibunya hanya alergi saja," tutup dokter mempersilahkan Batista, Fira dan mertuanya keluar ruangan dan menebus sesuai resep obatnya.


Batista meminta agar mertuanya mendampingi Fira diruang tunggu, sementara ia menebus obat istrinya. Beberapa obat sudah ditangannya, ia menghampiri Fira dan mertuanya membawanya kembali ke mobil.


Batista mengecek jam tangan miliknya, saat itu sudah jam sembilan malam. Ia harus cepat kembali ke villa mengambil barang mereka, agar bisa segera diantarkan ke bandara.


"Kau masih kuat kan?" tanya Batista memastikan kondisi Fira.


"Iya mas. Nanti di mobil aku minum obatnya biar lebih enakan," ucap Fira.


Batista mengangguk, mempersilahkan mertuanya dan Fira masuk ke dalam mobil. Ia juga masuk ke dalam, menutup pintu mobilnya.


"Pak kita balik ke villa, mau ambil barang-barang dulu. Setelah itu kita ke bandara," jelas Batista.

__ADS_1


Supir menjalankan mobilnya, menginjakkan gas mobil dan melaju dengan cepat. Untungnya penerbangan mereka pada jam dua belas malam, jadi tidak perlu terlalu terburu-buru.


Batista tak menyangka ada kejadian tak terduga, yang membuat waktunya tidak sesuai prediksi.


"Mas aku harus beresin barang," ucap Fira masih lemas meski sudah meminum obatnya sesaat mereka meninggalkan rumah sakit.


"Disini saja! Biar aku dan ibu yang mengambil barang-barang kita," balas Batista sambil melemparkan senyumnya.


"Yuk bu," ajaknya.


Senny dan Batista memasuki villa, mengambil barang milik mereka. Batista chekout dari villa, menyerahkan kunci kamar mereka hingga kembali lagi ke mobil.


"Berangkat pak," titah Batista pada supir travelnya.


Seluruh paket liburan mereka, sudah dibayarkan Batista diawal. Sehingga saat pulang, ia tidak perlu lagi kerepotan untuk mengurus pembayarannya. Termasuk untuk mobil travel dan supirnya, itu semua sudah dilunasinya.


Hal yang kecil baginya untuk mengurus hal sepele tersebut. Ia bahkan meminta Bagas yang menyiapkan seluruh booking villa dan travel, kecuali tiket pesawat ia memesannya sendiri.


"Mas kita nggak terlambatkan? Maafkan aku, aku tidak menyangka kalau aku alergi pada kepiting," kata Fira khawatir.


"Iya nak, ibu juga nggak tahu kalau Fira alergi! Karena dari dulu ibu nggak pernah memberikannya kepiting," ungkap Senny dengan senduk.


"Nggak apa-apa bu. Yang penting Fira baik-baik saja," balas Batista dengan tenang. Setelah mengetahui tentang alergi, ia sudah mulai merasa tenang kembali.


Ia sudah bisa berpikiran jernih, berhubung besok akan kembali bekerja. Ia juga harus ikut penerbangan tepat waktu agar tak ketinggalan pesawat.


"Terimakasih pak sudah menemani kami selama liburan. Kami pamit pulang dulu," ucap Batista dengan santai dan santun pada sang supir.


"Sama-sama pak! Bapak bisa menggunakan travel kami lagi jika berlibur kesini," jawab supir dengan senyumnya yang merekah.


Mereka meninggalkan supir, memasuki bandara memilih sesuai dengan gatenya. Batista melakukan boarding, pas sekali dua jam sebelum keberangkatan mereka sudah melakukan boarding.


"Mas, aku ngantuk! Aku tidur dulu. Kau sebaiknya tidur juga. Karena besok akan bekerja. Ibu juga!" ucap Fira setelah berada didalam pesawat yang duduk ditengah diantara Batista dan Senny.


Pesawat itu baru saja take off dari Bandara International Ngurah Rai. "Bye Bali," batin Fira sebelum menutup matanya.


Rasa kantuk dan lelah juga dirasakan oleh Batista, ia hanya menutup mata sebentar tertidur dalam lelapnya. Satu setengah jam perjalan tak terasa bagi mereka. Pesawat itu sudah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta.


"Hoaaam!"

__ADS_1


"Cepat juga sampainya! Nggak kerasa ya," tutur Fira saat membuka matanya dengan kondisinya yang segar melihat pemandangan sekitarnya saat subuh hari.


"Apa badanmu sudah enakan?" tanya Batista datar mengingat sebelum berangkat tadi Fira masih lemas dan lelah.


__ADS_2