
Fira tidur di rumah peninggalan ayahnya. Ibunya tak banyak bertanya tentang kehadirannya malam ini.
Raut sedih diwajahnya sudah membuktikan bahwa ia dan suaminya sedang bertengkar hebat. Oleh karena itu, ibunya pun tak ingin memperkeruh suasana hati putri semata wayangnya itu.
"Makan dulu nak," pinta Senny usai mengetuk pintu dan saat ini tengah membawa makanan dan lauk diatas nampan untuk diserahkan pada putrinya.
Sejak kedatangannya, Fira selalu menyendiri di dalam kamarnya. Ia menangis tersedu-sedu. Bahkan suara isak tangisnya terdengar hingga ke gendang telinga sang ibu.
Fira menyembunyikan wajahnya dihadapan sang ibu. Ia malu jika ketahuan matanya telah bengkak akibat menangis.
Melihat Fira sedari tadi tak menanggapi permintaan ibunya, ia segera meletakkan nampan diatas nakas samping tempat tidurnya dan segera keluar.
Fira yang mendengar jajak langkah kaki ibunya lalu mengatakan "Mengapa ibu tidak bertanya apa-apa padaku," ucap Fira yang menghentikan langkah kakinya.
"Ibu menunggu kamu nduk. Menunggu kamu sampai tenang. Karena raut wajahmu sangat sendu," jelas Senny Andriani yang mengampiri putrinya dan duduk dipinggiran kasur tak jauh dari tubuh Fira.
Senny mengulurkan tangannya dan mengelus rambut Fira. Tiba-tiba Fira terisak nangis dengan kencang. Lalu mendekati ibunya dan segera memeluknya.
Kehangatan tubuh ibunya yang tak pernah ia lupakan. Bahkan aroma tubuh khas dari ibunya yang paling ia sukai.
"Aku bingung bu! bagaimana harus menghadapi mas Batista! dia sudah membuatku kecewa berkali-kali," ucapnya sendu.
"Ada apa sebenarnya nduk? mengap kamu malah pulang kesini bukannya bermalam di rumah bersama suamimu? apa yang telah terjadi," Senny bertanya-tanya, sejak tadi juga ia penasaran apa kali ini yang membuat putrinya minggat dari rumah megah milik suaminya itu.
"Mas Batista bu.. hiks .. hiks... dia selingkuh! baru saja beberapa bulan menikah, tapi dia tega menyelingkuhiku!" ungkap Fira membuat Senny membuka mulutnya dan segera menutup dengan kedua tangannya karena kaget dengan tingkah laku mantunya yang terlihat sangat baik dan sopan saat bertemu dengannya.
"Kamu yang benar nduk? apa sudah ada buktinya? kamu sudah memastikannya," tanya Senny.
"Iya bu! ada bekas lipstik perempuan dibajunya! apalagi kalau bukan selingkuh!" ketus Fira menyakinkan sang ibu.
"Bisa saja ada perempuan yang menggodanya nduk. Tapi suamimu menolaknya hingga sengaja memberikan bekas lipstik dibajunya. ini adalah salah satu cobaan rumah tanggamu dan kamu harus bersabar nduk," Senny mengangkat putrinya dan mengelap seluruh air mata yang ada dipipinya.
"Dia bilangnya dijebak bu! tapi dengan semua bukti yang ada, aku tidak percaya dia dijebak. Lagi-lagi perempuan yang bersamanya, ya mantan kekasihnya itu," jelas Fira yang terus menitikkan air matanya.
__ADS_1
Fira melanjutkan ceritanya "aku harus bagaimana bu? aku sangat marah padanya. Makanya aku angkat kaki dari rumah itu!"
Senny kembali mengelus rambut putrinya dan menenangkannya. Dia tak mau melihat putrinya melakukan tindakan gegabah, karena selama ini yang ia ketahui banyak cobaan rumah tangga yang aneh-aneh. Ia sendiri juva sudah merasakannya saat masih ada almarhum suaminya.
"Kamu yang tenang dulu nduk. Makan dulu, tidur yang nyenyak agar pikiranmu jernih. Pokoknya kamu jangan terus menyalahkan suamimu. Kamu harus benar-benar cari tahu apakah dia menyelingkuhimu. Atau kamu temui saja perempuan yang selalu mendekatinya," titah Senny yang membuat Fira semakin yakin untuk menemui Lucy.
Tidak ada cara lain untuk menyelesaikan persolannya dengan Batista. Fira harus menemui Lucy dan menanyakannya langsung tentang perselingkuhan itu ada atau tidaknya.
Fira mengangguk menuruti kemauannya. Ia mengambil makanan diatas nakas yang tak jauh dari posisinya duduk. Masakan ibunya adalah masakan terenak nomor satu yang pernah ia makan di dunia ini.
Perasaannya mulai membaik ketika mencicipi masakan sederhana yang dimasak oleh ibunya. Menu ayam goreng kalasan dengan sambal bawang ditemani sayur oseng bayam sudah mengenyangkan perutnya.
"Terimakasih wejangannya bu! sekarang aku harus mencari kebenaran tentang suamiku dan perempuan itu," ucap Fira.
Senny mengangguk dan tersenyum tipis. Ia telah berhasil menenangkan putrinya yang sedaritadi nangis terisak-isak.
"Jangan terlalu curiga diawal nduk. Percayalah suamimu itu orang baik. Ibu bisa tebak dari pembawaannya dan tutur katanya yang sopan," jelas Senny.
Fira mengangguk, ia segera memeluk ibunya yang sudah berhasil menenangkannya. Pikirannya yang amburadul dan kacau membuatnya tak bisa berpikir jernih. Namun kini ia memikirkan taktik apa yang harus ia gunakan untuk menyingkirkan mantan kekasih suaminya itu.
Senny mengangguk pelan, mengiyakan keinginan putri semata wayangnya. Ia ingin menghilangkan raut sedih diwajah putrinya itu. Kehadirannya mungkin bisa menjadi obat penenang bagi putrinya.
Senny mengambil posisi untuk tidur di kamar anaknya. Mereka berdua tidur saling berhadap-hadapan. Bahkan Senny bernostalgia menceritakan kisah percintaannya bersama ayahnya Fira.
*****
Fira kembali bekerja seperti biasanya. Seolah-olah tidak ada masalah yang menimpanya. Kali ini ia ingin menangkap Lucy hidup-hidup dan segera menyingkirkannya dari kehidupannya bersama Batista Andara.
Selama semalaman semenjak angkat kaki meninggalkan Batista, Fira sengaja mematikan ponsel miliknya. Ia tak mau mengingat suaminya itu. Baru saja ia menyalakan ponselnya diatas meja kerjanya, sudah banyak notifikasi pesan masuk dari Batista yang mengirimkan permintaan maaf.
Permintaan maaf Batista yang membuat Lucy semakin percaya bahwa mungkin benar saja suaminya itu dijebak oleh wanita berparas bule itu.
Fira mengirimkan pesan kepada sekretaris suaminya, Bagas. Dalam pesan ia berkata "Kalau perempuan itu datang, tolong hubungi aku"
__ADS_1
Bagas pun mewanti-wanti kedatangan Lucy. Saat ini Bagas tak tahu kalau bosnya telah berpisah dengan istri sahnya itu.
Batista memasuki ruangannya. Seperti biasanya, telah banyak berkas menumpuk diatas mejanya. Jadwalnya penuh dengan pertemuan bersama kolega hingga meeting dengan pengusaha lainnya.
Sayangnya ia tidak fokus akan pekerjaannya. Ia masih memikirkan Fira yang tak menjawab pesan yang ia kirimkan. Raut mukanya berantakan meski ia masih terlihat tampan.
Bajunya memang tampak rapi. Tapi perasaannya terasa hampa sejak ditinggali oleh istrinya. Semalaman ia begadang sehingga kini ia memiliki mata panda yang membuat mukanya menjadi acak-acakan.
"Apa yang harus saya lakukan sekarang ini Gas?" tanya Batista yang tampak lesu meski masih pagi hari.
"Sekarang bapak selesaikan penandatangan berkas dulu saja. Nanti pukul 11.00 kita harus pergi meeting," jelas Bagas yang daritadi sudah masuk ke ruangan bosnya untuk memberikan jadwalnya hari ini.
Batista mengambil penanya dan menandatangani berkas-berkas yang menumpuk diatas mejanya. Sesekali ia melirik ponselnya berharap ada balasan dari istrinya.
Saat fokus menyelesaikan pekerjaannya, suara langkah kaki yang menggunakan heels terdengar nyaring.
Bagas sengaja tak pergi kemanapun. Ia duduk didepan ruangan Batista. Mewanti-wanti kedatangan Lucy karena telah disuruh oleh Fira.
Suara langkah kaki mengejutkan Bagas. Ia memprediksi itu adalah Lucy Davide. Lucy melangkahkan kakinya dan melewati Bagas. Hampir saja ia menerobos masuk namun dihadang oleh Bagas.
"Siapa anda?" tanya Bagas.
"Saya Lucy Davide. Ingin bertemu Batista. Bilang saja saya datang!" ketus Lucy.
"Baik! tunggu disini akan saya sampaikan," kata Bagas yang menunjukkan kursi tunggu pada Lucy agar ia mendudukinya.
Bagas kemudian mengirimkan pesan pada Fira. "Dia datang!"
Pesan singkat itu terkirim dan langsung terbaca oleh Fira. Sesuai prediksinya, hari ini ia akan bertemu dengan mantan kekasih suaminya. Fira memasuki lift dan menekan tombol lift menuju lantai paling atas.
Bagas memberitahukan kedatangan Lucy. "Pak ada yang datang, namanya Lucy Davide. Apa dia diperbolehkan masuk?" tanya Bagas.
Batista berpikir sejenak. Mungkin hari ini dia bisa menyelesaikan permasalahannya dengan Lucy. "Baik! Suruh dia masuk!" titah Batista pada Bagas yang bergegas menemui Lucy.
__ADS_1
Bagas menghampiri Lucy dan mengatakan bahwa ia diperbolehkan masuk. Namun, baru saja Lucy berdiri hendak memasuki ruangan. Ternyata Fira sudah berada tak jauh dari posisi Lucy berdiri.
"Stop!" teriak Fira yang mengangetkan Bagas dan wanita blasteran itu. Fira dan Lucy saling menatap. Tampak kemarahan diraut muk Fira. Sementara Lucy diam dan bertanya-tanya siapa yang berani berteriak padanya.