
"Tenang nak! Dia ada di kamar ibu, sedang tidur. Tadi katanya ingin tidur berdua sama ibu karena dia kesepian. Maklum lagi hamil muda, jadi lebih butuh perhatian penuh," jawab Senny.
"Baik bu! Kalau begitu saya kembali ke kamar. Ibu silahkan tidur kembali," Batista meninggalkan Senny dan naik keatas kembali ke kamarnya.
Batista merasa dirinya bodoh hingga melupakan perhatian pada sang istri. Permasalahannya dengan Lucy membuat ia menjadi pria terbodoh di dunia. Bahkan dia tidak bisa menerima dirinya saat ini yang berubah menjadi pria jahat.
Sikap kasarnya muncul karena perlakuan satu-satunya mantan kekasihnya. Ia berharap tidak lepas tangan ketika menghadapi Fira kedepannya. Bahkan dia berharap tidak berubah menjadi pria pemarah pada istrinya.
"Bodoh! bodoh!! Apa yang aku lakukan memang bodoh. Sampai aku melupakan istriku dan sibuk mengurus perempuan itu," batin Batista.
Dia baru saja merebahkan dirinya diatas ranjang. Melihat langit-langit kamarnya. Harga dirinya telah runtuh. Ia bahkan malu pada dirinya sendiri, karena sudah berani mencoba membunuh Lucy.
Batista menjadi gelap mata dan tidak takut dipenjara jika Lucy nantinya malah mati. Sambil terpuruk dengan kelakuannya, tiba-tiba Batista tertidur.
Fira baru saja bangun dari tidurnya. Ia langsung ke kamar mengecek keberadaan suaminya. "Mas bangun!" ucap Fira sambil menggoyangkan tubuh Batista.
Tidak seperti biasanya Batista terbangun lebih siang dari jadwal biasanya. Batista biasanya terbangun saat subuh hari, berolahraga dan sarapan sebelum berangkat ke kantornya.
Entah apa yang buat lelaki itu bangun kesiangan. Fira menghembuskan nafasnya karena bingung dengan sikap suaminya akhir-akhir ini. Banyak hal yang belum diketahui oleh Fira. Fira mengecek ponsel Batista yang berada di nakas, tapi tidak ada hal aneh dalam ponsel tersebut.
Ponselnya bersih baik dari isi pesan maupun history teleponnya. Tidak ada yang mencurigakan.
Batista terbangun dan melihat Fira sedang mengecek ponselnya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkannya, sehingga dia santai saja menunggu Fira hingga selesai.
"Ada apa sayang?" tanya Batista baru saja membalikkan tubuhnya, melihat Batista sudah terbangun.
"Kenapa belum bangun daritadi? Maaf semalam aku tidak meminta izin untuk tidur dikamar ibu. Karena kau belum pulang juga saat tengah malam," ucap Fira.
Batista tersenyum. Ia kemudian berbisik pada istrinya. "Maaf aku tidak mengabarimu! Semalam percakapan kami sangat lama, biasalah tentang bisnis,"
Fira mengerti dengan alasan suaminya itu. Selama ini Fira menganggap suaminya lebih mementingkan pekerjaan dibandingkan dirinya yang meminta sedikit waktu untuknya.
"Tapi tenang saja! Hari ini aku akan bersamamu seharian penuh," ucap Batista menarik tangan istrinya keatas kasur.
Batista mencium pipi kanan Fira dengan lembut. Fira pun membalas ciuman suaminya.
"Mas ayo sarapan! Ibu udah menunggu dibawah loh! Jangan aneh-aneh, masih pagi," tegas Fira yang mulai beranjak dan menggandeng tangan suaminya menuju dapur.
__ADS_1
Seharian ini dia bingung akan melakukan kegiatan apa bersama suaminya. "Apakah kau tidak bekerja," tanya Fira, seingatnya hari ini tidak ada tanggal merah atau jadwal libur suaminya.
"Aku mau meliburkan diri demi istriku tercinta. Kau mau kemana hari ini," goda Batista.
Baru kali ini Batista terlihat seceria itu. Tadi malam saja mukanya sangat panik hingga tidak fokus melakukan apapun.
"Aku ingin kita ke dokter sayang! Sudah jadwalnya USG. Kemudian lanjut shopping dong," balas Fira dengan senyumnya.
Senny sudah duduk daritadi dikursi makannya. Menunggu kedatangan pasutri itu. Tidak biasanya sarapan mereka terlalu siang. Seperti biasanya, sarapan tersaji di meja makan sangat banyak pilihannya.
Senny terkadang menyesali makanan tersebut yang terkadang terbuang karena mubazir. Tapi ia juga tidak bisa bertindak sesukanya karena ini adalah rumah menantunya.
"Ibu aku ingin nasi goreng buatan ibu! Melihat makanan ini semua aku mual," pinta Fira dengan manjanya. Ia mulai mengidam, dari kemarin ia ingin tidur dengan ibunya. Pagi ini malah ingin dibuatkan nasi goreng padahal sudah banyak makanan tersaji di meja makan.
"Tunggu sebentar ya nduk! Nak Batista mau juga?" tanya Senny.
"Tidak bu! Saya akan makan yang ada di meja ini saja," jawab Batista dengan sopan.
Senny beranjak mendekati dapur. Dengan cepat ia memasak nasi goreng tanpa kecap kesukaan Fira. Ia juga membuatkan telor ceplok favorit putrinya.
Satu piring nasi goreng sesuai keinginan Fira dibawa oleh Senny ke meja makan. "Makan yang banyak ya. Biar bayinya juga sehat," ucap Senny yang dibalas dengan senyum oleh Fira.
Fira melahap nasi goreng buatan ibunya dengan cepat.
"Oh ya bu! Hari ini mau ikut tidak? Kita mau USG dan berbelanja," ajak Fira dengan semangat.
"Loh? Memangnya nak Batista tidak bekerja,"
"Tidak bu! Hari ini saya libur," jawab Batista.
"Apa boleh ibu ikut?" tanya Senny menatap Batista.
"Tentu boleh, selesai makan ibu langsung siap-siap saja," balas Batista.
Senny dengan paras bahagianya beranjak dan mulai bersiap-siap. Sebentar lagi ia akan bertemu cucunya melalui layar hasil USG.
Pemeriksaan pertama kehamilan Fira tidak dilihat langsung oleh Senny. Fira baru datang mengunjunginya sepulang dari rumah sakit.
__ADS_1
Batista, Fira dan mertuanya menuju Rumah sakit. Ternyata kehamilan Fira sudah memasuki usia tiga bulan.
"Janinnya sehat-sehat bu! Ibu sangat bagus menjaganya. Apa masih mual muntah," tanya dokter.
"Masih dok!"
"Tidak masalah, itu hanya hormon saja. Yang terpenting selalu dipenuhi nutrisinya. Agar berat janin sesuai dengan usianya,"
Senny sangat bahagia dan sudah sangat menantikan cucu satu-satunya. Begitupun dengan Batista dan Fira, mendengar ucapan dokter bahwa janin sangat sehat mereka merasa senang.
Apalagi Batista sangat menjaga bayinya hingga mengurangi jadwal hubungan intim mereka.
Selanjutnya Batista mengajak Fira dan Senny berbelanja. Sebenarnya Fira ingin berbelanja pakaian bayi untuk persiapannya melahirkan nanti, tapi dilarang oleh Senny sebelum kehamilannya masuk ke usia tujuh bulan.
"Pamalik nduk kalau beli peralatan bayi. Lebih baik kau beli baju hamil saja," ucap Senny.
Fira menyetujui pendapat ibunya. Ia memilih beberapa baju ibu hamil yang akan digunakannya setelah perutnya membuncit.
Kalau sekarang dia belum merasakan sesak di perut karena perutnya masih saja datar dan belum kelihatan membuncit.
Batista menunggu kedua perempuan yang sedang berbelanja di sofa yang disediakan pemilik butik.
Dia lagi-lagi teringat Lucy yang terpenjara dalam apartemennya. "Sedang apa dia?" batin Batista.
Tanpa sadar ia malah mengingat-ingat mantan kekasihnya dan mengkhawatirkannya. "Sial mengapa aku harus memikirkannya," batinnya lagi.
Sementara Lucy terbaring diatas kasur dengan lemah. Ia terpenjara dan tidak bisa keluar. Terus terkunci di dalam apartemen besar milik Batista.
Dia bahkan tidak berselera makan meskipun banyak makanan instan yang ada didalam lemari pendingin.
Lucy sempat melupakan pekerjaannya di Jerman. Bukan ini yang dia inginkan, terpenjara dalam sebuah ruangan.
Rencana sebenarnya hanyalah pulang ke Indo selama satu minggu dan kembali lagi ke Jerman untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Hal itu tidak bisa dia lakukan karena Batista telah mengurungnya. Ia teringat tentang pelanggaran kontrak kerjanya. Sepertinya dia akan merugi dan harus mengganti rugi pada perusahaan yang memperkerjakannya untuk Jerman Fashion Week.
Beberapa Desain bajunya belum selesai. Sekarang dia sudah satu minggu di berada di Indo, dan memikirkan bagaimana ia bisa keluar dari penjara ini dan menyelesaikan pekerjaannya tanpa kena denda.
__ADS_1
"Sial! Bagaimana aku harus mengatakannya pada Batista. Benci sekali aku harus memohon padanya," lirih Lucy seorang diri.