Aku Terjerat Cinta Satu Malam

Aku Terjerat Cinta Satu Malam
rencananya


__ADS_3

"Akhirnya karena aku merasa sangat kesal, saat dia berada di kantorku, aku sekap dia dan dibawa oleh Bagas ke apartemen lamaku. Disana ku sekap lebih dari seminggu hingga terjadi pencekikan, aku hanya ingin dia jera kok. Sampai semua bukti foto toples itu ku dapatkan serta terhapus. Tapi aku sudah melepaskannya sayang! Dia sekarang sudah pergi jauh ke Jerman," ungkap Batista membuat Batista syok tak percaya hingga ia membuka mulutnya, menganga selebar mungkin seraya tak percaya dengan kelakuan suaminya.


"Lantas kau memang benar menidurinya dan berhubungan intim layaknya suami istri?" tanya Fira masih merasa tak percaya dengan kelakuan suaminya. Rasanya bak disambar petir, kepalanya nyut-nyutan terasa pusing berat.


Hal yang tak pernah dipikirkannya selama masa pernikahan, karena Batista merupakan sosok pria yang sangat baik, perhatian, dan romantis baginya.


"Enggak sayang! Sungguh aku tidak melakukan itu. Aku dijebak olehnya saat di bar. Dia memberikanku alkohol lalu membawaku dari bar," ungkapnya lagi.


"Darimana kau tahu kalau dia menjebakmu?" Fira menatap suaminya itu semakin tajam.


"Ya tentu dia menjebakku! Kalau tidak, mengapa ia bisa ada di bar yang sama denganku lalu membawaku?" tanyanya dengan pemikiran yang masuk akal. Fira juga berpikiran demikian.


"Sebenarnya perempuan itu ada hubungan apa denganmu? kenapa dia seberani itu," Fira terus meluapkan pertanyaan yang ada didalam hati kecilnya.


"Dia mantan kekasihku. Satu-satunya mantan kekasih yang aku miliki. Dan katanya dia ingin aku kembali padanya lagi," jawab Batista seraya menundukkan kepalanya dengan lesu.


"Oh jadi kemarin yang kau ceritakan sama mas Niko tentang mantan kekasih kalian yang sama sebenarnya adalah Lucy?" lontarnya lagi.


"Iya!" sahut Batista dengan wajah sendunya.


"Tapi aku tidak bermaksud membohongimu sayang! Aku hanya tidak ingin menimbulkan masalah baru. Lalu berdampak pada kehamilanmu!" tandasnya Batista.


"Jujur saja, dengan pengakuanmu sekarang aku bingung harus berbuat apa. Kepalaku sudah terasa sangat pusing. Hatiku sakit sekali ketika tahu suamiku berani membohongiku," keluh Fira dengan tatapan kosongnya.


Ia sudah tidak bisa berpikiran jernih lagi ketika mengetahui semua persoalan tentang suaminya. Tubuhnya pun serasa lemas tak berdaya.


"Sayang apa kau tidak apa-apa?" tanya Batista panik melihat tubuh istrinya yang mulai melemas.


Itulah sebabnya dia tak pernah mau jujur menceritakan tentang permasalahannya bersama Lucy. Ia takut sekali menyakiti istrinya, bahkan hingga membuat kehamilannya terancam.


BRUG!


Suara jatuh tubuh Fira yang sudah melemas tak tertahankan. Batista panik melihat istrinya telah lunglai diatas ranjang. Dari tadi Fira sudah duduk diatas ranjang sejak mulai mendengar cerita Batista yang semakin memanas.


Padahal posisi awalnya sedang rebahan, tetapi karena cerita itu semakin membuatnya menegang, akhirnya ia menduduki ranjangnya.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana ini," gumamnya kebingungan melihat istrinya yang pingsan diatas ranjang. Ia mengambil minyak angin dengan aroma ekaliptus diatas nakas.


Digosok ke punggung serta hidungnya secara perlahan. "Sayang! Bangun," rintih Batista panik.


Ia tak mau kejadian ini akan mempengaruhi kehamilan istrinya. Dokter juga sudah mengingatkan berkali-kali agar Fira tidak stress karena akan mempengaruhi janinnya.


"Sayang!" ucapnya sembari mengoleskan minyak angin itu ke bagian kepalanya. Memijit-mijit kepala Fira serta punggungnya.


Batista berjalan kebawah menuruni anak tangga, memanggil mertuanya.


TOK TOK


Suara ketukan pintu yang baru saja didengar oleh Senny. Ia mulai berjalan, kemudian menarik daun pintunya.


"Ada apa nak? Masih subuh begini?" tanya Senny dengan wajahnya yang diselimuti rasa kantuknya.


"Maaf bu. Fira baru saja pingsan," jawabnya lemas.


"Loh pingsan kenapa?"


"Mungkin dia kecapekan nak. Biarkan saja dulu dia tertidur. Ibu masih ngantuk," ucap Senny seraya menutup kembali pintunya membiarkan Batista seorang diri.


Batista melirik jam tangannya, sudah jam empat pagi rupanya. Padahal ia belum tidur sejak pulang dari bandara. Ia naik lagi keatas kamarnya dan membaringkan tubuhnya diatas ranjang.


Sejenak ia memperhatikan istrinya yang tertidur pulas, lalu memejamkan matanya. Tiba-tiba saja ia tertidur dengan pulasnya.


Tepat jam sembilan pagi, Fira terbangun dari tidurnya. Matahari sudah tampak terik menyinari sela-sela jendela kamar mereka.


Ia memerhatikan suaminya yang sedang tertidur. "Aw! Kepalaku masih sakit," gumamnya sembari memegang kepala dengan kedua tangannya.


Dia melihat wajah polos suaminya yang tampak pulas tengah tertidur. Melirik jam dinding di kamar mereka, terkejutlah Fira kalau saat itu sudah terlalu siang. Mengingat suaminya harus bekerja dihari Senin.


"Mas, bangun Mas!" ucap Fira seraya menggoyangkan lengan suaminya.


Namun Batista masih saja lelap dalam tidurnya. "Apa dia sangat kelelahan?"

__ADS_1


"Mas bangun mas," kata Fira lagi membangunkan suaminya.


"Mas udah jam sembilan loh!" ketus Fira karena Batista tak kunjung bangun. Mendengar kata jam sembilan, Batista terperanjat dari atas ranjang.


Dia mendudukkan tubuhnya diatas ranjang seraya menoleh kearah jam dinding. Kemudian mengambil ponselnya diatas nakas mengecek pesan dari Bagas.


"Pak meeting pagi ini jam delapan"


Pesan yang tertulis dilayar ponselnya dari Bagas baru ia lihat. Ia langsung melakukan panggilan telepon untuk menghubunginya.


"Apa kau sudah mereschedule jadwal meeting pagi ini," tanya Batista sambil mengucek-ucek matanya karena baru saja bangun dari tidurnya.


"Iya pak, saya reschedule ulang, karena bapak tidak ada kabarnya," jawab Bagas dari seberang teleponnya.


"Oke! Saya akan segera ke kantor. Siapkan meeting jam sepuluh," Batista langsung menutup panggilan teleponnya dan beranjak dari kasur.


"Sayang apa kau tidak apa-apa? Tadi subuh kau pingsan! Maafkan aku," lirihnya masih dengan tatapan sendu pada Fira.


Fira malah melemparkan senyuman pada suaminya. Ia harus memaafkan suaminya dan merelakan kejadian yang sudah terlewat. Lagipula perempuan itu sudah pergi jauh meninggalkan negara ini, meski pikiran Fira memang masih berkecamuk tak terima dengan perlakuan suaminya tersebut.


"Nggak apa-apa mas! Mungkin aku lelah, lebih baik sekarang kau mandi. Karena di kantor semua orang menunggumu. Lain waktu kita bicarakan lagi hal itu," tutur Fira dengan senyum simpulnya seraya beranjak dari atas kasurnya berjalan keluar kamar meninggalkan Batista.


"Bu! Bu!" teriak Fira dari atas kamar.


"Ada apa toh nduk pagi-pagi teriak," kata Senny sambil memalingkan wajahnya dari sarapan yang ada didepannya saat ini, menoleh kearah Fira.


Dugaannya benar kalau Fira hanya kecapekan makanya ia tepar tadi subuh.


"Bagaimana kondisimu nduk? Kata suamimu tadi subuh kau pingsan?" lanjut Senny.


"Iya bu, sepertinya Fira kecapekan saja," jawabnya dengan santai, lalu menarik kursi makan dan mendudukinya.


"Ada apa tadi subuh sampai kau pingsan," bisik Senny tak ingin ketahuan oleh menantunya. Ia tahu ada permasalahan besar yang mengganggu biduk rumah tangga mereka.


"Sstttt! Nanti saja aku ceritakan. Khawatir mas datang kesini, dia lagi mandi. Ada yang ingin aku bicarakan juga pada ibu," tuturnya dengan serius sembari berbisik pada sang ibu karena ia baru saja mempersiapkan rencananya.

__ADS_1


*JANGAN LUPA KASIH SEMANGAT KE AUTHOR YA SAYANG!! LIKE, KOMEN, VOTE, & MASUKKAN NOVEL INI KE LIST FAVORIT KALIAN**😍*


__ADS_2