Aku Terjerat Cinta Satu Malam

Aku Terjerat Cinta Satu Malam
suntikan dana


__ADS_3

Batista semakin agresif ketika gairahnya dipancing. Tangannya mulai menggerayangi tubuh istrinya. Ia mulai menciumi kening, pipi, dan kuping.


Tak lupa ia menyematkan ciuman dibagian leher istrinya, menyisakan tanda cintanya dibagian disana. Tangannya bermain memutari gunung kembar istrinya, sesekali ia menyesap pucuk gunung kembar tersebut, hingga membuat tubuh Fira terus meremang karena menikmati sentuhan serta isapan suaminya.


"Ayo mas masukin," pintanya dengan gusar karena gairahnya kian memuncak.


Namun pemanasan yang Batista lakukan belum usia. "Sabar sayang," lirihnya sambil menggerogoti tubuh istrinya.


Batista terus mendominasi, kini ia beralih ke bagian kebawah. Tangannya bahkan tak bisa diam sedari tadi. Meski ia menciumi kaki hingga ke area paha, tangan itu meluncur ke area sensitif milik istrinya.


Tangannya bermain sendiri diatas daging kecil yang berada diarea sensitif tersebut. Mengitarinya dengan pelan hingga Fira terus merasakan kenikmatan yang luar biasa yang mengeluarkan cairan membuat area sekitar itu semakin becek.


"Ahhh.. Ahhh," Fira terus berdesahh tak kuat menahan sentuhan tiap sentuhan dari suaminya.


"Sayanggg," bisiknya agar suaminya segera menancapkan benda yang paling terpenting milik suaminya.


Sayangnya Batista tak kehabisan akal, tangan itu kini berpindah kebagian gunung kembar milik istrinya. Ia terus meraba sambil menciumi perut datar istrinya. Sesekali menyesapnya memberikan tanda merah disana.


"Akhh Ahhh," rintihan demi rintihan terus dikeluarkan Fira seraya menahan gairahnya yang terus meningkat.


Karena tak sanggup menahan gairahnya, kini Fira melemparkan tubuh suaminya dengan lembut. Batista terhempas ke atas ranjang, Fira mengambil posisinya. Kini ia yang mendominasi.


Ia menciumi tubuh suaminya dengan lembut, menjalar ke lehernya hingga membuat tubuh Batista bergidik. Fira yang berada diatas paha suaminya, memainkan burung perkututnya. Ia tersenyum sinis, untuk membalaskan dendamnya karena dari tadi suaminya terus menggodanya.


Ia meletakkan kedua gunung kembarnya mengapit area sensitif milik suaminya. Perlahan ia menggerakkan keatas dan kebawah, Batista sangat menikmati hal itu. Sekejur tubuhnya meremang, ingin segera menikmati kepuasan yang lebih dari itu. Tak sampai disitu, Fira kali mengecup hingga menyesap kedua telur yang bergelantungan disana.


"Aghh!!! Arghhaaa," rintihan Batista semakin membuat Fira ketagihan.


Fira memegang area sensitif suaminya mengurutnya keatas dan kebawah sehingga membuatnya semakin kencang tak tertahankan. Ia pun menancapkan area sensitif itu ke dalam miliknya hanya dengan sekali dorong. Fira berada diatas suaminya, mendominasi permainan mereka hari ini.

__ADS_1


Mereka menyatu dalam kenikmatan yang luar biasa. Dengan lihainya Fira bergoyang dengan hentakkan pelan yang memuaskan hawa nafsu suaminya, hingga burung perkutut suaminya mengeluarkan benihnya yang tak bisa berkembang didalam rahim Fira karena ia telah hamil.


"Aahhhh," desahaan Batista begitu kencang meski tak sampai terdengar dari luar kamar mereka. Tubuhnya bergetar hebat begitu memuncarkan kenikmatan yang luar biasa.


"Plong rasanya," gumam Batista sembari terus mendapat goyangan maut dari Fira, membuat tubuhnya juga menegang karena bersamaan merasakan puncak kenikmatan itu.


Fira mengulum senyum kemenangan pada sore menjelang malam ini. Tubuhnya melemas setelah mengeluarkan gairah yang luar biasa itu.


"Ahhhh," ucap Fira kelelahan sambil mendorong tubuhnya ke samping Batista, merebahkannya dengan leluasa agar merenggang.


"Makasih sayang," bisik Batista karena hari ini dirinya yang dipuaskan oleh Fira.


Sejenak mereka beristirahat diatas ranjang. Batista memeluk Fira dengan erat, mengenyampingkan tubuhnya, seraya mengecup kening Fira. Meski merasa tak nyaman karena belum membersihkan diri, akhirnya Batista mengajak Fira untuk mandi bersama didalam bathup.


"Bentar dulu mas," ucap Fira melihat Batista yang siap-siap beranjak dari kasur. Ia masih tak kuat berjalan karena kakinya terasa sangat lemas sekali.


"Lima menit lagi," pintanya memelas, karena ia tahu suaminya ingin sekali berendam berdua dengannya, itu moment paling disukai oleh Batista.


******


Lucy telah mengentaskan pekerjaannya di Jerman Fashion Week. Hasil karyanya begitu memukau, hingga ia mendapatkan pujian-pujian dari perusahaan yang bekerjasama dengannya.


Karyanya begitu populer disana, banyak masyarakat yang ingin memperebutkan produk hasil desainnya, bahkan produk itu berhasil dijual dengan harga yang fantastis. "Nggak sia-sia kerja keras gue! Karya gue benar-benar boming disini. Hahhh," ucapnya lega.


Beberapa hari ini Lucy juga mendengar kabar kalau perusahaan Batista tengah berada diambang batas kehancuran. Hal itu ia dengarkan langsung dari adiknya sendiri, karena adiknya merasa khawatir dana investasi perusahaan mereka akan hangus begitu saja.


Lucy semakin khawatir pada Batista. Khawatir Batista akan terancam bangkrut. "Apa aku harus membantunya?" lirihnya sembari menatap laptop yang ada didepannya untuk mempersiapkan pekerjaannya yang lain.


Semenjak ia kembali ke Jerman, hidupnya begitu datar tak menarik. Tidak ada lagi mainan yang bisa menyemangatinya. Sesekali ia melihat foto didalam ponselnya. Dimana dalam foto tersebut, semua foto syur Batista dan Lucy masih tersimpan dengan baik.

__ADS_1


Tentu saja niatnya untuk menggunakan foto itu sudah ia urungkan. Ia cukup menjadikan foto itu sebagai koleksinya saja pada ponselnya. Ponsel inti yang sengaja ia tinggalkan di Jerman, agar Batista tidak bisa menyentuhnya.


Ponsel itupun dia ambil, hendak mengirimkan pesan pada Batista. Tapi lagi-lagi ia galau, karena tak ingin Batista merasa terusik.


Padahal ia hanya ingin membantu mantan kekasihnya. Itu saja yang ingin dia lakukan, tetapi mengapa hatinya menolak untuk melakukan hal itu.


Kejadian penyekapan yang menimpanya beberapa minggu lalu bahkan tidak menjadikannya putus asa untuk mendapatkan sosok CEO Andara Grup tersebut. Tak ada rasa trauma yang dialami oleh Lucy, perempuan itu benar-benar kebal.


Hanya saja sekarang dia memilih rehat menjauhi mantannnya. Menikmati masa ketenarannya di Jerman. Meskipun sesekali ia masih teringat pada Batista, hanya menghilangkan rasa rindunya dengan memandang foto mereka berdua.


Ia masih menunggu kabar kalau saja Batista akan berpisah dengan Fira, Lucy akan maju paling depan menjadi perempuan yang mengincar Batista.


Huffftt


Lucy mengeluarkan nafas kasarnya, kalaupun ia pulang ke Indo, hal itu tak akan mempengaruhi perusahaan Batista. Rasa niat membantu mantan kekasihnya itu terdorong, tetapi ia sangat bingung bagaimana cara melakukannya.


Ia mengambil ponsel miliknya dan menghubungi adiknya.


"Bagaimana perkembangan perusahaan Andara Grup?" tanyanya setelah panggilannya terjawab.


"Sepertinya tidak bagus kak, mereka benar-benar akan bangkrut," balas sang adik dari seberang telepon dengan nada kecewa telah menginvestasikan dana yang begitu besar pada perusahaan Andara Grup.


"Suntikan dana lagi untuk perusahaan itu. Jangan sampai perusahaan itu bangkrut," titah Lucy pada sang adik, namun adiknya merasa ada kejangggalan.


"Bagaimana kalau perusahaan itu benar-benar bangkrut? Apa kau merelakan uang perusahaan kita begitu saja," tanyanya dengan penuh selidik. Sang adik tidak pernah mengetahui kalau Lucy pernah menjalin kasih dengan CEO Andara Grup, bahkan masih mengharapkan hal itu akan terjadi lagi.


Ia juga memasukkan dana investasi pada perusahaan Batista atas permintaan Lucy Davide. Bahkan ia menyetujuinya karena saat itu, perusahaan Andara sangat bagus, penghasilan keuntungannya melebihi 100persen dari modal mereka.


Hasil produksinya bahkan mampu mengggebrak penjualan di pasaran, karena peminatnya begitu tinggi. Produk mereka juga menjadi incaran nomor satu di Jakarta. Tak heran jika ia menyetujui permintaan kakaknya untuk memberikan dana investasi tersebut.

__ADS_1


Namun kini? Perusahaan itu akan bangkrut. Mengapa ia harus menyetujui permintaan kakaknya kali ini? Pertanyaan itu terus berada dipikirannya.


__ADS_2