
Lucy menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya. "Inhale! Exhale!" batinnya. Ia mencoba tetap tenang menghadapi Batista yang kian kasar terus menerus saat bertemu dengannya.
"Apa kau semakin takut padaku?" tanya Batista sinis.
Lucy malah tersenyum sinis mendengar pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut Batista. Hal itu tentu saja membuat Batista semakin mengamuk.
"Kau tidak takut mati ya? hah?" teriak Batista.
"Aku tidak takut mati selama aku mati ditanganmu!" jawab Lucy dengan nada bergetarnya. Sebenarnya ia sangat sedih dengan sikap Batista yang sangat kasar padanya, tapi Lucy tidak mau menyerah begitu saja sebelum mendapatkan kembali hati Batista.
"Apa yang kau pakai untuk menghubungiku?" desak Batista tanpa bertele-tele. Ia ingin segera menyelesaikan pertemuannya hari ini dan kembali ke rumah. Tapi justru sikap Lucy yang malah bertele-tele dan terus mengulur waktu.
"Kau tidak malu melepaskan bajumu. Dasar perempuan sinting," Batista terus mengejek Lucy agar semakin tertekan dan berhenti menyukainya.
"Kau ini semakin kelewatan! Aku hanya ingin mendapatkan hatimu kembali. Tapi kenapa perlakuanmu sangat menjijikkan," balas Lucy dengan kata-kata tajamnya.
Ia tidak ingin menjadi perempuan lemah. Mengapa ia harus takut? Jika selama ini dia yang memulai untuk membodohi seorang pria seperti Batista Andara.
"Jijik? Lalu mengapa kau mendekatiku! Cuihh! Persetan dengan kata-katamu! Yang aku tanyakan hari ini adalah apa yang kau gunakan untuk menghubungiku," kecam Batista yang mulai lagi mendekati Lucy.
Lucy seakan menghindar. Tapi dia tidak bisa mengindar terlau jauh karena berada diatas ranjang. Lucy bahkan mulai merasa malu setelah direndahkan oleh Batista.
Lucy melihat sekelingnya. Laptop yang dia gunakan telah disimpannya ke tempat semula. "Kau cari saja apa yang ku gunakan! Kau kan laki-laku pintar, harusnya kau tahu dan cari sendiri,"
Batista semakin dekat dengan Lucy. Ia menggeledah area sekitar dekat Lucy, namun tidak ditemukan apapun. Batista menyusuri apartemennya mencari sesuatu yang terlewat.
Karena tidak kunjung menemukan alat tersebut, Batista kembali lagi mendekati Lucy. Ia menarik rambut Lucy keatas sehingga Lucy menengadah keatas melihat wajah Batista.
"Dimana kau simpan? Cepat katakan," Batista terus mendesak Lucy hingga ia kembali merintih kesakitan.
"Lepaskan rambutku! Aku tidak akan mengatakannya. Sudah ku ingatkan tadi, lebih baik aku mati ditanganmu," ancam Lucy.
"Aahhh! Benarkah?" Batista tak melepaskan tarikannya hingga membuat kepala Lucy semakin sakit.
Kali ini Batista kembali mencekik leher Lucy. Padahal bekas merah dileher Lucy belum juga hilang, Batista kembali memberikan pelajaran pada perempuan keras kepala tersebut.
__ADS_1
"Baiklah! Kau akan mati ditanganku! Camkan itu," ujar Batista membuat Lucy terkejut. Batista bukanlah seperti pria polos yang dulu sangat mencintainya. CEO Andara Grup itu sudah berubah menjadi lelaki arogan dan kasar didepan Lucy.
Lucy merasakan sakit yang luar biasa saat dicekik oleh Batista. Nafasnya mulai terengah-engah. Sudah sangat sulit ia untuk menghirup oksigen sekitarnya.
Tangan Batista yang kuat mencekik leher Lucy semakin keatas dan menyandarkan Lucy di hingga ke dipan ranjang. Karena merasakan sakit dan merasa dirinya hampir mati, Lucy mencoba meronta-ronta melepaskan tangan Batista dari lehernya tapi genggaman pria itu terlalu kuat.
Tenaga Lucy habis, wajahnya sudah mulai terlihat pucat pasif. "A...aa..ku akan mengatakannya,"
Mendengar ucapan Lucy, Batista melepaskan tangan kasarnya dari leher Lucy. Lucy kembali menghirup oksigen sekitar. Butuh waktu yang lama baginya untuk kembali kepada keadaan semula.
"Cepat katakan! Kalau tidak, nyawamu akan habis," perintah Batista bukan main-main. Batista tidak takut lagi pada Lucy. Hanya dengan cara seperti ini membuat Lucy semakin jera untuk mendekatinya.
"Disana" Lucy menunjuk lemari baju milik Batista.
Batista berjalan kearah lemari dan membukanya lebar-lebar. Tapi dia tidak melihat apapun, hanya tumpukan baju lamanya.
"Dimana?" teriak Batista membuat Lucy semakin kapok.
"Buka lacinya"
Batista hanya meninggalkannya disana, karena dia sudah membeli laptop baru. "Oh ini laptop lamaku yang kau gunakan! Aku sampai lupa," lirih Batista pelan.
Batista menyalakan laptop yang batrainya sudah terisi penuh. Ia membuka email yang belum dikeluarkan dari akun milik Lucy. Kesempatan baginya untuk menghapus semua foto-foto dirinya bersama Lucy.
Satu-persatu foto itu dihapus. Dari file terkirim dan diterima hingga dari folder sampah juga telah dibersihkan oleh Batista. Tidak lupa juga Batista menghapus history chat dari Lucy didalam percakapan email tersebut.
Batista lalu membanting laptop itu dengan keras hingga hancur lebur seketika. "Aku sudah menghapus semuanya," ucap Batista datar dan melihat keadaan Lucy yang masih kesakitan.
Lucy terus memegang lehernya yang merah bekas cekikan Batista. "Katanya lebih baik mati ditanganku! Tapi mengapa kau menyerah," ledek Batista.
"Rupanya masih banyak hal yang harus aku lakukan. Jadi aku harus hidup," balas Lucy dengan suara lemasnya.
Hahahahah!
Ketawa Batista memenuhi ruangan membuat Lucy terdiam. Lucy kian takut dengan sosok menyeramkan Batista.
__ADS_1
"Lucy ku peringatkan kau! Aku hanya ingin hidup bahagia bersama keluarga kecilku. Kehadiranmu membuatku terusik dan terganggu! Apalagi kelakuanmu yang seperti setan. Lebih baik dari sekarang kau diam saja, tidak perlu lakukan apapun,"
"Lalu bagaimana aku bisa keluar dari sini," tanya Lucy meminta agar segera dikeluarkan dari apartemen Lucy.
"Kau akan tetap berada disini sampai sikapmu berubah," tegas Batista.
Batista langsung keluar meninggalkan Lucy. Ia kembali mengunci apartemennya. Didalam apartemen, Lucy menangis merintih kesakitan. Tak banyak yang bisa ia lakukan, kini dirinya cukup pasrah dengan keadaan.
Menyesali perbuatannya pun sia-sia karena Batista tidak juga memaafkan dan membiarkannya lolos.
Lucy menyeka air matanya. Namun hal tidak terduga terjadi. Dia tiba-tiba tertawa seperti orang gila. "Kau merasa bisa lolos dariku? Bodohnya aku bersikap konyol hingga menelanjangi diriku sendiri," batin Lucy.
Dua hal yang dilakukan Lucy, dia tertawa sambil menangis. Persisnya seperti orang gila.
Disatu sisi dia sangat sedih menerima sikap Batista yang begitu kasar. Disisi lainnya, dia berhasil membuat Batista terkecoh. Foto-foto itu belum terhapus semua. Lucy tidak sebodoh itu.
Dia masih menyimpannya di ponsel cadangannya yang tersimpan rapih dalam apartemen di Jerman. Tentu saja Batista tidak akan bisa menyentuhnya.
Hal itulah yang membuat Lucy sekarang seperti orang gila. Ia menangis dan mentertawai dirinya sendiri dan kebodohan Batista.
Batista berjalan dengan gagah meninggalkan apartemen. Merasa dirinya sudah berhasil menyingkirkan perempuan gila seperti Lucy.
Dia langsung pergi dengan mengedarai mobilnya sendiri. "Perempuan itu tidak mungkin bertingkah lagi kan?" batinnya.
Batista merasa senang sekarang. Sudah tidak ada beban lagi. "Mulai sekarang dia tidak akan keluar dari sana! Selamanya akan terpenjara di apartemeku,"
Setelah sampaj di rumah, ia langsung berjalan ke kamarnya. Tapi tidak ada Fira yang sedang tidur diatas ranjang mereka.
"Kemana dia?"
Batista melihat keadaan sekitar dan berteriak "Bi Inah"
Batista mencari sosok kepala pembantunya itu. Tapi tak kunjung keluar. Malah mertuanya, Senny keluar dari kamarnya.
"Ada apa nak? kenapa berteriak?" tanyanya.
__ADS_1
"Apa ibu melihat Fira? Dia tidak ada di kamarnya," jawab Batista.