Aku Terjerat Cinta Satu Malam

Aku Terjerat Cinta Satu Malam
cek kandungan


__ADS_3

Batista tiba di rumahnya sekitar 30 menit yang lalu. Ia masih menyempatkan diri untuk mandi, berganti pakaian, mempersiapkan keberangkatannya bersama Fira untuk cek kandungan ke dokter spog di rumah sakit.


"Jangan lupa buku pemeriksaan kehamilannya sayang," ujar Batista mengingatkan istrinya.


"Iya mas! Semua sudah ada didalam tas aku," jawabnya santai. Mereka berdua keluar dari kamar.


Seperti biasa untuk mengecek kehamilan, Fira tak lupa mengajak ibunya, karena ibunya juga ingin melihat sang cucu yang masih didalam perutnya yang mulai membuncit.


"Ibu ayo berangkat," ajak Fira setengah berteriak agar terdengar oleh Senny. Didalam kamarnya, Senny sudah sangat rapih, tak sabar menanti wajah cucunya melalui layar USG di rumah sakit.


"Iya nak, ibu sudah siap," jawabnya singkat seraya berjalan keluar kamar. Menemukan Fira dan Batista yang sudah berada diambang batas pintu keluar.


Ia menghampiri mereka berdua, berjalan beriringan masuk ke dalam mobil porschenya. Pak Beni pun juga sudah siap berada didalam dengan pintu terbuka dibagian penumpangnya, mengantarkan ketiga orang itu.


Hari sudah menunjukkan pukul tiga sore. Mereka tiba di salah satu rumah sakit paling terkenal se-Jakarta.


"Mas langsung masuk saja, tadi aku sudah pesan jadwal pemeriksaannya," kata Fira.


Batista mengetuk pintu ruangan dokter yang sedang praktek hari itu. Seorang perawat muncul dari dalam sana.


"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya seorang perawat dengan senyum simpulnya.


"Mau cek kandungan sus, atas nama Fira Andriani," jawab Batista lugas.


"Silahkan masuk pak," jawabnya kemudian.


Batista, Fira dan Mertuanya masuk ke dalam ruangan pemeriksaan. Bertemu dengan seorang dokter spog dengan jubah putih kebesarannya, bahkan sudah duduk rapih di kursinya. Tak lama, dokter meminta buku pemeriksaan milik Fira.


"Apa ada keluhan selama masa kehamilan bu?" tanya dokter Sophie yang menangani kehamilan Fira selama ini.


"Tidak ada dok. Kita ingin cek pemeriksaan rutin," tukas Fira.


"Baik! Silahkan bu untuk tidur di tiduran di brangkar bu. Sus tolong dibantu ya," ucap dokter Sophie mengarahkan.


Fira merebahkan dirinya diatas brangkar, dibantu oleh suster untuk menutupi bagian bawahnya dengan selimut rumah sakit.


"Maaf ya bu dibuka sedikit bajunya," pinta perawat.


Sebelum pemeriksaan, suster mengoleskan gel bening diatas perut bawah Fira, membuatnya merasakan sensasi dingin saat itu.


"Sudah siap dok, silahkan," suster mempersilahkan sang dokter mulai pengecekan USG.

__ADS_1


"Silahkan ibu dan bapak lihat ke layar monitor ya," ucap dokter mengarahkan seraya menempelkan alat usg berbentuk strika mini diatas perut Fira.


Tampak Senny juga dengan semangat menanti sosok cucunya dari layar monitor.


"Bisa dilihat ya di layar monitor. Yang itu adalah kepalanya, ukuran lingkar kepalanya sesuai dengan berat usianya yang menginjak 16 minggu. Nah, kalau yang itu adalah jantungnya, lihat kan sedang berdegup-degup," jelas dokter Sophie secara rinci.


Ia melanjutkan perkataannya lagi, menjelaskan semua bagian tubuh bayi. "Sekarang kita mengarah ke kakinya, lengkap ya bu. Terakhir saya akan menyorot wajahnya, karena kita menggunakan USG 4D, nanti ibu dan bapak bisa melihat secara jelas seperti apa bentuknya,"


"Mas lihat dia lagi tersenyum," ucap Fira yang terharu melihat wajah anaknya dibalik layar monitor.


"Nah, itu ibu bisa lihat jelas lengkungan mulutnya. Benar sekali bayinya lagi tersenyum. Mungkin dia senang bertemu kedua orangtuanya," tutur sang dokter.


"Yaampun lucu banget nak, anakmu. Lincah lagi, tuh lihat nggak mau diam," Senny menimpali.


"Iya yah bu. Gemas jadinya," sambung Batista.


"Sepertinya mirip papanya," celetuk dokter lagi.


"Apa mau mendengarkan detak jantungnya?" dokter kemudian menawarkan.


"Boleh dok," jawab Batista dengan antusias.


Deg Deg Deg


"Detak jantungnya normal ya bu. Silahkan dibersihkan sus," papar dokter.


Suster membersihkan sisa gel yang ada diatas perut Fira, lanjut merapihkan bajunya yang terbuka.


"Silahkan bu, ibu boleh turun dan duduk kembali ke depan dokter," ucap perawat dengan ramah.


"Terimakasih sus," kata Fira membalas perlakuan suster yang begitu telaten.


"Sekarang sudah tidak mual lagi kan bu?" tanya dokternya lagi.


"Sudah engga dok,"


"Karena sudah memasuki usia kehamilan empat bulan, masuk pada trimester dua, ibu sudah tidak akan merasakan mual lagi. Aktivitas seperti biasa tidak akan seberat awal-awal kehamilan,"


"Kalau bisa diperhatikan kembali nutrisinya, agar tumbuh kembang bayi sesuai dengan usianya. Kalau sekarang besarnya seperti buah kiwi, dan perut ibu juga belum teralu kelihatan membuncit, itu masih wajar," cetus dokter Sophie.


"Apa ada pantangan dok?" lontar Fira.

__ADS_1


"Tidak ada bu, yang terpenting makannya jangan berlebihan saja. Apa ada pertanyaan lagi? Jangan lupa selalu konsumsi vitamin kehamilannya, asam folat dan sekarang mulai konsumsi kalsium juga sudah saya tuliskan didalam resep," terang dokter Sophie.


"Oke dok,"


"Baik, kalau tidak ada pertanyaan lagi kita akhiri pemeriksaan kita hari ini. Selalu jaga kesehatan ya bu!" ucap dokter menutup pembicaraan mereka.


Fira dan Batista keluar setelah menerima buku pemeriksaan kehamilan serta resep vitamin dari dokter. Batista dengan sigap ke kasir melakukan pembayaran untuk pemeriksaan serta biaya obat.


Ia melanjutkan ke bagian apotik rumah sakit, untuk mengambil vitamin yang telah diresepkan oleh dokternya.


"Ayo kita pulang," kata Batista kepada Fira dan mertuanya yang menunggu di ruang tunggu, setelah menuntaskan pengambilan obatnya.


Mereka bertiga jalan melintasi koridor rumah sakit, masuk ke dalam lift dan langsung ke tempat parkiran.


"Nduk, ibu jadi nggak sabar nunggu si bayi launching," sambar Senny ketika mereka sudah berada didalam mobil pada perjalanan pulang.


"Iya ya bu, gemas banget! Fira juga pengen cepat-cepat lahiran dan gendong," balas Fira menggulum senyum lebarnya.


"Walaupun masih sekecil itu, tapi nampak nyata banget tubuhnya ya sayang," celetuk Batista nimbrung percakapan mertua dan istrinya.


"Iya ih. Kok bisa sih bu, masih kecil tapi bentuknya udah jelas kaya bayi banget," kata Fira dengan antusias.


"Begitulah ciptaan Tuhan nduk, sempurna," timpal Senny.


Selama tiga puluh menit perjalanan, mereka semua kembali lagi ke rumah. Batista membantu istrinya keluar mobil dengan hati-hati, karena ia ingin buah hatinya tetap terjaga.


"Mas lebay ih, aku bisa jalan sendiri hehe," papar Fira merasa risih dengan perlakuan suaminya yang begitu perhatian.


"Ini bentuk kasih sayang loh sayang!" Batista memperingatkan.


"Ah biasanya juga mesra kaya gitu," celetuk Senny tak terima dengan pengakuan putrinya.


"Heheh ibu bisa saja!" seloroh Fira.


Mereka masuk ke rumah, tepatnya sebelum matahari terbenam. Fira dan Batista ke kamarnya, begitu juga dengan Senny.


Merek beristirahat sejenak menunggu makan malam tiba.


Setelah berganti pakaian rumahan, Fira mendekati suaminya. "Mas kamu pengen anak laki-laki atau perempuan?" tanya Fira membuka pembicaraan mereka didalam kamar.


"Ehhmm kalau aku sih pengennya jagoan! Biar bisa hobinya olahraga kaya aku," singgung Batista.

__ADS_1


"Kalau aku pengen anak perempuan, biar bajunya bisa samaan-sama aku dong," kekeh Fira tak mau kalah.


"Oh ya sayang, tadikan kita USG 4D, emang belum bisa cek jenis kelaminnya?" tanya Batista, karena dia baru ingat kalau dokter tak menyebutkan jenis kelamin anak mereka.


__ADS_2