Aku Terjerat Cinta Satu Malam

Aku Terjerat Cinta Satu Malam
peristirahatan terakhir


__ADS_3

"Sus tolong bantu." Batista yang menggendong mertuanya dibantu oleh para perawat, meletakkan tubuh kaku dan dingin itu diatas brangkar.


Dua perawat membantu mendorong brangkar tersebut, satu perawat berada diatas brangkar memberikan pertolongan pertama dengan CPR. Memompa jantung ibunya Fira.


Tapi tak ada kemajuan apapun. Kemudian satu perawat datang menghampiri setelah berlari kencang. Membawa sebuah alat bernama pacemaker, alat berbentuk setrika kecil itu diletakkan dibagian dada atas Senny.


Deg Deg


Dua kali hentakan, tak kunjung ada tanda-tanda pergerakan.


Deg Deg Deg Deg


Empat kali hentakan pompa, tetap saja tak ada pergerakan.


Kemudian perawat masuk kedalam ruang ICU. Seorang dokter residen yang menjaga malam itu datang menghampiri.


Ia mencoba alat pacemaker itu diatas dada Senny. Tapi usahanya tetap sia-sia. Dokter tersebut keluar dari ruangan dengan wajah sendu.


"Apa ada keluarga pasien?" tanyanya pada Batista dan Fira yang menunggu didepan ruangan karena tak diperbolehkan masuk.


"Saya anaknya dok," ujar Fira seraya menghampiri sang dokter.


"Mohon maaf sekali bu. Pasien telah tiada akibat gagal jantung. Apa ibu tahu sebelumnya, kalau pasien mempunyai riwayat jantung?" Dokter menatap Fira dengan tatapan sendu dengan kepala tertunduk menyesali tak bisa melakukan pertolongan apapun lagi.


"Saya tidak tahu dok. Tapi tadi sore ibu saya tampak biasa saja. Sehat walafiat!" terang Fira dengan isak tangisnya.


"Mas!" lirih Fira karena tangisnya sudah tak terbendung. Batista menghampiri dan mendekap istrinya dengan erat, menepuk-nepuk punggung wanita itu dengan lembut untuk menenangkannya.


"Kemungkinan besar, pasien terkena serangan jantung tiba-tiba bu. Sepertinya sudah beberapa jam meninggal dunia baru dibawa kesini," sesal sang dokter.


"Saya juga baru tahu dok, karena tidak ada teriakan apapun dari ibu. Dan ibu sudah terkapar di kamarnya," sambung Fira.


"Mohon maaf sekali bu, kami juga sudah berusaha sebaik-baiknya. Kita tetapkan pasien meninggal dunia pada Senin, pukul 8 malam. Mayatnya akan diantarkan dengan ambulance," timpal dokter seraya meninggalkan Batista dan Fira.


Tubuh Fira melemas, mendengar ibunya telah tiada, rasanya semakin hancur. Badannya lunglai bak tak memiliki tulang belulang.

__ADS_1


"Mas!" lirihnya dengan kepala tertunduk.


"Sabar sayang, tenangkan dirimu. Doakan ibu agar tenang disisiNya." Batista terus menenangkan istrinya yang terpukul akibat kepergian ibunya.


"Mas akan memproses kepulangan ibu." Batista menggandeng istrinya, menuju ruang administrasi. Disana ia mengurus segala administrasi serta pembayaran untuk kepulangan mayat mertuanya agar segera disemayamkan.


Setelah melalui semua proses tahap itu, Batista dan Fira keluar dari rumah sakit, kemudian pulang ke rumahnya beriringan dengan ambulance yang membawa mayat sang ibu.


Batista jadi teringat akan kedua orangtuanya yang kecelakaan tempo dulu. Ia sendirian meratapi kepergian kedua orangtuanya. Tak ada sanak saudara yang membantu, kecuali sahabatnya Niko.


Terlebih usianya masih sangat belia waktu itu, belum mengerti apapun. Tapi ia berusaha tegar untuk mengurus pemakaman kedua orangtuanya mengandalkan sisa tabungan yang ditinggalkan kedua orangtuanya.


Batista dan Fira tiba di rumah mereka, sebelumnya Batista sudah menghubungi para pembantunya untuk mempersiapkan kedatangan mayat mertuanya.


Saat berada di rumah, Fira meratapi kepergian ibunya, duduk terkulai lemas didepan mayat sang ibu. Ia jadi merasa menyesal setelah merahasiakan gender anak yang ia kandung, padahal tadi sore sang ibu sangat senang melihat cucunya meski hanya melalui layar USG.


"Sayang makan dulu," pinta Batista membawakan sepiring nasi kehadapan Fira. Namun ia tak berselera untuk makan. Di rumah mereka sudah berkumpul banyak orang, para tetangga yang melayat serta para kolega suaminya.


****


"Ibu semoga ibu tenang disana," gumamnya dengan isak tangis. Bulir-bulir bening telah jatuh dari pelupuk matanya, membahasi seluruh pipinya.


"Ibu maafin Fira! Maaf kalau ibu tidak sempat tahu cucu ibu perempuan atau laki-laki," batinnya.


Siangnya, Batista sudah disibukkan untuk proses pemakaman. Banyak tamu yang berlalu-lalang di rumah mereka untuk melayat.


Hingga waktunya tiba, Fira melepas kepergian sang ibu. Ia mencoba mengikhlaskan kepergian ibunya yang sangat mendadak. Tak pernah ia sangka, ibunya akan pergi secepat itu. Kesedihan yang mendalam sangat ia rasakan.


Fira yang bersandar didada bidang suaminya kembali meneteskan bulir bening dipipinya, membuat lengkungan tipis disudut bibirnya. Berpamitan untuk terakhir kalinya, saat sang ibu dimasukkan ke dalam kuburan yang menjadi tempat peristirahatan terakhir baginya.


"Semoga ibu tenang disana."


Setelah proses pemakaman berakhir, Batista dan Fira kembali ke rumah mereka yang terasa sunyi. Batista langsung mengarahkan untuk masuk ke kamar, beristirahat siang itu. Ia sangat sedih melihat istrinya yang tampak sangat lemas.


Lagi-lagi tangis Fira pecah setelah melintasi kamar ibunya. Berat rasanya melepaskan kepergian yang sangat mendadak itu.

__ADS_1


"Mas hiks... hikss," lirihnya.


"Sudah-sudah! Ikhlaskan sayang! Biar ibu semakin tenang disana," jelas Batista seraya mendekap erat tubuh istrinya.


Batista membaringkan wanita itu diatas ranjang mereka. Mengusap-usap kepala istrinya untuk menenangkan.


"Sebentar ya sayang," pamit Batista. Ia berjalan keluar, berlari menuruni anak tangga.


"Bi! Bi inah, buatkan makanan untuk nyonya," teriaknya seraya menuruni anak tangga rumah mereka.


Bi inah dengan sigap menyiapkan makanan untuk Fira. Satu piring berisikan nasi dan lauk pauk. Tak lupa ia juga menyeduhkan satu gelas susu hamil untuk Fira.


Ia meletakkan makanan serta minuman itu diatas nampan. Tertatih berjalan menghampiri tuannnya. Tepat sekali Batista sudah turun dari anak tangga.


Bi Inah menyodorkan nampan itu kehadapan Batista dan diraihnya dengan sigap.


"Makasih bi." Batista meninggalkan pembantunya, berlari lagi menaiki anak tangga.


"Sayang makan dulu." Batista meletakkan nampan diatas nakas setelah memasuki kamar mereka. Ia membantu istrinya untuk duduk dari baringannya.


Sedaritadi Fira bukannya tertidur, ia malah melamun dengan tatapan kosong. Berharap ibunya masih berada disisinya.


"Sudah sayang. Pikirkan kondisi kesehatanmu dan anak kita," ucap Batista seraya menyuapkan satu sendok nasi ke mulut Fira.


Sejak malam kemarin, ia belum mengisi perutnya karena larut dalam kesedihannya. "Enak nggak sayang?" tanya Batista agar perhatian istrinya teralihkan.


Fira mengangguk dengan lesu. Tetapi ia menikmati suapan dari tangan suaminya. Setelah menghabiskan nasi dipiringnya, ia meneguk air mineral untuk menghilangkan dahaganya.


"Tunggu sebentar lagi ya, baru minum susu hamilnya. Masih panas," kata Batista.


Fira hanya mengangguk patuh, mengikuti perintah pria itu.


"Mas apa kabar ibu disana ya," tanyanya masih kepikiran tentang kepergian ibunya.


"Kabarnya sudah tenang disana sayang. Sekarang kita harus menatap masa depan. Ibu pasti nggak mau lihat kau begini. Kalau kau sedih, ibu pasti akan sedih," tutur Batista selembut-lembutnya, tak ingin istrinya semakin rapuh.

__ADS_1


"Iya mas, Fira sudah ikhlas. Mudah-mudahan ibu tenang disana yang mas," jawabnya datar dengan mata yang sudah membengkak.


__ADS_2