
Lucy dengan cueknya terus menggoda Batista. Penolakan dari Batista terus ia lakukan. Batista semakin frustasi akibat keberadaan Lucy. Ia sangat merasa tidak nyaman.
Bagaimana mungkin seorang CEO yang bermartabat dan disegani oleh seluruh karyawannya malah dipermainkan oleh seorang wanita di dalam kantornya sendiri? Batista berpikir keras bagaimana caranya ia mengatasi masalah ini.
Setelah mendapatkan penolakan dari Batista, Lucy tidak tinggal diam. Lucy masih berada diposisinya, duduk diatas pangkuan Batista. Batista juga tidak bisa berdiri karena tekanan dari Lucy.
Lucy kembali meraba tubuh gagah milik mantan kekasihnya itu. Kemudian berdiri dan memperbaiki posisinya. Ia kembali duduk, posisi yang tadinya hanya duduk menyamping, kini ia luruskan.
Posisi kaki Batista kini berada ditengah-tengah diantara kedua kaki Lucy. Batista tidak bisa berkutik sama sekali. Lucy dan Batista saling berhadap-hadapan.
Lucy kembali meraba hingga mencium leher panjang Batista. Berkali-kali Batista mendorong tubuh Lucy dan menolaknya. Tapi Lucy terus mengancam Batista.
"Turuti kemauanku! atau foto itu akan aku kirimkan pada istrimu!" ketus Lucy yang semakin tergoda oleh tubuh sexy milik mantan kekasihnya itu.
Akhirnya Batista memberontak. Terlalu bodoh ia sampai membiarkan Lucy berbuat hal pelecehan seperti tadi. Batista tak lagi takut. Ia mencoba berdiri dengan gagahnya. Tanpa peduli posisi Lucy yang masih berada diatas pangkuannya.
Batista Berdiri dengan cepat sehingga Lucy terjatuh dari pangkuannya. "Kau ini! Apa kau tidak takut foto ini ku kirim," sentak Lucy.
"Kirim saja! apa kau mengetahui nomor istriku?" tanya Batista dengan enteng. Ia sudah seperti dirinya sendiri sekarang, keberaniannya muncul.
Batista akan menculik Lucy dan membekapnya. Itulah yang ia pikirkan daritadi agar keluar dari bencana yang disebabkan oleh perempuan licik seperti Lucy.
Hahahahahah!
Lucy kembali tertawa. "Tentu saja aku tahu! aku sempat menyimpannya saat dia meneleponmu ketika kau tertidur pulas waktu itu,"
"Dia meneleponmu berkali-kali. Tapi ponselmu ada padaku lalu ku matikan!"
Batista semakin panik. Tetapi dia malah mendekati Lucy. Lucy dengan senang menyambut keinginan Batista yang mulai mendekatinya.
Apa dia sudah luluh? batin Lucy meronta-ronta kesenangan. Namun hal terduga tidak terjadi. Batista membekap area mulut dan hidung Lucy dengan satu tangannya, sementara tangannya yang lain menghadang tangan Lucy yang mencoba ingin lepas.
Lucy tak bisa mengeluarkan suaranya. "Heh perempuan bodoh! Aku sudah terlalu sangat baik hati selama ini! Sekarang kau tidak akan bisa berkutik lagi,m. Akan ku culik kau!"
Batista terus membekap Lucy hingga tidak bisa bernapas. Semakin lama membekapnya sehingga Lucy semakin lemas. Ketika sudah sangat lemas, Batista membuka bekapannya agar Lucy bisa bernapas.
Lucy berhasil mengambil oksigen ruangan. Ia bisa bernapas, tapi tubuhnya tidak bertenaga dan sangat lemas. Batista bergerak cepat kemudian mengambil tali yang ada dilemari kakas Kantornya.
Ia mengikat tangan dan kaki Lucy sehingga tidak dapat bergerak. Senyum sinis dari Batista membuatnya lega. Ia berhasil untuk membuat Lucy terdiam.
Batista mendekati tubuh Lucy dan mencari-cari ponsel miliknya. Ponsel yang berada di kantong blazernya.
Setelah mendapatkan ponsel itu, Batista membantingnya ke lantai hingga rusak. Ponsel itu tidak bisa menyala lagi ketika dia sudah mencobanya.
Lucy yang terbaring lemah tentu tidak takut ponselnya rusak. File foto itu sebelumnya sudah ia simpan ditempat yang aman. Berkali-kalipun Batista hancurkan ponsel miliknya, tidak akan merubah keadaan jika foto-foto toples Batista masih berada ditangannya.
__ADS_1
Belum selesai dengan ponsel rusak tadi, Batista kembali memastikan ponsel itu tidak menyala. Dia memasukkan ponsel itu ke dalam air gelas minuman yang ada diatas meja kantornya.
Melihat tingkah bodoh Batista, lucy hanya tersenyum lalu memberanikan diri membuka mulutnya.
"Bodoh," lirih Lucy.
Hahahahhaa..
Lucy tertawa dengan sisa tenaga yang ia miliki. Batista langsung menatap Lucy dengan tajam.
"Kenapa dia malah senang dan tidak menyerah," batin Batista, ia kembali marah. Batista tidak menyadari kalau file itupun sudah dicadangkan oleh Lucy.
"Percuma kau rusak ponselku. Karena foto-foto itu sudah ku simpan ditempat lain," ketus Lucy.
"Apa maksudmu" Batista masih bertanya-tanya dan tidak menyadari hal itu.
"Foto-foto itu sudah ku kirim ke emailku! dimanapun aku membuka email, dengan mudahnya aku bisa menyimpannya kembali," ucap Lucy dengan raut wajah liciknya.
Tapi Batista tidak takut. Ia akan menyembunyikan perempuan licik ini ditempat yang aman. Dia kembali menghampiri Lucy.
"Hey perempuan licik! aku tidak takut! selama kau ada ditanganku, kau tidak akan bisa membuka emailmu," tegas Batista.
Tok...
Tok...
"Siapa?" tanya Batista lantang.
"saya Bagas pak!"
Bagas rupanya baru kembali ke kantor. Pantas saja dari tadi, Batista memanggilnya tapi tidak ada tanda-tanda kedatangannya.
"Masuk!"
Perintah Batista dengan cepat dilakukan oleh Bagas. Ia membuka daun pintu dan tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya saat ini. Seorang perempuan terbaring di lantai dengan tangan dan kaki yang terikat.
"Darimana saja kau," Batista bertanya karena daritadi ia mencari keberadaan Bagas.
"Maaf pak! tadi saya pulang ke rumah, karena istri saya menelepon kalau anak kami sedang sakit. Jadi saya membawanya ke rumah sakit, karena terburu-buru saya sampai lupa untuk menghubungi bapak," jawab Bagas.
"Kau selesaikan dia nanti," Batista menujuk Lucy yang terbaring lemas.
"Kenapa dia diikat pak?" tanya Bagas datar.
"Perempuan laknat ini mencoba mengancamku! aku tidak mau ada orang yang merusak rumah tangggaku. Kau bawa nanti dia ke apartemen lamaku. Singkirkan semua telepon atau alat apapun yang bisa dipakai untuk menghubungi orang. Sekap dia di apartemen itu," perintah Batista membuat Bagas khawatir.
__ADS_1
Ia tidak pernah melihat kemarahan Batista seperti saat ini. Apalagi perlakuannya yang kasar seperti sekarang, Batista sudah berubah menjadi orang yang sangat menakutkan.
"Memangnya perempuan ini kenapa bos?" bisik Bagas yang mendekati Batista.
"Nanti saja ku ceritakan,"
Batista melirik jam tangannya. Tepat sekali sudah masuk pada jam pulang bekerja. Ia dan Bagas hanya perlu menunggu sampai kantor kosong dan bisa membawa Lucy pergi dari ruangannya.
"Berikan aku air," pinta Lucy terenyuh-enyuh karena merasakan dehidrasi setelah dibekap oleh Batista.
Bagas dan Batista menatap Lucy. Bagas menunggu perintah dari Batista sebelum memberikan air.
Batista pun menggelengkan kepalanya ke satu arah sebagai tanda memperbolehkan Bagas untuk memberikan Lucy air.
Rasa dehidari Lucy terobati. Ada sedikit tenaga yang ia rasakan. Ia kembali bersuara.
"Lepaskan aku! Kenapa kau malah menyekapku seperti ini," teriakan Lucy memekakkan telinga Batista dan Bagas.
Beruntung khusus lantai paling atas ini hanya untuk ruangan CEO, sepi dan aman. Jadi tidak ada yang mengetahui tindakan Batista pada tamu laknat seperti Lucy.
Ponsel Batista berdering. Ia segera meraih ponselnya, tertera nama Fira pada layar ponsel itu dan segera diangkatnya.
halo...
Suara Fira dari seberang telepon membuat Batista agak menjauh dari Lucy. Ia takut Lucy akan berteriak saat Fira meneleponnya. Batista menarik daun pintu dan keluar dari kantornya.
"Iya sayang ada apa?" balas Batista.
"Apa kau pulang tepat waktu hari ini," tanya Fira yang sehari ini merasa bosan di rumah. Padahal baru saja kemarin ia berjalan-jalan dengan suaminya untuk berlibur ke Puncak.
"Aku belum tahu! masih ada hal yang perlu aku urus. Nanti aku akan menghubungimu," jawabnya.
"Baiklah! jangan terlalu lama sayang! aku kangen," ucap Fira dan telepon itu berakhir.
Batista kembali masuk ke ruangannya. Batista masih berdiri seperti saat ia meninggalkannya bersama Lucy.
"Pak! aku akan segera membawa wanita ini. Sepertinya kantor sudah sepi," ucap Bagas sambil berjalan mendekati Lucy. Ia kemudian menggendong Lucy.
Baru saja Bagas berjalan. "Tunggu!"
Panggilan Batista menghentikan langkah kakinya. Batista mengambil lakban dari lemari kakasnya. Dan menempelkannya ke mulut Lucy agar Lucy tidak meracau saat dibawa keluar. Batista juga memberikan kunci apartemen setelah diambilnya dari laci lemari kantornya yang sudah tersimpan sejak lama.
"Aku akan segera mengurusnya pak," ucap Bagas sambil meninggalkan Bagas.
Batista merasa tenang sekarang, wanita itu akan dia simpan di apartemen miliknya untuk sementara waktu.
__ADS_1