
Fira mencoba berdiri sendiri karena ibunya sangat panik sehingga tak berkutik.
"Bu! Bantu aku," pinta Fira sambil mencoba bangun sendiri.
Beruntung ia terjatuh tidak sampai terbentur lantai. Kedua tangannya menahan tubuhnya sehingga ia tidak sampai terbentur ke lantai.
"Bu," teriak Fira lagi menyadarkan sang ibu.
Senny akhirnya tersadar mendengarkan teriakan kedua Fira. Ia langsung membungkuk dan membantunya berdiri.
"Nak! Perutmu nggak kenapa-napa kan?" tanya Senny khawatir sambil memegang perut Fira.
"Tadi ibu lihat kau terbentur lantai. Kena perut nggak," tanyanya lagi panik.
"Enggak bu! Enggak sampai ke lantai kok," jawab Fira sambil menenangkan sang ibu.
"Fira tadi sempat menahan dengan kedua tangan ketika terjatuh, jadi perut Fira aman,"
Senny memeriksa perut Fira, memastikan perut itu tidak terbentur. Meski perut Fira datar belum membuncit, tapi ada seorang bayi didalam sana.
"Aman kan bu?" tanya Fira sambil tersenyum.
"Beruntunglah aman! Makanya hati-hati nduk. Jangan ngoceh-ngoceh sendiri," omel Senny karena kecerobohan sang putri.
Batista menghampiri istri dan mertuanya. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tapi dari raut wajah Senny masih terlihat sangat panik.
"Ada apa ini," tanya Batista.
"Tadi Fira jatuh nak. Beruntung tidak sampai ke lantai. Ibu sudah sangat panik tadi, takut bayinya kenapa-napa," Senny menerangkan kejadian yang barusan dialami Fira.
"APA?" Batista sangat terkejut mendengar cerita mertuanya. Sedangkan Fira hanya diam menyembunyikannya, ia takut Batista akan memarahinya jika sang bayi terkena benturan.
"Kau yakin nggak kenapa-napa?" Batista memastikan istrinya sambil memegang perut Fira dengan kedua tangannya.
"Apa mau ke dokter dulu?"
"Nggak apa-apa mas! Tadi nggak sampai jatuh kena ke lantai. Yuk ah liburan," ucap Dira dengan semangat sekaligus melupakan momen saat ia terjatuh.
__ADS_1
"Serius masih pengen jalan-jalan? Nggak ke dokter dulu," Batista justru sekarang panik, sementara mertuanya sudah cukup tenang ketika memastikan kondisi perut Fira dan kebetulan Batista datang.
"Nggak ada masalah nak. Tadi ibu sudah cek perut Fira. Dan aman tidak ada yang terluka, tadi ibu panik karena ibu kira terbentur lantai," ucap Senny dengan santai.
Batista langsung meraih tubuh Fira dan memastikan kondisi perutnya. Memang tidak ada yang terluka, tapi ia masih khawatir dengan kondisi bayi didalam perut tersebut.
"Yasudah kalau memang tidak terbentur, kita lanjutkan jalan-jalannya. Ayo segera naik ke mobil," ajak Batista meski masih khawatir dengan Fira dan anaknya.
Batista menyesal telah meminta Fira dan mertuanya untuk ke lobi lebih dulu. Kalau saja ia juga ikut saat itu, Fira tidak akan terjatuh jika berjalan bersamanya.
"Lain kali hati-hati dong! Kau sekarang berdua bukan sendirian," ucap Batista mengingatkan Fira sambil menyentuh lembut hidung Fira dengan jari telunjuknya.
"Iyaaah!" jawab Fira sambil tersenyum, tak ingin membuat suaminya khawatir lebih lama.
Hari itu mereka mulai berlibur, menyusuri berbagai pantai di pulau dewata. Berbagai destinasi favorit para wisatawan juga tak luput dari kunjungannya.
Salah satu yang paling terkenal adalah menyaksikan tari kecak dengan background sunset disore hari. Mereka tidak melewatkan momen itu. Uluwatu memang menjadi destinasi favorit para wisatan lokal maupun asing.
Sebelum menyaksikan tari kecak, mereka juga melihat-lihat monyet yang dibiarkan dialam bebas. Mereka juga memberikan makanan pisang untuk para monyet tersebut.
Vila mereka juga tidak jauh dari pantai Kuta, sehingga bisa menikmati aroma laut di malam hari. Batista sengaja memilih villa yang berada di Legian agar tidak jauh dari pantai kuta serta objek wisata lainnya.
"Mas, besok kita dinner di Jimbaran yaa!" ajak Fira karena pantai Jimbaran sangat terkenal dengan kuliner serba seafood yang segar dari hasil laut di Bali.
"Pasti! Mas akan pesankan makanan yang paling enak," ucap Batista.
Sepanjang hari berlibur ke berbagai tempat membuat kaki Fira keram karena kelelahan. Ia tidak terbiasa jalan jauh, biasanya hanya di rumah saja.
Padahal mereka masih berjalan menyusuri pantai kuta. "Mas kaki Fira keram," tutur Fira dengan manja.
Senny yang melihat putri semata wayangnya sangat manja pada suaminya menjadi iri. Dulu ia tak pernah dimanjakan oleh suaminya sendiri.
"Manja banget nduk! Masih bisa jalan nggak," canda Senny sambil tersenyum.
"Nggak bisa bu," balas Fira dengan sikap manjanya.
"Urus nak itu istrimu. Kasian kakinya keram," kekeh Senny karena melihat tingkah Fira begitu manja.
__ADS_1
Batista menggendong Fira dengan lembut. Berjalan kearah parkiran. Mencari mobil travel yang mereka sewa selama berlibur.
Supir mobil travel mengantarkan mereka kembali ke villa. Karena sangat manja, Batista terus menggendong Fira keluar dari mobil hingga ke kamar mereka.
"Yaampun nduk! Kau terlalu manja. Padahal suamimu tadi sudah memijit-mijit kakimu saat di dalam mobil," ledek Senny.
"Mas aja senang bu, memanjakan istrinya," kekeh Fira.
Dia tahu Batista cukup lelah menggendongnya, meski tubuhnya kecil. Tapi tetap saja jika digendong akan terasa berat.
"Iya bu. Saya senang kok gendong Fira," balas Batista.
"Ibu sekarang istirahat saja! Besok hari terakhir kita jalan-jalan di Bali. Jadi langsung tidur ya," Batista mengingatkan mertuanya.
"Pasti dong! Besok kan masih banyak tempat yang harus kita kunjungi," jawab Senny sambil membuka pintu kamarnya dan melambaikan kedua tangannya pada Batista dan Fira.
Batista merebahkan Fira diatas ranjang mereka. Sebelum mereka pulang ke Villa, mereka juga sudah sempat menyantap makan malamnya di resto sekitar pantai kuta. Makanan khas Bali tentunya seperti sate lilit hingga yang lainnya.
"Mas ke club yuk! Disini kan banyak beach club, sangat dekat dari villa kita loh," ajak Fira yang penasaran ingin masuk ke sebuah club di Bali.
Daerah legian juga sangat terkenal dengan berbagai club. Club itu menjadi favorit para wisatawan asing. Sedangkan Fira belum pernah sama sekali ke club selama masa hidupnya.
Jangankan ke club untuk buang-buang uang, untuk makan di restoran bersama ibunya pun jarang ia lakukan meski saat itu sudah bekerja.
"Loh katanya tadi kakinya keram," ketus Batista dan menggelengkan kepalanya karena heran dengan permintaan istrinya.
"Please dong mas! Aku belum pernah ke club loh. Kalau kau kan sudah sering," pinta Fira memelas.
"Ehmmm gimana ya? Tapi kau kan sedang hamil, seharusnya tidak boleh ke tempat seperti itu. Disana banyak yang joget-joget, kalau kamu kesenggol gimana? Bahaya loh," Batista kembali mengingatkan Fira.
Tetapi Fira terus merengek. Ia ingin ditemani oleh suaminya ke club. Mencoba berjoget ria didalam club.
Sebenarnya Batista tak suka ke club hanya untuk bersenang-senang. Kalau bisa ia lebih baik menghindari tempat itu, karena Batista tak pernah bisa meneguk satu gelas alkohol.
Alkohol akan membuatnya teler bahkan hingga pingsan. Tapi karena istrinya terus merengek untuk ditemani masuk ke club akhirnya ia menuruti keinginan Fira.
"Baik! Kita ke club sekarang dengan satu syarat. Kau boleh memesan apapun kecuali alkohol! Karena kau sedang hamil," tegas Batista mengingatkan Fira agar menghindari minuman keras dimasa kehamilannya.
__ADS_1