Aku Terjerat Cinta Satu Malam

Aku Terjerat Cinta Satu Malam
khilaf


__ADS_3

Setelah melalui satu hari yang berat, masih berbalut kesedihan, Fira akhirnya bisa tersenyum.


Ia memandangi wajah tampan yang kini ada dihadapannya. Chiko, laki-laki yang sedikit meredakan kesedihannya.


Siang itu, Fira bergegas menemui pria yang menjadi sahabat lamanya dulu. Karena rasa rindunya pun tak terbendung lagi, ia akhirnya memutuskan untuk menghampiri pria itu.


"Hai." Fira mencium pipi kiri dan pipi kanan sahabatnya, seperti yang dulu sering mereka lakukan disaat bertemu. Cipika-cipiki sebagai satu sarat pertemuan mereka.


Fira duduk berhadapan dengan Chiko Fernando. Waw, rasanya sudah lama sekali ia tak melihat wajah tampan yang dulu sangat ia kagumi.


"Fir, lama tak jumpa. Kau semakin cantik saja," puji Chiko dengan lengkungan lebar dibibirnya. Membuat Fira tersipu malu mendengarkan pujian dari sahabatnya.


Sayang, dulu mereka sempat terpisah, entah apa yang terjadi dengan Chiko hingga ia melupakan kenangan persahabatan mereka. Ingin sekali Fira mempertanyakan hal itu.


"Ah bisa aja kau menggodaku," imbuh Fira.


"Oh iya, Ko kau kemana saja selama ini. Setelah kelulusan hari itu, aku sudah tak pernah melihatmu lagi. Apa kau sengaja menjauhiku?" tanya Fira penasaran. Ia menatap lekat pria yang pernah mampir dihatinya.


Kalau saat ini, ia masih penasaran saja pada kabar Chiko, karena dihatinya hanya ada satu pria yaitu suaminya sendiri.


"Oh waktu itu aku harus pergi keluar kota. Aku kuliah disana. Di Kalimantan, aku mengadu nasib bekerja sambil kuliah," ujarnya datar.


"Lantas, mengapa kau tak menghubungiku? Apakah hanya sebatas masa SMA saja pertemanan kita?" sambung Fira, ia masih menatap tajam pria yang ada dihadapannya.


"Hmmm aku pikir lebih baik kita terpisah. Jujur saja, sampai detik ini aku tidak bisa melupakanmu. Bahkan aku tidak melabuhkan hatiku pada wanita manapun," akunya mendramatisir. Padahal status Chiko kini sudah menjadi seorang duda.


"Ah yang benar? Jadi kau belum pernah menikah?" Fira tak mempercayai ucapan Chiko begitu saja. Ia ingin mengorek lebih dalam lagi mengenai diri Chiko.


"Sudah! Aku sudah pernah menikah, tapi aku tidak mencintainya. Dihatiku hanya ada kau Fir. Sudah lama sebenarnya aku ingin bertemu denganmu, tapi aku takut." Chiko dan Fira duduk disebuah kafe, hanya berdua.

__ADS_1


Bahkan Fira sebelumnya tak mengabari suaminya kalau ia telah keluar rumah demi laki-laki yang ada dihadapannya saat ini.


"Oh! Aku pikir kau masih tetap menjomblo. Aku sampai tidak percaya. Cih," decit Fira semakin tak mempercayai sahabatnya itu.


"Ya, aku menikahinya juga karena terpaksa Fir. Sekarang kami sudah berpisah, dia tetap berada di Kalimantan. Beruntung tidak ada anak diantara kami berdua," terangnya lebih lanjut.


"Kalau kau sendiri bagaimana? Apakah kau sudah menikah?" Chiko menjadi penasaran, sebab selama ini dia mempertanyakan status Fira pada Reni. Tapi Reni tak pernah mau mengungkapkan status Fira yang kini sudah menjadi seorang istri.


"Oh, aku sudah menikah," balas Fira lugas. Meski ia telah menyembunyikan kepergiannya hari ini dari suaminya.


"Dengan siapa?" Chiko semakin penasaran dengan sosok pria yang mendapatkan tempat dihati sahabatnya.


"Kau tidak akan mengenalnya! Percuma juga kukatakan namanya!" kilah Fira tak mau mengungkap identitas suaminya.


"Wah, berarti aku terlambat. Lalu mengapa kau sekarang menemuiku," cecar Chiko penasaran, padahal niatnya bertemu dengan Fira ingin sekali menjalin hubungan. Ia ingin mengajak Fira memulai semua dari awal lagi.


"Aku hanya rindu denganmu. Rindu sama sahabat lamaku. Aku penasaran kenapa kau menjauhiku! Dan kemana saja kau selama ini. Tidak ada maksud lain," bebernya seraya tersenyum pahit mengingat kenangan masa lampau mereka yang begitu dekat.


"Masa hanya karena itu?" hardik Chiko seraya mengerutkan keningnya, menunggu jawaban lain lagi dari Fira.


"Iya aku serius! Karena Reni juga tak tahu keberadaanmu. Cuma dia sempat bercerita kalau kau telah kembali kesini. Itu saja!" timpal Fira menyakinkan.


Chiko ingin sekali jujur pada Fira, namun berat rasanya menceritakan getirnya kehidupannya setelah lulus masa SMA. Terlebih ia terpaksa harus mengadu nasib ke Kalimantan, mengikuti sanak saudaranya yang ada disana.


Demi bisa mendapatkan tempat tinggal serta makanan, ia harus menjadi pembantu dirumah saudaranya sendiri. Setelah waktu kelulusan, Chiko ditinggal oleh kedua orangtuanya. Tak ada warisan yang tersisa, malah Chiko dibebankan dengan sisa hutang orangtuanya.


Hutang itu ada pada saudaranya yang tinggal di Kalimantan. Mau tak mau, suka tak suka, ia harus mengikuti saudaranya yang tinggal di Kalimantan itu.


Disana ia bekerja susah payah, demi mencukupi kehidupannya bersama seorang adik perempuannya.

__ADS_1


"Kehidupanku dulu sangat sulit Fir. Aku tak mungkin menceritakannya. Tapi sekarang keadaanku sudah membaik. Aku senang sekali bisa bertemu denganmu," ucapnya datar, tetapi tak bisa dimengerti oleh Fira.


"Apa kau punya masalah dulu? Sampai harus meninggalkan kehidupanmu di Jakarta?" Fira terus mengorek masalah kehidupan sahabatnya yang masih bersifat rahasia.


"Ya! ada suatu masalah. Intinya kedua orangtuaku kecelakaan dan meninggal. Karena usiaku yang masih belia, aku harus ikut saudara yang tinggal di Kalimantan," bebernya sedikit terbuka.


"Oh begitu, aku mengerti. Saat ini aku sudah merasakan kepahitan ditinggal oleh kedua orangtuaku. Rasanya getir sekali, aku tak menyangka sekarang aku merasakan hal seperti ini," kata Fira yang tak menyadari bulir-bulir bening telah menetes dipipinya.


Chiko mendekatinya, mereka duduk bersampingan. Chiko mengambil sebuah tisu yang ada diatas meja, mengelap tetesan air mata yang membasahi pipi sahabatnya.


"Sudah jangan menangis, aku mengerti kok perasaanmu. Rasanya sangat berat ditinggalkan kedua orangtua. Tapi kau harus tetap tegar," tandasnya menenangkan Fira, menepuk-nepuk pundak yang ramping itu.


"Iya! Aku masih belum terima kalau ibuku sudah tidak ada disisiku lagi! Hiks... Hikss.." Tanpa sadar Fira sudah menyandarkan kepalanya didada Chiko. Rasanya begitu hangat dan nyaman.


Ia tidak menyadari kalau hal yang tak pantas itu terjadi. Ia terlena dengan sandaran empuk dan perlakuan manis sahabatnya.


"Yang sabar Fir, aku akan selalu disisimu. Kapanpun kau butuhkan, aku akan selalu siap menghampirimu," ucapnya menenangkan. Mengurai lembut rambut wanita itu.


Mereka berdua larut dalam kedekatan yang tak diduga. Sama-sama merasa nyaman. Sampai akhirnya Fira menyadari, kalau yang ia lakukan sangat tidak pantas.


"Sorry! Aku tidak sadar kalau kepalaku bersandar dibahumu." Fira mengangkat kepalanya dan duduk dengan tegap.


"Kau ngapain berada disampingku?" tanya Fira dengan tatapan penuh selidik.


"Aku hanya menenangkanmu Fir, tidak ada maksud lain. Kau sedang nangis tersedu-sedu begitu, mana tega aku membiarkanmu larut dalam kesedihan. Tangismu bahkan pecah, sampai air matamu menetes begitu banyak," akunya dengan lembut.


"Jangan begitu Ko, aku takut kalau kita khilaf. Aku sangat mencintai suamiku, meski perasaanku padamu belum hilang," ungkap Fira, menyisakan pertanyaan besar dikepala Chiko. Sepertinya ia masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan hati sahabatnya itu.


Sahabat yang membuatnya terus terbayang-bayang akan kebersamaan mereka yang tak pernah menjadi sebuah hubungan yang serius.

__ADS_1


__ADS_2