
Fira menggenggam erat tangan suaminya, dilekatkan pandangannya. Matanya berbinar, dengan rasa percaya diri, ia yakin kalau suaminyalah yang akan menjadi pendamping hidup selamanya.
"Tentu saja mas! Aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu! Apapun keadaannya," jawab Fira dengan keyakinan yang teguh, menatap lekat suaminya. Seolah menyakinkan kalau dialah cinta satu-satunya bagi Batista dan akan terus bertahan selamanya.
Ia harus mendampingi suaminya apapun yang terjadi. Meski pada akhirnya Batista akan bangkrut.
"Sungguh?" tanya Batista seraya tak percaya akan perkataan istrinya.
"Iya mas! Aku serius! Mana mungkin aku memisahkan anak kita dengan papanya nanti. Apalagi untuk alasan yang tidak masuk akal. Hanya karena bangkrut," tegas Fira kembali menyakinkan.
"Tapi aku ingin yang terbaik untuk anak kita, aku tidak ingin hidupnya melarat. Cobaan perusahaan ini terus membuatku kalut! Aku takut akan bangkrut, dan kau pergi meninggalkanku!" lirihnya seraya tertunduk.
"Sudahlah mas! Tidak perlu dipikirkan, yang terpenting kau harus berusaha untuk membalikkan keadaan. Buatlah perusahaanmu kembali berjaya," timpal Fira.
******
Seminggu Kemudian
Selama seminggu terakhir Batista disibukkan dengan pekerjaannya. Kondisi perusahaannya mulai kondusif. Beberapa produk yang menjadi andalan Andara Grup juga mulai di pasarkan. Respon masyarakat juga sangat antusias.
Produk fashion ternama dari Andara Grup mampu menggebrak pasar. Bahkan, tak sedikit perusahaan yang mencontek ide mereka untuk model desain keluaran terbaru.
Andara Grup jadi memiliki banyak saingan ketat. Bahkan mereka memasarkan produk duplikat yang hampir mirip 100 persen dengan produk yang dikeluarkan oleh perusahaan Batista, dengan harga yang sangat murah.
Sayangnya, Andara Grup sudah mendapatkan kepercayaan yang tinggi. Mereka yang pertama kali mengeluarkan produk itu lebih membooming dan sudah dikenal oleh khalayak luas.
Batista juga mendapatkan suntikan dana fantastis dari sahabatnya, Niko serta dari perusahaan Jerman, yang tak lain adalah perusahaan milik keluarga Davide.
Untuk saat ini, Batista tidak bisa menolak suntikan dana dari keluarga Lucy, lantaran perusahaannya harus memperbaiki keadaan.
Fashion keluaran Andara Grup patut diancungi jempol, Batista sampai meraup keuntungan berkali-kali lipat.
__ADS_1
Pada minggu kedua, Batista optimis menambah jumlah produksi mereka. Karena produknya telah habis di pasaran hanya dalam satu minggu. Batista semakin yakin, ia akan sukses memperbaiki keadaan perusahaannya.
Produk fashion itu sangat populer dikalangan masyarakat menengah keatas. Meski harganya cukup tinggi, tapi masyarakat membeli dengan berebutan sampai koleksinya kosong semua.
"Selamat ya pak! Anda berhasil menangani krisis perusahaan kita," ucap Bagas menggulum senyum simpulnya. Ia baru saja masuk ke ruangan Batista, menyerahkan laporan hasil penjualan perusahaan yang dikirimkan oleh beberapa manager.
Bagas menyodorkan laporan tersebut, menyerahkannya pada Batista. "Fantastis sekali pak! Nilai saham perusahaan kita juga kembali normal! Banyak yang ingin membeli saham diperusahaan ini," lanjut Bagas lagi, karena ia tak percaya dalam seminggu kondisi perusahaan semakin membaik.
"Kau jangan senang dulu, perang kita belum usai. Para kolega dan investor masih menagih janji. Kita harus memperbanyak produksi, sekaligus mengeluarkan produk yang baru lagi. Karena di pasaran sudah banyak saingan kita yang merebut desain produksi kita dengan cuma-cuma," sahut Batista, ia mengambil laporan yang ada ditangan Bagas dan membacanya.
"Iya pak! Tapi yang pertama kita harus yakin dulu, kalau kita mampu menghadapi krisis perusahaan. Buktinya sekarang perusahaan kita membaik," ujar Bagas menyakinkan.
"Semua ini berkat usaha semua karyawan yang membantu perusahaan kita untuk tetap bertahan. Meski hanya memiliki 1500 karyawan, mereka mampu menghandel semua bagian dari perusahaan ini," balas Batista.
"Oh ya! Jadwalkan meeting lagi dengan para kolega dan investor kita. Saya ingin membahas janji saya pada mereka," Batista melanjutkan perkataannya.
"Siap pak! Saya akan mengirimkan pesan kepada semua kolega untuk menghadiri rapat besok jam 9 pagi," paparnya seraya berpamitan meninggalkan Batista di ruangannya seorang diri.
Batista memgeluarkan nafas kasarnya, kini ia merasa lega. Setelah seminggu lamanya mempersiapkan proses perbaikan perusahaannya.
Yang harus dipikirkannya saat ini, bagaimana mempertahankan produk mereka agar terus berada diperingkat nomor satu yang paling dicari oleh para konsumennya.
Ia juga harus mempersiapkan taktik lain, agar para investor terus bertahan mempercayakan dana investasi mereka pada Andara Grup.
Batista membaca laporan yang ia pegang. Tak disangka, laporan hasil penjualan meningkat 100 persen. Hasil saat ini sudah mampu menutupi kerugian produksi mereka sebelumnya yang tidak laku di pasaran.
Tiba-tiba, ponsel Batista berdering. Ia menatap layar ponselnya, Fira istrinyalah yang meneleponnya. Fira memang menunggu kabar baik dari suaminya.
Sebelum berangkat ke kantor, Batista mengatakan hari ini akan mendapatkan laporan terkait hasil penjualan perusahaannya.
"Halo sayang," kata Batista saat memulai percakapan pada sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Mas, bagaimana perusahaanmu? Apakah berhasil?" tanya Fira dengan rasa penasaran.
"Iya sayang! Penjualan meningkat 100 persen. Harga saham kembali normal, sepertinya kami akan terus memproduksi fashion terbaru karena permintaan yang tinggi," jawabnya dengan antusias.
"Syukurlah mas! Oh iya, apakah kau hari ini bisa pulang cepat? Aku harus memeriksakan kehamilanku," beber Fira mengalihkan pembicaraan tersebut.
"Kalau untuk itu, tentu saja aku harus bisa pulang cepat. Kau tenang saja, 30 menit lagi aku akan tiba di rumah," selorohnya dengan santai, karena pekerjaannya pun sudah selesai.
"Oke sayang," tutup Fira mengakhiri sambungan teleponnya.
Batista bersiap-siap. Ia menenteng jas dan tasnya, berjalan keluar ruangan dengan gagahnya. Wajah sendunya telah terkikis, sekarang Batista tampak lebih gagah dan berani setelah melewati masa krisis perusahaannya.
"Mau pulang pak?" tanya Bagas, melihat Batista keluar dari ruangan dengan sangat antusias.
"Aku harus pulang lebih cepat. Istriku mau memeriksakan kehamilannya. Untuk pekerjaan yang belum selesai, bisa kau tangani dulu," papar Batista seraya meninggalkan Bagas di meja kerjanya.
Batista berjalan gontai memasuki lift kantornya. Sesaat tiba di lobi, para karyawannya menunduk sebagai bentuk penghormatan pada atasannya.
Tidak ada satupun karyawan yang meremehkan Batista lagi. Semenjak perusahannya bangkit, para karyawan mulai semangat bekerja.
Di parkiran, seperti biasa supir Batista, Beni sudah stay menunggu kedatangan tuannya. "Sudah pulang pak?" sapa pak Beni dari dalam mobil.
"Iya! Ayo kita ke rumah," pinta Batista dengan semangat.
"Sepertinya suasana hati bapak sedang bagus. Apakah ada kabar baik?" tanya Beni dengan hati-hati setelah Batista duduk di kursi penumpang.
"Perusahaanku sudah melewati masa krisisnya pak Ben. Aku jadi merasa lega. Sekarang tinggal memikirkan bagaimana cara mempertahankannya," imbuh Batista.
"Syukurlah pak! Beruntung sekali bapak bisa mengatasinya. Saya sangat khawatir dua minggu terakhir, bapak tidak pernah tersenyum. Kelihatan stress sekali," tukas Beni dengan jujur.
"Itu karena aku pusing menghadapinya. Aku terlalu takut untuk mencoba, meski pada akhirnya aku memberanikan diri membuat mode terbaru untuk perusahaanku. Produk baru yang kami keluarnya, nyatanya laku keras dikalangan masyarakat," jelas Batista.
__ADS_1