Aku Terjerat Cinta Satu Malam

Aku Terjerat Cinta Satu Malam
bangkrut


__ADS_3

Batista berjalan gontai memasuki perusahaannya. Sesaat berada di lobi, ia sudah mendapati para karyawannya yang bermuka masam. Tidak ada sapaan yang ia terima, para karyawan itu seolah-olah sibuk, seakan tak mengetahui kedatangan bosnya.


Sejak tiga puluh menit yang lalu, seluruh karyawan di Andara Grup mulai panik. Kabar simpang siur sudah mulai merebak keseluruh isi gedung. Hampir setengahnya akan di PHK secara massal oleh bos mereka lantaran perusahaan tak mampu lagi membayar gaji mereka.


Hal itulah yang membuat karyawan larut akan kesedihan, ketar-ketir kalau mereka terpilih menjadi salah satu dari bagian yang akan dipecat hari ini.


Dari lima ribu orang, berarti akan ada 2500 karyawan yang terancam di rumahkan. Itu sudah menjadi keputusan terakhir yang Batista pilih. Mau tidak mau, ia harus merelakan pemberian pesangon untuk 2500 karyawan.


"Hufhhhhh"


Batista mengeluarkan nafas kasarnya seraya masuk ke dalam lift. Ia tahu kalau para karyawannya sudah mulai panik. Apalagi ada yang dengan sengaja memberikan kabar burung mengenai pemecatan di perusahaan miliknya.


Sesampainya di koridor ruangannya, Bagas telah menyapanya. Memberikan secangkir kopi panas untuk dinikmatinya lebih dulu. Batista sengaja datang ke kantor jam 9 pagi, karena pekerjaannya hari ini hanyalah mengurus PHK massal di perusahaannya sendiri.


Sebelumnya ia sudah mengakui pada istrinya sebelum berpamitan berangkat bekerja, akan ada pemecatan besar-besaran di kantornya.


****


"Mas hari ini ada pemecatan massal. Sudah tidak ada jalan keluar lain, itu harus dilakukan," lirihnya saat berada di meja makan, menikmati santapan pagi bubur ayam yang tersaji.


"Mas serius?" tanya Fira terkejut seraya membelalakkan matanya karena kaget.


"Huum" Batista mengangguk.


"Apa tidak ada cara lain? Kasihan sekali mereka harus di rumahkan. Apa mas tidak kasihan dengan keluarganya? Bagaimana mereka menghidupi keluarganya mas? Sementara mencari pekerjaan saja sangat sulit sekarang ini," jelas Fira merasa tak terima. Ia tahu kondisi para karyawan, karena pernah menjadi bagian dari mereka sebelum memasuki masa kehamilannya.


"Itu satu-satunya jalan keluar sayang. Karyawanku ternyata banyak sekali. Aku saja sampai pusing memikirkan pesangonnya," lirih Batista dengan tertunduk.


Permasalahan perusahaannya membuat ia pusing bukan kepalang. Batista hanya fokus mengurus Andara Grup yang diambang batas kehancuran.

__ADS_1


"Tapi aku janji, mereka bisa kembali lagi ke perusahaan ini jika telah mengembalikan posisinya seperti semula!" serunya dengan semangat. Ia yakin bisa bangkit menghadapi persoalan saat ini.


"Iya mas, aku tahu pasti ini sangat sulit bagimu. Bagaimanapun kau sudah susah payah membangun perusahaan ini. Ada kalanya ujian datang mendera untuk memberikan kita cobaan! Tapi aku yakin kau mampu menghadapinya," tutur Fira dengan lembut seraya menggenggam tangan suaminya sebagai penguatan.


"Iya aku pamit dulu," katanya mengakhiri pembicaraan mereka setelah menyelesaikan sarapannya pagi ini.


Mereka berdua berjalan keluar seperti biasa, Fira mengantarkan suaminya sampai diambang pintu. Memberikan kecupan hangat dibibirnya, dibalas Batista dengan kecupan ringan di keningnya.


****


"Bagaimana bapak sudah siap? Para manager telah menunggu diruangan meeting," ucap Bagas setelah tadi dipersilahkan masuk saat mengetuk pintu ruangan bosnya.


Batista berdiri dengan gagah, setelah menyeruput kopinya dan menghabiskannya. "Iya! Ayo kita ke ruang meeting sekarang!" tegas Batista berjalan keluar dari ruangan kerjanya diekori oleh sekretarisnya dari belakang.


Suasana hening seketika saat Batista memasuki ruangan meeting. Padahal sebelumnya para manager memperdebatkan tentang keputusan untuk mengurangi karyawan. Tapi mereka malah tak berkutik, membungkam mulutnya setelah mengetahui kedatangan orang nomor wahid di Andara Grup tersebut.


Batista mengecek beberapa laporan yang telah diserahkan diatas mejanya. Laporan mengenai jumlah karyawan, bagian yang harus dihentikan, berapa jumlah pesangon yang harus keluarkan dan lainnya.


Ruangan semakin bertambah berisik karena mereka terkejut mendengar keputusan bosnya. Bukan cuma 2500 karyawan saja yang diberhentikan. Melainkan 3500 karyawan?


"Apa bapak tidak salah? Kita memangkas karyawan lebih dari setengahnya?" sanggah salah satu manager saat itu.


"Tidak! Itu sudah sangat tepat menurut saya!" ujarnya menanggapi manager tersebut. Kemudian dia melanjutkan lagi perkataannya.


"Keuangan perusahaan masih mencukupi untuk pemberian pesangon mereka. Untungnya kita masih memiliki dana taktis yang masih tersimpan untuk kita gunakan melanjutkan proses pemasaran hasil produksi,"


"Mulai hari ini kita gencarkan pemasaran hasil produksi terakhir, saya ingin perkembangannya dijadikan dalam laporan saat meeting berikutnya. Ingat! Waktu kita hanya dalam satu bulan untuk mengembalikan posisi perusahaan seperti semula," tegasnya kemudian.


Semua manager kebingungan, dengan karyawan 1500 yang tersisa, apakah mampu menangani pekerjaan yang begitu banyak? Otomatis karyawan yang tersisa akan mengemban tugas lebih banyak lagi. Tentunya pekerjaan yang sebelumnya dihandel oleh karyawan yang dipecat, harus diselesaikan oleh karyawan yang tersisa.

__ADS_1


"Untuk proses pesangon, harap bu Wiwik mengurusnya sesuai dalam laporan ini," tandasnya menutup rapat hari ini.


Batista merasa lega sekaligus kasihan pada karyawannya yang harus dipulangkan. Tak berselang lama, beberapa karyawan menangis tersedu-sedu menerima surat pemberhentian hari ini.


Mereka yang sudah bekerja bertahun-tahun, harus merelakan keputusan perusahaan. Hari itu menjadi hari berkabung bagi 3500 karyawan yang mendapat surat cinta dari atasan mereka.


Beruntung Batista masih memiliki hati, ia memberikan pesangon sesuai dengan aturan pemerintah. Hal itu bisa dimanfaatkan oleh karyawan yang berhenti mulai hari ini sebagai modal mereka memulai usaha baru atau mencari kerja lainnya.


***


Fira sudah menunggu kedatangan suaminya didepan rumah mereka. Ia tahu suaminya pasti pulang tepat waktu, karena sudah berpesan sebelum keberangkatannya.


Benar saja, mobil porche milik suaminya sudah memasuki pekarangan rumah, ia parkirkan dengan rapih di garasi milik mereka.


Batista keluar dengan wajah sendu, mengingat hari ini adalah hari terburuk bagi karyawannya.


"Apa ada masalah sayang?" ujar Fira memulai pembicaraan mereka sore itu.


"Aku sudah memberhentikan 3500 karyawan di perusahaan. Aku harap itu jadi solusi terbaik," balasnya dengan sendu dan lesu.


"Kenapa lebih banyak?" tanya Fira kebingungan.


"Karena perusahaan hanya mampu menggaji 1500 karyawan saja untuk bulan-bulan berikutnya" jawabnya.


Karena suasanya sedih dan pilu, Batista sampai lupa mengecup kening istrinya. "Astaga! Mas sampai lupa menciummu!" lirihnya seraya menarik tubuh istrinya yang sedang berjalan beriringan dengannya.


Ia mengecup kening tersebut, kemudian melanjutkan jalan mereka hingga ke kamar di lantai dua.


Fira ingin sekali menghibur suaminya, akhirnya dia mulai menggoda suaminya yang sedang bersedih. Ia mengecup bibirnya perlahan, melum*atnya dengan lembut.

__ADS_1


Namun Batista yang sedang tak bersemangat, melepaskan kecupan itu perlahan.


"Kalau aku bangkrut apakah kau masih tetap ingin bersanding denganku?" tanya Batista dengan kepala tertuntuk karena pikirannya masih dipenuhi tentang keputusan pemberhentian karyawan hari ini.


__ADS_2