
Bagas sibuk mengurus anaknya yang sedang sakit. Dia juga tidak sempat untuk mengecek ponselnya. Karena kesibukannya hari ini, bolak balik ke rumah sakit hingga ke apartemen lama bosnya membuat ia sedikit lelah hingga tertidur saat menjaga putri semata wayangnya.
"Mas! Ini ada pesan dari pak Batista," ucap istri Bagas yang saat itu juga membangunkannya dari tidurnya.
Ia kembali terjaga dan mengecek ponselnya. Pesan itu ia baca dan ia terkejut mengapa Batista menyuruhnya untuk kembali mengecek apartemen lamanya. Apakah ada hal yang ia lewatkan.
"Maaf pak! Saya tertidur! Saya akan segera kesana"
Balasan pesan Bagas agak memberikan ketenangan sedikit pada Batista sehingga ia bisa menikmati makan malamnya.
Bagas kembali masuk ke apartemen itu, tapi tidak ada yang mencurigakan. Ia hanya melihat Lucy sedang terbaring tidur.
"Tidak ada masalah pak! Dia sedang tidur" Bagas kembali mengirimkan pesan dan duduk disofa. Ia memerhatikan Lucy sebentar. Tapi tidak ada gerak-gerik yang mencurigakan.
Lucy sengaja berpura-pura tidur. Ia tahu yang datang bukanlah Batista melainkan Bagas, asistennya. Jika ia pura-pura tertidur, maka Bagas tidak akan curiga padanya.
"Baiklah! Kau boleh pulang" pesan masuk yang baru diterima oleh Bagas. Ia kembali ke parkiran dan membawa mobilnya kearah jalan pulang.
"Membuat repot saja," batin Bagas.
Tak lama setelah Bagas pergi, Lucy bangun dan mengambil laptop milik Batista yang berada didalam lemari. Rupanya ia membongkar seluruh isi apartemen, memastikan apa ada yang tertinggal dan bisa digunakannya.
Ternyata laptop lama milik Batista masih ada didalam lemari lengkap dengan pengisi dayanya. Laptop itu sudah lama tersimpan dalam laci lemari, sehingga Bagas pun tidak menemukannya.
Batista bahkan tidak pernah ingat pernah menyimpannya. Ia juga tidak memberitahukan pada Bagas tentang keberadaan laptop tersebut.
Lucy memanfaatkan Laptop hingga wifi yang sudah tersambung secara otomatis dari apartemen tersebut. Dia segera membuka emailnya di dalam laptop, dan mengirimkan pesan kepada Batista melalui email tersebut.
Lucy mengingat secara detail nomor telepon genggam milik Batista. Sehingga ia mengirimkan pesan itu melalui emailnya. Kuota pengiriman pesan menggunakan email memang terbatas, sehingga dia tidak bisa terus-terusan meneror Batista agar datang mengunjunginya.
Pesan dari Lucy yang pertama tidak membuat Batista takut, jadi ia hanya menyuruh asistennya. Kini Lucy mendonlowd file yang berisikan fotonya bersama Batista.
Dia dengan sengaja memilih foto paling fulgar yaitu fotonya dan Batista tengah telanjang dan duduk diatas Batista seolah-olah sedang berhubungan layaknya suami istri.
Satu pesan ia siapkan berisi file foto dengan kata-kata. "Ku tunggu kau sekarang disini! Harus kau yang datang!"
Ancaman Lucy kali ini akan membuat Batista tidak berkutik. Kebodohannya mengabaikan laptop lamanya di dalam lemari malah menjadi ancaman bagi Batista.
__ADS_1
Kini Lucy dengan bebasnya bisa menghubunginya walau hanya berkirim pesan melalui emailnya saja.
Batista yang baru saja selesai menikmati makan malamnya tiba-tiba tersedak saat minum air putih sambil melihat isi ponselnya.
"Ada apa sih mas? Sampai tersedak begitu," tanya Fira penasaran pada isi ponsel tersebut. Karena daritadi Batista sangat fokus pada ponselnya seperti ada yang ditunggunya.
Fira mendekati Batista, namun suaminya itu menghindar dengan cepat. Bastita sempat melihat isi foto dan pesan dari Lucy dan segera menghapusnya.
"Mas ada apa sih! Lihat dong," kata Fira dan mencoba mendekati suaminya.
Batista langsung berdiri dan membawa ponselnya. "Aku ingin ke kamar dulu. Bagas menghubungiku soal pekerjaan. Sepertinya aku harus rapat dengan salah satu kolegaku," jawab Batista dengan alasannya agar diperbolehkan pergi.
Tapi Fira tidak percaya begitu saja. "Mana buktinya mas? Masa tiba-tiba ada rapat," Fira semakin mendesak Batista.
Batista menghubungi Bagas, menyalakan speaker ponselnya.
"Halo! Bagas dimana rapatnya?" Batista langsung memulai percakapan inti agar Bagas mengetahui kode tersebut adalah tanda untuk menghindari istrinya.
"Iya pak! Di Resto Dahlia pak. Kolega bapak sudah menunggu daritadi. Maaf saya baru memberitahukan karena jadwal ini mendadak," sambung Bagas dan menutup teleponnya.
"Maaf sayang! Aku harus segera kesana. Ini sangat mendadak dan rapatnya sangat penting,"
Batista langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian yang formal agar tidak mencurigakan bagi Fira. Ia mengenakan setelan jas dan kemejanya. Jika berpakaian Casual, Fira tidak akan percaya kalau dia keluar demi kepentingan rapat.
"Jangan lama-lama ya sayang," rengek Fira yang tidak ingin merasakan kesepian lagi.
"Iya sayang," Batista mengecup kening istrinya dan segera keluar rumah.
Anehnya Batista juga tidak meminta supirnya Beni untuk mengantarkan. Hal itu membuat Fira semakin curiga dengan tingkah suaminya. "Kenapa ya dia? Kaya menyembunyikan sesuatu. Mudah-mudahan tidak ada apa-apa, mungkin ini hanya firasatku saja," batin Fira.
Fira keluar dari kamarnya dan masuk ke kamar sang ibu. Ia merasa kesepian lagi setelah suaminya pergi.
"Ibu aku ingin tidur disini hari ini," pinta Fira dengan manja.
"Yasudah tidur disini saja nduk! Suamimu kemana tadi?" tanya Senny.
"Katanya ada rapat penting," jawab Fira.
__ADS_1
Fira pun tidur ditemani sang ibu. Sementara Batista baru saja tiba di apartemen lamanya. Lucy sudah menunggunya.
Dengan gilanya, Lucy melepas seluruh pakaiannya. Ia hanya mengenakan pakaian dalamnya saja menunggu kedatangan Batista.
Kali ini dia mau mencoba untuk menggoda Batista agar hanyut pada rayuannya. "Semoga kali ini dia jatuh kepelukanku!" batin Lucy.
Tak lama, terdengar suara seseorang yang membuka pintu apartemen. Lucy akan menikmati permainannya malam ini. Meski telah disekap di dalam apartemen mantan kekasihnya, tapi tidak memberikan efek jera bagi dia.
Malah ia semakin tertarik untuk terus menggoda Batista. Posisi Lucy Davide yang tidur menyamping menghadap pintu membuat Batista gugup.
"Permainan apa lagi yang kau buat," batin Batista.
Tapi karena penasaran Batista mencoba mendekati Lucy. Satu hal yang ingin dia cari adalah alat yang digunakan Lucy untuk menghubunginya.
Tapi Batista tidak menemukan apapun. Tidak ada ponsel ataupun laptop yang berada diruangan itu.
"Mana?" tanya Batista dingin dengan nada tingginya. Ia langsung bertanya dimana alat itu. Alat yang dipakai Lucy.
"Mana apanya?" Lucy pura-pura bodoh dan tidak tahu apa maksud perkataan Batista.
"Apa yang kau gunakan untuk mengirimkan pesan itu," Batista menekankan pertanyaannya.
"Oh itu! Tidak perlu kau pikirkan. Nanti saja dibicarakan hal itu! Sini tidur disebelahku," godaan Lucy membuat Batista bukannya luluh tetapi amarahnya semakin memuncak.
"Kau ini! Benar-benar perempuan gila! Aku sekap kau disini agar jera tapi malah bertindak senonoh seperti ini," balas Batista.
"Bukannya ini yang kau suka?" seru Lucy dengan suara menggodanya.
Batista mendekati Lucy dan duduk disampingnya. Ia semakin marah karena dipermainkan oleh Lucy. Tidak ada lagi ketengan bagi hidup Batista.
Setelah mendekat, Batista mengulurkan tangannya kearah Lucy dan mencoba menyekiknya.
"Kalau seperti ini bagaimana?" ucap Batista yang terus menyekik leher Lucy.
"Saa...kit!" rintih Lucy yang hampir kehabisan nafasnya.
Batista melepaskan genggaman tangannya dari leher Lucy, sehingga Lucy bisa kembali bernafas. Tapi pandangannya terus kearah sekitar karena mencoba mencari alat yang digunakan Lucy untuk menghubunginya.
__ADS_1