Aku Terjerat Cinta Satu Malam

Aku Terjerat Cinta Satu Malam
Goodbye


__ADS_3

Batista merasa lega telah mengantarkan Lucy hingga kedepan lobi apartnya.


"Batista terimakasih kau telah memberikan maaf padaku dan melepaskanmu! Aku berjanji tidak akan mengganggumu!" ucap Lucy setelah turun dari mobil mewah porsche milik Batista.


"Aku akan mempercayaimu. Ku harap kau bahagia disana," balas Batista dengan rasa bersalahnya. Batista meninggalkan Lucy yang berjalan seorang diri masuk ke dalam lobi apartemennya.


Sepertinya Lucy kali ini benar-benar menyesal. "Sebaiknya aku harus memiliki hidup baru di Jerman. Lebih baik aku melupakannya," lirih Lucy.


Lucy masuk ke dalam lift, menekan angka sesuai dengan nomor lantai apartnya. Setibanya masuk ke dalam apartnya, dia langsung menyusun pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper kecilnya.


Tidak banyak baju yang dia bawa, karena baju di Jerman masih sangat banyak. Ia mengemasi semuanya dengan cepat.


Lucy menyalakan laptopnya dan memesan satu tiket penerbangan Indo-Jerman secara online. Satu tiket VIP baru saja ia dapatkan. Penerbangan itu akan berlangsung esok pagi-pagi sekali.


Dia sangat ingin meninggalkan Indonesia, tempat dimana ia dilahirkan. Tempat dimana ia pertama kali jatuh cinta pada Batista. Dan Tempat pertama kali dia menghianati Batista.


Lucy dengan sengaja tidak membeli ponsel baru, karena ponselnya telah rusak dan dibuang oleh Batista. Satu pesan masuk ke email Lucy. Ia membuka pesan dari adik laki-lakinya yang berada di Jerman.


"Kak satu minggu ini aku tidak dapat menghubungimu. Apakah kau baik-baik saja? Banyak orang yang mencarimu."


Lucy membalas pesan itu setelah membacanya. Ia tahu akan banyak orang yang mencarinya terutama adalah orang-orang yang bekerjasama dengannya.


Pekerjaannya hanya tinggal satu minggu lebih lagi. Ia harus cepat sampai di Jerman agar pekerjannya selesai sesuai tenggat waktu yang diberikan oleh perusahaan yang bekerjasama dengannya.


"Besok aku akan tiba di Jerman. Ponselku rusak,"


Lucy mengirimkan pesan singkat kepada adik laki-lakinya agar tidak lagi mengkhawatirkannya.


Pengemasan barang Lucy sudah selesai. Ia merebahkan dirinya diatas ranjangnya. Melihat langit-langit apartemennya.


"Apa aku harus menjualmu?" batinnya sambil melihat sekeliling apartemen kesayangannya. Apartemen yang pertama kali berhasil dibeli dari hasil keringatnya.


Dia menutup matanya secara perlahan. Tiba-tiba Lucy tertidur tanpa ia sadari. Tidurnya sangat lelap. Padahal ia belum mengisi perutnya untuk makan malam.


Kasur apartemennya begitu nyaman sehingga dia bisa menikmati tidurnya. Selama di apartemen Batista, dia tidak bisa tertidur lelap. Dihantui rasa ketakutan karena perlakuan Batista yang begitu menyeramkan.


Bahkan Lucy sering mengigau selama terpenjara di dalam apartemen Batista. Walaupun Lucy sering mengancam Batista, tetapi didalam lubuk hatinya dia adalah orang yang sangat penakut. Ancaman recehnya malah menjadi bumerang baginya sendiri.


Sementara Batista baru saja menginjakkan kakinya didepan rumahnya. Ia telat hingga dua jam dari jam pulang kantornya.

__ADS_1


"Mas darimana aja?" tanya Fira penasaran saat suaminya sedang berganti baju di kamar ganti mereka.


Fira sengaja masuk ke kamar ganti untuk mempertanyakannya. Tidak ada kabar dari Batista selama dua jam. Akhir-akhir ini memang Batista sangat mencurigakan.


Banyak hal yang dia lakukan tanpa sepengetahuan Fira. Seperti pergi malam-malam sendiri dengan alasan meeting dengan kolega, pulang tidak pernah tepat waktu, serta jarang mengabarinya kalau memiliki jadwal lain.


Rasa curiga Fira kembali muncul. Ia teringat pada Lucy. Mantan kekasih suaminya yang muncul secara mendadak dan mencoba merusak rumah tangga mereka.


"Tadi mas ketemu teman lama dulu, keasikan ngobrol jadi lupa ngabarin," jawab Batista dengan santai.


Ia merasa lega dengan jawaban tersebut, menurutnya itu jawaban terbaik. Karena Lucy adalah teman lamanya. Lebih baik dia jujur namun tanpa menyebutkan nama temannya.


"Siapa mas?" tanya Fira semakin penasaran.


"Mas Niko?"


"Bukan! Teman lamaku yang tidak kau kenal," ucap Batista lagi.


"Tidak perlu dipikirkan. Lagipula kalau aku menyebutkannya, kau tidak mengenalinya,"


Batista memeluk dengan hangat istrinya. Ia mencium pipi hingga keningnya, mengelus-elus dengan lembut perut Fira yang masih terlihat datar.


"Kapan kamu keluar nak?" gumam Batista.


Fira tersenyum mendengar ucapan suaminya. Batista terlihat bahagia hari ini, seperti tidak biasanya. Kalau ia pulang terkadang terlihat murung dan memiliki banyak beban.


Tapi tidak untuk hari ini. Dia tersenyum bahagia.


"Mas udah makan?"


"Belum dong sayang! Ayo kita makan bersama," ajak Batista dengan semangat.


Dimeja makan rupanya sang mertua sudah duduk daritadi. Menikmati makanannya lebih dulu. Fira sudah mengatakan pada ibunya untuk makan lebih dulu, jika ia dan Batista tidak kunjung datang.


Batista tersenyum pada mertuanya yang sedang menyantap makanan didepannya. Fira langsung menyendoki nasi ke dalam piring suaminya. Ia membiarkan suaminya mengambil lauknya sendiri seperti kebiasaannya.


"Tumben nak, kau kelihatan bahagia hari ini," ucap Senny, karena tidak biasanya Batista terlihat bahagia. Dari raut wajahnya tampak berbeda dari hari-hari sebelumnya.


Hehehehe... Batista terkekeh mendengar pernyataan mertuanya.

__ADS_1


"Aku baru bertemu teman lamaku bu. Banyak hal yang kami ceritakan. Berbagi pengalaman dan meminta saran untuk bisnisku," guraunya sambil terkekeh.


"Iya kan bu? Fira juga penasaran. Tumben sekali mas seceria itu," sambung Fira.


"Ah kau ini bisa saja! Hari-hari biasa juga aku ceria kok," Batista membalas perkataan Fira.


"Sudah makan dulu!" perintah Senny agar Fira dan Batista tidak ribut dimeja makan.


Batista tampak seceria itu karena masalahnya sudah selesai. Dia sudah terlepas dari belenggu Lucy. Ancaman-ancaman Lucy mengenai foto mereka telah sirna karena sudah ia hancurkan.


Batista dan Fira masuk kembali ke kamarnya setelah menikmati makan malamnya. Tiba-tiba Batista memeluk Fira yang baru saja merebahkan dirinya diatas ranjang.


"Sayangg," ucap Batista dengan suara beratnya.


Ia memeluk istrinya dengan hangat dan menciumnya lebih dalam. Mencium bibir tipis milik sang empunya dengan lembut. Ciuman itu dibalas dengan ******* Fira yang mendalam.


Batista membuka baju Fira secara perlahan. Meraban sepasang dada istrinya hingga meningkatkan gairahnya. Fira hanya pasrah menerima sentuhan Batista.


Fira memilih untuk menikmati sentuhan-sentuhan itu dimasa kehamilannya. Ia tidak ingin Batista berpaling hanya karena Fira menolak kemauan suaminya.


Batista terus mencium istrinya dan tidak mau melepaskan ******* itu. Sambil meraba-raba sekujur tubuh Fira. Keduanya hanyut dalam buaian serta gairah yang kian meningkat.


"Istriku cantik sekali," lirih Batista pelan membuat Fira tersenyum.


"Suamiku juga tampan," gurau Fira sambil menggelitik suaminya sehingga Batista mengeluarkan gelak tawanya.


****


Pagi itu Lucy sudah bersiap untuk berangkat ke Bandara. Ia memberhentikan taksi yang melintas didepan apartemennya. Memasukkan koper ke dalam bagasi dan langsung melaju ke arah bandara.


Pengumuman!


Penerbangan menuju Jerman akan segera berangkat. Silahkan segera masuk ke dalam pesawat.


Mendengar pengumuman itu Lucy langsung bergegas masuk ke dalam pesawat. Setelah melewati boarding dan menunggu cukup lama di ruang tunggu. Akhirnya ia bisa segera meninggalkan Indonesia.


Lucy masuk ke dalam pesawat dan duduk di kursi VIP dekat jendela yang dia pilih. Untuk fasilitas VIP itu sudah biasa dia gunakan, dia tidak pernah memusingkan soal uang. Kenyamanan adalah nomor wahid baginya.


Pesawat bersiap untuk take off. Lucy termenung memandang sekitarnya. Pesawat pun berhasil take off. Lucy lagi-lagi melihat kondisi Kota Jakarta dari atas langit yang belum jauh meninggalkan Jakarta.

__ADS_1


"Goodbye sayang!" gumamnya.


Sepertinya Lucy tidak akan bertemu lagi dengan Batista. Ataukah ia akan menetap selamanya di Jerman? Tapi untuk sementara waktu dia akan memilih menangkan diri di kota kelahiran Ayahnya yaitu di Jerman.


__ADS_2