
Batista, Fira dan mertuanya meninggalkan Jakarta. Mereka baru saja mendarat di Bali dan langsung dijemput oleh pihak pemilik Villa.
Malam itu mereka langsung beristirahat setelah sampai di Villa karena harus mempersiapkan diri untuk liburan mengelilingi pulau dewata.
Pagi hari, Batista dan Fira telah disambut dengan menu sarapan yang sangat istimewa dengan konsep floating breakfast. Sarapan itu mengapung di kolam renang mereka.
Sang mertuanya juga bisa menyaksikan sarapan tersebut, karena kamar mereka memang bersebelahan, terhubung langsung dengan kolam renang. Jadi hanya perlu membuka pintu kamar samping sehingga bisa langsung bisa berenang ataupun melihat-lihat dari balkon.
Selain floating breakfast, Batista juga sudah memesankan agar kolam renang dihias dengan mawar merah dan mawar putih berbentuk hati. Sarapan mereka pagi itu terasa sangat istimewa.
Senny yang menyaksikan kebahagian putri semata wayangnya sangat bersyukur mendapatkan menantu yang sangat menyayangi anaknya.
Fira dan Batista memilih untuk menggunakan pakaian renang yang memang sudah disiapkan dari rumah. Pakaian renang yang seksi bahkan memikat gairah suaminya.
Tapi tidak mungkin ia melakukan hal intim didepan sang ibu. Namun Batista tak merasa malu walau hanya sekedar mencium pipi hingga bibir istrinya.
Mereka menikmati momen sarapan yang sangat indah dan romantis. Selesai sarapan, mereka pun melanjutkan untuk berenang bersama. Bersantai sejenak, memulihkan jiwa mereka dikala pagi itu.
Sedangkan Senny memilih untuk menikmati sarapannya di balkon sambil menyaksikan putrinya bersama suaminya di kolam renang.
Hari tuanya saat ini terasa indah. Diisi dengan kenangan indah yang tak pernah diimpikannya sebelumnya. Dia tidak menyangka akan mendapatkan menantu kaya raya yang bisa membahagiakan anaknya tanpa rasa ketakutan kehabisan uang seperti yang dirinya alami.
"Ibuuu! Ayo berenang," teriak Fira mengajak sang ibu yang sedang asik menikmati sarapan nasi gorengnya dengan secangkir teh.
Senny tersenyum dari balkon. Dirinya tidak ingin berenang, karena pagi itu terasa dingin baginya.
"Kalian saja yang berenang," jawab Senny singkat.
Senny bergegas masuk ke kamarnya usai menyantap sarapan paginya. Ia mengambil handuk dan mandi di bathup, menikmati air hangat serta aroma terapi yang sudah disiapkan oleh pihak pemilik villa.
"Aromanya enak," gumam Senny yang menikmati mandinya.
Melihat sang mertya yang ternyata sudah masuk ke dalam kamarnya, Batista mendekati istrinya yang sedang mencoba belajar renang. Sayang belajarnya sia-sia karena berujung pada satu gaya yaitu gaya batu sehingga membuat ia kelelep alias tenggelam.
Batista mengangkat tubuh istrinya saat mencoba belajar berenang. Namun karena kaget akhirnya Fira meraih tubuh Batista dan memeluknya dengan erat. Batista mengunci kedua kaki Fira dengan tangannya dengan posisi tubuh yang terangkat dan saling berhadapan.
__ADS_1
Kemudian ia mencium bibir tipis milik Fira. "Mas malu kalau ibu keluar dan lihat kita," lirih Fira.
"Kan kita suami istri. Ngapain malu," jawab Batista santai kemudian melanjutkan ciuman hangatnya dengan istrinya.
Ia ******* bibir tipis itu secara bergantian. ******* bibir atasnya, berpindah ke bibir bawahnya dan disambut dengan ******* lebih dalam oleh Fira.
Ciuman itu menggairahkan Batista. Bahkan ia hendak mengajak Fira berhubungan intim didalam kolam renang. Seperti yang kebanyakan para pasangan lakukan.
Namun mengingat kolam renang itu terhubung dengan kamar mertuanya. Ia mengurungkan niatnya. Hanya melanjutkan saling berciuman.
"Mas jangan," singgung Fira yang mengetahui tangan suaminya telah meraba kemana-mana.
"Mas ingat ibu," celetuknya lagi mengingatkan.
Batista mengangguk. Ciuman itu ia lepaskan dan menggendong Fira masuk ke kamarnya meski banyak tetesan air dari baju renang mereka.
Ruang kamar menjadi basah karena percikan air dari tubuh keduanya. Sebelum menghempaskan badan istrinya ke atas ranjang, Batista segera melucuti seluruh pakaian renang yang Fira kenakan.
Tak lupa ia juga melepaskan pakainnya setelah menutup seluruh jendela dengan horden. "Mas masih pagi, udah mau itu aja," ucap Fira malu-malu.
Ia khawatir ibunya akan mendatangi kamar mereka dan mengetuk pintu kamar. "Kalau suami istri begini wajar," ucap Batista dengan polos.
Baru saja selesai melakukan hubungan sepasang suami istri, Senny datang menghampiri. Suara ketokan pintu membuat Batista dan Fira buru-buru masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tok...
Tok...
"Bentar bu. Fira baru beres renang, mau mandi dulu. Ibu tunggu aja di kamar," teriak Fira tanpa membuka pintu kamarnya.
Aksi keduanya malah berlanjut lagi di kamar mandi. Mandi berdua, momen romantis bagi Fira dan Batista. Momen itu adalah kesukaan bagi keduanya.
"Mas sering-sering dong ajak aku jalan-jalan gini. Kalau aku happy, bayi kita happy juga loh," ucap Fira kegirangan.
"Iyaaaa sayang! Aku bakal sering ajak kau dan ibu liburan," balas Batista sambil menggosok-gosok punggung istrinya.
__ADS_1
Karena tidak ingin berlama-lama di kamar mandi, Batista khawatir mertuanya itu sudah menuggu dari tadi. "Buruan yuk, nanti ibu nungguin loh," ajak Batista yang ingin mengakhiri momen mandi bersama mereka.
"Tumben! Biasanya kau paling suka berlama-lama disini," ucap Fira dengan senyum manisnya.
Sejak pagi Fira sudah merasa bahagia dengan berbagai kejutan yang diberikan oleh Batista. Ekspresinya pun selalu tersenyum jika sedang memandangi suami tampannya itu.
Kecurigaannya selama ini menghilang karena sikap suaminya kembali romantis. "Udah yuk! Kasian ibu nungguin lama," kata Batista sambil menarik lengan istrinya yang sudah dari tadi selesai membersihkan diri.
"Iya, iya!" keluh Fira yang sebenarnya masih ingin berendam di bathupnya.
Pagi itu Batista memilihkan baju kaos dan jeans untuk Fira. Baju itu digunakan untuk berjalan-jalan agar dia merasa nyaman seharian selama berpergian.
"Mas! Ayo buruan, travel kita ternyata udah nungguin di lobi!" ajak Fira sambil menunjukkan pesan dilayar ponselnya pada suaminya.
Pesan dari pihak travel yang sudah dibooking oleh Batista untuk mengajak mereka berkeliling menyusuri wisata di pulau dewata itu.
"Sabar! Mas masih pakai celana. Kau ke kamar ibu dulu saja," jawab Batista.
Fira akhirnya ke kamar Senny lebih dulu, melihat ibunya apakah sudah bersiap-siap untuk jalan-jalan.
"Bu!!" teriak Fira sambil mengetok pintu kamar Senny.
Suara tarikan daun pintu terdengar, Senny muncul dari belakang pintu. "Ayo bu, kita ke lobi," ajak Fira.
"Suamimu mana nduk? Nggak ikut?" tanya Senny kebingungan karena belum melihat sosok Batista setelah renang tadi.
"Mas katanya nanti nyusul. Masih siap-siap," jawab Fira sambil menarik lengan ibunya.
Senny mengangguk, mengikuti langkah kaki Fira. Saat berjalan menyusuri villa hingga ke lobi, Fira terlihat kegirangan sekali. Ia bahkan melihat-lihat ruangan sekitar.
Bahkan terkadang mengoceh sendiri, berjalan memutar sambil memandangi wajah ibunya dan melihat sekitar villa karena takjub dengan villa mewah yang mereka tempati.
Tiba-tiba karena heboh sendiri, Fira tak sengaja kesandung. Kakinya terkena salah satu perabotan yang berada di area sekitar lobi.
Fira pun terjatuh, tidak sempat ditolong oleh ibunya.
__ADS_1
"Fira..." teriak Senny karena terkejut melihat anaknya yang tengah hamil muda malah terjatuh.
Senny tiba-tiba panik, belum juga membantu Fira berdiri. Ia kebingungan dan takut kalau bayi di dalam perut Fira tidak akan selamat karena terbentur lantai.