Aku Terjerat Cinta Satu Malam

Aku Terjerat Cinta Satu Malam
memuaskanmu


__ADS_3

"Lo bisa suntik dana lagi ke perusahaan gue bro?" tanya Batista dengan serius. Karena memang perusahaannya kehabisan dana untuk operasional terutama menggaji para karyawan.


"Berapa yang lo perlukan?" ujar Niko, kalau untuk yang satu itu sebenarnya ia masih bisa membantu. Namun Niko harus memastikan dulu apakah perusahaan Andara Grup benar bisa bertahan dengan suntikan dana yang dia berikan atau tidak.


"Gue butuh 10 miliar bro," lirihnya dengan sendu.


Karyawannya sangat banyak, bahkan esoknya dia akan menerima list karyawan yang akan dipangkasnya.


"Oke gue bantu! Kalau dana segitu gue masih bisa bantu. Tapi karyawan lo terlalu banyak bro! Sebaiknya lo pangkas minimal setengahnya," balas Niko dengan pemikiran yang sama dengannya.


"Tenang, kalau itu sudah gue pikirkan. Besok gue akan menerima list karyawan yang perlu dipangkas. Selain itu gue juga harus menyiapkan pesangon bagi mereka. Agar tidak protes setelah diberhentikan," ungkap Batista.


"Oke lo tenang aja! Besok akan diurus semua oleh bawahan gue. Oh ya, gimana Fira? Apa dia marah besar?"


"Tentu bro! Bahkan dia berniat ninggalin gue hari ini, disaat perusahaan gue hampir collaps" akunya dengan kepala tertunduk.


"Apa dia tahu kondisi perusahaan lo? Sorry banget, gue nggak bermaksud merusak rumah tangga lo," jawabnya dengan prihatin. Memang Niko tak berniat untuk membuka aib Batista didepan istrinya.


Hal itu nyatanya tak terduga, terjadi begitu saja.


"Udahlah lupain aja bro. Sekarang sekretaris gue disana sedang mencegah kepergiannya. Gue harus buru-buru pulang bro, mau memastikan istri gue masih di rumah atau engga,"


"Baiklah, kebetulan gue juga mau cabut. Besok sekretaris lo akan dihubungi oleh salah satu Direktur di perusahaan gue," ucap Niko menutup pembicaraan hari itu seraya menepuk salah satu pundak Batista mengakhiri pertemuan mereka.


"Gue cabut ya," pamitnya dengan senyum simpul meninggalkan Batista yang juga berjalan dibelakang Niko.


Batista masuk ke lift, menekan tombol paling teratas. Ia mengambil tas kerja dan jas yang menggantung dikursi kebesarannya. Memakainya sejenak lalu berjalan keluar dari ruangannya memasuki lift kembali.


Sesampainya di Lobi, ia disapa oleh beberapa karyawan yang masih berada disana.


"Pak!" sapa para karyawan dengan kompak dengan kepala yang tertunduk, mereka masih menghormati atasannya meski perusahaannya diambang kehancuran. Sebenarnya mereka belum mendengar kabar akan ada pengurangan karyawan besar-besaran.


Jadi mereka santai saja melihat bosnya berjalan keluar dari lobi kantornya. Batista hanya tersenyum membuat lengkungan dimulutnya membalas sapaan para karyawannya.


Hati Batista agak bergetar melihat para karyawannya yang masih menghormatinya. Bahkan mereka belum merasa khawatir kalau besok akan dipecat.


*****

__ADS_1


"Hasil produksi produk perusahaan gagal memenuhi permintaan pasar. Produk itu tidak laku dianggap sebagai produk gagal. Alhasil perusahaan merugi. Sekarang pak Batista bingung untuk menutup kerugian karena para investor meminta dananya kembali," terang Bagas secara gamblang agar Fira mengerti.


"Astaga! Dulu aku khawatir, hutang perusahaan juga sangat tinggi. Tapi karena suamiku bisa mengatasinya, aku sedikit lega. Tapi sekarang perusahaan malah terancam! Apa yang harus aku lakukan untuk membantunya," tanya Fira dengan linglung.


"Kau duduk manis saja menunggu kabar pasti perkembangan perusahaan," balas Bagas seraya tersenyum simpul.


"Apakah kau serius tidak akan pergi?" tanyanya sekali lagi memastikan.


Fira mengangguk dengan mantap. Ia yakin akan mendampingi suaminya dimasa sulit sekarang.


"Kau boleh pulang sekarang. Aku tidak akan pergi kemanapun," tegas Fira dengan keyakinan yang teguh.


"Baiklah aku pulang dulu," pamitnya bergegas berdiri keluar dari rumah Fira.


"Beneran tuh nyonya nggak akan pergi?" pembantunya saling berbisik.


"Sepertinya tidak akan pergi. Nyonya kan perempuan yang jujur. Tidak mungkin dia sudah berjanji tapi malah kabur," jawab Bi Inah.


Ketiga pembantunya itu sudah menguping daritadi. Tapi Fira yang mengetahui membiarkannya begitu saja. Terlebih Bi Inah sudah berperan menahan kepergiannya.


Saat Bagas mengeluarkan mobilnya dari garasi rumah Fira, Batista berpapasan dengan Bagas yang baru saja tiba didepan rumahnya.


"Ibu tidak jadi pergi pak. Dia ada di rumah. Saya pamit pulang dulu,"


Setelah mendapat anggukan dan senyuman dari Batista, Bagas berlalu meninggalkan rumah Batista. Sedangkan Batista memarkirkan mobilnya dengan rapih di garasi rumahnya.


Ia keluar perlahan, tetapi tidak ditemukannya Fira yang menjemput kedatangannya. Biasanya Fira dengan patuh akan menghampiri suaminya setelah mendengar suara mobilnya.


Batista mengedarkan pandangannya mencari sosok Fira dan Ibunya saat masuk ke ruang tamu. Tapi dari mereka tidak ada satupun yang muncul.


"Mana istriku dan mertuaku?" tanya Batista pada Bi Inah yang baru menyadari kedatangan tuannya.


"Masing-masing ada di kamarnya tuan," balasnya cepat.


Batista langsung menaiki anak tangga, memastikan istrinya ada di rumah itu. Sesaat membuka pintu kamar, Fira yang sedang merebahkan dirinya diatas ranjang karena lelah dan pusing yang menderanya, ia baru mengetahui suaminya telah pulang setelah mendengar langkah kaki. Tapi ia tak bergegas beranjak dari ranjangnya karena merasa malas dan lelah.


Ia melirik jam di dinding kamar mereka, benar saja itu adalah jadwal suaminya pulang.

__ADS_1


Oh sudah pukul lima sore rupanya.


"Mas! Maaf aku tidak kebawah, aku tidak tahu kau telah pulang," lirihnya sendu seraya memerhatikan raut wajah suaminya yang tampak biasa saja.


Tidak ada kesedihan yang ditunjukkan Batista saat memasuki kamar mereka yang berada di lantai dua.


"Aku mengerti" jawab Batista dengan nada lembut, ia mendekati Fira yang masih membaringkan tubuhnya diatas ranjang, kemudian menghempaskan tubuhnya seraya mengeluarkan nafas kasarnya, lalu memeluk istrinya dengan erat.


"Maafkan aku! Maafkan aku membuatmu kecewa," bisik Batista saat menyesali semua tindakan bodohnya.


"Aku mengerti mas. Mungkin itu cara terakhir yang bisa kau lakukan untuk mengusir perempuan itu," ucap Fira seraya menepuk punggung belakang Batista.


"Kau tidak akan meninggalkanku kan?" tanyanya dengan sendu, berharap pikiran istrinya tak akan pernah berubah lagi.


"Tentu! Kenapa kau tidak mengatakan tentang perusahaanmu?" tanya Fira mengalihkan pembicaraan saat itu.


"Apa? oh itu karena kita lagi ada masalah yang lebih berat. Jadi aku tidak perlu menambah beban pikiranmu lagi," jawabnya polos.


"Aku mengerti mas, lalu apa langkahmu untuk mengatasi perusahaan saat ini?" tanyanya gamang. Satu yang pasti ia inginkan, agar perusahaan suaminya segera pulih dari masa kritisnya.


"Kau tenang saja, aku akan mengatasinya. Tapi untuk satu minggu ke depan, aku akan lebih sibuk. Mungkin aku tidak akan ada waktu untukmu," balas Batista seraya mengecup kening istrinya.


Namun Fira meminta lebih, tidak ingin sekedar mendapat ciuman dikening saja. Ia menunjukkan bibirnya dengan jari telunjuk, agar Batista melanjutkan ke arah bibirnya.


Dengan sungging senyumannya, ia meraih kepala istrinya yang mendekap didadanya.


cup


Satu kecupan mendarat dibibir tipis milik Fira. Saat ia mengangkat kepalanya ingin melepaskan ciuman itu, Fira menahan kepala Batista dengan tangannya.


******* benda kenyal itu lebih dalam. Batista yang tadinya sedang stress banyak pikiran, hanyut dalam ciuman yang menghangatkannya.


Ia membalas ******* itu lebih dalam, hingga bertukar shaliva dan menelannya. Seketika gairah keduanya memuncak.


Hmmm sudah lama kita tidak melakukan ini.


Lirih Fira yang mengingat bahwa mereka melewatkan berminggu-minggu, kegiatan ranjang mereka.

__ADS_1


"Aku akan memuaskanmu hari ini," bisik Batista dengan lembut disamping daun telinga istrinya.


__ADS_2