Aku Terjerat Cinta Satu Malam

Aku Terjerat Cinta Satu Malam
puasa satu minggu


__ADS_3

Setibanya di rumah, Fira membantu sang ibu untuk merapihkan pakaiannya di kamar tamu. Ada dua kamar tamu di rumah itu, kedatangan Senny Andriani membuat satu kamar tamu berubah dan dibuat senyaman mungkin agar ibunya semakin betah.


Berkat kehadiran ibunya Fira semakin bahagia dan tak merasa kesepian. Kedatangan ibunya membuat ia semakin galau apakah melanjutkan pekerjaan dengan kondisi hamil atau segera mengajukan resign.


Pagi itu Senny terkejut dengan sajian menu sarapan yang telah dihidangkan di meja makan. Sebenarnya bukan sarapan lagi, sudah mau memasuki makan siang. Mungkin saja sajian itu sekaligus untuk makan siang.


"Nduk apa makanan ini tidak berlebihan," tanya Senny sambil mengerutkan keningnya. Ia menanti jawaban putrinya.


"Tidak bu! seperti ini setiap hari di rumah," Fira menarik kursi makannya yang didahului oleh sang suami.


Batista yang sejak tadi memerhatikan percakapan antara mertua dan istrinya. Ia tak ingin membuat Fira kerepotan ataupun merasa lelah sehingga ia menarikkan kursi makan untuk istrinya.


"Mas lebay banget sih! aku bisa sendiri," celetuk Fira membuat Batista terkekeh.


"Sudah biarin. Suamimu itu justru memperhatikan kamu dan kehamilanmu," ucap Senny yang tersenyum tulus pada menantunya itu.


Mereka menyantap makanananya. Hanya suara piring dan sendok yang beradu dalam ruangan. Tak ada obrolan penting karena saat di meja makan Batista sudah membuat aturan tidak mengobrol saat makan agar tidak tersedak. Hal itu juga sudah dilakukan keluarga Fira sejak lama.


Senny terpukau saat melihat seisi keliling rumah. Rumah megah milik Batista meski hanya berisi tiga orang pembantu saja. Menurutnya jumlah pembantu itu sangat kurang terlebih jika anak mereka nanti lahir.


"Nduk bilang sama suamimu nanti. Tambahin pembantunya. Kalau cuma tiga orang kasian nanti kamu teralu capek untuk ngurus anakmu sendiri. Karena beres melahirkan kamu akan sering begadang," ujar Senny sambil menghirup tehnya di gazebo belakang rumah Fira.


"Tenang aja bu. Mas juga pasti udah ngerti kok. Nanti aku minta tambah suster dua khusus anakku. Kalau pembantu yang tiga mereka khusus membantu rumah tangga saja tidak bisa ngurus anak. Tadinya menurutku tiga juga sudah cukup banyak, karena kami hanya berdua tapi capek juga kalau hanya dua orang yang bersih-bersih," ucap Fira.


Batista memilih menyelesaikan pekerjaan di ruang kerja di rumahnya daripada nimbrung dengan mertua dan istrinya. Dia sudah meminta Bagas untuk membawakan berkas-berkas yang harus diselesaikannya meski tanpa harus pergi ke kantor.


Rasa mual dan pusing Fira kadang hilang dna terasa. Maklum masih hamil muda, dia juga belum bisa mengontrol dirinya dan menyesuaikan dengan keadaannya sekarang.

__ADS_1


"Bu! menurut ibu aku harus resign apa melanjutkan pekerjaanku saja," tanya Fira yang ingin mendengar pendapat sang ibu.


"Resign saja nduk! suamimu tidak perlu gajimu. Dia sudah kaya raya begini. lebih baik kamu fokus pada keluarga kecilmu," Senny kembali menyeruput teh hijaunya. Diusianya yang senja dia sangat suka meminum teh hijau demi kesehatannya.


Tubuh Senny masih kuat karena semasa mudanya ia tak pernah berleha-leha. Ia bekerja keras berjualan di Pasar demi menafkahi putri kesayangannya. Meski hanya satu anak yang ia miliki, tak membuatnya luput dari tanggungjawabnya.


Hal itulah yang membuat Fira semakin mandiri. Ia tak rela melihat ibunya capek. Dan memilih untuk melakukan pekerjaan freelance bahkan sejak duduk dibangku SMAnya.


Kali ini pendapat dari ibunya masih ia pikirkan. Mengingat ibunya yang terus bekerja keras untuknya dan tak mempunya waktu luang bersamanya, ia tak ingin anaknya merasakan hal yang sama dengan dirinya.


Fira ingin anaknya lebih diperhatikan daripada ia sibuk bekerja di kantor suaminya sendiri.


*****


"Sayang aku ingin bicara," ucap Fira menghentikan pekerjaan Batista yang saat ini sedang ia lakukan. Fira sudah memikirkan matang-matang tentang pekerjaannya. Sehingga ia mendatangi suaminya di ruang kerjanya.


"Mas aku ingin resign! Aku ingin fokus mengurus bayi kita," Fira menunjukkan ekspresi sedihnya karena tak rela dengan keputusannya saat ini.


Bagaimana tidak, mahasiswa yang baru lulus langsung diterima saat itu juga bahkan langsung dijadikan karyawan tetap di perusahaan tersebut.


Batista membalas perkataan istrinya yang tpak murung saat ini. "Duduk dulu sini," ucap Batista sambil menepuk-nepuk pahanya. Ia ingin istrinya duduk diatas pahanya.


"Ihhh mas apaan sih! aku lagi bicara serius nih. kenapa malah ngegodain sih!! inget mas apa kata dokter," ketus Fira.


Batista terkekeh mendengar jawaban istrinya. "Ihh apaan sih. Aku tuh cuma suruh duduk disini, kenapa mikirnya jadi macam-macam sih," ledek Batista.


Batista berdiri dan menarik lengan istrinya. Ia memaksa Fira untuk duduk dipangkuannya dan mengalungkan tangannya dibagian pinggang istrinya. Sambil mengelus-elus si buah hati yang ia nantikan.

__ADS_1


"Kau serius mau resign? beneran?" tanya Batista menyakinkan istrinya.


Fira menganggukkan kepalanya. "Aku sudah tanya pendapat ibu. Ibu juga mikirnya lebih baik resign mas. Aku ingin anakku berada disisiku terus,"


Batista tersenyum dan memeluk erat sang istri. "Yaudah besok biar Bagas yang urus semuanya. Dia yang akan menyerahkan surat resignmu," kata Batista yang memeluk erat istrinya.


"Mas kenapa sih! daritadi peluk-peluk. Nggak enak sama ibu loh," Fira nyengir sembari menyubit pipi keras milik suaminya itu.


"Apa hubungannya sama ibu. Mau kemana sih buru-buru. Kau makin hari makin seksi aja," balas Batista sambil menyubit pelan perut rata milik istrinya.


"Mas inget loh apa kata dokter. Hamil muda masih rentan. Puasa dulu ya seminggu," kekeh Fira yang tahu suaminya tak akan mampu menahan hasratnya untuk tidak berhubungan intim.


Batista menggeleng kepalanya. Ia menolak keras permintaan istrinya untuk puasa selama satu minggu. "Husshhhh,, justru puasa nggak boleh. Papa ingin jengukin dede bayi! kasian nanti kesepian! kan bisa keluarin diluar," balasnya.


"Sekarang aja yuk!" Batista melanjutkan perkataannya.


Baru kali ini Fira menolak kemauan suaminya. Selain karena kerja, rasa pusing kini menghantuinya kembali. Belum lagi rasa mualnya yang muncul tiba-tiba.


Hueekkk..


hueksss...


Membuat Batista kaget. Dengan sigap menepuk-nepuk punggung istrinya. Karena tak ada yang keluar dari mulut sang istri. Ia kemudian memboyong istrinya ke dalam kamar.


"Kau disini aja sayang. Pekerjaanmu kan belum selesai. Aku akan istirahat di kamar," pinta Fira yang siap berjalan sendiri tanpa didampingi suaminya.


"Nggak ah.. aku mau jagain bayi kita," sambil memegang erat istrinya dan membawanya ke kamar.

__ADS_1


Baru saja Batista membaringkan istrinya diatas ranjang, kejailannya untuk menggoda Fira muncul lagi. Setelah mendapat penolakan dari istrinya, Batista belum juga menyerah dan mulai menggoda istrinya yang tengah merasakan mual dan pusing.


__ADS_2