Aku Terjerat Cinta Satu Malam

Aku Terjerat Cinta Satu Malam
testpack


__ADS_3

Halo...


haloo...


Senny menjawab ponselnya saat melihat kontak nama anaknya dilayar kecilnya. Ponsel yang dia gunakan bukannya smartphone yang kebanyakan dipakai orang.


Dia masih menggunakan ponsel jadul yang hanya bisa menerima telepon dan pesan masuk.


"Halo bu"


Fira memecahkan keheningan ditelinga Senny Andriani.


"Iya ada apa nak? tumben kamu telepon ibu," tanya sang ibu.


"Ibu sekarang harus berkemas! aku tidak menerima penolakan lagi! ibu harus ikut aku ke rumah sekarang dan tinggal disini," tegas Fira membuat sang ibu kaget.


"Ada apa nak? kenapa harus ikut? ibu sudah tenang disini sendiri. Ibu tidak ingin mengganggumu," Senny meninggalkan ruang tamu dan mengambil kopernya.


Meski ia masih bertanya-tanya tetapi langsung sigap untuk mempersiapkan barangnya sesuai perintah Fira Andriani.


"Sudah jangan banyak tanya! aku ingin segera tinggal bersama ibu!" Fira menutup teleponnya.


Senny Andriani mengemasi semua barangnya. Tak tahu apa yang terjadi, tapi ia sebenarnya sejak lama ingin tinggal bersama anaknya. Senny sengaja menolaknya karena tak ingin mengganggu pengantin baru itu.


Namun sudah beberapa bulan berlalu, bahkan anaknya berkali-kali kecewa. Sekarang Senny tak bisa diam. Dia tak ingin melihat anak semata wayangnya tersakiti.


Mungkin kehadirannya berada di kediaman itu akan memberikan keramaian diantara Fira dan Batista. Terlebih ia sangat ingin memiliki cucu yang sejak awal sudah dinantikan.


Tok..


Tokkk..


Tok..


Suara ketukan pintu dari depan rumah. Sedaritadi Senny telah selesai berkemas. Ia tinggal menunggu kedatangan anak semata wayangnya.


Senny berjalan untuk membukakan pintu rumah. Benar saja tebakannya kalau yang datang saat itu adalah Fira yang ingin menjemputnya.

__ADS_1


"Ibuu..." teriak Fira yang langsung memeluk sang ibu dengan ekspresi kegirangan.


Senny kebingungan. Hantu apa yang merasuki anaknya, baru kali ini ia melihat ekspresi itu. Biasanya saat Fira datang ke rumah, ekspresi sedihlah yang selalu menyelimuti wajahnya.


"Kamu girang sekali nduk.. Ada apa ?" tanya Senny.


"Aku hamil bu!!" ucap Fira yang membuat Senny langsung senyum kesenangan karena apa yang ia harapkan selama ini terwujud.


Senny kembali memeluk putrinya dan memberikan ucapan selamat. "Jadi kamu suruh ibu tinggal bersama kamu karena kamu hamil toh nduk?" tanya ibu sinis meski ia sebenarnya sangat bahagia.


"Iya bu!! aku ingin bersama ibu. Ibu kan yang paling berpengalaman. Aku ingin menjaga bayi kecil ini hingga dia lahir. Tapi ibu harus terus bersamaku. daripada ibu kesepian disini!" tegas Fira.


Fira berjalan kearah kamar Senny dan mengambil kopernya. "Udah segini aja barangnya bu," Fira menunjuk satu koper yang telah rapi dan satu tas tenteng yang berada diatasnya.


Senny mengangguk. Menurutnya cukuplah untuk satu isi koper untuk ia gunakan nanti.


"Suamimu mana nduk?" tanya Senny yang dari tadi mencari sosok menantunya.


Kabar gembira yang Senny terima tidak mungkin membut menantunya itu tak bahagia. Seorang anak yatim piatu itu bahkan sejak awal menginginkan anak yang banyak.


Pengakuan Batista juga ia tuturkan sesuai menikah dulu. Ia sangat ingin memiliki anak yang banyak untuk meramaikan rumah mereka.


*****


Sebelumnya


pagi-pagi sekali Fira terbangun dari tidur nyenyaknya. Ia merasa mual dan pusing. Saat malam juga tubuhnya merasakan dingin seperti meriang karena terkena AC tapi ia cuekin dengan menyelimuti tubuhnya.


Mual dan pusing membutnya tak bisa fokus untuk tidur. Tepat pukul 03.00 dini hari, Fira beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.


Batista yang tengah tertidur pulas belum menyadari kalau istrinya telah terbangun. Fira mencoba muntah tapi tidak ada yang keluar dari mulutnya.


Tapi rasa mual diperut dan kerongkongannya terus saja ia rasakan. Belum lagi pusing yang tak reda-reda. Sebenarnya gejala itu sudah tiga hari yang lalu ia rasakan tapi selalu mengabaikannya dan menganggapnya hanya masuk angin biasa.


Namun dari hari kehari sangat terasa sekali. Sehingga membuatnya tak berselera makan. Di hari ke empat ini, rasa mualnya makin menjadi-jadi.


Ia mencoba memuntahkan isi perutnya. Lagi-lagi tidak keluar. Hanya air liur yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


Huekk..


Huekkk..


Mendengar suara itu membangunkan Batista dari tidur nyenyaknya. Ia mencari sosok Fira tapi tidak ada disamping. Kemudian dia segera ke kamar mandi karena mendengar suara muntahan.


Beberapa hari lalu, Fira dan Batista sudah berdamai dengan keadaan mereka. Bahkan Batista meminta Fira agar tak lagi mengingat-ingat kejadian itu demi kesehatan mentalnya.


Batista masuk ke kamar mandi menghampiri istrinya. Ia menepuk-nepuk punggung istrinya untuk menenangkannya.


"Kenapa sayang?" tanya Batista.


"Sudah beberapa hari ini aku mual, tapi tidak ada yang keluar ketika coba memuntahkannya. Kepalaku juga pusing terus," ucap Fira.


"Apa kau sakit? Ayo periksakan ke dokter," ajak Batista.


Fira menggeleng kepalanya. Rasa mual dan pusing yang rasakan bukan seperti sedang sakit yang pernah ia alami selayaknya sakit masuk angin.


"Mas aku rasa ini beda mas! bukan sakit biasa. Apa mungkin aku hamil," ucap Fira membuat Batista kaget sekaligus bahagia dan berharap prediksi istrinya itu benar terjadi.


"Yaudah kalau begitu ayo kita sekarang ke rumah sakit untuk memeriksanya," ajak Batista kegirangan.


"Jangan!" Fira mengangkat satu tangannya dan menolak ajakan suaminya itu. Ia tahu saat ini bukanlah hal yang tepat untuk memeriksakan diri ke rumah sakit.


Masih dini hari, dan mungkin dokternya juga tidak ada. "Mas ini masih subuh. Nggak mungkin ada dokter jam segini. Kita coba testpack aja nanti pagi!" ucap Fira.


Batista mengangguk dan menyetujui keinginan istrinya. Testpack salah satu tindakan utama untuk memastikan kehamilan istrinya itu.


"Sekarang istirahat saja kalau memang tidak mau muntah. Aku akan menggosok-gosok punggungmu," ajak Batista kearah ranjang dan membiarkan istrinya terbaring.


Batista mengambil minyak angin untuk menggosok punggung Fira. Aroma eukaliptus cukup menenangkan bagi Fira. Tubuhnya merasa enakan bahkan pusingnya agak mereda.


Sejak pagi Batista disibukkan dengan menenangkan sang istri. Ia juga sudah memerintahkan bi Inah untuk membelikan testpack di apotik terdekat.


Bi Inah segera membelikan testpack paling bagus dan mahal. Begitu senang ia mengetahui nyonya di rumah itu akan segera mengandung anak tuannya.


Setelah kembali ke rumah, ia langsung menyerahkan testpack itu pada Batista. Fira yang daritadi terbaring akhirnya ketiduran. Melihat istrinya malah tertidur pulas ia mengurungkan niatnya untuk membangunkannya.

__ADS_1


Batista ikut terbaring disamping Fira sambil memeluk tubuh mungil istrinya dengan hangat. Ia juga mengelus-elus rambut sang istri agar menangkan tidur Fira.


Bukannya tertidur pulas, Fira malah terbangun karena kehadiran suami tampannya.


__ADS_2