
Batista Andara kaget dengan kedatangan Lucy Davide. Ia mulai terasa diganggu dengan kehadiran mantan kekasihnya. Apalagi yang akan diperbuat Lucy.
Jika istrinya Fira Andriani melihat lagi kedatangan Lucy, bisa saja ia disuruh tidur diluar untuk malam ini.
Setelah mengingat kejadian pembalasan Fira yang membuat Batista pusing mual hingga muntah membuat Batista kapok akan hukuman dari istri mungilnya yang sederhana.
Dia tak mau ada kesalahpahaman tentangnya dan Lucy yang mengunjunginya lagi dihari ini.
"Mau apalagi kau kesini!" kecam Batista dengan menunjukan wajah datar dan senyum kecutnya.
"Aku ingin bermain denganmu hari ini!" sela Lucy dengan tampang bahagia seakan-akan ingin menganggu pernikahan mantan kekasihnya itu.
"Apa maksudmu! sudah ku katakan jangan pernah kesini lagi!" jelas Batista dengan tatapan marah.
"Ayolah jangan kaku begitu! kita juga rekan bisnis. Harusnya kau menuruti kemauanku. kalau tidak! aku akan menarik investasi perusahaanku dan mengacaukan perusahaanmu saat ini!" ancam Lucy.
__ADS_1
Perusahaan Lucy merupakan perusahaan dengan investasi terbesar yang dipegang oleh perusahaan Batista saat ini. Ia merasa terjebak dengan kehadiran Lucy yang memanfaatkan investasinya.
Jika Lucy mencabut investasinya, jelas saja itu akan menghancurkan planing kerja perusahaan tahun ini.
"Bodoh! untuk apa aku menuruti kemauanmu. Kalau kau mencabut investasimu tentu saja akan melanggar kontrak. Dan kau akan dikenakan denda yang sangat tinggi!" ujar Batista yang tertawa sinis.
"Kau mengganggu kerjaanku saja hari ini. Pergi sana," kata Batista mengarahkan Lucy untuk keluar dari ruangannya.
Sialnya Lucy tak mengetahui tentang denda jika perusahaannya mengagalkan investasi tersebut. Ia menyerahkan kerjasama itu pada adiknya, dan tidak ada penjelasan mengenai penalty.
Kedatangan Lucy memang membuat khawatir Batista. Meski telah dihianati, rasa cintanya pada Lucy belum juga luntur. Masih ada kenangan bahagia yang ia rasakan saat menjalin cinta dengan Lucy.
Dulu bahkan ia bercita-cita menjadikan Lucy istrinya karena menurutnya dia adalah wanita yang sangat baik bahkan sangat pintar. Oleh karena itu Batista tak ingin menyentuh Lucy secuilpun sebelum menikahinya.
Tapi hal itu malah menjadi boomerang baginya. Lucy lebih mencintai laki-laki nakal seperti Niko yang merusak hubungan mereka.
__ADS_1
"Aku tidak mau pergi! sebelum kau memenuhi keinginanku. Setidaknya ajak aku untuk makan siang bersama," ucap Lucy yang kesal dengan perkataan Batista.
Bagas tak kunjung kembali. Batista enggan mengotori tangannya untuk menyeret Lucy keluar dari ruangannya.
"Aku sudah makan siang tadi. Dan tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan," ketus Batista.
"Baiklah aku akan makan siang disini!" tegas Lucy sambil menunjukkan tentengan makanan yang ia bawa.
Rupanya Lucy sengaja menganggu Batista dan ingin mengajaknya makan bersama. Penolakan yang Batista lakukan membuatnya sangat kecewa.
Batista begitu dingin dengannya. Tidak seperti dulu, hangat dan riang kerika bertemu Lucy. Bahkan Batista selalu bercerita tentang masalah dan kegiatan apapun yang dia lakukan.
Sebagai junior di Kampusnya, mereka juga sering bersama. Hanya Lucy wanita yang saat itu berada disisi Batista dengan masa sulitnya ditengah memasuki perkuliahan dan pahitnya menjadi anak yatim piatu.
"Kenapa sekarang kau begitu dingin Batista? Cara apalagi yang harus aku gunakan agar kau bisa memaafkanku," keluh Lucy sambil membuka bungkusan makanan cepat saji yang ia beli dijalan sebelum menemui Batista dan kini ia duduk dengan santai di kursi tamu ruangan itu.
__ADS_1
"Yang kau lakukan cukup pergi dariku seperti empat tahun lalu. Aku sudah menikah! dan tidak ingin ada kesalahpahaman dengan istriku lagi," jawab Batista sambil melanjutkan bacaan laporannya.