
Fira menatap wajah suaminya yang senyum-senyum sendiri. "Kenapa kau tersenyum terus," tanya Fira keheranan.
"Aku tidak sabar ingin menggendong bayi," ucap Batista dengan nada girangnya. Kemudian dia menyodorkan testpack yang telah dibeli oleh bi Inah.
Batista mengarahkan Fira agar segera mengecek kehamilannya dengan testpack tersebut. "Buruan gihh!! aku tidak sabar," titah Batista.
Fira memegang testpack dan berjalan ke arah mandi. Kemudian dia menyisihkan sedikit air kencingnya untuk dilakukan pengecekan. Selama sepuluh menit Fira berada di kamar mandi sehingga membuat Batista berontak dan mengetok-ketok pintu kamar mandi.
tok.. tokk..
"Sayang udah belum sih," tanya Batista penasaran.
Fira masih menunggu garis dua yang timbul didalam testpack. Baru satu garis yang muncul. Di sendiri juga tak sabar menantikan buah hatinya bersama suami tercintanya.
Meski bukan hasil dari cinta satu malam, tapi buah hati ini hasil dari sahnya pernikahan mereka. Begitu inginnya sang suami segera memiliki momongan untuk meramaikan rumah mereka kelak.
Fira membuka mulutnya dan menutup dengan kedua tangannya karena tak percaya dengan yang ia lihat barusan. Garis dua terlihat samar-samar membuatnya terharu dan bahagia.
Ia sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Fira melangkahkan kakinya dan mendekati pintu kamar mandi lalu menarik knop pintu tersebut.
"Tarraaaaa!! mas garis dua!!!" teriak Fira yang kegirangan dan sangat bahagia.
Batista langsung memeluk erat istrinya. Ia bahkan meneteskan air matanya karena terharu akan kehadiran buah hati mereka.
"Ahh sayang!! makasih udah kasih aku anak," ucap Batista sambil mengecup kening Fira.
Dua-duanya terharu. Meski sebelum kehamilan ini terjadi, hubungan Fira dan Batista sempat diuji dengan kedatangan mantan kekasihnya Lucy Davide.
"Sayang hari ini kita ke rumah sakit ya!! aku mau lihat dede bayinya," ajak Batista dengan tatapan memohon.
Ia masih terharu dengan hasil testpack dua garis tersebut. Tak ada kata-kata yang bisa diucapkan untuk menggambarkan kebahagiannya.
"Hari ini kan besok kerja sayang!" ucap Fira.
"Ya.. kita berdua cuti dong! kan aku bosnya!" kata Batista sambil nyengir.
__ADS_1
"oke! kita USG! tapi ada satu syarat! aku pengen tinggal sama ibu selama kehamilan. Kalau bisa sih seterusnya ibu menemani kita," pinta Fira dengan nada manjanya membujuk suaminya agar menuruti keinginannya.
"Oke!" tanpa pikir panjang Batista langsung mengajak istrinya mandi pagi bersama. Bersiap-siap untuk ke rumah sakit.
"Mandi bareng dong," pinta Batista dengan ekspresi memelasnya.
"Duhh siapa sih yang bisa nolak kalau kau ajak mandi bareng," ucap Fira sambil menggandeng tangan suaminya masuk kembali ke dalam kamar mandi.
Batista kemudian membukakan baju yang dipakai istrinya. Ia menelanjangi Fira dalam hitungan detik.
Meski mungil, tubuh Fira sangat seksi ditambah paras sederhananya dengan wajah yang tak pernah membosankan.
Batista kemudian membuka seluruh baju miliknya. Ia memeluk istrinya dari belakang. Kemudian memegang perut istrinya dengan kedua tangannya.
Sambil mengelus-elus perutnya yang berisi buah hari mereka. "Ah jadi nggak sabar ketemu si bayik," celetuk Batista.
Fira tersenyum bahagia. Suaminya sangat menyayanginya. Pelukan hangat suaminya meningkatkan gairahnya. Terlebih saat ini mereka tanpa mengenakan pakaian sehelaipun.
Fira membalikkan tubuhnya dan mengecup bibir suaminya dengan berjinjit. Baru saja ia melepaskan kecupannya namun ditahan oleh Batista.
Batista menahan tubuh Fira agar tak lepas dari pelukannya. Kemudian ia menciumnya lebih dalam. ******* bibir tipis milik Fira dan dibalas dengan lembut ******* bibir tebal suaminya itu.
Ia meraih wajah istrinya dan memegang lehernya. Melanjutkan kembali ******* ciuman hangatnya.
"Auranya seksi sekali kalau sedang hamul begini," bisik Batista membuat Fira malu-malu.
"Ah bisa aja!" ucap Fira sambil menepuk dada bidang suaminya itu.
Batista kemudian mencium leher Fira. Fira duduk menikmati aksi suaminya sehingga meningkatkan gairahnya.
Perlahan Batista menggendong istrinya dari depan dan membaringkannya diatas bathup. Pemandian mereka kali ini tanpa persiapan. Sehingga mereka mengisi air sendiri di dalam bathup.
Sembari mengisi air bathup hingga penuh. Batista melanjutkan kegiatan intimnya. Ia meraba sekujur tubuh istrinya dan mengikatkan rambut Fira Indriani dengan lembut.
Fira membalas perlakuan suaminya. Ia membalas kecupan-kecupan kecil diarea leher suaminya itu, dan memposisikan tubuhnya berada diatas tubuh Batista.
__ADS_1
Ia menggoda suaminya dengan sesekali mencium bibir dan lehernya. Batista yang tak sabar akhirnya segera melakukannya bersama istrinya.
Hubungan intim yang mereka nikmati sebelum membersihkan diri dipagi hari. Mereka menyatu dalam kehangatan intimnya.
"Sayang pelan-pelan! ingat ada dede bayi didalam," bisik Fira di daun telinga suaminya.
Batista mengangguk menikmati keintiman pagi itu. Ia memperlakukan istrinya dengan perlahan karena tak ingin menyakiti buah hati mereka.
Usai bermesraan di kamar mandi, Batista begitu perhatian pada istrinya. Batista tipe laki-laki yang romantis dan sehari-harinya selalu memperhatikan Fira.
Tetapi jika mereka sedang marahan tentu membuat Batista lebih memilih berdiam diri agar tak membuat istrinya semakin marah.
Fira dan Batista menuju rumah sakit terdekat. Sebelum mandi tadi, Batista sudah melakukan reservasi untuk dokter obgyn kenalannya sehingga tak perlu mengantri saat tiba disana.
"Silahkan berbaring disini bu! dan buka sedikit area celana dan bajunya" perintah suster.
Fira berbaring dan mengangkat bagian baju serta celananya agar perut bawahnya kelihatan. Suster lalu mengolesinya dengan gel putih transparan lalu mempersilahkan dokter untuk mengambil alih.
Dokter obgyn langsung menempelkan alat usg diatas perut Fira dan menunjukkan layar agar Batista fokus melihat kearah layar dihadapannya.
Dokter juga sambil menjelaskan usia kandungan hingga posisi bayi. "Selamat pak! usia kandungannya memasuki tujuh minggu. Posisinya juga bagus. Untuk saat ini kegiatan intimnya lebih baik dikurangi. Dan lebih baik dikeluarkan diluar saja," ucap Dokter yang mengingatkan Batista agar lebih berhati-hati karena usia kandungan sang istri masih rentan.
Dokter juga mempersiapkan alat untuk mendengarkan detak jantung bayi tersebut.
deg..
deg..
Suara detak jantung bayi terdengar pelan membuat Batista semakin terharu. Ia lagi-lagi meneteskan air matanya. Tak percaya sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
Fira menggenggam erat tangan suaminya yang semakin mellow. Ia tersenyum melihat suaminya yang saat ini sedang terharu.
"Sayang... terimakasih!" ucap Batista sambil melirik istrinya yang masih terbaring.
Dokter kembali mengingatkan agar Batista berhati-hati dan lebih menjaga sang istri. "Yang terpenting istri bapak jangan dibiarkan mengangkat yang berat-berat. Jangan stress dan dikurangi untuk memakan daging kambing karena membuat panas perut," titahnya.
__ADS_1
"Siap dok!!" tegas Batista.
Belum diarahkan oleh dokter saja, Batista sudha berhati-hati dengan istrinya. Ia juga sangat memanjakan Fira.