Aku Terjerat Cinta Satu Malam

Aku Terjerat Cinta Satu Malam
Chiko Fernando


__ADS_3

Fira masih larut dalam kesedihannya. Namun, dunia tetap harus berjalan. Mau tidak mau, ia akan menikmati kesendiriannya yang larut dalam kesedihan dikala suaminya harus mulai bekerja lagi.


Seperti biasa, Batista telah bekerja untuk memantau perusahaannya. Meski keluarga mereka masih dibaluti rasa duka. Namun, hal itu tak bisa menghentikan persiapan masa depan untuk rumah tangga mereka.


"Sayang aku pamit dulu," ujar Batista pada istrinya yang masih terbaring lemah diatas ranjang. Batista meminta agar istrinya beristirahat saja di kasur, ia tak ingin istrinya semakin stress dan lelah.


Cup


Satu kecupan dari Fira mendarat dibibir pria itu. Wajah sendunya masih terlintas diwajah. Bahkan, pagi itu Fira belum mandi, ia tak bersemangat untuk melakukan apapun. Batista pun masih mengerti dengan kondisi istrinya saat ini.


"Hati-hati ya mas! Maaf aku tidak mengantarmu sampai kedepan pintu," ucap Fira dengan sendu.


"Iya sayang. Pulihkan dulu jiwamu! Hari ini istirahat saja. Jangan ngapa-ngapain dulu," sambung Batista penuh pengertian serta perhatiannya.


"Iya." Fira melambaikan tangannya pada suaminya seraya tersenyum kecut, sampai pada akhirnya pria itu hilang dari pandangannya.


****


Batista tiba diruangannya setelah tiga puluh menit yang lalu. Pekerjaannya sangat banyak. Setelah memasuki masa dua minggu untuk perbaikan kondisi perusahaannya, Batista masih bersusah payah untuk menaikkan pendapatan perusahaan.


Tok.. Tok... Tok


"Masuk." Batista masih fokus pada berkas yang ada didepannya, mempersilahkan kehadiran sekretarisnya.


"Pak, apa hari ini mau rapat evaluasi perusahaan dengan para manager?" tanya Bagas dari depan daun pintu.


"Oh ya! Umumkan saja hari ini meeting jam 9 pagi," jelas Batista.


Evaluasi perusahaan sangat penting setelah memasuki masa pemulihan. Apa saja yang kurang bagi perusahaan mereka, terlebih untuk meningkatkan pendapatan sesuai target mereka saat ini.


Bagas keluar dari ruangan Batista. Ia memberikan pemberitahuan melalui grup khusus para manager di perusahaan itu.


Meeting pagi ini jam 9. Diharapkan semua para manager hadir. Pembahasan untuk evaluasi pendapatan perusahaan serta peningkatan produksi.


Pesan itu telah dibaca oleh seluruh manager. Satu pekerjaan Bagas telah selesai. Kini ia fokus pada proses penjadwalan kinerja CEO Andara Grup.


*****


Fira mendapatkan pesan dari teman lamanya. Sahabat lamanya, Chiko Fernando. Sahabatnya semasa ia sekolah, dulu Fira sempat memendam rasa pada pria itu. Cinta-cinta monyet ala anak remaja dikala SMA.

__ADS_1


Mereka terpisah setelah masuk kuliah masing-masing. Fira sempat melupakan pria itu, meski sesekali mengingat kebersamaan mereka. Hubungan mereka tak berjalan karena Fira sibuk melakukan kerja paruh waktu untuk memenuhi uang kuliahnya.


Fir, aku turut berdukacita atas kepergian ibumu. Bagaimana kabarmu? Aku baru mendapatkan kabar itu dari teman kita, Reni. Katanya ia kemarin melayat ke rumahmu.


Satu pesan itu ditatap dengan serius oleh Fira. Ia bingung harus membalas atau tidak. Namun rasa kesepiannya mendorong untuk membalas pesan tersebut.


Terimakasih Ko, kondisiku sedang tidak baik. Aku tidak bisa melupakan ibuku.


Fira mengirimkan pesan itu pada sahabat lamanya. Entah mengapa pikirannya kembali pada masa-masa kedekatan mereka saat SMA.


Fira bahkan tak tahu kabar Chiko, karena Chiko menghilang setelah kelulusan mereka. Hanya saja, Fira sering mendengar ceritanya melalui Reni. Tetapi kabar itupun masih samar-samar.


Hanya dalam dua menit, Chiko kembali membalas pesan Fira.


Apa kau mau bertemu denganku? Sudah lama kita tidak mengobrol. Mungkin bisa sebagai obat penghilang rasa sakitmu saat ini, rasa sakit kehilangan ibumu!


Fira yang menerima pesan itu merasa terganggu. Disatu sisi, ia ingin sekali bertemu dengan Chiko. Disisi lain, ia masih ingat statusnya sudah menjadi istri orang.


Rasa takut Fira untuk berpaling dari suaminya pun muncul. Tanda-tanda bahaya bagi rumah tangga mereka.


Dia menatap terus layar ponselnya seraya terbaring lemas. Tapi rasanya ingin sekali ia keluar rumah, agar bisa melupakan kepergian sang ibu.


Fira menolak ajakan secara halus. Ia tak ingin Chiko berpendapat lain, sengaja menolak keinginannya untuk bertemu.


Baiklah! Aku mengerti perasaanmu. Mungkin dilain waktu kita bisa berjumpa kembali. Aku rindu Fir.


Fira semakin galau dengan kata-kata yang tersemat dalam pesan tersebut. Ada kata "rindu" disana. Membuatnya semakin bertanya-tanya.


Dulu, waktu kedekatan mereka terjalin, Fira sangat menunggu momen, saat dimana Chiko menyatakan perasaan padanya. Tetapi sampai mereka lulus sekolah, tidak ada niatan Chiko untuk memberikan pernyataan tersebut.


Chiko dan Fira hanya terjebak dalam friendzone. Keduanya sama-sama menyimpan rasa, tapi satu sama lain tidak mau merusak persahabatan mereka. Reni bahkan mengetahui hal itu. Reni adalah orang pertama yang mendorong hubungan mereka agar terus berlanjut.


Tapi sayang, takdir berkata lain. Bahkan setelah Chiko lulus sekolah, ia tak berniat menghubungi Fira. Komunikasi itu terputus. Fira bahkan tak tahu apa penyebabnya. Namun, kini Chiko mengatakan kata rindu?


Apa maksud dari perkataannya itu membuat Fira berpikir keras. Apakah Chiko tak tahu kalau status Fira kini sudah menjadi istri orang? Apakah Reni tidak pernah memberitahukan hal itu?


Fira terus berpikir dalam lamunannya. Apa yang harus ia katakan untuk membalas pesan dari sahabat laki-lakinya tersebut. Masih menjadi tanda tanya besar dibenaknya.


Tok... Tok..

__ADS_1


Suara ketokan pintu membuyarkan lamunan Fira saat itu.


"Masuk."


Fira masih menatap layar ponselnya. Sesekali ia melirik kearah pintu, siapa yang datang ke kamarnya.


"Nyonya, ini makan siangnya." Seorang pembantu menyodorkan nampan berisi makanan serta minuman untuk Fira.


"Makasih mbak. Letakkan saja disana." Fira menunjuk nakas disamping ranjangnya pada pembantunya tersebut. Kali ini bukan Bi Inah yang langsung mengantarkan, karena ia masih sibuk dengan pekerjaan didapur.


"Permisi nyonya." pembantu itupun pergi dari kamar Fira.


Perhatiannya kini kembali lagi menatap layar ponsel itu.


Ah, sepertinya aku tidak perlu membalas pesan ini!


Fira bergumam seorang diri, menatap tajam layar ponsel miliknya. Kemudian ia menutup ponsel itu, meletakkannya diatas nakas.


Ia beranjak dari kasur, mengambil nampan berisikan makanan. Ia makan perlahan ditepian ranjang.


Rasanya hambar, padahal sekilas makanan itu tampak menggiurkan. Tetapi karena Fira tak berselera makan, rasanya pun menjadi hambar.


Lagi-lagi ia teringat pada ibunya, saat-saat jam seperti ini, mereka berdua biasanya makan siang bersama di meja makan.


Huftttt


Fira mengeluarkan nafas kasarnya. Perasaannya masih gusar, masih membekas jelas kepergian ibunya yang secara mendadak itu.


Rasanya berat sekali melepas kepergian itu. Dia belum rela ditinggal begitu saja. Kini statusnya pun sama seperti suaminya, sudah menjadi anak yatin piatu.


"Andai ibu masih disini, menunggu kehadiran anakku. Pasti ibu akan lebih bahagia lagi. Pasti ia sering tertawa bersama cucunya," lirih Fira tersedu-sedu. Pipinya kini telah basah karena tetesan bulir bening dari pelupuk matanya yang terus mengalir.


Fira terus saja mengunyah makanannya. Sampai makanan itu tak tersisa. Kemudian ia meneguk air mineral dari atas nampan tersebut.


Disaat sedih seperti ini, ingin sekali rasanya ia memiliki teman untuk menghilangkan rasa kesedihannya. Pikirannya berkecamuk, kembali lagi memikirkan Chiko yang tiba-tiba hadir dihidupnya saat ini.


Apakah kehadiran Chiko jawabannya? Apa dia orang yang dikirim ibuku sebagai obat penghilang rasa sedihku?


Halo teman-teman. Please bantu aku dong!

__ADS_1


Bantu vote untuk novel ini. Klik votenya ya teman-teman. Jangan lupa like dan komentarnya juga. Terimakasih🥰


__ADS_2