
"hai Bela, kau kemana saja kemarin kenapa tidak masuk kuliah?", tanya Sindi menyambutku dan menggandeng tanganku
"ah, aku kemarin ada keperluan dan sedikit ada masalah?", jawabku sambil memaksakan senyum, "tapi aku punya kabar baik"
"wahh benarkah?", Sindi mengawasi ekspresiku yang tiba tiba memerah, "ciee pasti tentang Bima", jawabnya menebak membuat pipi ku semakin terasa panas karena menahan malu
aku hanya tersenyum karena malu jadi tidak bisa mengungkapkan nya, tapi Sindi sangat kenal baik dengan ku, "ahh jadi kalian sudah jadian",
dia benar benar hebat, bisa tahu hanya dari ekspresi wajah ku
aku mengangguk malu, Sindi melompat kegirangan dan memberi ku selamat.
jika teman bahagia, maka kita lebih bahagia. itulah sahabat yang sebenarnya.
kemudian kita meneruskan berjalan tapi langkah ku terhenti ketika aku melihat Yogi sedang dengan wanita lain, mereka terlihat sangat serasi.
tanpa aku sadari, Sindi melambaikan tangannya di depan mataku, mencoba menyadarkan pandanganku yang tengah fokus menatap Yogi, "siapa wanita itu?"
"ah itu sih menurut informasi yang aku dengar adalah pacar baru Yogi, semenjak kalian putus, dia sering berganti wanita", jawab Sindi ikut memandangi Yogi dengan sinis, "tapi kali ini sih katanya dia itu calon tunangan nya?"
Degg! kenapa mendengar itu membuat ku seakan tertusuk duri, begitu dalam di dalam hati? dengan mudah nya dia melupakan ku padahal aku kira dia masih mencintai ku.
aku mencoba menahan perasaanku, tapi tubuhku menolak senyum walaupun dipaksakan, membuatku hanya berjalan menunduk dengan terluka, segala lelucon yang biasa Sindi katakan tak bisa aku tanggapi, pikiranku melayang entah kemana
aku kacau
"Bela, Sindi", sapa Niken mendekati, "bareng juga yuk!", kita kemudian berjalan bersama menuju arah kelas, dan aku melihat Bima sedang berdiri menunggu tepat di luar pintu
"Hai", sapa Bima pada ku dan juga Sindi, Niken
Niken mendekati Bima dan merangkul tangannya layaknya sudah begitu kenal akrab, "Bima, kenapa kau disini?", tanya Niken dengan senyum ter manis nya
"ah aku ingin meminjam pacar ku sebentar", sahut Bima langsung membuat Niken bingung
"pacar?", ucapnya mengulang perkataan Bima seraya bertanya
Bima langsung menarik tanganku dan menyatukan jemarinya dengan jemariku, "kita pergi dulu sebentar ya Sin?", ijin Bima kemudian menarikku untuk pergi bersama
aku merasa tidak enak dengan Niken karena aku tahu Niken menyukai Bima sejak dulu, ku lihat ekspresinya sangat kesal dan menatapku tajam, "Bim, apa sebaiknya kau melepaskan tanganku? hubungan kita, biar kita saja yang tahu",
Bima menggelengkan kepalanya dan semakin memper erat genggaman tangannya lalu, "aku tidak setuju, aku tidak peduli dengan oranglain, yang ku tahu sekarang kau adalah milikku", ucap Bima sambil tersenyum ceria
tapi ku pikir pikir lagi, darimana Yogi tahu kalau kita sudah jadian, apa dia mengawasiku?
__ADS_1
baru saja di pikirkan eh orangnya nongol, dia berjalan berlawanan arah menggandeng seorang wanita yang katanya calon tunangannya
"hai, Bim?" sapa Yogi, lalu disambut manis juga oleh Bima
Yogi melirik tangan kita yang sedang bergandengan tapi aku lihat ekspresinya semakain menyebalkan, dia tersenyum sumeringah, "Oh ya, aku kenalkan kepada kalian, kenalin ini Jesi pacar dan calon tunanganku. dia pindahan dari London"
wanita itu mengulurkan tangannya ingin berkenalan, aku sambut dia juga dengan ramah tersenyum terpaksa tergambar di bibirku, ingin sekali aku menepis tangannya yang menyebalkan itu tapi aku harus menahan nya.
lalu tiba tiba Bima merangkulku, apa dia mengetahui ekspresi ketidak sukaanku? *ya ampun, bagaimana aku bisa menjelaskan kesalahan pahamannya
"semoga kalian langgeng ya, kita tunggu undangan nya*", ucapku dengan tenang, "kalau begitu kita pergi dulu!"
kita kemudian berjalan pergi, aku lihat wajah Bima seperti sedang kesal, apa karena aku?
"Bela, ikut aku sebentar!", ucap Bima dingin
aku pun mengindahkan nya dan masuk ke dalam mobil, mobil pun melaju hingga sampai ke apartemen milik Bima
****
****
"apa kau masih menyukai Yogi?", tanya Bima tiba tiba membuatku kaget, ternyata benar dia salah paham dengan ekspresi ku tadi saat bertemu dengan Yogi
"tidak", sahut ku cepat, "kenapa kau bisa berpikiran begitu?"
mendengar jawabanku itu Bima langsung kembali tersenyum dan memeluk ku erat, "terimakasih, Bela, maafkan aku karena sempat meragukan mu", ucapnya sambil menenggelamkan wajahnya di lekukan leherku
"dengar ya Bima, orang yang aku cintai hanya kamu, tidak ada yang lain. aku tidak akan pernah mengkhianati mu", ucapku sambil melepaskan pelukan Bima dan menatap nya dalam
jemarinya bergerak mengelus pipiku dan mengecup keningku, "ya aku percaya padamu dan kau juga harus percaya padaku",
aku mengangguk dan menempelkan tubuhku lagi, memeluk Bima dalam kehangatan.
Bibirnya bergerak mencium keningku, mencium ke dua mataku, ke dua pipiku, hidungku dan berakhir di bibirku, dia menciumiku dengan lembut
lembut, sangat lembut tapi kelembutan itu tak berlangsung lama saat Bima mulai menggerakkan tangan nya masuk dalam bajuku dan langsung membuka nya hingga membuat ku ber telanjang dada dan menyisahkan BH, ia membuatku berbaring diatas ranjang dan menindih ku tapi dia mengatur berat nya agar aku tak terbebani
ia mengecup leher ku sampai ke dada, membuka penutup dadaku lalu melumat nya dengan lembut, sesekali memainkan lidah di dalam nya hingga membuat ku mengerang, aaahhh, tangan ku reflek menjambak pelan rambut nya yang pirang dan menahan kepalanya agar lebih dalam melumat dadaku.
lalu tangannya bergerak kearah bawah rok ku yang masih tertutup, dia menggosok milik ku hingga terasa basah, aku tidak sanggup menahan gejolak nya, aku begitu agresif
bibirnya datang lagi tersenyum kepada ku lalu melumat bibir ku lagi
__ADS_1
kenapa dia tidak memasukkan milik nya?
karena aku sudah tidak tahan, tangan ku bergerak untuk membuka kancing Celana nya tapi Bima menepis tanganku dan lagi lagi memegangi ku, *ciuman nya berhenti
"maaf, Bela? tapi bukan sekarang*", ucapnya tersenyum lalu berguling menjauh dari tubuh ku, dia membuat ku frustasi sedangkan milik ku sudah basah di buat nya
aku berniat mengatakan dahulu bahwa aku sudah bukan gadis lagi tetapi karena hal tadi, membuat ku melupakan tujuan ku dan gejolak di jiwa ku membuat ku haus, dan menginginkan nya.
arggghhhh aku gila
segera aku memakai baju ku kembali, lalu Bima datang dan memeluk ku dari belakang, "kau menginginkan nya ya?", tanya Bima yang membuat ku malu
"Eng...Nggak kok, aku menahan nya", jawabku gugup menahan malu
Bima terkekeh mengejek ku, jelas jelas tadi aku berniat melepas celana nya.
"Bela, aku akan sudah menyiap kan sesuatu untuk mu", ucap Bima lembut menatap ku, "ikutlah!"
aku hanya menuruti saja, mengikuti Bima entah mau membawa ku kemana. Bima membawa ku ke ruangan khusus, disana sudah banyak pelayan menyambut ku.
lalu di bawa nya aku ke ruangan besar berisi berbagai macam merk gaun mahal nan indah serta perhiasan yang memancarkan cahaya gemilang, sebuah berlian.
"Tuan Bima menyuruh kami untuk melayani Nona, jadi mari silahkan pilih gaun yang sesuai dengan pilihan Nona!", ucap salah satu pelayan senior dan mengarahkan ku untuk memilih dan duduk didepan cermin dan merias wajah di bantu oleh make up artist yang profesional
aku memilih gaun yang sederhana tapi indah, dengan perpaduan warna ungu dan merah muda sehingga cocok untuk kulit ku yang putih
****
aku keluar dari ruangan khusus menuju Bima yang tengah berdiri memakai stelah jas hitam di padukan dengan kemeja biru sehingga membuatnya terlihat lebih menawan
Bima tidak berhenti menatapku dengan senyum, lalu mengambil jemariku dan mengecup layak nya Putra Mahkota sedang menyambut kedatangan Tuan Putri. "kau cantik sekali malam ini"
pujian nya membuat wajah ku memerah menahan malu, senang rasa nya jika mendapat pujian. "kau akan mengajak ku kemana?"
"aku akan membawa mu kerumah ku, tentu bukan untuk bermain lagi seperti saat masih remaja tetapi aku ingin mengenalkan mu kepada mama ku sebagai calon menantu nya"
****
Cinta adalah saat kamu memberikan separuh dirimu pada orang lain. Dan tempat yang kosong itu kamu isi dengan separuh dari orang itu
****
__ADS_1