AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI

AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI
Rahasia (1)


__ADS_3


kau lebih dalam dari bekas luka sehingga begitu sulit untuk ku menghapusnya.


ku rasakan kaku di tubuhku, begitu berat sekali. ingin rasanya ku menggeliat guna merenggangkan otot ototku yang kaku tapi tak bisa, dan ya benar saja karena Yogi begitu menempel kepadaku, mengejar memelukku sampai ke tepi ranjang.


aku mencoba melepaskan lengannya yang melingkar di badanku dengan penuh ke hati hatian tapi itu tak berarti karena saat ingin ku lepas, Yogi malah semakin mengeratkan pelukannya.


"jangan kemana kemana!" pintanya dengan suara masih berat


sungguh sangat berat aku berucap padanya, ku coba sekali lagi dengan paksa melepaskan pelukannya tapi Ia malah menarik lengan ku hingga membuatku berbaring lalu Ia dengan sigap menindihku.


Ia mengecup setiap lekuk leherku tak bisa ku bantah,


"hentikan, jangan seperti ini!", pintaku sambil mencoba mendorong tubuhnya agar berguling dan menjauh


hal itu juga percuma karena dengan sigap Yogi memegang kedua pergelangan tanganku lalu menyatukannya diatas kepalaku, kemudian Ia tahan menggunakan satu tangan.


sehingga tangan yang satunya leluasa meraba setiap inci tubuhku yang hanya mengenakan piyama tanpa kancing dan apabila ikatan pinggang dibuka maka lekukan tubuhku sudah jelas terlihat tanpa sehelai benangpun, sangat nyaman jika di satukan dengan kulit yang lainnya.


"sekarang aku ini istrimu, tapi kenapa kau masih memaksaku?"


"justru karena kau istriku, maka menurutlah!", sahutnya sembari menggrayangi tubuhku.


"aku tidak..", aku ingin melontarkan protesku tapi dia membungkam mulutku lagi, melumatnya dengan penuh hasrat. memainkan lidahnya hingga bersinggungan dengan lidahku.


tangannya bergerak dengan lihai kearah bawahku, melepaskan celana dalamku yang masih menempel.


kini Ia sudah leluasa berada diantara pahaku yang terbuka lebar tapi masih dengan pagutannya di bibirku sehingga ku rasakan panas pada bibirku yang masih terus dihisapnya dengan ganas.


sudah cukup puas dengan bibirku, dia bergerak kearah payudaraku, meremasnya membuatku mendesah tapi aku masih tak lupa akan protes yang ingin aku lontarkan.


"aku tidak ingin!", ucapku sambil memundurkan tubuhku


"kenapa, sayang?"


"kenapa kau berpikir hanya dengan sex kau bisa menyelesaikan segalanya? aku tidak ingin seperti ini!", ucapku dengan nada tinggi


dan tak ku sangka saat aku meloloskan diriku, Yogi hanya menunduk terdiam lalu menyandarkan tubuhnya yang sudah telanjang di papan ranjang.


"aku harus bagaimana menjelaskannya padamu, sayang?" tanya nya dengan lemah


"kau belum menjelaskan apa pun itu padaku!", sahutku sambil mengambil piyama yang terlempar ke lantai lalu ku gunakan lagi, "katakan semuanya! bagaimana kau bertemu dengan Jean, Jesi atau apapun itu rahasiamu!"


Yogi menggaruk kepalanya kasar dan gusar, "aku belum siap, tapi percayalah ini bukan soal perasaan ku terhadap Jean ataupun Jesi", Yogi beranjak lalu melingkarkan tangannya dari arah belakang, "hanya ada kau dalam hidupku, hanya dirimu tak ada yang lain"


aku melepaskan pelukannya lalu berbalik mendongak menatap wajahnya yang sedih, ku sentuh kedua pipinya dengan lembut dan menatapnya dalam dalam, "aku kecewa padamu, bagaimana hanya aku yang tidak mengetahui akan dirimu. aku merasa bahwa aku hanya sebatas mainan untukmu dan tak berarti bagimu sehingga kau tak cukup percaya untuk berbagi hal apapun mengenai dirimu. aku kecewa!"


"maaf", hanya kata itu yang terlontar dari mulut manisnya yang bergetar menahan kesedihan.


"baiklah!", aku segera meninggalkannya keruang baju ganti, buru buru mengganti pakaianku dengan rapi


"sayang, kau mau kemana?", tanya Yogi menatap penuh penyesalan padaku


"biarkan aku sendiri!", sahutku sebelum aku beranjak pergi meninggalkannya, meninggalkan rumahku.


****

__ADS_1


aku berjalan menyisiri setiap arah, tak tahu akan pergi kemana sementara pikiranku begitu tidak tenang.


kenapa aku merasa begitu tidak dihargai? aku merasa tak lagi dianggap olehnya. jadi bagaimana mungkin aku masih bisa melihat wajahnya.


dan kini aku mendengar dering panggilan telepon dari nomor asing kepadaku, tanpa curiga langsung ku angkat saja.


"hallo, siapa ya?"


"Nona manis, ini aku Dio. apa aku bisa bertemu denganmu?"


"ya, aku juga ingin menanyakan sesuatu padamu. kita bertemu di caffe dekat rumahku sebelumnya"


"baiklah Nona!"


lalu ku matikan sambungan teleponku.


banyak sekali yang ingin ku tanyakan.


****



****


di sebuah caffe


aku duduk dengan hati penuh was was serta menyiapkan hati untuk menjawab segala kegelisahan dalam hati.


"Nona, apa kau sudah menunggu lama?" tanya Dio sembari duduk didepanku dengan memakai topi hitam serta masker untuk menutupi dirinya


"tidak, aku baru saja sampai", sahutku berbohong pasalnya aku sudah duduk di tempat ini sudah satu jam lamanya.


"kau terlebih dahulu, kenapa ingin bertemu denganku?", tanyaku dengan tatapan tajam


Dio masih membalasku dengan senyuman mengejeknya yang kental, "aku ingin menjelaskanmu perihal kejadian malam itu bahwa sebenarnya kakakku dengan kak Jean sudah tidak ada hubungan apapun"


Nggg


"kenapa kau sekarang berubah haluan? apa yang sedang kau rencanakan?"


"ah Nona cepat tanggap ya?", Dio lagi lagi terkekeh membuatku semakin kesal, "aku hanya ingin menguji kalian saja karena temanku sepertinya sangat terobsesi denganmu"


"teman, teman, teman yang mana? kau selalu menyebutkannya, bahkan aku sendiri saja tidak kenal" teriakku kesal


"ha ha ha kau sangat mengenalnya Nona"


"ah itu tidak penting bagiku sekarang", ucapku kali ini serius, "aku ingin bertanya mengenai kakakmu itu, ceritakan semuanya padaku!"


"whoaaa", Dio tersenyum sambil menganga lalu menutup mulutnya yang sudah terbuka lebar, semakin membuatku merasa diejek. "kakakku belum menceritakan tentangnya kepadamu ya Nona, padahal kau itu adalah istrinya"


Dorr kata kata itu menghujam jantungku sangat keras hingga berhenti berdetak seketika, ku rasakan begitu sesak di dada.


"kau mau menceritakannya kepadaku atau bagaimana sih?", decakku kesal lalu aku beranjak dari dudukku, "kalau tidak mau aku pergi saja karena aku malas melihat wajah tengilmu"


"ha ha baiklah, baiklah Nona. aku akan menceritakan kepadamu", keputusan Dio membuatku lega


aku pun kembali kepada tempat dudukku yang semula.

__ADS_1


Dio kini mulai menceritakan kepadaku yang Ia tahu, kejadian semasa kecil yang menimpa Yogi hingga membuatnya trauma. lalu akhirnya bertemu dengan Jean yang menjadi temannya untuk mengobati masa traumanya dan menjadi penyemangat hidupnya.


"Yogi mengalami kejadian seperti apa hingga membuatnya trauma?"


"ah untuk itu, aku tidak bisa menjelaskannya kepadanya Nona"


"lalu kenapa Jean bisa berpisah dengan Yogi?"


"mereka sebenarnya belum benar benar berpisah, kak Jean pergi karena merasa diabaikan oleh kakak, karena kakak hanya sibuk dengan balas dendamnya kemudian dia berjanji akan menjaga Jesi untuknya"


ah jadi aku kini mengerti kenapa Yogi begitu melindungi keluarga Jean, sekalipun mereka berkhianat padanya.


sebegitu besarkah rasa cinta Yogi terhadap Jean?


apalagi aku mengetahui hal paling bodoh, selama denganku. aku ini hanya selingkuhannya saja. dasar!


kenapa kau begitu buta, Bela!


****


hari sudah mulai gelap, aku pulang dan masuk ke dalam kamarku dengan lesu letih tanpa semangat


"sayang, kenapa baru pulang? darimana saja kau seharian?" tanya Yogi sembari membantuku membuka mantel yang menempel di tubuhku.


"aku habis bertemu dengan seseorang" sahutku datar


"ah begitu, syukurlah yang penting kau dan bayi kita sehat sehat saja!", ucap Yogi sambil mengelus perutku.


"aku ingin tidur"


dengan sigap Yogi membuka selimut agar menyingkir dan menepuk ruang agar aku berbaring disana


"sayang, apa kau masih marah padaku", tanya Yogi yang masih aku punggungi


aku menghembuskan nafas kasar mencoba untuk memahami, aku pun berbalik untuk menatapnya


"aku ingin bertanya sesuatu padamu", aku tenggelam dalam pelukan didadanya yang bidang


"mau bertanya apa?"


"apa kau bahagia bersamaku?", tanyaku membuat Yogi tertawa lalu mencubit hidungku


"tentu sayang, malah aku akan mati rasanya jika kau meninggalkanku", Yogi memelukku lagi begitu erat dan hangat, "tadi aku sangat frustasi saat kau pergi tapi aku juga tidak ingin mengekangmu, ku mohon jangan meninggalkanku secara tiba tiba begitu lagi ya!"


aku mengangguk, "iya aku berjanji"


aku akan menunggumu menceritakan semua tentangmu dengan sabar


****


sesuatu yang tampak indah diluar, belum bagus didalam.


begitupun manusia yang tampak sempurna, padahal dia tengah menutupi semua kekurangannya


****


__ADS_1



__ADS_2