
Hari begitu cerah hingga menyilaukan mata jika memandangnya satu arah.
aku meletakkan bunga bunga yang sudah ku rangkai indah di pot pot toko ku, ku hirup bunga mekar merah yang jelas saja harumnya menyegarkan dan bisa menenangkan hati yang sedang gelisah, ini juga salah satu alasanku membuka toko bunga.
banyak yang datang untuk membeli bunga untuk orang terkasih bahkan untuk mengenang kepergian.
aku membuka toko ku sendirian, karena sepertinya Arumi datang cukup terlambat hari ini. toko ku tidak begitu ramai kecuali hari hari tertentu seperti akhir pekan yang selalu diluangkan untuk bersama orang terkasih dan biasanya mereka datang membeli bunga terlebih dahulu untuk diberikannya saat mereka berkencan.
"Nona Ella", sapa Arumi dari seberang jalan sembari melambaikan tangannya padaku
"hai", aku membalas lambaian tangannya
ku lihat dengan jelas senyum gembira tergambar di bibir Arumi, dan ternyata karena dia sedang membawa seorang Pria yang tengah berdiri disisinya.
samar samar aku menatapnya, dia juga membalas tatapanku hingga terpaku.
kenapa wajahnya tampak tak asing?
mereka mulai menyeberang jalan, melangkah mendekati ku yang tengah menunggunya didepan toko.
"Nona, perkenalkan dia Bima", ucap Arumi kemudian berbisik, "kekasihku"
"oh pria ini yang kau ceritakan", sahutku turut bahagia, "perkenalkan aku Ella", aku menjulurkan tanganku untuk bersalaman dengannya
tapi entah kenapa dia aneh, dia masih saja terpaku menatapku dengan mata nanar seolah tak percaya melihat ku didepan matanya.
telah lama aku menjulurkan tanganku hingga kesal rasanya, aku mulai mengembalikan tanganku agar lurus kembali pada posisinya tapi tanpa ku duga. Pria itu langsung datang memelukku
"Bela", ucapnya serak sambil memelukku erat
tentu aku mendorong tubuhnya agar menjauh, "maaf, saya Ella. kau mungkin salah orang!"
"tidak, kau itu adalah Bela temanku!" sahutnya tegas
"dia memang Bernama Nona Ella, bahkan Nona sudah memiliki tunangan", seka Arumi, dia tidak dapat memberitahu siapa sebenarnya tunanganku karena hubungan kami rahasia. Diki seorang Idol.
"tidak, tidak mungkin", ucapnya lalu memegang kedua sisi pundakku, "kau sangat mirip dengannya, aku juga begitu Yakin kau itu adalah Bela!"
kali ini sungguh aku menepis tangannya, "maaf tolong jaga sopan santun Anda, saya bukan orang yang Anda cari"
di tengah pembicaraan kami, ponselku tiba tiba berbunyi.
"maaf, saya harus mengangkat panggilan!", aku pun mengangkat panggilan dari seseorang tak lain adalah Diki,
"hallo", jawabku
"sayang, segera pulang aku sedang sakit!"
sontak aku langsung panik, "baiklah, aku akan segera pulang"
aku pun menutup panggilan teleponku.
"maaf saya harus pemit!", ucapku sambil membungkuk memberi hormat, "Arumi, jaga toko ya! kalau kau ingin berkencan, tidak apa apa langsung kau tutup saja"
"baik Nona!" sahut Arumi
aku ingin segera melangkah pergi tapi lagi lagi Bima memegang lenganku untuk menahanku pergi, "Bel, Yogi menunggumu!"
siapa lagi itu Yogi? ah, membuatku kesal saja
aku menepisnya kasar, "maaf saya harus pergi!"
__ADS_1
aku pun melangkah pergi, menaiki taksi yang terparkir di depan toko.
sepanjang perjalanan aku memutar kepalaku yang ku rasa mulai pening, "Yogi Yogi Yogi" kenapa nama itu lekat dalam ingatanku dan membuatku tersiksa.
arrghhh, kesal rasanya. aku tak dapat mengingat apapun.
****
kini aku sudah sampai dirumah, rumahku bersama Diki. aku segera melangkah cepat membuka pintu kamar.
tapi ku lihat Diki tak ada di kamar, ku coba menelusuri mencarinya di kamar mandi ataupun ruang ganti tapi Ia tak ada.
aku mencoba mengambil ponsel di tas kecilku untuk menghubungi Diki kembali, tapi..
suatu tangan kemudian melingkar di pinggangku, sesorang memelukku dari belakang membuat kaget.
"sayang", ucapnya tiba tiba membuagku kaget seketika
"astaga", aku mengelus dadaku pelan untuk menetralkan jantungku yang dag dig dug kencang, "kau membuat ku kaget!"
aku pun membalikkan badanku dan mendongak untuk menatap wajahnya yang tampan.
"katanya kau sakit?" tanyaku, yang justru malah di tanggap senyum olehnya
"aku hanya bercanda", bisiknya ditelingaku
"ih kau menyebalkan ya", aku mencubit kedua pipinya yang menggemaskan hingga dia mengaduh kesakitan yang dibuat buat
"aku rindu, tetaplah disini menemaniku!", ucapnya sambil menenggelamkan wajahnya dilekuk leher serta bahuku, "besok aku ada jadwal syuting di Maroco selama sepekan, jadi hari ini boleh ya aku menghabiskan waktuku seharian denganmu?"
"baiklah", aku mengelus kepalanya yang bersandar, "kau belum sarapan kan? yukk kita makan sambil mengobrol"
"oke!" sahut Diki sambil tersenyum padaku
****
"oh ya, tadi aku bertemu dengan pria yang aneh"
"benarkah? dimana?", tanya Diki masih dalam kunyahannya
aku mengangguk membenarkan perkataanku, "di toko, dia aneh sekali tapi.."
aku ingin menceritakan semua, tapi aku takut Diki akan cemas kepadaku apalagi Pria itu sampai memelukku seperti itu. hal itu akan membuat Diki marah besar, aku takut kejadian tahun lalu terjadi lagi mengingat bahwa Pria itu adalah kekasih Arumi.
"tapi kenapa?" tanyanya saat aku tidak meneruskan pembicaraanku
"tapi dia membeli bunga kirisan untuk dibawa pulang, membuatnya begitu aneh", sahutku berbohong sambil tertawa tawar yang dibuat buat
"ah begitu, aku kira pria yang akan macam macam lagi terhadapmu"
"he he tidak"
aku ingat jelas tahun lalu ada dua orang pria yang menggangguku kemudian tanpa enggan Diki langsung menghajarnya tanpa memperdulikan status ke artisan yang dia sandang hingga membuat media sangat heboh, dan aku tidak mau itu terjadi lagi.
****
aku mengantar tunanganku ke bandara walau hanya sampai di persimpangan jalan karena para awak media sudah menyambutnya ketika Ia keluar dari dalam mobil.
"aku berangkat dulu!" ucap Diki mengecup bibirku sekilas lalu mengelus pipiku dengan ibu jarinya, "jaga kesehatan dengan baik dan selalu menghubungiku tiap dua jam sekali!"
aku hanya bisa mengangguk meng iya kan saja, "baik, kau juga kaga kesehatanmu! "
"setelah aku kembali, kita akan pergi untuk berlibur, bagaimana?"
__ADS_1
aku mengangguk senang, "sepertinya akan menyenangkan"
"baiklah kalau begitu aku berangkat dulu!", ucap Diki sebelum pergi dan mengecup keningku.
Ia pria hangat bagiku, mau menungguku. walau aku sempat ragu akan semua ceritanya kepadaku tapi kini aku yakin kenapa aku dulu bisa jatuh cinta kepadanya, dia pria yang sangat baik.
****
****
Kini hari sudah sampai kepermukaan, aku berjalan kaki untuk pulang sekaligus ke toko bunga.
dari kejauhan diseberang jalan aku bertemu lagi dengan seorang pria yang lebih Aneh.
dia tidak mengedipkan pandangannya kepadaku, membuatku malu sendiri dibuatnya.
ketika rambu rambu sudah menyala untuk pejalan kiki, aku pun melangkah semakin mendekatinya yang kaku menatapku di depan toko bungaku.
ketika aku berjalan melewatinya, jemarinya bergerak cepat menarikku hingga membuatku berputar dan jatuh ke dalam dadanya yang bidang.
ke anehan nya juga bukan hanya disitu, Ia melebarkan pandangannya di wajahnya yang pucat pasi seakan tak bernyawa, genangan air matanya jatuh menetes tanpa harus mengedipkan matanya untuk menatap pilu kepadaku. entah kenapa aku ikut terpaku di hadapannya, menatap matanya dalam seakan membawaku hanyut kedalamnya.
"sayang", ucapnya lalu memeluk tubuhku tanpa permisi
aku memundurkan diriku untuk melepas pelukannya tapi Ia malah menarik tubuhku kembali untuk menempel padanya,
aku ingin memprotes tapi entah kenapa mulutku tak mampu bersuara ketika Isak tangis yang Ia keluarkan dari mulut manisnya yang merah nan pecah membuatku Iba.
kenapa laki laki ini datang memelukku dan menagis kepadaku? dan juga kenapa jantung ini mulai berdetak lebih kencang juga sesak, apa karena aku iba?
telah lama aku diam berdiri membiarkan Pria asing ini memelukku serta menangis, menenggelamkan wajahnya diantara lekukan leher serta bahuku.
apa aku sudah tidak waras karena membiarkan nya?
jemariku yang semula kaku, ku angkat perlahan untuk menepuk punggungnya yang lebar, "Tuan, bisakah kau melepas pelukanmu?" ucapku penuh ke hati hatian.
bukannya melepasku dia semakin mengeratkan pelukannya padaku.
"ada sebuah cerita", ucapnya serak, entah apa yang mau Ia bicarakan tapi aku hanya akan mendengarkan tanpa menyanggah, "dimana wanita yang aku cintai datang membuka pintu untukku lalu aku menciumnya", jemarinya mengelus punggung, "sebuah cerita dimana aku memeluknya dan berdansa, menghabiskan malam bersama. Setiap hariku menghabiskan waktu seperti itu bersamanya"
apa yang dia maksud adalah kekasihnya?
"dan jika kau hanya mimpi, biarkan aku tenggelam tanpa membuka mata, aku tidak ingin bangun dan kau pergi lagi", ucapnya masih serak dengan Isak tangis yang dimana air matanya mulai ku rasa membanjiri baju di bahuku.
aku mencoba memundurkan dari diriku untuk lepas dari pelukannya, tapi lagi lagi dia menahanku, "biarkan aku bermimpi lebih lama lagi, lebih lama memelukmu seperti ini"
apa dia sedang patah hati?
aku semula kaku, ikut menenangkannya lalu menepuk punggungnya untuk menguatkannya.
"apa kau sedang patah hati?" tanyaku ketika Ia melepas pelukannya dan menatap dalam kepadaku.
dan Pria ini begitu aneh, dia tertawa, terkekeh mendengar pertanyaanku dan juga terisak saat setelah menatapku lagi.
ah, kenapa jantungku berdetak begitu kencang.
****
jika kau mencintainya, jantungmu tak akan berhenti berdetak kencang untuknya
****
__ADS_1