
musim gugur telah berlalu, sekarang sudah memasuki musim dingin dan mulai turun salju.
aku menyukai saat musim salju pertama turun.
entah aku menyukai atau bukan, ku rasa sesak nan perih di hati. saat aku menjulurkan tanganku dan salju mulai menyentuh dan menerpa anggota tubuhku, saat itulah aku merasakan akan hal yang tak pernah ku ingat.
entah siapa yang aku rindukan, entah siapa yang merindukanku.
kadang air mataku jatuh menetes tanpa ku sadari dikala aku tengah menikmati salju yang menerpa tubuhku.
musim salju ku rindukan tetapi hatiku begitu terasa sakit ketika menikmati salju, begitu bertolak belakang.
aku merasa bahwa ada seseorang jauh entah dimana, dia sedang menungguku.
siapa orang yang telah aku lupakan?
****
"Nona Ella, udara sangat dingin. kau tidak mau masuk kedalam?"
orang yang memanggilku barusan adalah Arumi, dia pegawai sementara di toko ku, toko bunga sederhana. aku mengelolanya sendiri.
"ya, sebentar lagi!" sahuku, kemudian melangkah masuk ke dalam toko bunga sekaligus rumah yang aku tinggali jika kekasihku tak ada.
aku duduk berdua dengan Arumi sambil memotong dan memilah bunga untuk rangkai.
"oh ya, besok pagi kan acara pertunangan Nona, tapi aku tidak bisa datang karena harus menjemput kekasih ku di Bandara", ucap Arumi sedih sambil menebalkan bibir bawahnya, "maaf?"
"tidak apa apa kok, ini hanya acara peresmian sederhana saja", sahutku sambil memotong bunga untuk dihias.
"mmm", pikir Arumi ingin bertanya padaku lebih tapi dia sungkan, aku tahu itu.
"tanyakanlah!", ucapku menebak
"kenapa hubungan Nona dirahasiakan? bukankah Tuan Diki adalah Idol terkenal, dan sejauh ini aku lihat, Tuan sangat mencintai Nona"
aku hanya bisa tersenyum membalasnya, "karena itulah kita merahasiakannya, saat kita resmi menikah nanti baru kita akan mengumumkannya pada media"
"tapi..?"
"tapi apa?" tanyaku
"apakah Nona mencintai Tuan Diki?"
"kenapa kau bertanya hal itu?", aku bertanya balik padanya, karena sebetulnya aku juga bingung akan perasaanku sendiri.
"karena Nona tidak terlihat sedang berbahagia, dan juga setiap tahun aku selalu melihat Nona bersedih saat musim salju tiba, apa Nona mengingat sesuatu?"
"bukan seperti itu, aku juga tidak mengerti", aku menghembuskan nafas panjang, pertanyaan itu terasa mengusik, "kau bertanya apa aku mencintai Diki? entahlah, aku hanya tidak mengerti apa yang sudah aku lalui dan lewati selama ini. setelah aku kehilangan ingatanku, aku seperti kehilangan sesuatu yang berharga di hidupku", aku mengusap rambutku kasar berantakan, "rasanya aku ingin menertawai diriku sendiri"
sudah empat tahun lamanya aku merasa hampa, semenjak kejadian yang merenggut bayi dalam rahimku. aku tahu semua, saat sadar Diki menemaniku, memelukku dalam dekapannya.
Dia mengatakan bahwa anak kita berdua tiada karena sebuah kecelakaan tunggal akibat kecerobohanku sendiri hingga membuatku kehilangan ingatan penuh dan juga merenggut nyawa yang tak berdosa.
sempat aku kehilangan kendali dan ingin melukai dirisendiri karena takut akan dunia luar yang terasa asing, tapi ketika Diki datang, aku merasakan hal beda. setidaknya aku lega telah mengenalnya.
Dia mengatakan bahwa kita saling mencinta, tapi kenapa hanya hampa yang aku rasa?
"Nona, sepertinya aku akan menghadiri pertunanganmu besok", ucap Arumi tiba tiba
"kau tadi bilang tidak bisa", aku mengernyitkan kening, "apa kekasihmu tidak jadi datang?"
__ADS_1
"ah bukan begitu, dia baru saja mengirimi ku pesan bahwa jadwal terbangnya dia rubah karena sepertinya dia sudah menemukan sesuatu"
"sesuatu?" tanyaku mengulang, "tentang temannya yang hilang itu?"
"iya, Nona benar", Arumi mengangguk, "aku sangat iri pada temannya itu, kekasihku tanpa lelah terus memikirkan dan mencarinya sampai sampai dia mengabaikanku", terdengar nada kecewa dari ucapannya
"itu artinya kekasihmu adalah pria yang baik", ucapku menyenangkannya
"he he iya Nona benar, dia memang adalah pria yang baik juga sangat tampan, tidak kalah dari Tuan Diki"
"benarkah?"
"iya benar, nanti jika dia sudah kembali. aku akan mengenalkannya pada Nona"
"ah, baiklah, kau harus membawanya kesini!"
sekilas aku melihat kesedihan diraut wajah Arumi.
"kau kenapa bersedih?", tanyaku mengelus pundak Arumi
"aku hanya kepikiran mengenai suami temannya itu", ucap nya sambil menyapu air mata yang membasahi pipinya, "dia sangat bersedih kehilangan istrinya"
"apa dia juga belum menemukan kabar dimana istrinya berada?"
Arumi menggelengkan kepala, "belum", ucapnya mengahapus tetesan air matanya lagi seakan ikut merasakan kesedihannya, "mereka saling mencintai tapi kenapa mereka harus di pisahkan secara tragis?"
Deg!! dadaku rasanya sesak
"suaminya masih terus mencari istrinya itu tanpa lelah hingga tidak memikirkan kondisi kesehatannya sendiri"
Deg!!
"aku tidak bisa membayangkan betapa menderitanya dia selama bertahun tahun mencari istrinya dan terus berharap penuh rasa was was"
Deg!!
Deg!!
mendengar cerita Arumi aku tidak dapat berkata apa apa, aku mengelus dadaku yang terasa sesak dan perih setiap dia melontarkan kata kata penuh penekanan.
"Argggghh" aku menekan dadaku yang sesak, hingga membuat Arumi panik melihatku mengaduh kesakitan
"Nona Ella, kau kenapa? apa sebaiknya kita kerumah sakit saja?", tanya Arumi panik
aku menggelengkan kepala, "tidak, aku tidak apa apa", sahut ku sembari menahan sesak.
kenapa mendengar cerita Arumi membuat jantungku seakan terhujam oleh pedang, sakit nan menusuk?
****
setiap malam hanya lamunan yang menjadi topanganku selama ini, melihat pemandangan sekitar dari jendela kamar dan juga menghirup udara malam yang menyejukkan.
hah, aku menghembuskan nafas kasar, serasa begitu sesak.
"sayang?" sapa Diki lalu memelukku dari belakang, menenggelamkan kepalanya diantara lekukan leherku, "kau sedang apa disini?"
"aku hanya menikmati angin malam saja", sahutku lalu Diki membalikkan tubuhku agar menatap penuh kepadanya yang berbinar.
"angin malam tidak baik bagi tubuhmu", jemarinya bergerak membelai rambutku, "kita tutup saja jendelanya lalu beristirahat, besok kita akan saling mengikat"
"ah ya kau benar!", jawabku memaksa senyum melepas semua lamunan, kemudian menutup jendela rapat sebelum kembali merebahkan tubuhku di atas kasur.
Diki menarik lenganku, merapatkan tubuhku dalam dekapannya dan tanpa ku sangka dia mulai melayangkan bibirnya ke bibirku hingga bertemu, dia menyentuh bibirku dengan lembut tanpa ku balas, menyesapnya begitu lama hingga sentuhan itu berubah menjadi sebuah lumatan kasar lalu menggiringku untuk berbaring diatas ranjang tanpa mau melepas pagutannya,
__ADS_1
"jangan begini!", ucapku ketika Diki mencoba mendapati tubuhku lebih.
tapi, Ia telah berbaring diatasku, memposisikan dirinya dengan pas diatas tubuhku yang masih tertutup gaun utuh.
jemarinya mulai bergerak masuk mengelus paha mulus dan menarik nya agar melingkar di pinggangnya yang kokoh.
lumatan itu masih berlangsung dan kemudian dia beralih mengecup setiap sisi leherku hingga membuatku menggeliat tak tahan.
"mari kita bercinta, sayang!", bisiknya ditelingaku kemudian.
tapi dengan tegas aku menjawab, "tidak!", akupun memundurkan badanku, "kita sudah berjanji bahwa kita akan melakukannya ketika ingatanku sudah kembali"
"arrrgghhhh", Diki menjambak rambutnya kasar merasa frustasi
"maaf"
hanya kata itu yang mampu ku lontar, karena aku sendiri tak yakin pada perasaanku. aku juga merasa bersalah padanya karena bertahun tahun dia bersabar akan keputusanku.
"aku akan menunggumu", ucap Diki lalu mengecup keningku
Diki adalah pria baik, aku harus membalas budi kepadanya.
****
****
Kini hari itu sudah tiba, aku mengikat janji dalam pertunangan dengan Diki.
acara kita hanya dihadiri oleh beberapa tamu dan teman baik Diki, dan juga Ibu Diki.
aku berdiri berhadapan dengan Diki yang tengah berdiri di depanku, menatapku dengan mata berbinar penuh kebahagiaan. Ia memakai setelah jas yang dirancang khusus oleh designer hingga sangat pas bagi tubuhnya yang proporsional, pantas saja dia menjadi Idol karena memang dia memiliki wajah begitu tampan.
kita pun saling menukar cincin pada jari manis masing masing, hingga kemudian mendapat tepuk tangan yang meriah dari tamu undangan yang hadir.
"selamat atas pertunangan kalian, Ella dan Diki", ucap Pria cantik yang tak lain Dio teman dari tunanganku, Diki.
"terimakasih ucapan selamatnya"
"Nona, apa aku boleh meminjam tunanganmu sebentar?" tanya Dio sembari menggodaku
"boleh", jawabku malu
Dio dan Diki pun pergi meninggalkanku, entah apa yang sedang meraka bicarakan. aku tidak begitu peduli.
aku hanya bisa terpaku menatap benda yang sudah melingkar di jari manisku, aku mengikat janji.
bukankah kita saling mencintai? bukankah ini adalah hari bahagia untukku? tapi mengapa, perasaanku sangat perih.
aku mengusap dadaku lembut, mencoba menenangkan perasaanku yang tak karuan karena tak lagi pada tempatnya. orang orang tidak boleh melihat kesedihan diraut wajahku.
****
Hari ini aku mulai membuka toko bunga ku lagi, tapi sepertinya Arumi datang telat hari ini. aku pun mulai menata serta merapikan bunga bunga yang terpajang di depan toko.
"Nona Ella", sapa Arumi diseberang jalan dengan seorang Pria sambil melambaikan tangan padaku dengan gembira.
ya, pasti dia sangat bahagia karena bisa berjumpa kembali dengan kekasihnya.
"Bela", ucap pria itu tanpa sadar menatap kaku kepadaku
****
__ADS_1