AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI

AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI
Keputusan Hati


__ADS_3


aku gugup, terasa berat langkah ku untuk melangkah. Halaman rumah ini, taman rumah ini, bahkan ruangan yang ada dirumah ini yang pernah aku tinggali, masih tetap sama, tidak banyak berubah.


di bawah pohon besar dibelakang rumah, aku dan Bima biasa banyak menghabiskan waktu bersama semasa kecil kami dulu, membagi waktu dan cerita bersama, juga orang tua Bima memperlakukan aku sama sepeti menyayangi anak nya sendiri, jika kami sama terlukanya maka tante akan lebih memilih dan mengurusku dibandingkan dengan anak nya sendiri, Bima.


dan sekarang, aku kembali ke rumah ini sebagai tamu, dari anak tunggal nya dan untuk mendampingi nya.


Bima memegang erat jemariku hingga terjalin, memberikan aku senyuman ter manis nya untuk membuat ku lebih tenang, huuufff


"silahkan masuk Tuan, Nyonya sedang ada di meja makan untuk makan malam", ucap pelayan senior sambil membungkuk kan badannya memberi hormat


kita pun melangkah masuk, ku lihat tante dari belankang tengah asik tertawa dan mengobrol dengan seseorang sebegitu gembira nya.


"selamat malam mama", ucap Bima, dan kita membungkuk kan badan memberi hormat, "malam tante" sambung ku.


tapi seseorang yang aku kenal tengah muncul di balik tubuh tante yang menghalangi pandangan, "Bela, kau kesini juga?"


"Niken?", ucapku sembari bertanya


bagaimana bisa dia ada disini?


"ah kalian berdua sudah saling mengenal rupa nya", ucap tante sambil melirik tangan kita yang saling bersentuhan dengan ekspresi masam "mari duduk, kita makan malam bersama",


lalu Bima menarik dan mempersilahkan sebuah kursi untuk aku duduki sehingga membuat Niken menyumbingkan bibir nya, aku pun duduk bersebelah dengan Bima.


diambilnya sebuah beef steak oleh Bima dan di iris tipis cepat oleh nya lalu menukar nya dengan beef steak yang ada di depan ku, agar aku makan dengan mudah hingga tidak perlu repot repot mengiris, "makanlah, Bela!"


sungguh dia sangat manis sekali


"Bela, bagaimana kuliah mu?" tanya Tante dengan senyum yang menghangatkan hati ku,


"lancar Tante, saya akan segera memasuki semester akhir tahun depan", jawab ku tersenyum


"baguslah jika kuliah mu baik baik saja, kau memang anak rajin dan baik, Bela!", ucap tante membuatku tersenyum bahagia, "oh ya, Tante berencana akan memindahkan Bima kuliah di Monaco dan Niken akan ikut bersama nya", sambungnya membuat ku kaget di buatnya,


Niken terlihat melebarkan senyumnya dan sedikit meledekku dengan ekspresi sinis di wajahnya


"maaf ma, aku tidak mau, kenapa mama tidak membicarakan hal ini terlebih dahulu kepadaku?", sahut Bima kesal


"Bima, ini kan semua demi kebaikan mu sebagai penerus tunggal agar kamu bisa mendalami ilmu bisnismu, ini semua demi mendiang ayah mu", ucap tante dengan nada lemah nan pilu membuat Bima ikut sedih dibuatnya, "kau hanya perlu menempuh pendidikan selama dua tahun disana"


"tidak bisakah aku melanjutkan pendidikan ku disini saja, ma? dua tahun bagi ku lama", suara Bima lemah, "aku tidak bisa meninggalkan Bela" sambung nya, membuat Tante membelalak kaget


"apa maksud mu, Bima?", tanya Tante sambil melirik dingin kepada ku, terlihat kemarahan tergembar di wajah nya


"sebetulnya aku membawa Bela kesini bukan sebagai teman main semasa kecil, tetapi sebagai kekasihku", jawab Bima tegas sambil menggerakkan jemari nya untuk menggenggam jemariku


"apa kau serius, Bima? mama tidak menyetujuinya", sahut Tante dengan dingin

__ADS_1


"bukankah mama juga menyayangi Bela? aku akan menikahinya", sahut Bima tegas tanpa memperdulikan ekspresi Tante yang mulai memanas, aku pun juga terkejut


entah aku harus bahagia atau tidak mendengar Bima serius ingin bersamaku


mendengar ucapan Bima, Tente beranjak dari tempat duduk nya dan menepuk keras meja makan yang terbuat dari marmer kuning ke emasan dengan emosi yang memuncak, "Bima, bukan kah kamu tahu bahwa mama telah menjodohkan mu dengan Niken, kenapa kau sekarang melawan?"


apa?? perjodohan?? kenapa Bima tidak menceritakannya kepadaku? ini membuat ku semakin ter pojok


Niken juga beranjak dari tempat duduknya dan merangkul tangan Tante dengan lembut, "Tante tenanglah jangan emosi, Bima mungkin hanya marah saja karena tidak mau pindah dari sini", ucap Niken mencoba menenangkan


tapi Bima langsung saja menyangkalnya, dan tak kalah emosinya, "tidak, ini bukan karena aku sedang marah tapi aku benar benar menyukai Bela"


"tidak Tante, Bima mungkin hanya bercanda, nanti aku akan berbicara kepada Bima ya?", sahut Niken mengelak agar Tante tidak mendengar nya


Nafas tak teratur dan kemurkaan masih terlihat jelas di wajah Tante yang sedang menopang tubuhnya dengan satu tangan di sisi meja, satunya menahan ledakan kemarahan di dada nya


tanpa permisi Bima langsung menarik tangan ku menuntun ku untuk berdiri, lalu menarik tubuh ku agar menempel dengan tubuh nya


entah apa yang akan di lakukan nya kali ini


Bima langsung melumat Bibir ku di hadapan mama nya dan Niken, menunjukkan bahwa ia serius dengan ku dan menentang keputusan mama nya, dia sungguh nekat


aku merasakan sentuhan di bibir nya begitu lembut sehingga aku tidak bisa menahan mata ku untuk terpejam menikmati nya,


lumatan itu bertahan lama, tidak memperdulikan Tante dan Niken yang pergi karena kemarahan.


akhirnya Bima melepaskan ciuman lembut nya, dan jemarinya mengusap bibir ku yang basah di buat nya lalu menempelkan jemarinya kesisi pipi ku


"Bela, maafkan mama ku?", ucap Bima dengan mata nanar, "aku tidak tahu jika akan seperti ini, dan tentang perjodohan itu, aku akan menjelasakan nya nanti"


aku membelai rambut nya dan mengusap pipi nya yang tengah bersedih dan menyesal, takut akan membuat ku kecewa "sayang, aku tidak apa apa, aku berterimakasih karena kau sudah memperjuangkan aku", sahut ku tersenyum lembut


Bima langsung menenggelamkan kepalanya di lekukan leher ku, memeluk ku dengan erat, "aku mencintai mu, Bela"


"aku juga"


****



****


"Bima, apa kau sungguh tidak akan menyesal memilih ku?", ucapku seraya bertanya kepada pemuda tampan yang tengah bertatapan muka dengan ku


"untuk apa aku menyesal? kebahagiaanku jauh di dalam hati ku dan kau pun ada di dalam nya, aku tidak akan bahagia jika tidak bersama mu", jawab Bima sambil mengambil jemariku dan menempelkan nya dibibir nya yang manis


sungguh aku melihat nya dengan bahagia tetapi didalam hatiku, aku bersedih, sampai saat ini pun aku belum jujur terhadap nya


"apa yang membuat mu tampak bersedih, Bela?", tanya Bima dengan lembut, menatap ku penuh arti sehingga tatapan mata nya menusuk hati ku dan terasa perih

__ADS_1


"aku takut kau meninggalkan ku, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika kau pergi meninggalkan aku lalu membenci ku", bayangan itu membuatku tidak tahan untuk mengeluarkan air mata, begitu saja keluar mengikuti suara hati ku yang tengah sesak


jemari nya menyeka air mata ku yang menetes, "aku berjanji tidak akan meninggalkan mu, tidak akan pernah sekalipun"


mendengar nya sedikit membuat ku lega, "aku mempercayai mu", ucap ku sambil memeluk Bima erat


apakah jika tidak bisa bersama, kita masih bisa menjadi teman untuk berbagi??


****


aku berbaring si tempat tidur, merebahkan tubuh ku yang lelah di empuk nya kasur yang luas


apa yang sedang aku pikirkan, tubuh ku bergerak ke arah sebuah ruangan yang biasa aku jadikan sebagai perpustakaan mini di rumah ku.


ku buka pintu dengan hati was was, aku menatap sebuah sofa yang tidak jauh dari rak buku yang tertata seakan aku melihat Yogi yang sedang tertidur di bahu ku, begitu tenang di dalam nya.


aku mengingatnya


ku lihat lagi ke arah rak, aku pun juga seakan melihat Yogi yang tengah berdiri di belakang ku, membantu ku mengambil buku yang tak bisa ku jangkau.


aku mengingatnya


ku kuatkan hati ku melangkah masuk, masuk lagi ke dalam ruangan yang begitu banyak kenangan tentang nya, dimana saat kita bercanda gurau dan menjalin kasih,


aku menarik sebuah laci dengan pelan, lalu aku mengambil sebuah kotak, didalamnya berisi cincin pasangan dan kalung pemberian Yogi, "cincin ini sederhana tapi memiliki banyak arti"


air mataku jatuh tak tertahan, menggenggam pemberian Yogi dan mendekatkan ke dadaku yang ingin meledak tak tertahan


aku harus mengembalikan nya, bukan kah seharusnya kita berpisah dengan cara yang baik?


aku memberanikan diri mengambil ponsel ku dan memanggil Yogi,


"Hallo sayang", jawab Yogi diseberang


"aku ingin bertemu", jawab ku serak


"sayang, datanglah ke apartemen ku, aku menyambut mu!", jawab Yogi masih dengan suara lembut nya, langsung aku mematikan panggilan ku dan memberanikan diri untuk menemui nya


aku akan menemui nya untuk terakhir kali, aku akan melupakan nya


****


Cinta adalah saat kamu memberikan separuh dirimu pada orang lain. Dan tempat yang kosong itu kamu isi dengan separuh dari orang itu


****



__ADS_1


__ADS_2