
aku duduk dengan badan sigap di depan cermin, mencoba tenang, melihat wajah ku yang mulai aku poles, aku warnai agar segar dan terlihat lebih menarik.
hari ini aku harus menghadiri pesta pertunangan Yogi, mantan kekasih ku
aku mengajak Sindi untuk datang ke pesta bersama ku, karena sampai saat ini Bima belum juga tidak ada kabar.
aku melangkah kan kaki ku me masuki gedung pesta pertunangan mantan kekasih ku, Yogi.
"Bela, apa kau baik baik saja?", tanya Sindi mencemaskan ku karena terlihat jelas di raut wajah ku yang gugup dan sayu,
aku mengangguk kan kepala, dan menarik nafasku dalam dalam untuk menenangkan pikiran sebelum ku lanjut kan langkah ku memasuki gedung.
banyak tamu tamu penting berdatangan, di sambut dengan karpet merah yang melambangkan status tinggi, tepat tak jauh dari pintu masuk penyambutan, aku melihat Yogi dengan jelas
Yogi memakai setelah jas warna biru gelap di padukan dengan celana warna abu abu sehingga memberi kesan formal juga stylish, yang sangat pas dengan postur tubuh nya yang proporsional, seperti memang sudah dirancang khusus untuk nya, dia sangat tampan
entah kenapa aku mempunyai pikiran bahwa seharus nya aku yang tengah berdiri berdampingan dengan Yogi, memakai gaun mewah dan tak kalah cantik nya
membuat ku frustasi melihat mereka begitu serasi nya
entah kenapa hati ku begitu pilu, aku belum berani datang kepada nya untuk mengucapkan selamat atas pertunangan nya tapi aku harus menahan nya,
aku melangkah kan kaki ku yang berat kepada nya, "Yogi" sapaku memberi senyuman manis yang aku paksakan, "selamat atas pertunangan kalian"
hal yang paling memalukan adalah bahwa aku gugup, jantungku berdebar kencang serta tangan ku sedikit gemetar hingga aku menghindari untuk berjabat tangan dengan nya, inikah yang kalian rasakan jika datang ke pesta mantan kekasih?
Yogi yang menyadari nya langsung mengambil jemariku dengan paksa dan mendekatkan bibirnya ke sisi pipi ku, begitu dekat, "sayang, kemana kekasih mu itu, kenapa ia tidak datang bersama mu?", tanya nya berbisik menusuk seakan sedang mengejek ku, tapi tatapan nya begitu tajam penuh kemarahan, aku tidak mengerti
dan tentu saja aku harus berbohong, "dia ada urusan penting, jadi maaf dia tidak dapat datang kesini menemani ku", jawabku tertawa malu
"aku akan mengawasi mu!", ucap Yogi berbisik, dengan enteng nya dia berkata seperti itu apalagi calon yang akan di resmikan nya berdiri tak jauh dari nya dan sesekali melirik jahat ke arah ku, aku terpojok
aku tidak bisa menolak nya seperti hari biasa, aku hanya bisa diam dan mengindah kan apa yang akan dia katakan.
kemudian aku dan Sindi kembali berdiri dekat meja Bar mini, sesekali aku mengecek ponsel ku untuk melihat Bima apakah menghubungi ku tapi ternyata tidak, bahkan tidak sama sekali
"Bela, lihat siapa yang datang!", Sindi menunjuk ke dalam kerumunan orang yang tiba tiba memberi ruang untuk berjalan layak nya membelah lautan untuk di sebrangi
terlihat beberapa pengawal berkacamata hitam dengan earphone yang menempel di telinganya untuk saling terhubung dengan yang lain, sedang berdiri tegap mengawal tuan nya yang sedang berjalan
samar samar ku lihat dari jauh karena terhalang badan para pengawal nya yang begitu tinggi besar, tapi saat ia menaiki anak tangga dan memberi ucapan selamat kepada Yogi dan Jesi, betapa kaget aku di buat nya
Bima??
__ADS_1
Bima tidak datang sendirian tapi dengan Niken yang sedang menggandeng tangan nya dengan begitu percaya diri,
ingin sekali aku langsung pergi tidak ingin bertemu apalagi jika berpapasan wajah dengan nya, tapi aku harus tetap berada disini sampai acara tukar cincin nya selesai, aku harus mengontrol emosiku
selama beberapa hari ia menghilang, tapi tiba tiba datang dengan wanita lain?
"Bel, bukankah itu Bima, kenapa dia dengan Niken?", tanya Sindi yang tak kalah kaget nya dengan ku, bagaimana aku menjelaskan nya, aku hanya mampu terdiam menahan emosi ku, "Bel, aku tinggal dulu!", ucap Sindi lalu pergi mengobrol dengan teman pria nya
ku ambil gelas berisi anggur lalu langsung saja aku meminumnya dalam seteguk, rasanya pahit tapi setelah beberapa kali meminum nya berubah menjadi rasa manis di lidah ku dan menjadi candu, aku ingin meneguk nya kembali tapi ada tangan merampas nya dari genggaman ku yang mulai rapuh, "Bela, kenapa kau begitu banyak minum anggur?", tanya sesorang yang sedikit kabur dari pandangan ku
"Bima?", seraya bertanya, "untuk apa kau kemari, pergi sana! temani saja perempuan mu itu", ucapku dengan nada tinggi membuat beberapa orang menoleh kearah ku yang setengah sadar
"Bela, kau mabuk, biar aku mengantar mu pulang!", ucap Bima sambil mencoba merangkul ku tapi aku tolak,
"tidak, aku masih sadar dan tahan, sebentar lagi acaranya akan di mulai", ucapku kesal
dan tiba saat nya dimana acara resmi nya di mulai, Yogi berdiri berhadapan dengan Jesi yang sedang memakai gaun putih nan cantik, begitu cantik sampai aku pun terpukau oleh kecantikan nya
tibalah seseorang di antara mereka memberikan kotak berisi sebuah cincin untuk di tukarkan, Jesi mengambil jemari Yogi tanpa ragu langsung memasukkan cincin yang ia pegang ke jari manis milik Yogi
sedangkan Yogi masih menunduk diam, dengan ragu mengambil di sebuah kotak untuk di tukarkan, ia menggenggam nya dan kembali memandangi cincin yang barusan ia pegang, aku membelalak kaget ketika Yogi menatap kearah ku dengan ekspresi kesedihan di mata nya, tanpa berkedip ia hanya memandangi ku, mengabaikan orang orang yang tengah memperhatikan nya sampai Jesi pun tak sabar untuk segera memakai cincin yang ia pegang, "Yogi", ucap Jesi berbisik memberi aba aba agar ia tersadar tapi tetap saja ia tidak menghiraukan nya
kita pun saling bertatapan, air mata jatuh tak terasa membasahi pipiku, hati ku begitu sakit, terasa di iris, kini aku tidak sanggup lagi menatap nya
Yogi akhirnya mengakhiri pandangan nya terhadap ku dan segera memakaikan cincin ke jari manis milik Jesi,
kita hanya perlu menunggu tanggal pernikahan nya
"Bela, hentikan, kau tidak boleh minum terlalu banyak!", ucap Bima memerintah, merampas minuman yang sudah aku tuang
"apa sih peduli mu, Bim?", aku masih kesal kepada nya
"Bela, ini tidak seperti yang kau pikirkan, aku akan memperjuangkan mu", ucap Bima tegas, ingin menyakinkan ku, aku pun percaya tapi bukan karena dia aku jadi begini
ada perasaan begitu menyiksa, begitu sakit di dalam sana, hatiku
tiba tiba Niken datang lalu melingkarkan tangan nya di lengan Bima, "Bima, kau harus menemani ku menemui teman ku!", ucap Niken dengan suara manja, justru di tolak keras oleh Bima
aku hanya bisa tertawa melihat nasibku sekarang, aku mengambil botol anggur, menuang nya kedalam gelas lalu meneguk nya kembali hingga kepala ku yang berat terasa sangat ringan
"Bela, kau mabuk, sebaiknya kau pulang biar supirku mengantarkan mu", Bima merangkul ku ingin membantuku berjalan yang sudah sempoyongan
dengan tegas aku menepisnya dengan kasar, "aku bisa sendiri, kau tidak usah pedulikan aku",
kemudian aku berjalan sempoyongan karena kehilangan keseimbangan, begitu samar dan terasa pening, aku langsung saja masuk ke dalam mobil yang berhenti tepat di depan ku.
__ADS_1
aku memejamkan mataku, terasa lelah dan mengantuk tapi tiba tiba mobil sudah berhenti karena kau yakin kalau jarak antara rumah ku dan gedung cukup jauh, "ada apa pak?", tanyaku serak
supir didepan tidak menjawab, langsung saja membuka pintu belakang lalu menggendongku, aku panik di buatnya tapi setelah jelas karena bisa melihat dari jarak dekat, aku menjadi kaget, "Yogi, kau mau membawa ku kemana?"
Yogi marah, tidak menjawabku, dia terus saja berjalan sambil menggendong ku memasuki lift dan sampai ke dalam apartemen nya, "kau duduklah disini sebentar"
aku hanya duduk terdiam menahan gejolak tak enak di perutku, "ini lekas minumlah untuk mengobati hangover mu!", suruh Yogi tak bisa dibantah, aku langsung saja meminumnya
perutku menjadi sedikit lega tetapi kepala nya masih sedikit pusing, "kau... kenapa kau disini?" tanya ku memecah keheningan, "bukan kah seharusnya kau tinggal di pesta mu itu?"
"itu tidaklah penting!", jawabnya dingin
"bagaimanan bisa tidak penting, itu acara pertunanganmu", ucapku parau
"tidak, bagiku kau lah yang jauh lebih penting", ucap Yogi sambil mengelus pipiku,
mungkin karena pengaruh alkohol yang belum hilang aku menjadi tidak tahan untuk tertawa geli, "apa? aku? penting? hahahaha aku tidak percaya", aku tertawa terbahak bahak seperti sedang melihat pertunjukan komedi yang sangat lucu dan mengocok perutku hingga tertawa geli, "lihatlah cincin yang melingkar di jari mu itu, dan kau masih mengatakan bahwa aku lebih penting?",hahahaha aku tertawa tapi hatiku begitu luka, menertawakan diriku sendiri
kini aku menyulut api kemarahan di wajah Yogi, dia langsung menggendong tubuh ku dan melemparkan ku ke atas ranjang nya yang lebar, dia seperti singa yang siap untuk menelan mangsa nya
melumat bibir ku begitu kasar, perlahan membuka kancing baju nya lalu melemparkan nya, kini ia bertelanjang dada, aku menyilangkan lenganku untuk melindungi diri tapi percuma karena aku kalah telak dari nya
aku mencoba untuk menendang nya malah semakin membuatnya leluasa untuk masuk berada tepat di antara ke dua pahaku yang terbuka lebar, dan membuka paksa baju ku lalu mengecup setiap sudut tubuhku yang lemah
aku meronta, memberontak tapi percuma, dia melumat habis bibirku yang masih sakit akibat ditampar oleh Mama Bima,
mengetahui titik sensitifku, menjilati dan mengecup daerah intimku sehingga terpaksa keluar erangan dari mulutku, emmm esh aahh, dan aku pun melenguh panjang ketika ia mulai memasuki barang milik nya ke tubuhku, "aaahhh"
aku hanya bisa menahan kenikmatan yang aku terima, mencengkeram seprei ketika ketikamatan itu hadir dan membuatku mengeluarkan cairan dan basah, "hm aaahh" , dia melumat bibirku dan memainkan lidahnya hingga membuat bibirku basah, sementara ia terus mengenjot tubuhnya dan menindihku,
lalu kemudian melepaskan miliknya dan memaksaku untuk berbalik dan menungging, memegang kedua tanganku dibalik punggungku dan meletakkan kepalaku diatas bantal, ia memasuki nya lagi "aahhhh" aku mendesah
sesekali ia mendesah dan memejamkan matanya menikmati saat barangnya dijepit lubangku yang kecil dan begitu hangat, ia menikmati setiap permainan nya dan begitupun aku yang terus menerus mengerang di buatnya,
ia mengenjot tubuh nya lebih kasar, membuat ke nikmatan menjadi lebih dan tidak tahan untuk mendesah, ahh, lagi lagi mengeluarkan cairan hingga membuat organ intimku menjadi lebih basah, dan kini kenikmatan sudah mencapai klimaks nya, barangnya semakin tegang lebih mempercepat gerakannya lalu keluarkah susu kental putih di dalam tubuhku
tubuh Yogi ambruk, jatuh menindih ku tapi masih berusaha mengatur tubuhnya agar tidak membebani ku, ia menarik selimut untuk menutup tubuh kita yang telanjang bulat dan memelukku dari belakang.
setelah apa yang ia lakukan, aku hanya bisa menagis, memalingkan wajahku dari nya, "sayang", ucapnya parau sambil memeluk dan mengecup bahuku
aku tidak bisa menjawabnya, aku hanya bisa terus menangis hingga bibirku bergetar
"maafkan aku sayang, aku mohon jangan seperti ini! sungguh kau yang terpenting dalam hidupku", ucap nya parau, "aku tak kan melepasmu lagi, aku akan menikahi mu, tunggulah aku kali ini saja"
Kini aku sadar, kalau kita mencintai seseorang terlalu dalam, maka yg kita dapatkan hanyalah rasa sakit
__ADS_1