
PLAKK!!
aku menamparnya dengan keras, "kenapa kau selalu bersikap seperti ini kepadaku? aku membencimu"
"sebegitu bencikah kamu?", ia berucap menatapku tajam dengan mata memerah, "apa aku sudah tak ada sama sekali dihatimu? apa kau selalu memandang aku adalah seorang pria yang tak layak kau cintai? apa kau anggap aku hanya seorang pria yang jahat tak bisa memperlakukan wanita dengan baik, kau tahu? aku sudah mencoba lebih baik, mencoba terbaik untukmu, tapi kau sudah memutuskan nya begitu saja, memutuskan cinta yang ku harap begitu saja",
kata kata itu, sangat menusuk, menghujam hatiku hingga berdarah
"baiklah, jika itu mau mu! aku memang hanyalah seorang pria yang tak punya hati", ucapnya kemudian sebelum membalikkan tubuhnya dan beranjak pergi meninggalkan ku
kenapa? kenapa? kenapa kebahagiaan itu sangat sulit
hari ini aku banyak sekali melakukan rutinitasku dikantor, Bos ku memberiku lebih banyak hal yang perlu dikerjakan.
dengan ucapannya yang begitu keras, memukul otakku hingga tak berfungsi lagi, dia malah memilih menyiksaku dengan pekerjaan yang menumpuk, "ah, dia menyalahgunakan kekuasaan nya guna melampiaskan kemarahan nya", gumamku letih membanting kepalaku di tumpukan berkas berkas yang menumpuk.
****
****
aku merenggangkan badanku yg letih, keluar dari lift dan keluar dari gedung perusahaan yang megah bersama Dina teman se perjuangan di perusahaan
"hai, Bela?", sapa Bima yang sudah berdiri didepan mobilnya yang jaraknya tak jauh dariku, melambaikan tangan kepadaku
Dina takjub melihat Bima, mulutnya ternga nga tak percaya, "wah, Bima Arya, kau mengenalnya?"
Nggg
"iya", jawabku bingung, seharusnya aku yang bertanya seperti itu
"hai Bim, kenalin ini temanku Dina",
"hai, aku Dina, kamu Bima Arya pewaris tunggal Arya Group kan?", ucapnya terus terang menbuatku tak percaya, dia bar bar sekali jika berkenalan
Bima membalas jabatan tangan darinya, "ya, kau tahu aku?"
"iya, siapa sih yang tidak tahu sama kamu", sahutnya terlihat salah tingkah sambil tersipu malu, Dina kemudian menyenggolku pelan menggunakan sikunya dan berbisik pelan, "temanmu sangat tampan"
ya ampun, astaga.
"aku dan Bela berteman baik dikantor, jika kau butuh sesuatu aku siap membantumu?", tawar Dina sambil tersenyum malu
"kau sangat baik, aku pasti akan menghubungi mu" ucap Bima yang tak peka atas modusnya
"ah, itu bukan apa apa", jawabnya sambil menggoyangkan jemarinya dan salah tingkah
"yuk Bel, ku antar pulang!", ucap Bima yang langsung ku indahkah, "terimakasih Dina sudah banyak membantu tunanganku, kita pamit dulu", ucap Bima sebelum beranjak pergi menaiki mobil sport nya yang mewah
aku yakin, Dina saat ini sedang mematung, kemudian bangkit dan menangis karena cinta pada pandangan pertamanya langsung kandas begitu saja, aku tertawa membayangkan nya bertingkah dan merengek seperti layaknya anak kecil
"kenapa kau tertawa?", tanya Bima penasaran dengan sikapku didalam mobil sedang melaju
"ah tidak apa apa", sahutku menahan tawa yang masih ada, "dia pasti menebalkan bibir bawahnya dan bertingkah sangat imut"
aku kembali tertawa hingga Bima melirikku dengan tatapan aneh menelisik
****
__ADS_1
malam ini aku sudah berada diantara meja makan kelas VIP bersama Bima, aku menggunakan gaun yang ku beli sendiri walaupun tak mahal dan tak mewah tapi kata Bima, aku terlihat lebih cantik malam ini
aku menatap menu yang memusingkan ku, menu hidangan khas italia yang tak sesuai sama sekali dengan seleraku kecuali susana nya yang begitu wah
di iringinya dengan alunan musik klasik, pernak pernik berlapis emas yang terlihat mewah dan menyejukkan mata
"Bela, kau ingin memesan apa?", tanya Bima kepadaku yang sedari tadi hanya melihat menu dari arah atas ke bawah tapi tetap tak mengerti
"aku samakan denganmu saja", sahutku kemudian yang sudah menyerah
"baiklah!"
aku menikmati suasana di restoran ini, ini bukan kali pertama ku makan di restoran mewah karena Bima selalu mengajakku ke tempat mewah yang tak kalah dari ini, tapi untuk restoran italia, ini kali pertama nya untukku, italia? ah aku jadi mengingat bubur lembek yang diberikan Yogi untukku dulu
Yogi? dia tak pernah mengajakku ke tempat mewah, dia selalu datang ketempat khalayak ramai, kadang makan junk food yang dijual di pinggir jalan, dia selalu tampak bahagia jika kita pergi ke tempat tempat yang ramai dikunjungi orang, "ini kali pertamanya untukku makan disini, ternyata menyenangkan", aku mengingat ucapan nya dahulu
aku kira dia mengatakan itu karena dia tidak punya cukup uang untuk membeli makanan, aku kasihan. tapi ternyata dugaanku salah
sialan, kenapa dikepala ku hanya ada dia
samar samar aku melihat seorang pria memakai jas hitam rapi, tinggi, rahangnya tegas serta... Yogi?
kenapa mereka datang kesini? rasanya aku ingin mengumpat
"hai", sapa Yogi dengan Jesi yang bergelantungan di lengannya, "kebetulan kita bertemu disini, apa kita boleh gabung?"
"boleh, silahkan", jawab Bima mempersilahkan, kemudian pindah tempat duduk di sebelahku, sedangkan Yogi tepat duduk berhadapan denganku.
ia masih saja melirik benda kecil yang melingkar di jemari manisku dengan sinis,
"oh ya, selamat ya atas pertunangan kalian berdua", ucap Yogi memulai percakapan, tersenyum memaksa kepada Bima
"wah, kalian sudah bertunangan, baguslah!", ucap Jesi seolah lembut dan menempel di lengan Yogi tapi Yogi menepisnya karena risih
Bima menatapku tersenyum dan menempelkan hidungnya hingga bergesekan dihidungku, Berbeda dengan Bima yang tersenyum. Yogi malah semakin memelototi ku
Yogi terlihat mengambil alih dan merangkul Jesi yang sempat ia tolak tadi, "terimakasih juga atas doa kalian", ucapnya penuh penekanan, kemudian mencium kening Jesi hingga membuat Jesi senyum sumringah
cihh!! apa dia ingin membuatku cemburu?
kini makanan sudah tersaji diatas meja, seperti biasa Bima mengambil steak daging ku memotong dengan rapi agar memudahkan ku untuk makan kemudian dia letakkan kembali di depanku, "makan yang banyak ya, sayang", ucap Bima tersenyum lembut kepadaku
"cih", kalimat celaan itu terdengar di telingaku, hingga membuatku melirik sinis padanya
"terimakasih sayang", balasku pada Bima
kesal sekali rasanya melihat Yogi berduaan dengan Jesi, saling mesra di depanku. ingin sekali aku iris iris wajah tampan nya hingga jelek tak beraturan.
aku tak konsen makan, tanpa sadar aku malah memotong kembali steak yang sudah di iris oleh Bima hinga membuat kebisingan dari piring yang ku hentakkan menggunakan pisau dan garpu.
membuat Bima menaikkan aliskan dan menatapku aneh, "sayang",
"hemm?", jawaban itu terlontar begitu saja tanpa sadar, "eh maaf maksudku, ada apa?"
"sayang, fokuslah!", Bima mendekatkan diri kepadaku, lalu mengelap sisa makanan disisi mulutku dengan lembuat, "kau masih seperti dulu ya?", ucap Bima mengingatkan ku pada masa masa kita tumbuh bersama
hal itu membuatku kembali menangkap masalalu, membicarakan nya dengan Bima dengan ceria, tertawa bersama, asik sendiri hingga melupakan pasangan lain yang dimana pasangan pria nya mengerut kening dan menggertakkan giginya kepada aku dan Bima yang lagi tertawa bersama.
ya tak lama berselang itu, ada yang menggangu.
Yogi berdehem, mengisyaratkan bahwa anggur yang dipesan nya sudah datang ke meja makan kita.
__ADS_1
ia kemudian menuangkan anggur di dalam gelas lalu menyodorkan nya kepadaku dengan rasa hormat, "untuk calon Nona Muda Arya Group"
aku canggung jika harus menolak nya, tapi kemudian Bimalah yang bergerak, "maaf Tuan Yogi, calon istri saya tidak bisa meminum anggur"
apa? calon istri?
Yogi menaikkan alisnya memandang sinis, "Anda tahu darimana jika istri Anda tidak bisa meminum anggur?"
tidak mungkin kan Bima mengatakan bahwa aku sedang hamil?
"maaf, karena calon istri saya tidak dapat mengontrol dirinya untuk tidak meminum lebih jika ia sudah mencicipi nya",
ya ampun, alasan Bima sangat keren sekali
"ah, pantas saja ia meminta lebih saat saya memberikan nya lewat lidah saya", ucap Yogi dengan enteng nya membuat semua geram padanya
astaga, dia keterlaluan.
"sayang", sapa Bima membuatku menoleh padanya yang semula aku melotot menatap Yogi karena geram
tiba tiba saja Bima mengecup bibirku sekilas, dan aku membalas senyuman nya
Jesi yang melihatnya juga menuntut kecupan dari Yogi karena ini kesempatan nya, ia memajukan bibirnya dan mendekatkan diri kepada Yogi, tapi
Yogi malah menempelkan telapak tangannya di sisi wajah Jesi lalu membuat wajah Jesi menjauh darinya.
"Bim, aku mengantuk!"
"baiklah", Bima lalu berdiri dengan aku mengikutinya, menggandeng tangannya, "kita pamit undur diri dulu karena calon istri saya sudah mengantuk", ucap Bima berpamitan lalu membungkukkan diri memberi hormat
"cih, tumben sekali di jam seperti ini dia sudah lelah mengantuk, ya Baiklah, jaga calon istri Anda dengan baik, jangan biarkan ia menangis lagi karena matanya yang bengkak membuat mata saya sakit"
ingin sekali ku cakar wajahnya yang menyebalkan itu, "sebaiknya Anda lekas pergi ke dokter mata atau ke dokter jiwa", jawabku ketus kemudian berlalu pergi
persetan dengan ucapan kasarku, aku tak peduli
sepanjang perjalanan, aku hanya bisa menggigit jari menahan emosi mengingat bagaimana Yogi bersikap angkuh lalu merangkul Jesi di depanku
untung saja Bima memahamiku, ia selalu menenangkan ku, "Bela, kau cemburu?"
"hah, apa?"
Bima hanya membalasku dengan senyum sedikit tertawa, "seharusnya kau bertanya kepada hatimu"
"maksudmu?", tanyaku tetap tak mengerti
Bima tersenyum membelai rambutku, mengecup keningku, "masuklah! beristirahatlah dengan cukup, aku pergi dulu"
tanpa menunggu tanggapanku, Bima berlalu pergi begitu saja setelah mengucapkan kalimat tak masuk diakal itu.
cemburu? ya, inikah rasanya cemburu.
****
hidupmu tak akan berakhir hanya karena ini adalah hari menyedihkan untukmu
****
****
__ADS_1
****