AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI

AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI
Memilih


__ADS_3


kring kring kring, bunyi alarm telah mengganggu tidurku yang sangat lelap,


aku coba membuka perlahan mataku yang sudah silau akibat pantulan sinar matahari dan langsung lurus kearah mataku,


begitu lelapnya aku sampai tak memperdulikan jika matahari sudah mau naik ke permukaan, ini pertama kalinya aku dapat tidur terlelap semenjak pindah ke kota ini, menjalani hidup sehari hari sendiri.


seperti biasa hari ini aku harus siap siap pergi bekerja. ya, aku magang disebuah perusahaan swasta yang bergerak dibidang jasa ekspor dan import, tidak telalu besar tapi gajinya cukup lumayan apalagi dapat bonus jika aku mampu mengajak orang lain untuk memakai jasa perusahaan lewat diriku. begitulah bisnis


"ini saya lampiran beberapa invoice serta packing list dari suplier", ucap pelangganku sambil mengajukan beberapa berkas yang aku perlukan


"baik terimakasih, jika barang impor Anda sudah tiba di gudang kami, akan langsung segera kami proses", sahutku tersenyum sangat berterimakasih padanya karena dengan ini aku mendapat beberapa bonus, lalu kulihat dengan seksama packing list dari barang yang ia pesan, "wahh, lumayan berat juga serta ukurannya sangat besar, aku bisa mengambil keuntungan dari volume barang", gumamku senang dalam hati


hari ini tepat sudah sebulan sejak kepergianku, aku menyandarkan tubuh kecilku diatas kursi serta mendongak menatap langit langit di ruang kerjaku, walaupun begitu pikiranku masih diluar kendaliku.


semakin ingin ku lupakan, semakin terus ku ingat


ah, sungguh melelahkan, bahkan menentang kerinduan yang sangat menggebu dalam hatiku, sungguh sangat melelahkan.


****


malam ini juga sungguh sangat syahdu, aku hanya duduk berdua manja dengan laptop pribadiku, aku sudah kehilangan ponselku, ya lebih tepatnya aku me non-aktif kan nya.


bukan karena ponselku tidak berguna tetapi aku takut, takut aku tidak dapat mengontrol rinduku yang sudah sangat menyiksa, aku sudah menyibukkan diriku dalam bekerja, bukan hanya dalam perusahaan tetapi juga mencoba mencari pelanggan untuk mau memakai jasa yang sudah aku tawarkan.


dan seperti biasa pikiran dan hatiku beradu, mereka sepeti ombak di laut yang saling berkejaran untuk saling mendahului pantai. hatiku yang halus terus bergesek oleh pemikiranku yang memaksa, tapi ketenangan hati selalu membuat ku merindu, entah bagaimana kabar nya? apakah dia baik baik saja?


hatiku terus membahas tentang rindu dan pemikiran bodohku, saat aku putuskan untuk pergi meninggalkan nya. jauh di lubuk hatiku, aku menyesal tetapi tidak ada pilihan lain, itu karena sebuah tekad, tekad yang kuat.


aku akan mampu menerima semua


aku berniat untuk pergi jalan jalan sejenak dalam malamku, tetapi sesaat awan kumulonimbus terlihat, awan yang menandakan bahwa akan datangnya hujan.


benar saja, tak lama kemudian hujan deras langsung menghantam tubuhku yang tanpa persiapan untuk menyambutnya, aku pergi berlari kearah toko yang sedang tutup untuk berteduh dari derasnya hujan.


"ya Tuhan, kenapa tiba tiba hujan?", gumamku sambil menyilangkan kedua lenganku agar aku bisa mengelus kedua lenganku yang sudah mulai kedinginan,


"Nona, apa kau kedinginan?", tiba tiba suara seorang pria asing terdengar dari arah belakangku, aku menyibukkan diri untuk memandangi hujan yang tiba tiba saja datang menghantam, sampai aku tidak tahu bahkan ada sesorang pria yang ikut berteduh bersamaku.


"ah tidak", ucapku masih menunduk dan memeluk diriku sendiri, sebetulnya aku memang kedinginan tetapi aku tidak mungkin mengindahkan yang aku rasakan kepada orang asing


tiba tiba saja dia melepas mantelnya yang tebal dan dan dikenakan kepadaku, "pakailah agar Nona tidak kedinginan lagi", ucap pria asing itu kepadaku, wajahnya pun begitu dekat dan terlihat sangat jelas walau tidak ada sinar lampu menerangi dengan jelas kecuali hanya sinar rembulan di malam ini.


dia tampan, tidak, dia cantik. dia lebih cantik bahkan di banding seorang wanita sekalipun.


wajahnya tegas tetapi memiliki matanya besar , hidung mancung serta bibir kecil, saat tersenyum ia mengingatkanku kepada adikku Diki tetapi ia sangat bertolak belakang.


"ah tidak perlu, Anda juga pasti juga kedinginan?", sahutku menolak, tetapi dia menggelengkan kepalanya sambil mengekpresikan wajahnya yang tidak senang atas penolakan ku,


dia juga mungkin sama kedinginan


"saya tidak apa apa Nona", jawab pria itu dengan tersenyum lebar kepadaku sehingga aku tidak dapat menolak kebaikannya, "sampai jumpa Nona" ucap nya lalu pergi begitu saja menembus hujan yang begitu lebat di malam yang gelap gulita, entah kepentingan apa yang mendesaknya untuk mengguyurkan tubuhnya ke dalam derasnya hujan


tapi, aku sangat berterimakasih padanya. ucapan yang belum sempat aku katakan.


****


__ADS_1


****


huaachii


hidungku bersin, dan suhu badanku mulai panas tapi aku masih sanggup untuk berjalan.


karena besok aku harus bekerja, jadi aku memutuskan untuk memeriksa kesehatanku di rumah sakit terdekat.


aku meminum resep obat dari dokter untuk menyembuhkan flue yang menyerangku, untunglah ini bukan flu ganas. dalam jangka waktu beberapa hari aku pasti akan sembuh, aku harus beristirahat dengan cukup hari ini agar kesehatan ku cepat pulih.


alih alih istirahat dan tidur terlelap, pikiranku malah pergi kesuatu tempat, dimana saat seperti ini, selalu ada Bima yang mengomeliku dan merawatku layak nya seorang ibu yang mengkhawatirkan anak nya, "aku merindukan mu", gumamku yang sedang membungkuk didalam selimut karena kedinginan.


aku selalu memikirkan nya hingga tanpa sadar sampai meneteskan air mata, seperti meratapi nasib saja


kadang aku suka tersenyum membayangkan kenangan kita bersama, kadang pula bersedih mengingat bahwa dia sudah tidak ada di dekatku, kenapa rindu ini menyiksa


bahkan aku juga merindukan Yogi, mungkin karena aku sudah memberi hatiku kepadanya sehingga aku juga terus memikirkannya, tetapi aku juga terlanjur bergantung kepada Bima. mereka, kini aku tinggalkan.


****



****


seperti biasa kini aku menjalani hari hariku yang sepi, malam ini aku baru pulang dari kantor tidak sepeti biasanya karena terlalu banyak pekerjaan menumpuk karena kondisi kesehatan ku, untunglah bosku memahamiku.


aku berjalan menunduk, menendang batu batu kecil yang menghalangi jalanku yang lelah.


"Bela", tiba tiba aku dikejutkan oleh suara pria yang tak asing bagiku, bertubuh tinggi, tegap, mempunyai garis rahang tegas serta tampan penuh kharisma.


"Yogi", ucapku tak percaya bahwa dia menemukanku, dia berdiri tepat beberapa meter di depan ku, depan rumah kontrakan ku.


"akhirnya aku menemukanmu", ucap nya serak dalam tangisan, "aku merindukan mu", ucapnya membuat hatiku tersentuh olehnya, tapi aku harus menepis pikiran ku


aku mendorong tubuhnya agar bisa melepaskan pelukannya. Ia kaget lalu kecewa karena dia sudah tahu pasti bahwa aku memang berniat untuk pergi darinya.


"kenapa kau bisa menemukan ku?", tanyaku kesal sambil mengernyitkan dahiku


"kau mungkin tidak tahu banyak tentang ku", ucapnya sambil menundukkan pandangan nya karena tidak ingin menunjukkan wajahnya yang tengah bersedih karena ku, "semula aku harap kau tidak pernah datang untuk pergi berobat kerumah sakit karena aku kira kau akan bisa menjaga kesehatanmu dengan baik, tetapi kau malah datang dan membuatku bisa melacak keberadaanmu",


setelah penjelasan nya aku tetap tidak memahaminya, dia kembali tersenyum kepadaku dan membelai rambutku, mengetahui ekspresi wajahku yang tidak mengerti akan perkataannya,


"keluarga ku memiliki beberapa rumah sakit ternama bahkan perusahaan ayahku bergerak di bidang farmasi, apa kau sudah faham?", ucapnya sambil melebarkan senyumnya dan mendekatkan wajahnya ke depan mataku.


kini aku mengangguk mengerti, ah aku memang cuma remahan rengginang


"pulanglah bersamaku!", ucapnya membuat ku membelalak kaget


dengan sigap aku langsung menggelengkan kepalaku, "tidak, aku disini bekerja, aku juga sudah cuti kuliah"


"lalu, kenapa kau pergi?", ucapnya tajam membuatku gugup, "kau tidak boleh pergi jauh dariku, sudah cukup kau menyiksaku dengan bertingkah kekanakan begini", ia menarik lenganku paksa dan masuk ke dalam rumah kontrakan ku.


ia mengambil koper yang aku letakkan di atas lemari, lalu meletakkan nya diatas ranjang dan terbuka, sementara ia sibuk mengambil pakaianku yang tergantung dirak lemari dan memasukkannya satu persatu kedalam koper ku.


aku langsung menghalaginya untuk mengembalikan pakaianku agar tidak jadi masuk ke dalam koper, "kau yang apa apaan!", ucap ku sambil menghalangi tubuhnya dekat koper


"minggir,sayang!", ucapnya lembut sambil menyeruput udara ke dalam mulutnya, manahan kesal


"tidak, aku tidak akan kemana mana!", ucapku tegas sambil melebarkan ke dua tanganku agar dia tidak dapat melangkah maju ke depan, "kau tidak berhak mengaturku!"

__ADS_1


"aku berhak, kau milikku", jawabnya enteng membuat ku semakin kesal


milikku? lelaki ini sungguh tidak tahu malu


"apa? aku milikmu? atas dasar apa kau bisa mengatakan itu?", tanyaku kesal melotot menatap nya,


ia lalau terdiam sejenak, menatap mataku dengan seksama.


"aku milikmu", jawabnya yang tak bisa aku tebak, membuatku bingung


"apa?", dia sungguh konyol sekali, "jangan bercanda! biarkan aku pergi dari hidupmu", ucapku akhirnya pasrah, dengan sikap ke keras kepalaannya itu, ia tak mudah dirobohkan bahkan jika aku berkata kasar sekalipun.


"sudah ku katakan bahwa aku tidak akan pernah melepasmu, aku akan menikahimu!", ucapnya kokoh serta menarik lenganku agar jarak pandang kita lebih dekat


tidak ada cara lain selain membuat dia memilih


"lalu, bagaimana dengan Jesi?", tanyaku memprovokasi, sekalipun dia putus hubungan dengan Jesi, sedikitpun aku tidak akan berbalik ke arahnya.


atas pertanyaanku, dia terlihat menelan ludah bingung menjawab pertanyaanku yang menjurus kepada keputusan untuk memilih salah satu diantara kita. dia hanya terdiam


"kau tidak bisa menjawabku kan? kalau begitu tinggalkan aku!", ucapku tersenyum sumbing, dan hendak menjauh darinya, tapi dia kembali mencengkeram erat kedua sisi pundakku dan sedikit meremas nya.


"aku mencintaimu", hanya kata itu yang tegas ia ucap, jelas kemarahan yang penuh arti tak dapat ku tebak pula di kedua matanya yang memerah


"itu tidak cukup kuat untuk membujukku!", aku menepis cengkeraman nya dengan kasar, "menikahlah dengan tunanganmu itu dan pergi lah dari hidupku!", ucapku acuh sambil menyilangkan kedua lenganku bersendakap.


"apa aku tidak cukup berarti bagimu?", ucapnya sedih dengan tiba tiba, membuatku merasa bersalah, "tidak pernahkah kau sedikit saja memberi perasaanmu kepadaku?", tanya nya dengan mata nanar didekatkan dengan wajahku hingga terlihat jelas


seketika jantungku berdegup kencang, tak jelas apa yang aku rasakan saat ini tapi aku harus menyangkalnya dan mengabaikan isi hatiku yang telah dilukai


"tidak, aku tidak pernah sekalipun memberi hatiku kepadamu", ucapku tegas dan melebarkan mata kebencianku kepadanya, "aku membenci mu"


mendengar ucapanku dia menundukkan pandangannya dan malangkah mundur manjauhiku, "maafkan aku, aku terlalu percaya diri untuk itu", ucapnya serak, "hanya Bima yang ada dihatimu"


aku tahu tuduhannya tidak benar, tapi lagi lagi aku tidak dapat menyangkalnya, "ya kau benar"


"kau bohong", ucapnya membuatku kaget, bagaimana bisa dia tahu, membuatku semakin gugup dibuatnya, aku merasa khawatir dan sedikit menegangkan badanku, tapi Yogi yang menyadari itu, dia menjauh tanpa mendesak ku seperti biasa nya, "matamu tidak akan pernah bisa berbohong, sayang!", ucapnya menebak dengan benar


aku memang sudah terlanjur menaruh hatiku padanya, karena sikapnya yang selalu hangat kepadaku dan membuatku merasa sangat dicintai, tetapi tidak untuk saat ini, bagiku perasaan itu sudah hilang.


"aku akan membiarkanmu untuk memutuskan, memilih bersama denganku atau Bima. jika kau datang tepat sebelum hari pernikahanku dimulai, maka aku akan meninggalkan segala nya dan menjawab semua rasa penasaranmu tentang kenapa aku harus bersama dengan Jesi", ucap Yogi lalu berbalik meninggalkan ku sendiri


seketika badanku lemas, tak bertenaga, aku bahkan tidak dapat memilih.


aku tidak dapat kembali bersama Yogi, dan tidak pula bertemu dengan Bima karena ku rasa Bima akan lebih baik hidup tanpa ku.


biarkan aku pergi dari nasib terbelenggu seperti ini, Tuhan


****


tidak ada yang tahu kapan cinta akan tumbuh, juga tidak ada yang tahu kapan cinta itu akan berhenti.


****


setiap komen kalian pasti Author baca, Author sangat berterimakasih atas dukungan kalian semua. terimakasih, salam saudara dari Author ttd : PRIMADONA INDONESIA



__ADS_1


__ADS_2