AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI

AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI
Ayah Ku?


__ADS_3


sementara lidahnya masih gusar bermain dadaku membuatku tak henti untuk menahan desahan.


tak berhenti disitu, tangannya bergerak dengan sensual dan melepas celana dalamku tanpa ku duga.


"brengsek, apa yang kau lakukan" gumamku kesal


langsung Yogi membungkam mulutku lagi, menghisap dan melumat bibirku tanpa ampun dan tangannya pun bergerak dengan sensual meraba daerah intimku lalu memasukkan jemarinya kedalam tubuhku,


aku memejamkan mata menikmati dan juga tak tahan menahan erangan yang memaksa, tak mungkin juga aku dengan suka rela mencakar ataupun menjambak rambutnya dengan agresif,


tanganku bergerak kemana mana mencengkram bantal yang dapat ku raih untuk menahan gejolak nikmat yang tak tertahan,


Yogi memasukkan dan mengeluarkan jemarinya lebih cepat dan kasar dari sebelumnya hingga aku pun tak tahan dan tanpa sengaja menarik bantal yang ku cengkram,


"Eeeemmmm"


Diki menggeliat ketika aku tak sengaja menarik bantalnya, aku pun gusar dan langsung berdiri panik.


"sss sss sss, tidur lagi!" ucap Yogi sambil menepuk nepuk bokongnya sembari menyeringai, "walau dari segi manapun kau itu tetap bocah dan tidak bisa bersaing denganku" bisik Yogi


aku hanya bisa berdiri dan melototi Yogi, sebelum dia mengejarku. akupun lari dan pindah ke kamar tamu dan intunglah dia tidak mengejarku.


aku melemparkan badanku diatas ranjang agar dengan perasaan campur aduk, kesal dan juga bahagia.


"astaga, apa sih yang ada dikepalaku? kenapa aku membiarkan Yogi melakukan hal itu padaku", aku menjambak rambutku kasar.


karena hal itu pula aku sampai tak bisa tidur dan hanya bisa membolak balikkan badanku diatas kasur.


"sayang, kau belum tidur?" sapa Yogi tiba tiba memasuki kamar


"kenapa kau bisa masuk?" tanyaku heran sedikit khawatir


"kau tidak mengunci pintunya"


astaga, aku begitu ceroboh


Yogi tersenyum menyeringai kemudian mendekatkan diri lagi padaku, mendekatkan bibirnya disisi pipiku, "bagaimana Kalau kita meneruskannya disini?"


"ha, kau gila? tidak tidak, aku tidak mau!" aku bergerak mundur hingga menabrak papan bed.


Yogi malah terkekeh menanggapiku, "lihat wajahmu memerah", aku memegangi kedua pipiku yang panas, "tidurlah! besok kita akan kencan"


CUP


lagi lagi dia memberiku kecupan sebelum melangkah pergi


"Aaaaaaaaargh kesal"


****


hari tak terasa sudah pagi, sinar matahari menyambutku lagi hari ini.


sinar matahari begitu terang tetapi tak mampu menutupi kegelisahan dalam hatiku.


aku berjalan keluar kamar, berjalan mengendap ngendap agar tidak berpapasan dengan si tengil itu.


aku ingin keluar ke toko tapi aku harus memastikan bahwa dia sedang ada ditempat atau tidak,


aku mengintip dari balik tembok, aku hanya melihat Diki sudah berdiri menyiram bunga di pagi hari.


"kau mencariku ya?" bisik Yogi tiba tiba dari belakang membiatku tersentak kaget,


ku pegangi dadaku yang seakan sudah mau copot, Ia malah menertawaiku.


"ke..kenapa kau tiba tiba disini?" tanyaku gugup


"kenapa kau selalu kaget dengan kehadiranku, kau merindukanku ya?" ucapnya menggoda


"apa sih, beda jauh. apa hubungannya kaget dengan merindu, kau jangan asal" jawabku ketus


"ha ha kenapa kau sangat menggemaskan, temperamenmu tidak berubah ya meski kau kehilangan ingatan sekalipun ha ha"


aku hanya bisa mengerucutkan bibir mendengar ocehannya yang tak jelas.

__ADS_1


"wahh sudah pudar ya?" melirik tanda di leherku


refleks aku menutup leherku dengan telapak tangan, "apa sih?"


Yogi membungkuk mendekatkan diri lagi padaku membuat tubuhku condong kebelakang, "jangan macam macam ya!" ancamku membuat Yogi tertawa lagi untuk ke sekian kalinya.


"ihh, benar benar menyebalkan!"


akupun pergi mengepalkan tangan penuh kesal dan menghampiri Diki yang sudah menunggu.


"hai sayang, selamat pagi" sapa Diki yang mengetahui kehadiranku


"pagi" jawabku, "apa kau sudah sarapan?"


"iya sudah, maaf aku sarapan duluan karena tidak ingin membangunkanmu tadi" ucap Yogi sambil mengelus pipiku


"tidak apa apa, aku juga sudah sarapan kok"


aku mengelus wajahnya yang masih sedikit ada warna kebiruan diwajahnya yang tampan,


"gimana ini wajahmu yang tampan lecet begini, ini gara gara si tengil itu huh", ucapku marah


"besok juga akan hilang sayang", jawab Diki lembut


"tapi kau kan Idol, tidak boleh jika begini", aku mengelus wajahnya dengan sedih


"ahh kau sangat perhatian sekali padaku", ucap Diki tersenyum bahagia kepadaku.


Ia mengelus pipiku lembut lalu mendekatkan dirinya, memiringkan wajahnya agar mendapatiku untuk berciuman dengannya. tetapi...


BYURRRR


Seketika Air membasahi tubuh kita berdua hingga basah kuyup.


"Yogi" teriakku kesal


"Uppsss maaf, aku tidak sengaja!"


"huh, jelas jelas kau sengaja menyiram kita berdua"


Yogi hanya terdiam dan menyunggingkan bibirnya penuh ejekan.


Kesal sekali rasanya, pagi pagi aku sudah mandi dua kali di udara sedingin ini.


****



****


"terimakasih, semoga kekasihmu suka ya?" ucapku pada salah satu pelangganku yang membeli bunga mawah merah untuk kekasihnya


"kau juga ingin ku berikan bunga?" bisik Yogi tiba tiba dibelakangku


"apa sih kau itu, bunga sudah banyak dan itu tak perlu"


"bagaimana kalau ku berikan hatiku saja?"


"hah?" ku pukul dadanya pelan, tapi Yogi menjerit kesakitan yang dibuat buat seakan aku merobek dadanya aja.


"Aaa sakit, bagaimana ini?"


"cih, berlebihan!" aku ketus sambil memalingkan muka


Yogi hanya tertawa saja melihatku merengut kesal dengan candaannya yang garing tidak jelas.


"hai sayang", sapa wanita paruh baya tapi masih cantik nan modis, tak lain mama Diki calon mertuaku.


"hai ma", aku memeluknya, "mama lama tidak kesini? Ella sampai rindu"


"mama juga kangen, makanya mama mampir kesini sekalian bertemu dengan Diki"


"oh iya Diki ada didalam, masuk yuk ma!"


kita pun masuk kedalam toko dan bertemu dengan Yogi yang menatap tajam pada mama, akupun sampai keheranan.

__ADS_1


"waaahhh tidak menyangka ya, kau juga tahu semua", Yogi tepuk tangan menyeringai penuh ejekan.


mama wajahnya langsung pias dan sedikit gugup, aku tak tahu ada apa antara mereka.


"mama ingin berbicara berdua dengan Yogi", pinta mama yang artinya aku harus pergi.


aku meng iya kan dan hendak keluar tapi Yogi menggapai tanganku,


"kau tetaplah disini!", perintah Yogi tak main main dan tak dapat ku tolak dari sorot matanya yang tajam membuatku ngeri.


ketika itu pula Diki menuruti anak tangga, "mama", sapa Diki


dia juga keheranan karena Yogi bersitatap mata penuh ancaman kepada mereka berdua, apalagi aku sudah ada diantara ketegangan mereka.


"wahh jadi kalian memang sudah merencakan semua ya?" ucap Yogi sambil menyunggingkan bibir


"a..apa maksudmu? aku tidak mengerti", sahut mama Diki


"ha ha kalian bahkan sekarang pura pura bodoh, kau ikut andil dalam menghancurkan anakmu juga keluargaku"


hah? apa maksudnya?


"Yogi, hentikan!" sanggah Diki


"kenapa? kau takut sekarang kalau aku mengatakan yang sebenarnya sekarang?", Yogi menyeringai, "oh iya, mungkin jangan jangan yang aku lihat dulu itu benar kamu saat kematian ayahmu, ayah istriku. aku jadi curiga kalau sebenarnya kau itu tidak sedang diluar negeri melainkan memang ada dikejadian perkara"


istri?


"apa maksudmu? apa kau sekarang menuduhku?" bentak Diki melotot


"kenapa tidak? kau sudah sampai sejauh ini dan tidak mungkin bukan jika kau yang membunuh ayah tirimu sendiri demi bersama Bela?"


"hentikan Yogi!" bentak mama Diki, "anakku tidak mungkin melakukan itu"


"tidak mungkin? haha" Yogi tertawa frustasi lalu menatap tajam sekali, "kita lihat saja! aku akan melakukan autopsi demi menjawab semua kecurigaanku"


"kau tidak bisa, kau tidak punya hak untuk melakukan itu" tegas mama Diki


"aku tak punya hak?" Yogi tanya mengulang kata, "kau lupa? aku ini suami sah dari anak kandungannya, Bela masih berstatus sebagai istriku"


Bela? jadi dia sudah menikah?


mama Yogi sudah mulai panik dan gemetar mambuatku sedikit bertanya, sekaligus masih tak mengerti apa yang terjadi.


"lihat saja nanti, siapa yang bakal kalah dalam perang ini!", ucap Yogi menekan lalu Ia menarik tanganku agar ikut bersamanya keluar.


****


"Yogi, lepas!" aku meronta meminta lepas


Ia pun melepas tanganku yang Ia genggam.


"jelaskan semuanya padaku! apa yang sebenarnya terjadi?"


Yogi mengacuhkan ku dan meninggalkanku tapi aku berlari menahannya, "Yogi!" bentakku saat ku gapai lengannya untuk berhenti melangkah


"apa?" tanya Yogi seakan tidak ingin membicarakannya padaku


"ceritakan semua, kalian punya masalah apa?" pintaku sedikit memohon dinada bicaraku, "apa kau sudah menikah? dan siapa itu Bela?"


Yogi juga terdiam kesal dan ingin meninggalkan ku lagi.


"Yogi" aku menggapai lagi lengannya, "ceritakan padaku!"


"apa yang perlu ku ceritakan", Yogi memegang kedua sisi pundakku, "jika ku katakan kau itu adalah Bela istriku, apa kau akan mempercayaiku hah?"


"apa?"


****


Jangan kamu kira bila cinta itu datangnya dari keakraban yang sudah terjalin lama, namun cinta itu adalah keterkaitan jiwa, dan cinta tidak akan pernah tercipta jika bukan Tuhan yang menghendakinya


****


__ADS_1


__ADS_2