
Flashback
"Ella, lihatlah aku. aku akan menunjukkan sesuatu untukmu" ucap Diki dengan khas senyuman lembutnya untukku
Ia berdiri diatas pentas sebuah gedung yang akan Ia gunakan esok hari. kini Ia sengaja menyewa gedung pentas ini untukku, menunjukkan pertunjukan berbakatnya untukku.
Diki berdiri diatas pentas memainkan Biola dengan lantunan indah nan lembut hingga membuat aku terkagum, masuk kedalam alunan musik yang Ia berikan. sebuah kesejukan, keindahan dan penuh cinta.
aku memberinya tepuk tangan yang menggema, memberi kesan keindahan pada lagu yang Ia mainkan untukku.
"kemari, naiklah!" pintanya setelah menunjukkan bakat bermusiknya untukku
aku pun langsung melangkah mengikuti pintanya. lalu aku memberanikan diri untuk menggapai serta merangkul lengannya yang ramping.
wah
aku terkagum karena saat aku sendiri ikut berdiri diatas pentas, aku bisa membayangkan bagaimana jika semua tempat duduk ini terisi. sedangkan aku berdiri diatas sini dipenuhi dengan tatapan mata ribuan orang yang hadir serta sorak kekaguman dari mereka.
"lihatlah! ini adalah pentasku", ucap Diki penuh percaya padaku, "ini adalah duniaku, apa kau merasakannya?"
aku mengangguk penuh takjub, "ya, aku juga merasakannya"
Diki kemudian memelukku, "terimakasih sudah mau mendukungku"
"aku juga berterimakasih karena dari sekian banyaknya orang yang mencintaimu, kau datang untuk memilihku"
****
****
para wartawan media massa datang beramai ramai, serta jajaran dari kepolisian datang untuk membekuk Diki.
aku tidak bisa membayangkan hal buruk ini, masa depan serta impiannya Musnah sudah.
apa aku melakukan hal yang benar?
"apa benar nama Tuan adalah Diki Arkey?" polisi menyodorkan surat perintah penahanan, "Anda ditahan karena terlibat sebagai otak dalam kasus pembunuhan Tuan Anto 5 tahun silam"
Diki hanya terdiam pasrah, menoleh kearahku yang sedang menunduk terisak.
"Tidak! tidak mungkin anakku melakukan hal itu" jerit mama menangis berlari kearah Diki yang berdiri disampingku
"maaf Tuan harus ikut dengan kami sekarang!" ucap salah satu polisi dan memborgol tangan Diki
"lepaskan! aku harus menikah sekarang" ronta Diki tapi tak berarti karena mereka sudah berhasil memborgol kedua tangan Diki.
__ADS_1
belum lagi para wartawan yang tengah menyaksikan dan berdesakan.
"aku mencintaimu, tapi kenapa kau melakukan ini kepadaku" teriak Diki padaku
"maafkan aku" aku hanya bisa menunduk menangisi semua yang terjadi
Diki sudah diseret dan dibawa keluar oleh para polisi yang menahannya.
"mohon jangan bawa anak saya, anak saya orang baik!" pinta mama pada polisi tapi itu juga tak berarti karena polisi sudah mendapat surat penangkapan dan penahanan.
"maafkan aku ma?" ucap Diki parau sebelum memasuki mobil membuat mama terkejut tak menyangka.
aku hanya bisa terisak dalam tangis, membayangkan semua yang terjadi. semua yang telah aku lalui. bagaimana juga dengan masa depan Diki kelak serta karirnya yang Ia bangun sejak awal kini musnah akibat kejahatannya sendiri.
PLAKK!!
mama tiba tiba menamparku keras,
"ini semua karena kau, semua hanya karena kau!" bentak dan teriak mama menusuk gendang telingaku
PLAKK!!
Ia menamparku lebih keras lagi dan menjambak rambutku sambil sama terisaknya denganku, aku pun tak sanggup melawan karena aku rasa, aku pantas mendapatkannya.
"Tante tolong hentikan!" Bima menengahiku, menarikku hingga jatuh ke dadanya yang bidang.
aku memeluknya, menangis didadanya.
mama semakin terisak kencang menahan dadanya yang tergoncang.
"Bima mohon, Tante pergilah! mendiang suami Tante juga pasti kecewa karena sikap Tante selama ini yang sudah menutupi kejahatan anaknya sendiri"
"suamiku" teriak mama terisak mengingat Ayah
aku tidak ingat lagi bagaimana semua ini terjadi, tapi aku yakin pasti. mama dan Ayah juga saling mengasihi. hanya saja mereka berada ditengah kami berdua.
sebagai seorang Ibu, aku sangat mengerti bagaimana mencoba untuk melindungi anaknya.
Ia juga menyayangiku selama ini, kadang suka menatap penuh sedih dan salah padaku. yang dimana dahulu sikap nya tak aku mengerti.
"Bela, sebaiknya kita pergi darisini!"
aku hanya dapat mengangguk dan mengikuti Bima yang menuntunku untuk keluar dari gedung.
sempat ku menoleh pada mama yang terisak frustasi, belum lagi para wartawan kembali datang padanya.
aku berjalan bersembunyi dipelukan Bima dari kerumunan pada wartawan yang ingin menanyaiku lebih lanjut,
Bima melepaskan jas hitamnya untuk menutupi wajahku lalu kita melangkah bersama keluar dan memasuki mobil yang sudah terparkir dan memang disediakan Bima khusus untuk menjemputku.
__ADS_1
"Bima, apa aku salah?" tanyaku di dalam mobil
"kau tidak salah", Bima mengelus rambutku yang berantakan akibat dijambak oleh mama tadi, "kau itu korban, Bela!"
"aku tidak tahu sekarang, apa aku harus marah, membenci, ataukah bersedih", Bima mengusap air mataku yang terus mengalir sedari tadi tak mau berhenti, "aku benar benar tak tahu lagi harus berbuat apa?"
lalu Bima memelukku hangat, kurasakan ada ketenangan dalam kehangatan dekapannya.
"tenanglah Bela!", Bima mengelus punggungku memberikan ketenangan pada dadaku yang sesak, "pejamkan matamu, dan pikirlah bahwa semuanya akan baik baik saja"
aku memejamkan mata, membayangkan semua kemungkinan yang akan terjadi kelak tapi yang tergambar hanya keburukan. keburukan dari semuanya, membuatku semakin terisak dan memeluk Bima erat.
ku tenggelamkan wajahku didada Bima yang bidang, basah sudah kemeja licin nan mahalnya.
Bima mengeratkan pelukannya, mengelus rambut serta punggungku dengan lembut dan penuh perhatian, "kau memang berhati baik Bela, bahkan sekarangpun kau memikirkan oranglain bukan dirimu sendiri"
aku tidak dapat menanggapi segala ucapan Bima, aku hanya ingin melepaskan segala kegundahan yang ada dalam hatiku.
aku menangis tersedu sampai rasanya kering air mataku dan terasa berat untuk ku buka mata, sampai aku pun tak sadar bahwa aku tertidur pulas dipelukan Bima.
****
****
Entah sudah berapa lama aku tertidur, suara tepukan pelan di pipi menyadarkanku.
"Bela, bangun! Bela" ucap Bima membangunkanku
dengan berat ku buka mata, dan dengan jelas ku lihat bisa tersenyum sambil memegangi kedua sisi pipiku.
"kita dimana?" tanyaku serak belum sepenuhnya sadar
"Bandara, kita harus menyusul Yogi sekarang, dia sedang dalam masalah!" sahut Bima membuatku kaget dan membelalak.
"ada apa? kenapa dengan suamiku?" tanyaku panik
"tenanglah! kita menyusulnya menggunakan jet pribadiku jadi kau tenangkan dirimu sedikit"
"jadi tunggu apa lagi? hayo kita menyusulnya!" aku menarik tangan Bima buru buru
"Bela, ganti dulu pakaianmu!"
"eh"
****
Cinta tidak akan pernah sadar berapa ke dalamannya, namun sangat terasa ketika perpisahan telah datang. Dan ketika tangan laki-laki menyentuh tangan perempuan, maka mereka telah menyentuh keabadian
__ADS_1
*****