AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI

AKU TULI, BUTA MATA DAN JUGA HATI
Pekerja Baru


__ADS_3


"apa kau sedang patah hati?" tanyaku ketika Ia melepas pelukannya dan menatap dalam kepadaku.


dan Pria ini begitu aneh, dia tertawa, terkekeh mendengar pertanyaanku dan juga terisak saat setelah menatapku lagi.


"iya aku sedang patah hati", jawabnya sambil tersenyum manis kepadaku, "wanita yang aku cintai tak mengenaliku lagi"


"ah begitu", aku mengangguk mencoba mengerti, "kau mungkin sudah melakukan kesalahan besar, sampai sampai kekasihmu itu tidak mengakui mu lagi?"


"iya, aku bersalah padanya", sahutnya


aku pun menepuk punggungnya yang kokoh tapi menurutku sekarang dia begitu rapuh.


"jangan menangis dan memeluk wanita sembarang lagi, nanti orang akan mengira kau orang yang aneh"


"apa kau baru saja mengatakan aku aneh?" tebak nya membuatku canggung


"sedikit he he", aku menggaruk punggung leherku yang tak gatal merasa malu. "aku pergi dulu ya!" aku menepuk bahunya, "jangan cengeng lagi ya, masih banyak wanita kesepian yang mau denganmu!"


aku pun melangkah pergi meninggalkannya, tapi Ia mengejar dan menghentikan langkahku,


"tunggu sebentar!", ucapnya sambil menggapai jemariku tanpa sungkan lalu melepaskannya, "aku akan membuatnya jatuh cinta lagi kepadaku"


"hmm ya baguslah, semangat ya!"


apa aku salah bicara ya tadi? kenapa dia menatap ku tajam sekali?


****



****


aku pun masuk ke dalam Toko bungaku yang tak lain juga tempat tinggalku,


"Nona, kenapa kau datang sangat terlambat sekali?", tanya Arumi lalu menatap kearah belakangku, "Nona datang bersama siapa?"


"hah, aku?", aku menunjuk diriku dengan telunjuk, lalu Arumi mengangguk


aku pun membalikkan badan, dan jelas saja aku merasa ada yang aneh.


"hai", sapa nya memberikan senyum kepadaku


"kau mengikuti ku ya?", tanyaku kesal


"hemm sebenarnya aku mau beli bunga", sahut nya lalu menunjuk bunga mawar merah darah, "yang itu!"


"oh, begitu"


aku pun mengambil setangkai bunga mawar merah darah yang Ia tunjuk lalu memberikannya pada Arumi untuk di bungkus,


"ini Tuan bunganya", ucap Arumi sambil memberikan bunga


Ia menerimanya lalu menunduk dekat telinga Arumi, entah apa yang di bisikinya.


terlihat Arumi tersenyum dan mengangguk, seolah mereka sudah saling kenal satu sama lain.

__ADS_1


"baik Tuan!" hanya itu ucapan akhir yang aku dengar.


setelahnya Arumi memberikan catatan pemesanan kepadaku membuatku sedikit mengernyitkan dahi.


"kenapa kau memberikannya kepadaku?" tanyaku tak mengerti pasalnya tugas untuk mengantar pesanan bunga adalah tugas Arumi selama ini.


"aku akan berhenti bekerja mulai saat ini, Nona!", ucapnya tersenyum sumeringah


jelas saja aku kaget, "kenapa?", aku menggapai tangan Arumi, "apa kau sudah bosan bekerja disini? apa aku pernah memarahimu? apa gajinya tak cukup untukmu? atau kenapa?", aku mengeratkan genggamanku, "jika hanya soal gaji, aku akan membayarmu lebih asal kau tetap disini, aku tidak memiliki teman di kota ini selain dirimu"


pertanyaan ku yang bertubi tidak satupun yang masuk dalam alasannya,


Arumi menggelengkan kepala, "kekasihku memintaku untuk ikut bersamanya pergi, Nona kan tahu sendiri ceritaku bagaimana susahnya mendapatkan dirinya yang dingin itu"


"iya aku mengerti", sahutku menunduk sedih


"aku akan sering berkunjung ke kota ini dan menemui Nona, jadi Nona jangan terlalu bersedih", ucap Arumi memelukku, tapi tak ada kelitan kesedihan dari matanya saat hendak meninggalkanku.


berbeda denganku yang terpukul, tapi aku tak dapat mencegahnya.


"jadi, apa kau akan pergi hari ini?" tanyaku


Arumi mengangguk, "kekasihku akan datang menjemputku sebentar lagi"


tiba tiba suara deheman memecah pembicaraan kami,


"maaf aku tidak sengaja mendengarnya", ucap Pria aneh mendekat, "apa Nona butuh pekerja baru?"


anehnya bukan aku yang menjawab, "iya, iya benar!" sahut Arumi senang


"ah, baguslah kalau begitu", sahut pria aneh tersebut tersenyum kepadaku mambuat jantungku semakin tidak karuan jika menatapnya


lalu Ia datang semakin mendekatiku dan hendak memelukku tapi untunglah Pria yang lebih aneh darinya menarik bajunya agar kekasih Arumi tak sampai mendekatiku, "hei, kau tidak boleh memeluk istri orang sembarangan!"


hah? apa maksudnya?


"hmm maaf, aku hanya rindu temanku!"


"rindukan saja kekasihmu itu dan lekas bawa dia pergi!"


kenapa dia terlihat kasar sekali?


kilatan Arumi menatap kesal kepada kekasihnya tapi tak urung dia mendekati diri lalu merangkul kekasihnya itu dengan bahagia, "yuk kita pergi!" ucap Arumi


"baiklah!", Bima pun menunduk memberi hormat, "Nona Ella, jaga diri baik baik!"


"aku akan menjaganya, lekas pergi sana!" sahut pria aneh menggertakkan rahangnya kesal


"cih, dulu saja kau sendiri yang mencelakainya!" gumam Bima terdengar membuat pria aneh itu semakin kesal


"apa kau bilang?" teriak pria aneh, "katakan sekali lagi!"


"ah sudahlah aku tidak ingin berdebat", Bima dan Arumi pun naik ke dalam mobil untuk siap melaju, "jaga dia baik baik kali ini, aku akan menyelidiki hal lainnya!"


"tentu, terimakasih bantuannya"


"cih, sekarang kau baru bisa mengatakan terimakasih padaku", sahut Bima masih ketus membuat pria aneh semakin kesal dan menyunggingkan bibirnya

__ADS_1


"Nona, aku pergi, jaga diri baik baik!", ucap Arumi melambaikan tangan sebelum mereka melaju pergi.


aku hanya mampu terdiam dan sedih, masih menatap mobil mereka yang semakin menjauh dan meninggalkanku.


"yuk, kita masuk!" ajak pria aneh tiba tiba memecah suasana kesedihanku.


aku pun melangkah mengikutinya masuk kedalam tokoku,


eh?


"kau kenapa masuk lagi kesini?", tanyaku tak mengerti


"bukankah Nona sedang membutuhkan pekerja baru? aku akan bekerja disini" ucapnya enteng


pria yang aneh, aku menatap dirinya menelisik pakaian yang Ia kenakan dari sepatu kulit hitam ke emasan di ujung yang Ia kenakan tak lain buatan designer Italia dan edisi terbatas, serta mantel yang Ia kenakan merk G*cci hitam pekat dan bulu ke emasan di dalamnya hingga saat kerah terbuka maka corak emasnya terlihat dan begitu senada dengan sepatu kulitnya.


jam tangan yang Ia kenakan pun tak tanggung tanggung mahalnya, yang aku tahu terdapat 1280 buah berlian 3 karat didalamnya bermerk Hubl*t BigBang.


aku menggelengkan kepala menatapnya seperti sihir saja, "aku tidak akan mempu menggajimu"


"ah, itu cukup dengan Nona memberiku tumpangan saja", jawabnya enteng


"hah?" aku menggelengkan kepala, "tidak, tidak bisa"


"kenapa tidak bisa? rumah dan toko ini cukup luas"


"iya tapi, aku tidak di ijinkan memperkerjakan seorang pria!" aku membungkuk memberi hormat, "maaf"


lalu tiba tiba jemarinya bergerak mengambil jemari tangan kiriku, "cih, si tengik itu kenapa tidak memberitahuku soal ini", gumamnya sambil melihat cincin yang melingkar dijemariku dengan tatapan kesal.


aku menarik jemariku agar Ia lepaskan.


"Nona, ku mohon padamu ijinkan aku tinggal dan bekerja disini. aku sedang dalam masalah sulit", ucapnya memelas padaku lalu memeluk kakiku, "mohon bantu aku, ini antara hidup dan matiku"


"aduhh gimana ya", aku bingung lalu menyuruhnya untuk bangkit lagi, "baiklah, aku akan meminta ijin kepada tunanganku nanti"


entah kenapa aku sangat luluh padanya, aku merasa dia orang yang baik dan tak asing bagiku.


"ini untuk Nona", memberiku bunga yang baru saja Ia beli, "aku akan kembali mengambil pakaianku, terimakasih!"


tanpa permisi dia langsung mengecup keningku sebelum berlalu pergi.


astaga, dia baru bertemu saja sudah berani menciumku.


****


butuh tiga detik untuk mencintai, tapi butuh waktu lama untuk menghapusnya


****


maaf ya bagi yang ga suka alurnya karena ini memang cerita Fiksi, dan misteri untuk menebak sudah dari ep15.


sekali lagi ini bukan cerita rumahan/sinetron yang cuma sekedar kawin selingkuh cerai.


maaf karena ini Novel hanya sudut pandang dari satu arah yaitu Bela jadi membuat kalian berpikir keras. sorry ya??


Author udah punya Endingnya sendiri. terimakasih

__ADS_1




__ADS_2